PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 152. Salah Paham


__ADS_3

Dean kembali menyusuri tepi pantai. Kali ini dia memeriksa dengan lebih teliti lagi, termasuk bongkahan kayu serta tumpukan rumput laut yang terdampar di pantai.


Ketika dia mencapai tebing pantai, Alan muncul.


"Kau menemukan sesuatu?" Tanyanya.


"Sejauh ini tidak ada. Tapi aku akan memeriksa tebing ini. Lebih bahaya bagi mereka jika tersangkut di bebatuan tebing." Ujar Dean.


"Kalau begitu, ayo." Alan baru akan bergerak ketika Dean menghentikannya.


"Ku rasa sebaiknya kau memeriksa tebing pantai yang sebelah situ, terus mengarah ke area pemukiman penduduk." Saran Dean.


"Hemm, baiklah. Ku rasa kau benar. Mereka mungkin tersebar di pantai sepanjang pulau ini." Alan mengangguk.


"Petang sudah harus kembali." Pesan Dean.


"Oke." Alan mengangkat jempolnya. Lalu melesat pergi ke arah sebaliknya dari jalur Dean.


Dean kembali memeriksa area tebing pantai dengan teliti. Bahkan sela-sela karang juga diamatinya. Khawatir ada yang tersangkut di situ. Tubuhnya basah terkena percikan ombak yang membentur karang. Tapi semua itu diabaikannya.


Hingga Dean menemukan area pantai landai lainnya yang kemarin didatangi Alan dan Nastiti. Dean menoleh ke arah tebing karang yang barusan dilaluinya. Panjang area bertebing itu setidaknya ada antara 7 hingga 8 kilometer.


"Sudah sejauh ini, tapi tak menemukan seorangpun." gumam Dean cemas.


"Sudah sore, aku harus selesaikan pemeriksaan pantai ini sebelum gelap."


Dean kembali menyusuri bibir pantai. Permukaan air laut sudah mulai naik. Hingga petang turun dan pandangan mulai samar-samar, Dean tetap tak menemukan siapapun. Bahkan sekeping pecahan kapalpun tak ada di pantai ini. Dean berdiri di atas pasir. Pandangannya mengarah ke dalam hutan kelapa yang mulai gelap. Tak ada yang terlihat mencurigakan.


"Aku harus kembali. Semoga Alan menemukan yang lainnya di bagian sana," harap Dean.


Sejenak Dean terbang perlahan di kedalaman hutan kelapa. Mengharapkan satu saja petunjuk yang mungkin bisa menahannya tetap di situ.


Tak ada. Hutan itu sunyi dan gelap.


"Semoga Tuhan selalu melindungi kalian." Doa Dean dalam hati. Lalu melesat cepat ke arah pondok.


*


"Apakah Alan sudah kembali?" Tanya Dean begitu memasuki pelataran.


"Ya, dia sedang mengambil air untuk kamar mandi." Widuri menghampirinya. Dean mengecup keningnya sambil tersenyum.


"Apa dia menemukan yang lainnya?" tanya Dean lembut. Widuri menggeleng muram.


"Aku akan ke tebing untuk mandi. Kau mau ikut?" tanya Dean yang tak ingin melepaskan pelukannya pada Widuri.


"Aku sudah mandi. Cepatlah mandi." Widuri mendorong tubuh Dean.


"Dean, ini peliharaanmu? Dia mengekori kemanapun aku pergi. Rasanya jantungku tak kuat tiap mendengar aumannya." Dokter Chandra menunjuk cloudy.


"Aku menemukannya di hutan kelapa tempat tadi anda ditemukan. Dia tak mau ditinggal sendirian, jadi kubawa pulang. Sekarang dia peliharaan Widuri." Dean tersenyum lebar.


"Cloudy.. sini.."


Macan tutul abu-abu itu melompat ke pelukan Dean dan memeluknya manja. Dean menciumi dan mengelus-elus bulu halus di kepalanya.

__ADS_1


"Apa kau merindukanku?" Cloudy menatap Dean dengan matanya yang menggemaskan.


"Paman sudah kembali?" terdengar suara Yoshi.


"Ya. Bagaimana dengan Niken?" tanya Dean, karena melihat Yoshi keluar dari kamar para wanita.


"Apakah bibi yang di dalam itu juga temanmu? Dia berkali-kali mengamuk dan ingin lari. Padahal dia tak punya tenaga." Yoshi mengadu dengan manja.


"Dia bahkan menggigit tangan paman Sunil. Mengerikan! Tabib jadi ikut takut memeriksanya."


"Jadi dia belum diperiksa?" tanya Dean heran.


"Sudah."


"Tapi barusan, dia ingin pergi lagi. Jadi tabib membuatnya tidur lagi." Kata Yoshi.


Tabib berdiri di pintu kamar dengan wajah berpeluh. Yoshi membantunya berjalan ke arah meja.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Dean ingin tau.


"Wahh, dia sangat ulet. Tiap kali bangun selalu ingin lari." Tabib tua itu menggelengkan kepalanya.


"Tapi aku tak melihat ada luka atau apapun di tubuhnya. Sepertinya dia sedang shock saja." Jelas tabib.


"Paman, perlukah aku beri sedikit kemampuanku pada bibi itu?" Yoshi menawarkan diri.


"Tidak!" Jawab Dean tegas.


"Jika kau lakukan itu, kau akan sakit beberapa hari. Ayahmu bisa membenciku kalau terus menyusahkan putrinya. Bi akan mengutukku jika tau aku terus menyakitimu." Dean menggeleng tegas.


"Paman, aku jadi merindukan ibu." Mata Yoshi mengembun lalu buliran air bening meluncur turun di kedua pipinya.


"Ibumu sudah bahagia karena bisa menjagamu dan penduduk kota dengan nyawanya. Dia pahlawan. Jangan tangisi. Jadilah anak yang kuat dan jaga ayahmu. Oke? Kau bisa berjanji padaku?" Bujuk Dean lembut.


Widuri meletakkan makanan di meja.


"Pamanmu belum mandi. Nanti kau ketularan bau." Kata Widuri pada Yoshi.


"Ah, yah.. aku pergi mandi dulu. Ada aturan tak tertulis di sini. Yang tidak mandi, tak dapat makan." Canda Dean.


Byuuurrr..


Alan menuang air yang dibawanya di atas kepala, ke penyimpanan air di atas kamar mandi. Dokter Chandra terkejut melihat apa yang terjadi. Dia bisa melihat kumpulan air melayang turun ke atas kamar mandi.


'Apakah ini hutan sihir?' pikirnya takut.


"Kau melakukan hal itu lagi." Kata tabib tua.


"Dan kau bilang itu bukan mengendalikan air?" Tanyanya tak percaya.


"Harusnya Dean yang melakukannya. Tapi dia melewatkan tugasnya." Jawab Alan santai.


"Dean? Kau juga bisa?" Tanya dokter Chandra tak percaya.


"Aku mandi dulu." Dean bergegas ke kamar mandi.

__ADS_1


"Nanti malam kau yang mengisi air lagi, Dean." teriak Alan.


Dean mengaitkan ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf O, tanda setuju. Lalu dia hilang dibalik pintu kamar mandi.


Saat Dean selesai mandi, semua temannya sedang berkumpul dan mengelilingi meja. Makan malam itu telah dimulai. Dean melankah menuju kamar untuk melihat Sunil.


Marianne sedang mengajaknya bicara sambil menyuapinya kaldu daging.


"Sunil, dokter Chandra sudah ada di sini. Semoga dia bisa membuatmu bangun lebih cepat. Kau juga harus berjuang untuk bangun ya. Jangan terlalu lama. Ingat anak-anakmu. Kasihan mereka jika kau juga tak ada." Kata Marianne.


Dean batal masuk kamar itu dan membiarkan Marianne. Dilangkahkannya kaki menuju kamar para wanita. Dari pintu tampak Niken yang tertidur dengan gelisah. Dia pasti mengalami mimpi buruk. Dean masuk dan duduk di samping. Ditepuk-tepuknya punggung tangan Niken untuk menenangkan tidurnya yang gelisah.


"Kami akan menjagamu Niken, tenanglah. Pulihkan tubuhmu dulu. Besok kita cari lagi mereka." Kata Dean sambil terus menepuk-nepuk punggung tangan Niken.


Gerakan liar bola mata Niken kini lebih tenang. Kegelisahannya berkurang. Tapi Dean masih khawatir. Dia keluar kamar. Memanggil cloudy dan memintanya menjaga Niken sebentar. Cloudy nelompat ke dalam kamar dan duduk dengan tenang.


Dean bergabung dengan yang lainnya. Alan berdiri saat Dean sampai.


"Mau kemana kau?" tanya Dean.


"Menyetrum kaki Sunil." Jawab Alan sambil jalan.


"Apa?!" Dokter Chandra terlonjak kaget.


"Stop! Apa yang kalian ingin lakukan padanya?" Dokter Chandra berdiri di hadapan Alan dengan wajah marah.


"Aku cuma mau menyetrumnya dok. Pagi jari-jari tangannya. Lalu sore bagian kakinya." Alan menjelaskan dengan jujur dan tanpa rasa bersalah.


"Kalian gila ya?!" Kalian sedang melakukan percobaan pada Sunil? Itulah sebabnya dia koma? Ini biadab!" Dokter Chandra tak dapat menahan kekesalannya lagi.


Semua termangu mendengar tuduhan itu. Dean menghela nafas panjang. Dokter Chandra tidak tau yang terjadi. Sementara Alan tak punya kemampuan menjelaskan sesuatu dengan baik. Itulah penyebab salah paham ini.


"Alan, kau diam saja di situ. Tidak kemana-mana sampai diijinkan." Dean menunggu jawaban Alan yang masih ingin membantah.


"Baiklah.. aku duduk di sini saja." Alan mengalah.


"Dokter, tenanglah. Anda salah faham. Biar kami jelaskan semuanya." Dean mempersilahkan dokter Chandra untuk duduk dan menyelesaikan makannya.


Dean baru ingin duduk..


"Ehem.. aku sudah selesai. Biar ku periksa paman Sunilmu." Tabib bicara pada Yoshi yang masih terdiam.


"Ah, ayo.. Yoshi bantu." Yoshi berdiri dan membantu tabib ke kamar Sunil.


Dean diam. Dia mengerti bahwa tabib tua itu mungkin tersinggung mendengar kata-kata yang dilontarkan dokter Chandra. Karena cara menyetrum itu adalah ide darinya.


Meja itu hening dalam ketegangan. Michael menyingkir tanpa sesiapapun yang tau. Dia duduk mencangkung kaki di dekat tiang pelataran di sebelah Alan.


Tinggal Dean, dokter Chandra, Widuri dan Nastiti yang masih di meja. Lalu menyusul Marianne ikut duduk dan mengambil makan malamnya.


"Widuri, Dean belum makan." Tegur Marianne yang melihat semua orang terbengong bingung.


"Oh? Ah.. ya.. segera ku ambilkan."


Widuri pergi ke meja dapur untuk mengambil piring bersih, dan membawanya ke meja. Nastiti membereskan sedikit kekacauan di meja agar Marianne, Dean dan dokter Chandra bisa makan dengan nyaman.

__ADS_1


Di meja tinggal Dean, Marianne dan dokter Chandra. Dokter Chandra memberi Dean dan Marianne waktu untuk mengisi perut lebih dulu sebelum menjelaskan kesalah fahaman yang dimaksud Dean tadi.


*****


__ADS_2