
Keesokan hari.
Tabib datang setelah tuan Felix menikmati bubur obat buatan Silvia. Glenn menjelaskan tentang pemeriksaan dan pengobatan yang sedang dijalani ayahnya.
Tabib tua itu mengangguk mengerti.
"Bolehkah saya berkenalan dengan mereka tuan muda? Saya bersedia belajar hal baru." tanyanya.
"Tentu saja. Mereka sedang di ruang baca. Mari saya kenalkan." Glenn mengajak tabib itu pergi.
Di ruang baca, Silvia dan Robert sedang berdebat tentang sesuatu. Mereka berhenti ketika pintu ruang baca terbuka dan melihat Glenn. Tabib ikut menyusul masuk di belakangnya.
"Ini tabib Michfur. Dia ingin berkenalan dengan kalian." Glenn memperkenalkan.
"Oh, hallo. Salam.kenal. Saya dokter Chandra," sapa dokter Chandra ramah.
Mereka berkenalan. Lalu berdiskusi tentang temuan yang didapat dokter Chandra selama pemeriksaan dan kesimpulan penyakitnya. Dokter Chandra menerangkan metode pemeriksaannya pada tabib Michfur yang mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Bagaimana bisa manusia tetap hidup setelah ginjalnya diambil?" tanyanya tak percaya.
"Karena ginjal manusia itu ada 2, kiri dan kanan. Selama yang satu itu masih sehat, maka kita akan baik-baik saja." jawab dokter Chandra.
Akhirnya dokter Chandra menjelaskan detail anatomi manusia. Silvia kagum dengan kemahiran dokter Chandra menggambar. Sementara tabib Michfur dan Glenn semakin terpukau karena tak menyangka bahwa ada orang yang tau jelas hingga bisa dengan mudah menggambar bentuk serta posisinya di dalam tubuh.
"Anda sangat mahir menggambar bentuknya. Apakah anda sering mengoperasi pasien anda?" tanya tabib Michfur hati-hati.
"Seorang dokter tentu saja harus hafal bentuk dan letak organ manusia di dalam tubuh. Itu pelajaran dasar." Dokter Chandra tersenyum.
Pada akhirnya, mereka bekerjasama dalam pengobatan tuan Felix. Masukan tabib Michfur tentang aneka macam herbal, sangat berarti bagi dokter Chandra yang tidak terlalu memahami pengobatan herbal. Sedangkan sang tabib juga belajar banyak pengetahuan medis baru dan juga organ tubuh manusia.
Tak terasa, satu minggu sudah mereka berkolaborasi. Tuan Felix senang melihat kekompakan mereka. Terlebih lagi, karena sekarang dia tak lagi merasa bosan minum obat. Karena obatnya sudah dicampur dalam makanan dan minumannya.
Tampak perubahan pada warna mata dan kulit tuan Felix. Warna kekuningan itu sudah pudar. Batuknya mulai mengeluarkan riak, tapi sesak nafasnya masih bertahan.
Dengan telaten, Silvia membersihkan ulang luka di punggung tuan Felix. Hari ke sepuluh, luka itu akhirnya mengering. Semua senang melihatnya. Tinggal menunggu hasil baik dari ginjalnya.
Sesekali anggota tim lain datang berkunjung dan mengobrol. Robert juga beberapa kali kembali ke kediaman Glenn untuk menemani yang lainnya.
Hari ke 12, tuan Felix mengeluhkan sakit yang luar biasa. Karena sudah memantau setiap hari, mulai dari urine, kondisi kulit, rasa mual dan muntahnya yang kerap terjadi dan yang lainnya. Akhirnya dokter Chandra mengatakan mungkin ginjal kirinya semakin parah dan tak bisa dipertahankan lagi.
Keluarga Glenn berdiskusi tentang operasi pengangkatan ginjal. Dan itu bukan hal sederhana bagi dokter Chandra. Operasi tanpa peralatan penunjang sangatlah berbahaya. Mereka bahkan tak punya pisau bedah, jarum, obat anestesi serta antibiotik. Ini pekerjaan besar. Dokter Chandra menjelaskan dengan sejujurnya kondisi yang ada serta kemungkinan terburuknya.
"Yang Mulia Raja tiba..." terdengar pemberitahuan dari depan pintu kamar sebelum terbuka.
Semua orang terkejut. Tapi Glenn segera berjongkok dan menundukkan kepalanya. Dokter Chandra, tabib dan pelayan ikut berjongkok di tempatnya masing-masing.
Suara langkah terdengar memasuki kamar besar itu.
"Semoga yang mulia panjang umur.." serempak terdengar seruan semua orang saat langkah kaki itu bethenti di tengah ruang.
"Terima kasih. Bangkitlah. Aku ingin menjenguk paman. Bagaimana keadaanmu sekarang paman?"
Raja berjalan mendekati ranjang. Tuan Felix berusaha tersenyum.
__ADS_1
"Seperti biasa keponakanku.. seperti biasanya orang tua. Jangan khawatir."
Sang raja menganggukkan kepala. Tersenyum pada tuan Felix sambil menepuk-nepuk punggung tangannya yang tampak membengkak. Raja merasa waktu pamannya sudah dekat.
"Paman, kau masih segagah saat kau mengajariku berkuda dan memanah," hiburnya sambil menggenggam telapak tangan itu.
"Bukankah begitu bibi?" kepalanya menoleh ke arah ibu Glenn yang tetap tersenyum lembut.
"Pamanmu selalu selalu tampak gagah. Bahkan di atas tempat tidurnya. Itu sebabnya aku mencintainya," pujinya tulus.
"Hahahaa.. bibi benar sekali. Paman harus tetap semangat. Jangan khawatirkan aku lagi. Ada Glenn yang selalu mendukungku."
Tuan Felix mengangguk dan tersenyum. Dia terlihat kelelahan dan sesak nafas. Melihat itu, sang raja melepaskan genggaman tangannya dan berdiri di samping tempat tidur.
"Tampaknya aku membuat paman lelah. Istirahatlah. Bibi, kau juga beristirahatlah." Sang raja berjalan menuju pintu keluar. Sebelum mencapai pintu, dia berbalik.
"Glenn, tabib, ikut aku," perintahnya.
"Terima kasih atas kunjungan dan berkah dari Yang Mulia."
Terdengar suara serempak dari Ibu Glenn dan para pelayan saat sang raja melanjutkan langkah.
Glenn dan tabib mengikuti dari belakang. Karena tak ada yang harus dilakukan, dokter Chandra kemudian membiarkan tuan Felix untuk beristirahat.
"Saya akan berada di kamar. Jika terjadi sesuatu, panggil saja," pamit dokter Chandra.
Tuan Glenn mengangguk lemah.
**
Dokter Chandra yang mendengar ketukan di pintu kamarnya, segera berdiri dari kursi.
Tampak pelayan di depan pintu.
"Tuan, dipanggil yang mulia ke ruang kerja," kata pelayan.
"Baik."
Dokter Chandra mengikuti langkahnya menuju ruang kerja tuan Felix yang digunakan sang raja.
Setelah berada di dalam, dokter Chandra disambut Glenn, lalu membungkukkan badannya pada sang raja.
"Duduklah," perintahnya.
Semua orang kini duduk di depan sang raja.
"Mereka sudah mengatakan kondisi pama Felix. Dan juga mengatakan bahwa anda mungkin bisa menyembuhkannya dengan membuang organ yang rusak tersebut. Apakah anda bisa menjamin paman akan sehat lagi?" tanya raja.
"Yang mulia, jika operasi itu dilakukan di dunia kami, maka kemungkinan sehat lagi sangatlah besar. Tapi jika dilakukan di sini tanpa peralatan yang memadai, saya justru khawatir akan terjadi infeksi atas luka yang kita buat. Tidak ada ruang steril, tidak ada pisau bedah, tidak ada pasokan darah untuk keadaan darurat, tidak ada alat bantu pernafasan, monitor jantung, tidak ada jarum suntik, tidak ada anestesi, antibiotik dan hal-hal dasar operasi pengangkatan ginjal. Jadi menurut saya, ini adalah hal yang besar dan butuh persiapan lama." jelas dokter Chandra apa adanya.
Sang raja terdiam mendengar itu.
"Jadi, meskipun kami bersedia paman dioperasi, anda masih butuh waktu untuk menyiapkan alat-alat. Juga tetap tidak mampu memberi jaminan selamat. Bukankah itu percuma saja?"
__ADS_1
Terdengar suara raja yang makin meninggi. Dokter Chandra jadi gugup.
"Tapi setidaknya kita berusaha dulu bukan? Bagaimana aku bisa melihat ayah begitu saja? Jika memang masih ada cara, maka harus dicoba." Glenn ngotot.
"Tapi temanmu ini bahkan tidak punya alat untuk operasi itu. Anda butuh apa untuk membuka perut paman?" tanya raja kesal.
"Untuk membuka tubuh pasien, butuh pisau bedah, tapi..."
"Ini pisau, pakailah."
Belum selesai dokter Chandra menjelaskan, raja sudah meletakkan belati kecil dari pinggangnya ke atas meja. Semua orang terkejut melihatnya.
"Untuk operasi, tak bisa sembarang pisau. Glenn beri aku kertas, akan ku gambarkan bentuk pisau yang ku butuhkan. Semoga kau bisa menyiapkannya." Kata dokter Chandra.
Glenn segera berdiri dan meraih kertas serta pena. Menyerahkannya pada dokter Chandra.
Dokter Chandra mulai menggambar beberapa bentuk pisau yang diinginkannya. Juga jarum jahit, serta benang halus dan kuat. Dokter Chandra juga meminta dibuatkan jarum berongga seperti jarum suntik dan pinset.
Setelah melihat kertas itu, Raja. Glenn dan tabib Michfur takjub melihat alat-alat yang digambar dokter Chandra.
"Buat sebisanya. Lalu siapkan kamar kosong. Copot semua gorden, angkat karpet, bersihkan dari apapun yang tidak penting. sterilkan ruangan. Letakkan meja untuk operasi di tengah ruangan. Upayakan ruangan itu cukup terang. Siapkan kain-kain, kapas bersih dan steril. Termasuk semua alat ini harus steril. Apa bisa?" tanya dokter Chandra.
"Akan ku kerjakan." Glenn menjawab cepat.
Tabib dan raja berdiskusi tentang siapa yang harus membuat alat yang dibutuhkan dokter Chandra. Lalu tabib pergi. Sekarang tinggal dokter Chandra dan sang raja di ruangan.
"Bisakah anda menceritakan tentang dunia anda? Dulu saat aku dan Glenn kecil, paman Felix sering bercerita tentang sebuah negeri jauh yang kemudian jadi impian untuk ku jelajahi. Tapi setelah menjadi raja, impian itu terkubur begitu saja. Apa kau mengenal tulisan ini?"
Sang raja mengeluarkan sebuah kertas kuning dari balik penutup dadanya. Lipatan kertas itu dibuka, lalu didorong ke arah dokter Chandra.
"Ini..?!" dokter Chandra terkejut melihat tulisan itu.
"Apakah maksud yang mulia, bahwa tuan Felix pernah menjelajahi negeri ini?" tampak jelas cahaya harapan di wajahnya.
"Anda mengenali tulisan ini?" Raja balik bertanya tanpa menjawab.
"Saya tidak yakin, tapi bolehkan saya panggil teman saya yang lain? Dia dari negara yang berbeda, mungkin bisa mengetahui bahasa ini," kata dokter Chandra.
"Panggillah." Raja memberi ijin.
Dokter Chandra meminta pelayan memanggil Robert.
Tak butuh waktu lama, Robert datang. Setelah mengetahui status raja, Robert memberi salam selayaknya. Kemudian duduk di sebelah dokter Chandra yang tampak berseri-seri.
"Ada apa?" tanyanya heran.
"Coba kau lihat tulisan ini." Dokter Chandra menggeser kertas di meja ke hadapan Robert.
"Ini..!" Robert ternganga.
"Ini huruf yang umum dipakai di eropa timur. Siapa yang menulis?" tanya Robert tak percaya.
"Berarti tebakanku benar. Ini tulisan dari eropa timur. Rusia dan sekitarnya," dokter Chandra tersenyum sumringah.
__ADS_1
*****