
Tak selang lama, Michael lari masuk ke dalam sel untuk menghindari sentilan hari Alan yang kejam.
"Aku tak mau main lagi. Kau curang," protes Michael dari dalam sel.
Alan emosi mendengarnya, dia ingin menerobos masuk, tapi ditahan Dean.
"Sudah, jangan bertengkar. Kau juga, kalau sentil itu jangan kencang-kencang. Itu kan sakit!"
"Tck!" Alan mendecak kesal.
Dean menepuk-nepuk pundak Alan untuk menenangkan.
"Sunil dan Robert sudah ku pindahkan ke tempatmu," kata Dean melalui pesan transmisi.
"Kau sudah tenang sekarang? Biar ku lihat Michael di dalam," ujar Dean.
Alan tak menyahut. Dean melangkah masuk ke selnya. Dilihatnya Michael duduk di sudut ruangan.
"Apa sudah selesai?" tanya Dean. Michael mengangguk.
Dean membantu Michael berdiri dan mengajaknya keluar. Tapi ternyata di depan pintu sel, Alan sudah menunggu dengan wajah yang amat kesal.
"Apa kalian bersekongkol berdua sekarang? Aku ditinggal sendirian di sini! Apa kalian tidak menginginkanku lagi?"
Alan tak berhenti mengomel. Dia terlihat masih belum puas sebelum menyentil Michael. Hingga akhirnya Dean menyelamatkan Michael dari tekad Alan untuk menyentil dahinya. Dean mendorong Alan masuk ke dalam sel untuk memisahkan keduanya.
"Sudahlah. Kita berhenti bermain dulu. Kau sedang emosi. Tenangkan dulu dirimu di sana!" ujar Dean ketus.
"Apa kau tak apa-apa?" tanya Dean.
Dean menepuk-nepuk dada Michael sambil memindahkan Dokter Chandra ke dalam ruang penyimpanannya.
"Aku sudah memindahkan dokter Chandra ke penyimpananku," kata Dean lewat transmisi suara.
Michael mengangguk. Sekarang keduanya melihat ke arah Alan yang duduk di lantai sel dengan santai. Dean menggeleng. Dia masuk dan menjemput Alan. Michael pura-pura tak mempedulikannya. Dia melihat ke arah lain.
"Apa sudah selesai?" tanya Dean pada Alan. Alan mengangguk.
"Ayo kita keluar," ajaknya.
Keduanya menemui Michael yang masih berdiri memunggungi.
"Ayo, kalian berdamai. Kita berdamai saja hari ini. Tak usah bermain lagi. Oke?" bujuk Dean pada kedua temannya.
Dean meraih tangan kedua temannya. "Kita teman seiring, harus selalu kompak dan jangan ada permusuhan. Oke?" tanyanya memastikan.
__ADS_1
Dengan wajah malas kedua orang itu akhirnya mengangguk.
"Oke," jawab mereka.
Dean tersenyum lebar. "Wajah tampanmu bisa hilang kalau kau cemberut terus," ledek Dean pada Alan.
"Aku mau istirahat."
Alan berjalan pergi meninggalkan Dean dan Michael.
Dean dan Michael tak mencegahnya. Mereka masih berdiri dan berbincang di dekat sel Dean.
"Lalu bagaimana dengan Dokter Chandra? Bukankah tidak bisa memindahkan seluruh jiwa Penguasa jika Beliau belum meninggal?" tanya Michael.
Dean mengangguk.
"Itu sebabnya biar Dokter Chandra bersamaku saja, untuk menjaga segala kemungkinan."
"Apakah Penguasa tidak dalam keadaan payah sekarang? Seperlima jiwanya telah dipindahkan. Beliau mungkin sedang butuh bantuanmu, Dean," Michael mengingatkan.
"Aku ingin istirahat dulu."
Dean meninggalkan Michael yang berdiri mematung.
Tak ada pilihan lain, Michael juga kembali ke selnya sendiri. Hati Michael gundah. Penguasa jadi selemah itu, karena ingin menolong mereka keluar dari tempat terkutuk ini. Hatinya geram sekali. Bagaimana bisa ada bangsa Cahaya yang mampu berkhianat dan tak tau malu menginginkan kekuatan Penguasa untuk dirinya? Apa dia pikir dia pantas?
*
*
Hari kembali berganti.
Setelah tiga hari tanpa insiden berarti. Akhirnya penghuni penjara diijinkan kembali berjemur matahari yang kusam.
Mereka sangat gembira. Gesekan para penghuni akibat stress yang terjadi kemarin, kembali terurai. Mereka melakukan banyak permainan luar ruang. Menghabiskan kelebihan energi dengan cara itu.
Dean, Alan dan Michael ikut berdiri menikmati tiupan angin. Mereka mengamati permainan di lapangan.
"Jadi, bagaimana Dean?" tanya Michael.
"Penguasa sudah pergi selamanya malam tadi. Aku sudah memindahkan pecahan terakhir jiwanya kepada Dokter Chandra. Dan ku pikir, lebih baik mengembalikannya ke ruang penyimpanannmu, Michael," kata Dean.
Dean menyentuh dada Michael yang terdiam. Alan juga terdiam mendengar kabar itu.
"Aku merasa jadi pembunuh karena menerima pecahan jiwanya hingga Penguasa jadi melemah dan makin berumur pendek," ujar Michael tanpa sadar.
__ADS_1
"Hei, kuasai dirimu!" tegur Alan.
"Lalu sekarang bagaimana? Jasadnya dimana?" tanya Alan.
"Sudah ku simpan. Tunggu saja kode yang ku buat. Lalu kita pergi dari sini!" Dean berkata dengan nada dingin.
"Hahahh! Baiklah. Saatnya kita beraksi," ujar Alan bersemangat.
"Jika masih ada barang penting kalian yang tertinggal di sel, segera ambil dan berkumpul di sini lagi," saran Dean.
"Tidak ada."
Michael dan Alan menggeleng.
"Bagus!" Dean tersenyum.
Ketiga orang itu melihat permainan dengan asik sambil menunggu pertanda yang sudah dibuat Dean.
"Dean, bagaimana dengan pisau Robert yang dirampas bajingan itu?" tanya Alan geram.
"Dia juga merampas barang yang bukan miliknya. Kita harus mengambilnya kembali," ujar Dean.
"Hah? Bagaimana caranya? Bukankah menampakkan diri padanya justru bahaya?" tanya Michael heran.
"Ya, betul. Ku kira kita akan melarikan diri setelah mengambil lagi pisau Robert secara diam-diam," Alan juga tak menyangka Dean akan senekad itu.
"Apa yang perlu ditakutkan? Kita punya kemampuan dan tidak lagi bisa ditekannya!" jawab Dean percaya diri.
Alan dan Michael berpandangan. Mereka melihat Dean yang lain sekarang. Apa dia lagi emosi?
"Baiklah. Sesuai keputusanmu saja. Tapi bagaimana dengan Robert dan Sunil? Apa per—"
"Keluarkan mereka saat waktunya tiba!" Dean memotong ucapan Alan.
"Oke! Kita butuh kemampuan mereka berdua untuk menghanguskan tempat sialan ini!"
Alan terkekeh senang.
Dean menggeleng tak setuju.
"Jangan dibumi hanguskan. Setidaknya, penjara ini mungkin bisa jadi tempat berlindung yang aman di dunia asing ini."
"Betul. Kau ini terlalu kejam Z!" tegur Michael.
"Ssssttt ... sudah saatnya!" Bisik Dean misterius.
__ADS_1
Alan dan Michael sungguh penasaran dengan rencana kejutan yang disiap Dean.
******"