PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 154. Robert, Liam dan Laras


__ADS_3

"Ughh.. uhukk.. uhukkk!"


Terdengar suara keluhan dan batuk-batuk samar diantara karang. Bunyi hempasan air ke batu karang menyamarkan suaranya.


Entah apakah hangatnya sinar matahari pagi yang membangunkannya ataukah cipratan air ke wajahnya.


"Akhh.. kepalaku sakit sekali," keluhnya sambil memegangi kepala yang terasa sangat berat. Dipejamkannya mata rapat-rapat menahankan rasa nyeri yang mendera.


Sekelebat ingatan muncul dalam fikirannya. Gelegar guntur dahsyat dan sambaran petir yang dia tak bisa bayangkan berapa kekuatannya, menyambut perahunya begitu melewati cahaya di tengah laut itu. Tak ayal perahunya langsung terombang ambing. Tak ada kesempatan untuk melarang Indra mengikutinya masuk. Alhasil perahu keduanya seperti mainan yang sedang diadu oleh ganasnya ombak lautan.


Mereka berjuang untuk mendayung agar menjauh dari area sambaran petir. Namun lamunan ombak tak berkesudahan. Para wanita mulai mabuk laut. Perut mual tak tertahan hingga muntah. Itu membuat perahu kehilangan kendali dan membentur satu sama lain.


Robert menitikkan air matanya membayangkan apa yang bakal dilihatnya jika membuka mata.


"Tuhan, ampuni aku yang membawa mereka menuju kehancuran."


Air matanya makin deras jatuh, bercampur air laut. Dia terisak-isak dan membiarkan air mempermainkan kakinya menghempas ke kanan-kiri.


"To..long..."


Diantara deru suara hempasan air di batu karang, sayup-sayup terdengar suara lemah itu. Robert segera membuka matanya. Kini dia bisa melihat bahwa dirinya terdampar di pantai penuh batu karang yang tajam. Tubuhnya berada di atas sebongkah batu kasar, sementara kedua kakinya masih berada di air.


"To.. long.."


Suara itu kembali terdengar.


Robert berusaha memperbaiki posisinya di atas batu. Tangannya menggapai untuk menarik seluruh tubuhnya keluar dari air.


"Tanganku berdarah?"


Dia segera memeriksa kedua tangannya dengan teliti. Ada banyak sekali luka gores. Tapi tidak mungkin menimbulkan darah sebanyak itu.


"Akhh.. kepalaku sakit banget," keluhnya lagi. Tangannya otomatis memegang kepalanya yang sakit.


"Aku harus mencari suara itu," gumamnya.


Robert mencoba bangkit dan kembali terkejut melihat darah bercampur air mengucur di telapak tangannya. Dipeganginya lagi kepala untuk meyakinkan.


"Sepertinya kepalaku luka. Pantas sakit banget."


Lalu Robert bangkit, mencoba mencari pijakan dari batu ke batu. Dia termangu saat menyadari tempatnya terdampar. Itu adalah hamparan batu karang yang luas. Sekira 200 meter sebelum mencapai tebing batu yang menjulang tinggi di depan sana.


"Aku harus bergegas mencari yang lain. Harus naik ke atas sana sebelum air laut kembali naik. Aku berada di sini mungkin karena air surut membuatku tersangkut di bebatuan ini."


Robert melangkah dari batu ke batu. Sesekali dia harus melompat jika jarak pijakan terlalu jauh.


"Halooo..! ada yang bisa mendengarku? Siapa saja, tolong jawab." Teriak Robert untuk memberitahukan keberadaannya.


"To.. long.."


Robert mengenali suara itu.


"Liam? Liam! Katakan dimana posisimu!" Teriak Robert.


"Aku.. di.. sini.. Sini.." Suara itu terdengar makin lemah.


Robert berjalan mengikuti arah suara Liam. Tapi dia masih belum menemukannya.


"Liam? Dimana kau?" Teriak Robert lagi.

__ADS_1


"Di sini."


Robert melihat sesuatu bergerak di tengah-tengah kumpulan karang dan genangan air laut.


"Aku menemukanmu." Robert berjalan tertatih menapaki batu-batu karang yang super tajam. Jalan ke arah Liam makin sulit karena genangan air laut membuat karang-karang di bawahnya tak terlihat.


"Apa kau tak bisa ke sini?" Teriak Robert.


"Kaki.. ku.. ter.. jepit.." Suara Liam makin lemah.


"Kalau begitu, diam di situ. Jangan tarik, nanti luka."


Robert melarang Liam bergerak. Dia berjalan hati-hati dan meraba dengan kakinya lebih dulu sebelum berpijak.


"Auuu.."


Robert tergelincir karena menginjak permukaan yang licin atau mungkin karang yang tertutup rumput laut. Kakinya tergores karang tajam. Air genangan berbaur merahnya darah ketika kepala Robert terbenam sebentar dalam air. Robert segera mengeluarkan kepalanya dari air. Dia terbatuk-batuk saat kembali menelan air asin yang keruh.


"Aku hampir mencapaimu. Sabar ya." Robert terus membuat Liam tetap sadar dengan mengajaknya bicara.


Setelah menambah luka baru di betis kiri dan menyobekkan kaki celananya. Robert akhirnya mencapai posisi Liam yang setengah telungkup. Hanya dadanya yang berada di permukaan air n menumpu batu. Air di sekitar itu sudah memerah. Liam sudah berada antara sadar dan pingsan.


'Dia sudah kehilangan banyak darah dan dehidrasi.' batin Robert.


"Liam, kau dengar aku? Biar ku lihat ke dalam air untuk melepas kakimu yang terjepit." Robert bicara dekat dengan telinga Liam.


"Hemm." Jawab Liam singkat.


Robert menarik nafas dalam lalu merunduk ke dalam air yang memerah untuk melihat posisi kaki Liam. Air laut itu buram, bercampur pasir dan warna darah, makin menyulitkan pandangan. Setelah berdiam sebentar agar pasir mengendap, Robert akhirnya bisa melihat posisi kaki Liam. Ada kepingan kayu tersangkut antara batu yang menjepit kaki Liam.


Kepala Robert keluar dari air dan dia menarik nafas dalam-dalam. Perih kepalanya sudah tak dihiraukannya. Kepalanya menoleh ke kanan kiri mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mendorong kayu yang mengganjal dan membuat kaki Liam terjepit.


Robert melihat sebatang kayu patah tak jauh dari situ. Dihampirinya dengan susah payah. Dia juga mengambil sebongkah batu kasar di bawah air. Dia kembali ke arah Liam.


"Gawat. Aku harus membawanya menjauh dari sini sesegera mungkin." Robert mulai khawatir.


Dia menyelam, patahan kayu diposisikan pada kepingan papan yang tersangkut. Lalu bongkahan batu kasar itu dipakai untuk mengetuk. Itu bukan hal mudah, karena tenaga yang dikeluarkan di dalam air akan sedikit terhambat. Membuat tekanan dan kekuatannya jadi berkurang. Tapi Robert tak putus asa. Dia terus menyungkit dengan mengetuk patahan kayu.


Sesekali Robert keluar dari air untuk mengambil oksigen, lalu kembali menyelam.


'Sedikit lagi," batinnya dengan penuh semangat.


"Ahh.. " Robert keluar dari air begitu kepingan kayu yang mengganjal kaki Liam terlepas dari jepitannya.


Liam langsung merosot ke dalam air. Robert segera menahan tubuh yang sudah tak sadarkan diri itu. Perlahan-lahan dibawanya tubuh Liam lebih dekat ke arah tebing.


Setelah menempuh kesulitan yang tak terkatakan, Akhirnya Liam bisa dibaringkan di atas sebongkah batu yang lebih tinggi dari lainnya.


Robert khawatir melihat kondisi Liam. Diperiksanya ransel yang masih tersangkut di punggungnya. Diambilnya sehelai Tshirt dan disobeknya jadi beberapa bagian. Kain itu digunakan untuk mengikat kaki Liam yang luka sobek. Bagian lainnya digunakannya sendiri untuk menutup luka di kepalanya agar darah berhenti mengucur.


"Ahh, itu buah kelapa. Apakah masih utuh atau sudah dibuka?"


Robert turun dari batu, menggapai buah kelapa yang terapung dekat batu yang mereka duduki.


"Syukurlah, ini masih utuh." Robert otomatis meraba pinggangnya, mencari pisau besar yang tak pernah lupa dibawanya.


Dengan haru diteguknya air kelapa itu. Terasa seperti harta paling berharga saat ini.


"Liam, bangun. Ayo minum dulu. Aku menemukan kelapa muda. Liam, bangun."

__ADS_1


Robert menepuk-nepuk pipi Liam.


"Liam. Bangun. Minum dulu. Kau dehidrasi."


Plakk!


"Akhh!" Liam tersadar.


"Maaf, kau harus minum dulu agar segera pulih." Robert mengangsurkan buah kelapa itu ke mulut Liam.


Liam yang setengah sadar terlambat bereaksi. Namun saat air kelapa yang manis menyusup ke dalam mulutnya, dia otomatis berdecap meminumnya.


"Pelan-pelan," Robert tersenyum melihatnya.


"Sebentar kita buka dulu. Semoga buahnya bagus," kata Robert penuh harap.


Mereka menikmati buah kelapa itu sebagai pertolongan pertama pada saat lapar.


"Apa kau bisa ku tinggal dulu? Aku harus mencari yang lainnya." Tanya Robert.


"Hemm.. ya," jawab Liam lemah.


"Kau jangan kemana-mana. Aku akan menjemputmu nanti." Robert bangkit dari istirahatnya.


"Hallooo.. apakah ada yang mendengarku? Halloooo!" teriak Robert berkali-kali. Tapi tak ada jawaban.


"Biar ku periksa dulu." Robert pergi. menyusuri batu-batu karang.


Diperiksanya hamparan batu karang itu dengan teliti. Semakin lama semakin jauh dari Liam. Matahari makin tinggi, tubuhnya terasa lengket. Robert mulai merasakan haus lagi. Juga lapar. Tapi dia mengabaikan itu karena prioritas utamanya adalah menemukan anggota timnya yang lain. Sebelum air laut pasang naik.


"Hallooo... ada yang mendengarku? Laras, Silvia? Apa kalian mendengarku?" Teriaknya lagi.


Sesuatu yang terombang ambing di genangan air menarik perhatiannya. Robert kembali turun ke air dengan hati-hati untuk memeriksa.


Itu seperti bongkahan rumput laut raksasa.


"Ah, rumput laut juga bisa dikonsumsi. Biar ku tarik ke atas saja. Nanti pilih yang bagus untuk dimasak."


Robert meraih rumput laut yang mengapung di permukaan air. Tapi rasanya lumayan berat. Diperiksanya dengan seksama. Memotong dan mengurai belitan itu hingga dia terkejut setelah melihat apa yang dililit oleh rumput laut itu.


"Laras! Laras.. Apa kau mendengarku?" Ditepuk-tepuknya pipi Laras, tak berhasil.


Robert mulai memotong semua rumput laut yang membelit tubuh Laras. Dipanggulnya tubuh Laras di punggung dan membawanya menepi. Berulang kali telapak kakinya menggores karang tapi tak dihiraukannya.


Dibaringkannya Laras di sebelah Liam. Dicobanya memberi CPR dan pernafasan dari mulut ke mulut. Sekali, dua kali, hingga ketiga kali baru Laras terbatuk-batuk dan memuntahkan semua air dari perutnya.


"Uhuk.. uhukk.."


"Syukurlah.. syukurlah kau sudah sadar." Robert memeluk tubuh lemah itu tanpa sadar.


"Uhuk.." Laras perlahan membuka mata. Mencoba memahami keadaan. Tiba-tiba tubuhnya menegang, membuat Robert melepaskan pelukannya. Laras melihat ke segala arah.


"Di mana ini?" Bisiknya lirih.


"Kita.. kita.. bertabrakan dengan mereka.." Laras menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar hebat, menadakan dia mengingat kejadian itu dan membuatnya sangat takut.


"Tidak apa. Tidak apa. Kita aman sekarang. Nanti kita cari yang lainnya." Bujuk Robert lembut.


"Uhuu.. huu.. Silvia.. Niken.. Aku mendengar jeritan mereka di telingaku. Uhuuu.." Laras menangis dengan keras.

__ADS_1


Robert memeluk Laras untuk menenangkannya. Dia sendiripun tak tau bagaimana nasib teman-temannya yang lain. Dia akan mencari mereka semua. Tapi dia harus menemukan makanan secepatnya untuk mereka bertiga. Lalu membawa ketiganya ke tempat yang lebih tinggi agar aman.


*****


__ADS_2