
Baru saja dokter Chandra menginjakkan kaki di pintu masuk kediaman Glenn. Seorang pelayan datang dan mengatakan sesuatu pada Randal. Dokter Chandra membiarkan dan lanjut melangkah pergi menuju kamarnya di lantai 2.
"Tunggu dokter," seru Randal, mencegahnya pergi.
Dokter Chandra berhenti dan menoleh ke arah Randal. Randal menghampirinya.
"Pelayan mengatakan bahwa baru saja mendapat pesan dari yang mulia Raja. Anda semua diundang untuk menghadiri acara makan, malam ini." Randal menyampaikan perintah sang raja.
"Oh, baiklah. Lalu bagaimana kita pergi ke sana?" tanyanya.
"Nanti bersama saya. Akan saya antar ke istana," sahut Randal.
"Baik. Saya akan kabarkan teman-teman saya agar bersiap-siap. Terima kasih Randal."
Dokter Chandra melanjutkan langkahnya pergi. Randal juga pergi melanjutkan tugasnya.
*
"Jadi, ada acara makan malam di istana? Yaahhh, sayangnya aku tak punya gaun bagus," keluh Niken dengan mimik kecewa.
"Kau bukan ingin menarik perhatian para elf tampan negri ini kan?" Indra bertanya dengan cemburu.
"Hahaha.. Kau pria paling tampan, sayangku.."
Niken menenangkan Indra yang makin terlihat waspada jika ada elf pria menyapa Niken. Dia langsung memeluknya dengan mesra.
Angel dan Silvia tertawa kecil melihat adegan itu. Tidaklah heran jika Indra merasa terancam. Para elf yang mereka temui selalu sangat tampan. Bahkan Randal yang menjadi tangan kanan Glenn juga tak kalah tampan dari tuan mudanya.
Tok.. tok.. tok..
Krieeettt.. Pintu kamar dibuka.
3 orang pelayan berdiri di depan pintu membawa sesuatu di tangan mereka.
"Ini dikirimkan yang mulia Raja untuk anda semua kenakan nanti malam."
Para pelayan lalu masuk dan meletakkan beberapa kotak di atas tempat tidur. Lalu mereka pergi dan menutup pintu.
"Apa ini?" Laras ingin tau.
"Mungkin pakaian resmi mereka. Ingat tidak? Saat pertama kali makan malam dengan Glenn dan para tamunya? Kita juga diberi pakaian a la mereka." Robert mengingatkan.
"Kau benar. Lihat ini."
Angel sudah membuka sebuah kotak. Isinya pakaian lelaki.
"Ku rasa ini untuk kalian." Silvia menunjuk kotak itu.
Angel dan Niken membuka kotak lainnya.
"Ini berisi aksesoris. Pasti untuk kita." Klaim Niken cepat.
__ADS_1
Yang lain jadi tertawa geli. Tak mungkin para pria itu akan mengenakan aksesoris.
"Waahh, gaun ini bagus sekali," ujar Angel dengan mata berbinar-binar.
"Kau pilih lah dulu, yang kau suka," kata Laras.
Niken dan Silvia ingin protes, tapi jari telunjuk Laras di bibir, mencegah keduanya. Pasti ada hal-hal yang tidak mereka ketahui.
Mereka menarik Laras ke sudut kamar sementara Angel memilih pakaian.
"Ada apa? Kau menyimpan rahasia dari kami ya?" bisik Niken di telinga Laras.
"Tidak ada apa-apa," elak Laras dengan suara rendah.
"Kau teman yang tidak asik," gerutu Silvia. Laras hanya tersenyum canggung.
Mereka lalu beristirahat dan mempersiapkan diri untuk jamuan malam ini.
*
"Angel, kau berendam lama sekali. Apa kau tertidur di kamar mandi?" teriak Silvia dari balik pintu kamar mandi.
"Maaf, jika terlalu lama. Kau bisa mandi sekarang." Angel keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar dan harum.
"Oke, kini giliranku." Silvia buru-buru masuk.
Langit sudah memerah, ketika semuanya berkumpul di ruang duduk. Mereka menunggu Randal untuk mengantar dengan teleportasi.
Terdengar pelayan mengabarkan kedatangan Glenn.
Glenn berjalan dengan santai. Dia terlihat sangat tampan petang ini. Di belakangnya Randal mengikuti dengan setia.
"Mari kita berangkat," ujarnya.
Mereka semua menuju tempat teleportasi. Selubung cahaya hijau kebiruan menyelubungi mereka. Dan.. wuusss..
Mereka sudah berada di tempat lain saat selubung cahaya itu lenyap. Tempat itu sangat luas. Ada beberapa bangunan yang tampak dari tempat teleportasi itu. Ada juga bangunan lain di ujung sana. Bangunan tertinggi dan megah. Dikelilingi tembok setinggi 2 meter.
Ada banyak elf berseragam dan dilengkapi pedang di pinggang, sedang menjaga tempat teleportasi itu. Juga petugas bersenjata lain sedang memeriksa para tamu.
"Selamat datang tuan muda Glenn," sapa mereka hormat.
Glen hanya mengangguk. Lalu melanjutkan langkah menuju pintu gerbang utama istana. Tak ada penjaga yang menghentikan langkahnya.
Beberapa orang hilir mudik dan tampak sibuk. Satu dua kelompok orang tampak berbincang-bincang di berbagai tempat. Tapi Glenn terus melangkah menuju anak tangga, tanpa mempedulikan mereka. Randal, Robert dan yang lainnya mengikuti langkah Glenn.
Terdengar bisik-bisik dari kelompok orang yang mereka lalui. Mereka menatap rombongan Glenn dengan wajah tak percaya, seperti melihat hantu.
"Mereka itu kenapa sih? Apa takut sama manusia seperti kita?" tanya Liam pada dokter Chandra yang melangkah di sebelahnya.
"Ku rasa tidak. Saat di kediaman tuan Felix, mereka menyambut kita dengan baik kan?"
__ADS_1
Dokter Chandra juga tak mengerti. Rasanya risih saja, jika ditatap dengan pandangan ngeri layaknya melihat hantu. Tapi karena Glenn jalan terus, maka mereka mengikuti saja.
Seorang pelayan raja menyambut Glenn dan membawa dia serta teman-temannya ke sebuah ruangan. Mereka mengikuti.
Tampak dua pengawal berdiri di luar pintu. Dia mengabarkan kedatangan Glenn dan yang lainnya. Pintu dibuka dari dalam.
Glenn melangkah masuk, lalu jongkok dengan hormat. Semua orang mengikuti langkahnya.
"Semoga yang mulia panjang umur," seru Glenn dan Randal.
Anggota tim Robert kecuali dokter Chandra, kaget mendengar salam itu. Lalu dengan segera mengikuti ucapan salam Glenn.
"Berdirilah," sebuah seruan terdengar.
Semua berdiri dengan sikap hormat. Raja lalu duduk dan menunjukkan kursi-kursi untuk mereka duduki juga. Glenn lalu duduk, diikuti yang lainnya. Saat itulah raja menampakkan keterkejutannya melihat anggota rombongan ini. Dialihkannya pandanganya pada Glenn dengan mata bertanya. Glenn mengangguk dengan wajah yakin.
"Ehemm.. Saya mendengar bahwa paman sudah pulih dari operasinya. Terima kasih dokter. Jasa anda sangat besar untuk klan ini. Paman adalah orang tua kedua saya. Yang anda lakukan, sangat berarti buat saya. Apa yang anda inginkan sebagai hadiahnya?" tanya raja tulus.
"Kami hanya ingin pulang. Dapatkah yang mulia membantu menunjukkan jalannya?" Itu akan jadi hadiah terbesar buat kami semua." Jawab dokter Chandra.
Raja terdiam. Permintaan hadiah seperti itu agak sedikit di luar kuasanya.
"Bisakah anda menunggu hingga saya menemukan caranya?" tanya Raja.
"Kami tidak ingin menambah kesibukan anda. Jika kira-kira ada cara, beritahukan saja, kami akan mencoba melaluinya." Kali ini Robert yang menjawab.
Dokter Chandra mengangguk tanda sependapat dengan jawaban Robert. Yang lain juga mengangguk mengiyakan. Kecuali satu orang, yang terlihat kebingungan. Keraguan orang itu tak luput dari pengamatan raja.
"Baiklah. Nanti saya pikirkan lagi. Saya akan kumpulkan informasi tentang itu. Saya juga tau paman Felix sudah menyerahkan pecahan cermin portal miliknya pada anda."
Raja akhirnya setuju untuk mencarikan informasi bagaimana cara agar mereka bisa pulang. Robert dan teman-temannya merasa makin punya harapan.
"Kamu. Tinggal sebentar di sini. Yang lainnya bisa menuju ruang makan." Telunjuk raja mengarah pada Angel.
Teman-temannya terkejut dengan perintah itu. Tapi, di negara ini, tiada siapapun yang bisa membantah perintah raja. Jadi mereka keluar dengan perasaan khawatir.
"Glenn, tunggu." Raja juga menahan Glenn agar tetap di ruangan.
Pintu ditutup. Pelayan raja mengarahkan mereka ke ruang makan yang luas. Sudah banyak orang berkumpul dan berbincang di situ, menunggu raja tiba. Robert dan timnya duduk pada bangku yang diarahkan para pelayan.
Randal memperhatikan tempat mereka, dia mengangguk dari ujung ruangan. Robert merasa tenang, karena Randal tetap berada di ruangan, meskipun mungkin tidak bisa ikut duduk di meja makan bersama Raja.
Cukup lama hingga pelayan mengabarkan kedatangan raja. Semua orang segera diam dan berdiri dari tempatnya, menunduk hormat.
"Semoga yang mulia panjang umur."
Terdengar koor berirama dari dalam ruangan saat sang raja melangkah masuk.
Setelah duduk di kursinya, yang mulia meminta semua orang untuk ikut duduk. Wajah yang mulia terlihat berseri-seri dan mengundang pertanyaan dalam hati para tamu. Apakah ada berita baik yang ingin disampaikan sang raja malam ini?
*****
__ADS_1