
"Apa kau menemukannya?" tanya Alan.
"Ini."
Sunil menyerahkan kalung itu pada Dean.
Dean memeriksa isinya sebentar. Ekspresinya berubah sebentar, lalu biasa lagi. Dikeluarkannya pakaian terbaik yang ada di dalam penyimpanan. Memberikannya pada Alan.
Alan dan Sunil tak dapat menutupi keterkejutan mereka. Bukankah itu pakaian orang-orang istana penguasa?
"Hahahaa... sekarang kalian sudah mengerti. Jadi jangan menganggap remeh lagi," ujarnya sombong.
"Cih...!"
Sunil mendecih.
"Kau bekerja sebagai apa dulu?" tanya Alan tak dapat menahan rasa penasarannya.
"Kita pakaikan bajunya dulu," tegur Dean.
Tak butuh waktu lama, jasad itu sudah kembali berpakaian layak. Kini dia terlihat tampan.
"Aku menemukan pintu teleportasi di ruangan sana," lapor Sunil.
Alan mendongak ke arah Sunil. "Menuju kemana?"
"Ke negri kita."
Sunil menunduk. Merapikan rambut panjang yang tak beraturan itu.
"Alangkah percumanya. Negri kita sudah hancur dan meledak!"
Alan menghembuskan nafas dengan keras. Membuang semua kegalauan di hatinya.
"Dimana posisi pintu teleportasi kita dulu?" tanya Dean melalui transmisi suara.
"Di ruang bawah tanah istana penguasa." jawab suara itu.
Dean berpikir lebih keras. Banyak kemungkinan berkelebat di otaknya.
"Ku rasa, pintu teleport yang ada di sini paling tidak punya 2 tujuan. Satu ke negara kita, satu lagi ke negara orang yang memenjarakannya. Jadi...."
"Dean, bukankah menurut cerita Bi, dunia kita sudah musnah? Bahkan dunia the Fallen Angel juga. Dan seperti cerita Dokter Chandra tentang leluhur klan penyihir, dunia kita ditabrak oleh bintang-bintang lain hingga semua orang terjatuh dan hilang entah kemana saja. Apa kau pikir pintu teleportasi itu pengecualian? Bisa saja dia juga jatuh, hancur atau hilang entah kemana."
Alan langsung menghentikan pemikiran Dean. Dia tau apa yang sedang dipikirkan Dean saat ini.
"Menurutku, Alan benar," ujar Sunil.
__ADS_1
"Coba kau ingat cerita Dokter Chandra lagi. Bahwa di negri para elf juga ada cermin teleportasi yang entah bagaimana bisa ada di sana. Bisa jadi itu adalah pintu teleportasi bangsa-bangsa yang tinggal di antara bintang. Pintu teleport itu jatuh saat tabrakan antar bintang menghancurkan segalanya!"
"Nah, itu juga maksudku," tambah Alan.
"Dan belum tentu semua pintu teleport masih utuh. bisa jadi sudah hancur berkeping-keping di suatu tempat!"
"Lalu kita mau kemana lagi?" tanya Dean dengan suara sedikit keras.
"Sssssttt... pelankan suaramu," bisik Sunil.
Anggota tim lain yang berada cukup jauh dari mereka, jadi ikut memperhatikan ketiganya.
"Hahh...." Alan mendesah.
Dia juga bingung mesti bagaimana lagi. Menetap di sini jelas tak mungkin. Dunia ini tak sesuai untuk kehidupan manusia. Ingin pergi, juga tak tau caranya.
"Hei, nak. Bagaimana dengan jasadku?" suara itu tiba-tiba menggema di kepala ketiganya.
"Diam!"
Dean, Alan dan Sunil membentak serempak.
Anggota tim lain ikut terlonjak kaget mendengar bentakan keras tiga orang itu.
Robert tak bisa lagi menahan diri. Dia melangkah menghampiri ketiganya.
"Sunil tadi bilang, dia menemukan pintu teleportasi."
Dean menceritakan diskusi mereka tadi pada Robert.
Robert ikut diam dan berpikir keras.
"Menurutku, kita tinggal berpikir logis saja. Apakah mau tinggal di dalam sini. Mau mencari cara lain di luar sana. Atau mencoba pintu teleport itu. Semua pasti ada resikonya."
"Hemmm.... Robert ada benarnya," sambung Sunil.
"Tinggal di sini jelas bukan pilihan. Kita hanya bisa cukup makan selama beberapa hari. Lalu akan mati kelaparan juga seperti dia!" tunjuk Sunil ke arah jasad di lantai.
"Bagaimana jika kita mencari jalan lain di luar?" Dean minta pertimbangan.
Robert menggeleng. "Dunia ini terlalu panas. Tidak ada manusia dan tanaman yang dapat hidup. Tak ada juga air. Yang mampu bertahan hanya makhluk-makhluk luar biasa di luar sana."
Dean diam. Robert juga ada benarnya. Dan pasti bukan tanpa alasan Sunil dituntun ke tempat ini. Mungkinkah ini petunjuk Tuhan?
"Berarti pilihan kita hanya mencoba pintu teleport itu?" tanyanya ragu.
"Tapi, bagaimana jika perjalanan ini gagal? Jalur teleportasi yang tidak stabil, bisa membahayakan penggunanya!" Alan memperingatkan lagi.
__ADS_1
"Jika satu pintu di ujung sana rusak, maka jalur kita harusnya diarahkan ke pintu keluar lain yang masih utuh," Sunil mengira-ngira.
"Andai saja cara kerjanya memang begitu," dengus Alan pesimis.
"Yahh... tidak ada yang bisa menjamin apakah kita akan tiba ke tempat yang baik. Kita mungkin juga bisa tidak selamat di jalan."
"Tapi, apa kita punya pilihan lain lagi?" tanya Robert.
"Baiklah, kita minta pendapat mereka," ujar Dean.
"Hei, lalu bagaimana denganku?" suara itu kembali masuk ke kepala Dean, Sunil dan Alan.
"Memangnya kau mau bagaimana lagi? Kami sudah berbaik hati memulihkan jasadmu. Tunggu sampai kami menemukan tempat yang baik, kami akan memakamkanmu dengan layak. Kecuali kau mau dimakamkan di sini," ujar Dean.
"Hah? Seperti itu saja?" tanyanya heran.
"Memangnya mau seperti apa? Membuat upacara kehormatan? Jutaan bangsa kita tewas dan hilang tersebar di alam semesta. Tak ada yang membuat upacaranya. Bahkan penguasa Cahaya mungkin juga tewas mengenaskan di satu tempat, tanpa ada yang tau. Tak ada yang menyiapkan upacara yang pantas untuknya!" ujar Dean mulai marah.
"Nak, bukan itu maksudku," ujarnya dengan suara lembut dan tenang.
"Lalu apa!" Alan juga mulai jengkel.
"Bisakah aku hidup lagi seperti kalian?" tanyanya penuh harap.
???
"Apa keahlianmu?" tanya Sunil.
"Ya. Apa kelebihanmu hingga pantas diberi kesempatan kedua?" ujar Alan sinis.
"Aku penasihat istana. Aku mahir dan bisa bergosiasi," ujarnya percaya diri.
"Hahahaa...." Sunil tertawa terpingkal-pingkal.
"Ahli negosiasi katamu?" Alan ikut tertawa geli.
"Kau bahkan kalah telak hingga mati mengenaskan di sini," ejeknya kasar.
"Kami butuh yang punya keahlian khusus. Bela diri, ahli senjata atau lainnya," Dean menengahi dengan tegas.
"Aku ke sini ditemani oleh jendral So. Saat kami ditahan, kami masih saling berkomunikasi. Tapi kesehatannya memburuk dengan cepat akibat luka-luka yang dideritanya." Suara itu terdengar sedih.
"Di mana dia di tahan?!" tanya Dean terkejut.
"Di ruang kananku," katanya yakin.
Dean, Alan dan Sunil melihat ke arah dinding kosong di sebelah kanan. Ketiganya berpandangan. Tak ada seorangpun rakyat negri mereka yang tak tau Jendral So.
__ADS_1
******