PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 25. Menghilang Dari Pandangan


__ADS_3

Pagi berikutnya saat sarapan.


"Apa kita berangkat setelah sarapan Dean?" tanya Widuri.


"Ya. Ada apa?" jawab Dean tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya.


"Aku ingin ke kebun itu lagi dan mengambil bibit ubi serta wortel." Pandangannya memohon.


"Baiklah. Jangan lama. Rencanaku kita akan berangkat lebih cepat," Dean memperingatkan.


Widuri menangguk dan dengan cepat menyelesaikan makannya. Ditemani Gilang dia pergi menuju kebun. Mereka memetik beberapa ubi dan wotel untuk diperjalanan. Widuri juga menyimpan segenggam batang ubi dan beberapa wotel yang masih kecil-kecil. Dia memindahkan bibit-bibit itu dengan hati-hati. Disatukan dengan bibit tanaman yang dimiliki sebelumnya.


Mereka mulai perjalanan saat matahari mulai naik. Sunil dan Alan membawa masing-masing seekor kelinci di tangannya. Dean berjalan di depan dengan hati-hati sambil melihat sekitarnya. Kadang dia berhenti dan mengamati lebih dulu sebelum melangkah lagi. Jalan mereka terus menurun. Di belakang, Gilang tak lupa memberi tanda sebagai penunjuk jalan untuk tim berikutnya. Sunil dan Alan menjaga jarak agar Gilang tak tertinggal jauh dari kelompok.


Dean berhenti tepat di depan dataran. Dia terpaku. 'Apa di depan sana jurang lagi?' batinnya. Dia tak melihat apapun lagi setelah hamparan salju di depannya. Widuri yang tak mengira Dean berhenti berjalan akhirnya menubruknya. "Aahh. Kau berhenti tak bilang-bilang," gerutunya sambil mengusap keningnya yang menabrak tas Dean.


"Ada apa?" tanya Widuri yang melihat Dean tak mengalihkan pandangannya dari depan. Widuri ikut melihat ke arah depan. Hanya hamparan salju.. dan kabut. 'Kabut?' pikir Widuri. Sejak dia tersadar di hutan ini, belum ada melihat kabut. Hanya salju dan pohon pinus.


Tim akhirnya berhenti di situ.


"Kita buat shelter di sini saja," Dean meletakkan barang bawaannya lalu mulai mencari kayu-kayu kering di sekitar dan menyalakan api. Para wanita segera menyiapkan makanan yang mereka bawa, sementara para pria menyiapkan tempat peristirahatan.


"Aku akan mengecek apa yang ada di balik kabut besok setelah sarapan. Kalian tunggu di sini," Dean mengatakan rencananya. Anggota timnya mengangguk setuju. Pada dasarnya mereka tak memahami cara hidup di hutan, jadi mempercayai keputusan Dean.


*


"Dean, boleh aku ikut?" tanya Widuri yang melihat Dean dan Alan akan berangkat. Karena Dean tak bereaksi, Widuri menambahkan: "Lihat daun-daun hijau di balik salju itu. Mungkin itu juga kebun yang ditinggalkan karena musim dingin. Aku ingin memastikan saja betul atau tidaknya." Widuri memberi alasan. Dean hanya mengangguk. Mereka bertiga berjalan hati-hati ke arah hamparan putih salju.


Widuri memperhatikan rumpun-rumpun hijau yang dilihatnya dikejauhan tadi. Dia tak tau tanaman itu bisa dimakan atau tidak.


"Kau tau tanaman apa ini Dean?" tanya Widuri yang sudah putus asa karena tak bisa mengetahuinya. Dean mendekat.


"Ini tanaman berry. Hati-hati dengan durinya. Kita tak akan menemukan buahnya di musim dingin." Kata Dean setelah mengamati.


"Waahh sayang sekali. Tapi mungkin aku bisa menemukan bibitnya di bawah," katanya antusias.


"Aduhh.." Widuri melihat jarinya yang tertusuk duri.


"Sudah di bilang hati-hati, ada durinya." Dean cuek lalu pergi ke arah lain melihat Widuri meniup jarinya.


Widuri menyibak rumpun berry itu dengan tombak yang dibawanya lalu menyingkirkan tumpukan salju dari permukaan tanah.


"Aku menemukannya. Hahahh. Tak sia-sia berkorban jari," Widuri tersenyum bahagia. Dengan kayu kecil dia mencongkel tanah dan mencabut anakan berry. Widuri mencari lagi di tempat lain. Dia menemukan tanaman yang daunnya berbeda tapi sama-sama berduri. Disibaknya rumpun berduri itu dengan tombak lalu mencari-cari anakan tanaman itu di bagian bawah. Widuri mengumpulkan 4 anakan berry pagi itu.


Matahari mulai naik ketika kabut yang menyelimuti menipis. Dean akhirnya bisa melihat ke arah yang lebih jauh. Dean akhirnya mengerti bahwa sebelumnya kabutlah yang membatasi jarak pandangnya. Dean mendekati Alan dan mengatakan sesuatu. Alan mengangguk dan segera berbalik ke arah shelter yang terlihat di kejauhan.

__ADS_1


Dean berjalan ke arah Widuri. "Bagaimana. Sudah menemukan harta karunmu?" tanyanya menggoda. Widuri langsung menoleh dengan mimik tak suka.


"Hei.. Ini bisa ditanam dan menghasilkan buah nantinya. Bukankah buahnya enak?" Widuri membalas sengit. Dean tertawa melihat ekspresinya.


"Hei, jangan mudah marah, nanti cepat tua." Dean menggodanya lagi.


"Aku memang sudah tua. Lalu kenapa?" Widuri semakin jengkel melihat Dean menertawakannya.


"Hahaa.. Baiklah. Sekarang katakan apa perlu bantuanku untuk menggali harta karunmu?" Dean mencoba meredakan kejengkelan Widuri, tapi justru bikin Widuri makin kesal.


"Harta karun apa? Kau terus menyindirku! Bikin kesal saja." Widuri tak mempedulikan Dean yang masih menyunggingkan senyum.


"Eh, di mana Alan?" tanya Widuri setelah tak melihat Alan di dekat Dean.


"Aku memintanya memanggil semua orang untuk melanjutkan perjalanan." jawab Dean. "Kita tunggu di sini saja, nanti mereka kemari," tambah Dean lagi.


"Tapi tas ku masih di sana." Widuri berdiri dari jongkoknya.


"Aku sudah minta Alan untuk membawakannya." jawab Dean santai. "Sekarang lihat dulu, tanaman apa yang masih kau inginkan. Nanti kita berjalan mungkin tidak dapat menemukannya lagi."


"Oh, baiklah kalau begitu." Widuri berjalan ke arah lainnya dan tak lama berteriak kegirangan. "Bukankah ini daun bawang? Dean. ke sini." panggilnya.


Dean mendekati. "Betulan bawang?" tanya Dean antusias.


"Dean, kalian dimana?" Terdengar suara Gilang memanggil.


Dean mendongakkan kepalanya agar mudah terlihat. "Kami di sini."


"Kalian sedang apa?" Gilang ingin tau.


"Kami menemukan tanaman bawang." Widuri yang menyahut sedangkan Dean terus menggali dan mengumpulkan daun dan umbi bawang.


"Wahh hebat." seru Gilang. "Oh ya, ini tas mu Widuri." Gilang menyerahkan tas yang dibawanya pada Widuri.


"Terima kasih." Widuri memakai tas ke punggungnya.


Setelah menemukan cukup banyak bahan makanan, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuruni pinggang gunung. Semakin jauh dari tempat terbuka, semakin memasuki kedalaman hutan. Hanya saja pepohonan tak begitu rapat lagi. Sinar matahari masih bisa menembus masuk.


Dean melihat jam tangannya. 'Sudah jam 3, sudah waktunya berhenti dan menyiapkan shelter' pikirnya.


"Kita beristirahat di sini saja." Dean memutuskan. Semua orang berhenti lalu melepaskan tas dan duduk di permukaan salju. Kelelahan. Setelah menghangatkan diri, para pria kembali menyiapkan shelter. Ini pekerjaan yang sangat berat. Setiap hari berjalan lalu membangun shelter sebelum beristirahat.


Sore ini Widuri menemani Dewi bab setelah mereka selesai menyiapkan bahan makanan. Jadi tinggal Nastiti yang menjaga masakan matang. Mereka sudah berjalan untuk kembali ketika mata Widuri melihat sesuatu yang membuatnya tertarik.


"Tunggu di sini, aku ingin melihat tanaman itu sebentar." katanya pada Nastiti dan berjalanan menjauhi sebelum Nastiti mengatakan apapun.

__ADS_1


"Hei, jangan jauh-jauh. Nanti tersesat." Nastiti mengingatkan.


"Ya." Widuri terus berjalan.


"Aaaaaaaaaahhh...." teriakan panjang Widuri yang menggema mengejutkan Nastiti bahkan terdengar hingga shelter.


"Widuri, kau di mana? Jangan menakutiku." Teriak Nastiti ketakutan. Tak mendengar jawaban Widuri, membuat Nastiti semakin panik, tapi dia tak berani berjalan ke arah Widuri menghilang.


"Widuri, aku akan panggil Dean. Kau tunggu sebentar. Bertahanlah. Ya." Nastiti segera berlari ke shelter sambil berteriak..


"Dean.. Dean.. Widuri.. menghilang." Dia sampai di shelter dengan nafas terengah-engah. Dewi menyodorkan segelas air untuk menenangkannya.


"Hilang bagaimana?"


"Suara teriakan tadi itu Widuri?" tanya mereka berebutan.


"Kalian.. mendengar.. teriakannya?" tanya Nastiti masih dengan nafas putus-putus. Kami pergi untuk bab. Saat kembali, dia bilang mau memeriksa sesuatu dan memintaku menunggu. Aku tak melepaskan pandangan sedikitpun saat tiba-tiba di berteriak dan menghilang dari pandanganku."


"Di mana? Tunjukkan padaku." kata Dean khawatir.


"Kami ikut," kata Gilang dan Alan bersamaan.


"Tidak, biar Sunil saja yg ikut. Kalian harus selesai shelter terakhir untuk istirahat malam ini." Dean mengambil mengambil tasnya, mengeluarkan satu botol kosong dari sana dan mengisinya dengan air hangat lalu mengambil beberapa makanan yang sudah matang dan menyimpan semua itu dalam tasnya. Dia menyambar tas Widuri dan melangkah mengikuti Nastiti. Sunil heran melihat apa yang dilakukan Dean.


"Kenapa kau membawa tasmu dan tas Widuri?" tanya Sunil. Sambil berjalan Dean menjawab:


"Orang yang tiba-tiba bisa hilang dari pandangan disertai teriakan bergema, menurutmu apa?" Dean bertanya balik. Sunil menggeleng tak tau.


"Disini. Aku berdiri di sini dan Widuri kesana. Lenyap di sana," tunjuk Nastiti. Dean mengangguk dan berjalan hati-hati ke depan.


"Widuri.. Widuri.. Apa kau mendengarku? Ketukkan sesuatu jika kau tak bisa menjawab," teriak Dean.


"Widuri..!"


"Widuri."


Ketiga temannya memanggil-manggil. Sampai Dean melihat celah lubang kecil di depannya dan berjongkok hati-hati.


"Widuri, apa kau ada di dalam?" tanya Dean lagi. Samar-samar Dean mendengar suara orang mengeluh karena sakit. Dia yakin itu Widuri. Meski belum tau keadaannya tapi dia sudah senang. Dean berbalik pada Sunil.


"Bantu aku mencari ranting kering untuk dibuat api agar bisa jadi penerang untuk melihat keadaannya. Dia terperosok dalam lubang. Jika memperkirakan gema suaranya tadi, mungkin cukup dalam." Dean menerangkan sambil mengumpulkan kayu dan ranting kering di sekitarnya.


Dean mengikat ranting-ranting kecil itu pada batang dahan yang lebih besar dengan sobekan bajunya sendiri. Dean menyalakan api dengan korek gas milik Indra lalu menyerahkan korek itu pada Sunil. "Kau saja yang pegang korek ini."


"Kenapa?" tanya Sunil sambil mengikuti langkah Dean dan membawa kayu-kayu kering. Dean tidak menjawab.

__ADS_1


__ADS_2