
"Woaa ... cerita kalian luar biasa! Apakah kalian ada bertemu kelompok bangsaku?" tanya Ketua Kota.
"Kami belum menemukan Bangsa The Fallen Angel selama perjalanan. Tapi nanti mungkin bisa ditanyakan pada Naga Tua itu, apakah dia pernah melihat bangsa kalian di satu tempat!" harap Dean. Ketua Kota nengangguk setuju. Dia jadi ingin bertemu dengan Naga Tua kakek Kang.
Sore itu, usai pesta pernikahan, Yabie, Yoshi, Liam, Laras, Kenny dan Mattew mendengarkan penjelasan Dean dan Sunil di ruang tamu kediaman.
"Tapi, untuk pengalaman luar biasa itu, kita juga mengalami kehilangan besar. Alan dan Michael tak ada lagi. Orang-orang baik yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga anggota tim!" Suara Liam terdengar emosional.
"Baiknya kita mendoakan teman-teman kita yang sudah mendahului. Bagaimanapun, mereka sudah dimakamkan dengan baik dan penuh penghormatan!" hibur Laras.
"Yah, sekarang kita fokus dengan rencana Dean untuk menempatkan pintu teleportasi dari sini menuju ke tempat mereka. Aku setuju dengan rencana itu. Asalkan tidak mengundang para penjahat datang ke sini, itu sangat bagus!" Ketua Kota mengalihkan topik pembicaraan.
"Kami juga berharap seperti itu. Jadi, kita harus menempatkan pintu teleportasi itu di tempat yang benar-benar aman!" Sunil menegaskan.
"Paman, Bukankah ada rumah kalian di tebing. Bagaimana kalau ditempatkan di sana saja?" tanya Yabie.
"Siapakah yang menghuni tempat itu sekarang?" tanya Dean.
"Aku!" sahut Yabie.
Dean tercenung sejenak. Jika ditempatkan di kubah Kang, itu aman, tapi menyulitkan pihak-pihak yang ingin datang dan pergi. Jika ditempatkan di kediaman Ketua Kota, maka orang-orang asing yang lalu-lalang akan membuat tempat ini seperti jalanan umum. Sangat tidak sopan.
"Kurasa itu ide yang bagus. Tapi, pintu itu milik Tuan Kang Tua. Mungkin harus kita bicarakan dulu dengannya," ujar Dean penuh pertimbangan.
"Jika pintu itu sudah dipasang, aku ingin bertemu Bibi Widuri!" ujar Yoshi.
"Tentu!" Kau boleh ke sana nanti. Setelah anakmu lahir. Aku tidak menyarankan orang hamil melewati pintu teleportasi. Bahaya bisa mengintai di mana saja!"
Dean memberi pengertian pada Yoshi. Dari tabib dia tahu bahwa Yoshi sangat sensitif sejak kehamilannya. Dean ingat Widuri juga mengalami perubahan mood ketika hamil. Jadi dia mengambil pelajaran berharga, untuk menjaga perasaan Yoshi yang juga sedang labil.
"Baik. Aku akan berkunjung setelah melahirkan!" Yoshi tersenyum penuh pengertian.
Perbincangan berhenti saat petang datang. Dean dan Sunil bermaksud menginap di Kota Mati, sambil membantu memulangkan anak-anak penghuni kota itu.
"Kenapa tak menginap di sini saja?" tanya Yoshi keberatan.
"Ini sudah petang. Anak-anak itu bisa kemalaman di hutan, jika harus berjalan kaki pulang. Bukankah itu berbahaya!" bujuk Dean.
Yoshi terdiam. Kemudian mengangguk dengan enggan. Semua orang pulang dengan kepala dipenuhi oleh cerita hebat yang barusan mereka dengar.
"Dean, apakah kami boleh pergi ke tempatmu?" tanya Kenny khawatir.
"Tentu saja. Kalian juga sudah termasuk kelompok kami! Tapi tentu tidak bisa pergi sendirian. Harus ada yang lebih kuat, tang menemani perjalanan itu. Karena ini bukan teleportasi antar kota yang jaraknya dekat dan jalurnya bisa dibuat stabil. Ini pintu teleportasi antar dunia. Berdasarkan pengalaman kami, ada banyak jalur teleportasi yang bisa membahayakan nyawa. Michael adalah contohnya. Bahkan, meskipun dia kuat, dia tak bisa menghindari hal-hal yang di luar perkiraan!" beber Dean panjang lebar.
__ADS_1
"Aku mengerti." Kenny mengangguk.
Malam itu, dibuat perjamuan sederhana di bangunan serbaguna. Laras, yang kesehatannya mulai membaik dan tak butuh kursi roda lagi, memasak makan malam, dibantu para gadis kecil. Lian, Kenny dan Mattew masih menemani Dean dan Sunil berbincang hangat
Suasana malam itu terasa hangat. Melihat tawa renyah anak-anak yang sebelumnya penuh ketakutan, hati Dean terhibur.
"Apakah di sini masih tak ada hujan?" tanya Dean yang melihat tanah kota itu kering kerontang.
Mattew dan Kenny menggeleng. "Udara akan mulai terasa pengap saat siang hari. Tapi meskipun begitu, tanaman tetap tumbuh subur karena aliran air dibuat ke seluruh area pertanian.
Dean sedang memikirkan solusinya. Apakah perlu kurungan penjara ini dibuka? Lalu buat seperti kubah yang menutupi tempat tinggal Kang. Dia akan menanyakan hal itu pada Naga Tua itu.
"Biar kupikirkan dulu," jawab Dean.
Orang-orang bubar dan beristirahat di kediaman mereka masing-masing. Dean dan Sunil menumpang tidur di bangunan serba guna Kota Mati.
Sunil sudah pulas dan mendengkur. Tapi Dean masih tak bisa menejamkan mata. Dia bangkit dari tidur dan berjalan keluar. Kota itu sunyi. Hanya ada sedikit lampu penerangan, di beberapa tempat, menandakan kota itu berpenghuni.
Dean melesat keluar kubah dan terbang menuju laut air tawar. Ditariknya cukup banyak air dan dibawa ke kota mati. Kemudian air itu diguyurkan ke atas rumah-rumah yang atapnya dipenuhi debu tebal.
Dean menyiram kota itu berkali-kali. Hingga dia bisa merasakan sedikit becek dan genangan air di seluruh jalanan kota.
Setelah itu dia beristirahat dengan senyuman. Udara malam terasa lebih sejuk dan segar, tanpa adanya debu-debu yang beterbangan.
"Terima kasih, Dean. Ini melegakan. Aku sudah mengkhawatirkan debu-debu itu, mungkin bisa memperburuk kesehatan," tutur Liam.
"Kuharap, aku bisa segera menemukan solusi permanen untuk masalah itu. Sementara, kalian harus rajin menyiram halaman, agar debu tidak naik ke udara!" pesan Dean.
"Kami akan mengingatnya!" sahut Kenny. Dean tersenyum dan mengangguk.
"Paman!" sapa Yabie.
"Kenapa pengantin baru sudah sampai di sini saja?" gurau Liam.
"Aku masih ingin berbincang dengan paman." Yabie menyahuti Liam.
"Tempat ini basah. Pasti pekerjaan Paman," ujarnya senang.
"Ya. Aku tak bisa tidur karena udara terlalu panas tadi malam," sahut Dean.
"Oh ya, mumpung di sini, apakah kau perlu bantuan untuk membangun ulang rumah ibumu?" tanya Dean hati-hati.
"Paman bersedia?" Mata Yabie berbinar senang.
__ADS_1
"Ayo kita kerjakan. Buat kecil dan sederhana saja!" Dean sudah berjalan ke arah rumah tua di ujung jalan itu.
"Kami akan siapkan makananq!" Laras mengambil inisiatif.
"Terima kasih," sahut Dean.
Dean dan Yabie asik membahas bentuk rumah yang akan dibuat di sana.
"Iya, seperti ini saja!" Yabie setuju gambaran yang dibuat Dean di atas tanah halaman.
"Kalau begitu, kau dan Sunil bagian meruntuhkan bangunan ini. Bersihkan semua. Kayu-kayu tua itu jadikan kayu bakar untuk memasak saja!" kata Dean.
"Paman mau ke mana?" tanya Yabie.
"Menebang pohon di hutan!" jawab Dean sambil berlalu.
Yabie dan Sunil langsung mengerjakan tugas mereka membersihkan rumah tua Bi.
Siang hari, Dean kembali untuk beristirahat. Tempat yang mau dibangun itu sudah bersih. Dia tersenyum puas.
"Makanan sudah siap!" Seorang gadis menyampaikan pesan.
Tak lama, Kenny, Mattew, Liam dan anak-anak lain juga ikut berkumpul. Mereka makan dengan lahap sehabis bekerja keras di ladang dan peternakan yang makin besar.
"Jika mereka terus bekerja, kapan mereka belajar?" tanya Sunil. Dia ingat rencana Laras ingin mengajari anak-anak itu ilmu pengetahuan.
"Setelah ini, mereka akan berustirahat sebentar. Sebelum sore, semua sudah harus bersih dan siap untuk belajar!" sahut Laras.
Dean dan Sunil manggut-manggut. "Hebat! Kau akan jadi guru yang dicintai murid-muridmu." Sunil memuji tulus.
"Bukan hanya aku yang menjadi guru. Liam, Kenny dan Mattew juga mengajari mereka hal-hal yang mereka ketahui. Bahkan Yabie juga mengajari banyak hal," jelas Laras.
"Itu sangat bagus!" Dean sangat puas dengan kemajuan itu.
"Pengetahuan itu sangat penting untuk mengenal dunia luas, walaupun belum pernah menginjakkan kaki ke sana!" tambahnya lagi.
"Kami berterima kasih pada Laras dan Liam. Dengan pengetahuan mereka, cara berpikir kami jadi sedikit berbeda sekarang. Anak-anak ini bahkan sudah bisa berjualan di pasar, dan mendapatkan keuntungan. Mereka sudah bisa menghitung setiap uang pembayaran!" Mattew terkekeh senang.
"Itu baru benar!" Dean mengacungkan kedua jempolnya pada anak-anak yang segera berwajah cerah, setelah mendapat pujian.
"Belajarlah lebih rajin!" pesan Dean.
*******
__ADS_1