
Di dalam lorong teleportasi, terjadi tarikan kuat dari arah tujuan. Penguasa berusaha menahan daya tarik itu, selagi Dean,Indra dan Sunil berjuang untuk menarik pintu teleport masuk ke dalam lorong.
Mereka menyalurkan kekuatan pada tali, untuk membawa pintu itu masuk.
"Berhasil!" seru Robert gembira.
Jalur teleportasi itu kini diterangi cahaya biru. Dan mereka tersedot dengan cepat menuju pintu keluar.
"Lihat, ada cahaya disana!" seru Indra.
"Sebaiknya pintu ini kalian simpan, agar tidak pecah saat kita jatuh terbentur nanti," saran dokter Chandra.
"Sunil, kau yang simpan," ujar Dean.
"Oke."
Dean dan Indra melepaskan tali dari pinggang mereka.
"Bersiap!" teriak Robert.
Sunil menyimpan pintu teleportasi dalam penyimpanan secepatnya, sebelum bola cahaya itu keluar dan terhempas di satu tempat yang hanya dicahayai oleh pintu teleportasi lain.
"Tempat apa ini?" tanya suara Sunil.
Indra menyalakan api merah dari jarinya. Tempat itu jadi sedikit lebih terang lagi.
"Apakah kita mendarat di gua lagi?" ujar Dean sambil memejamkan matanya.
"Orang yang memasang koordinat di pintu itu sangat tidak kreatif!" sungut Indra. Dia merengut kesal. Bagaimana mungkin, memasang pintu teleportasi dari gua ke gua?
"Mungkin pemilik pintu teleportasi itu sering ke sini. Bisa jadi dia menyimpan hartanya, di sini," kelakar Sunil.
Tak ada yang tertawa mendengar candaannya. Semua mulai sibuk memeriksa seisi gua yang lumayan luas itu.
"Ini ada lorong lain. Kurasa ini jalan keluar." Robert menerangi satu terowongan gelap dengan cahaya di tangannya.
"Aku butuh cahaya di sini!" ujar Dean dari kegelapan. Sunil mendekat dan membantu menerangi tempat yang ingin dilihat Dean. Dan keduanya langsung terkejut.
"Tidakkah ini terasa familier?" tanya Dean pada Sunil.
"Seperti saat kita di gunung batu," sahut Sunil.
"Tapi ini jelas bukan gunung batu. Aku hafal tempat itu!" bantah Dean.
"Mungkin area pertanian yang lain." Suara dokter Chandra mengejutkan Dean dan Sunil.
"Kalau begitu, harusnya ada penerangan di sini," ujar Dean.
__ADS_1
Setelah memeriksa lebih teliti ternyata memang ada beberapa obor di ruangan. Sekarang tempat itu terang menderang.
"Ini terlihat seperti tempat penyimpanan. Apa itu sebabnya ada koordinat tempat ini? Tapi, kenapa rasanya ada yang tidak sesuai, ya?" Dean tak mengerti apa yang mengganjal di pikirannya.
"Lalu, bagaimana bisa pintu teleportasi itu berada di Rusia?" tanya Indra.
"Tidak tau. Bisa jadi, saat dunia kita hancur, bagian teleportasi itu jatuh ke tanah itu." Dokter Chandra menggeleng ikut bingung.
"Sudah, jangan dibikin ruwet. Kita cari dulu jalan keluarnya. Setelah itu, baru bahas lagi." Robert menunggu di dekat terowongan.
"Mari kita lihat dulu keadaan di luar," ajak dokter Chandra.
Robert memimpin jalan di terowongan itu. Yang lain mengikuti. Tapi Dean menggeleng keheranan. "Ini tidak terlihat seperti terowongan yang diatur rapi," pikirnya heran.
Jika ini adalah dunia kecil tempat pertanian yang lain seperti halnya gunung batu, bukankah harusnya ruangan gua itu juga diatur rapi sesuai standar seperti yang dulu dijaganya? Dean merasa aneh.
"Di sana ada cahaya!" Robert menunjuk ke arah depan.
Mereka melihat keluar. mulut gua itu ternyata ada di ketinggian. Di bawah sana, terlihat hamparan gandum yang tumbuh liar dan menguning minta dipanen.
Dean terbang keluar dengan tak sabar. "Apakah ini benar dunia lain yang diperuntukkan sebagai lahan pertanian?" pikirnya tak yakin.
"Hei, ini siang hari. Bagaimana kalau ini adalah wilayah manusia?" Indra memperingatkan.
Dean terbang dengan hati-hati. Dia naik ke atas melewati mulut gua sambil memperhatikan sekitarnya.
Setelah berdiam diri cukup lama, akhirnya dokter Chandra bersuara.
"Dean, harusnya di atas sana ada gazebo untuk melihat pemandangan!"
Teriakan dokter Chandra menggema di kepala Dean. Dia langsung melesat naik, untuk melihat apa yang dikatakan Penguasa.
"Ya! Itu sepertinya runtuhan gazebo yang disebutkan itu," batin Dean.
"Penguasa, Apakah ini dulu tempat persembunyian Anda?" tanya Dean lewat transmisi suara.
"Hahahaha .... Saat aku muda, aku suka mengembara dan punya idealisme dunia impianku sendiri," jawab dokter Chandra.
Lima orang itu kini berada di puncak bukit. Melihat pemandangan indah di sekitarnya. Tempat yang sunyi. Entah siapa yang terakhir datang ke sini.
"Jadi, dulu Penguasa tinggal di sini?" tanya Robert.
"Aku pengelana. Suka bepergian ke banyak negri yang jauh. Ini salah satu tempat yang kusinggahi. Dulu tidak seperti ini. Gersang dan dihuni binatang buas. Itu sebabnya aku lebih memilih tinggal di puncak bukit ini atau di gua itu. Tapi dulu seingatku gua itu tidak seluas sekarang," jelas dokter Chandra.
"Berarti ada yang menemukan dunia kecil ini setelah Anda tinggalkan," terka Robert.
"Kemungkinan besarnya begitu. Atau bisa jadi, dia adalah petugas pintu teleportasi yang jatuh ke Rusia. Mencoba kembali ke dunia kita, tapi justru sampai ke sini." Dokter Chandra mengutarakan pemikirannya.
__ADS_1
"Syukurlah kita tiba di sini. Bisa jadi tempat istirahat dan memulihkan energi." Sunil tersenyum senang.
"Kita bisa tinggal di gua untuk sementara, atau di tempat lain. Nanti tempat ini dibenahi lebih dulu, baru bisa jadi tempat istirahat yang baru," saran Dean.
"Yah, itu pengaturan yang bagus." Dokter Chandra mengangguk setuju. "Di sebelah sana, ada air terjun yang indah," katanya seraya terbang ke sisi lain. Yang lain mengikuti.
Mereka terbang mengelilingi bukit. Memang ada air terjun di balik bukit itu. Tapi sekarang tersembunyi oleh rimbunan pohon tinggi dan belukar yang lebat.
"Yah ... sudah tak indah lagi," ujar dokter Chandra kecewa.
Tapi kemudian matanya kembali bercahaya. Di padang rumput, terlihat populasi ternak yang sudah melewati kapasitas. Padang rumput itu terlihat penuh sesak oleh sapi, domba dan kuda.
"Ini akibat tidak adanya predator. Populasi mereka meningkat, sementara tempatnya tak mungkin lebih melebar lagi," komentar Robert.
"Saatnya kita panen!" ujar Sunil dan Indra berbarengan.
"Hahaha ... Itu satu-satunya cara yang terpikir, mengurangi populasi yang meledak. Atau mereka akan mati karena kekurangan gizi." Dean mengangguk setuju.
"Sepertinya kita memang harus mengatur tempat ini sedikit, baru ditinggalkan," tambah Robert.
"Mari kita bersihkan dulu kolam air terjun ini. Kita bisa manfaatkan untuk mandi dan lainnya," ajak Dean.
"Tampaknya, membangun kediaman di dekat air terjun juga bagus, Dean," saran Robert.
"Kau benar. Ayo!"
O dan Z segera membantu Dean. Mereka seakan sudah tau apa saja yang akan dilakukan Dean.
Dalam satu jam, semak belukar di kolam air terjun, sudah dibersihkan. Dean membiarkan beberapa pohon yang tidak terlalu tinggi tetap menaungi. Tapi pohon yang sudah sangat tinggi, langsung ditebang dan dipotong-potong menjadi gelondongan kayu.
Kolam air mancur itu lumayan luas. Airnya jernih dan menyegarkan. Para wanita dan Cloudy akhirnya dikeluarkan.
"Wow ... tempat yang cantik!" seru Niken gembira. "Aku ingin berenang!"
"Kita siapkan makanan dulu. Setelah itu, baru bersantai," tegur Marianne.
"Oke!"
Dengan gembira Niken membantu Widuri menyiapkan makanan.
Tim itu merasa sedikit santai, setelah ketegangan akibat melintasi Alaska hingga Rusia. Hal lain akan dipikirkan nanti. Yang penting istirahat dan nikmati apa yang ada di depan mata.
"Selepas istirahat, kita potong satu domba atau sapi, untuk makan malam," ajak Sunil.
"Siap!" Indra mengacungkan jempol.
"Biar aku yang bantu Sunil. Kau bantu Dean saja, bagaimana?" usul Robert.
__ADS_1
"Yang manapun boleh," sahut Indra santai. Dia sedang berbaring di tepi kolam kecil itu. Di dalam air, terlihat Niken dan Widuri berenang dengan gembira.
*******