PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 222. Nastiti


__ADS_3

Dengan duduk di punggung Kang, Robert berhasil keluar dari dunia kecil. Kang terpukau melihat keindahan dunia luar. Laut yang biru berkilau keperakan. Menyatu dengan langit cerah di horizon.


Robert juga menyadari bahwa sejauh mata memandang, hanya ada hutan lebat berbatasan langsung dengan lautan.


"Hutan ini luas sekali," gumam Robert.


"Ikuti aku!" seru Dean.


Dia terbang ringan menyeimbangkan kecepatan terbang Kang. Sambil memeluk leher Kang, Robert tertawa-tawa.


"Wooaaaa.... Hahahaaa...."


Robert berteriak tiap kali Kang terbang menukik, lalu naik ke atas dengan ekstrim. Kang seperti burung yang lepas bebas dari sangkarnya. Dia terbang jumpalitan dan berputar-putar. Robert menjerit dan memeluk leher Kang erat-erat.


"Kang, stop! Aku mau muntah!" teriak Robert di ketinggian.


Dean berhenti terbang dan mengawasi gerakan Kang yang berbahaya dari tempatnya.


"Tadi itu bahaya sekali." Dean merasa cemas dengan keadaan Robert.


Tapi untunglah Kang tidak melanjutkan gerakan akrobatnya lagi. Dia akhirnya menyadari, ada Robert yang duduk di punggungnya. Dibiarkannya Robert memuntahkan isi perutnya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Dean yang datang mendekat.


"Perutku mual. Rasanya aku akan mulai membenci rollercoster sekarang."


Robert mengelap mulutnya. Tenggorokannya terasa tidak enak sekarang. Dan perutnya masih bergejolak.


"Aku membawa bekal air minum. Minumlah."


Dean menyodorkan kendi gerabah ke tangan Robert.


Robert menerima, menuang isinya untuk berkumur-kumur dan membuang air di mulutnya. Lalu dia mulai minum untuk mendinginkan tenggorokannya yang terasa panas.


"Apa kau mau minum juga Kang?" tanya Robert. Kang menggeleng.


Robert mengembalikan kendi gerabah pada Dean.


"Terima kasih."


"Apa kau sudah enakan sekarang?" tanya Dean.


"Ya.. Perutku sudah mulai nyaman. Kalau bukan melihat sendiri itu air putih, pasti aku akan mengira kau memberiku obat. Hahahaa," Robert tertawa geli.


Dean hanya tersenyum.


"Mari kita lanjutkan," ajak Dean yang segera terbang menjauh.


Kang terbang mengejar Dean. Dia masih belum puas mengekspresikan kebahagiaannya. Jadi Kang masih terbang naik turun bahkan melengkung ke kiri atau kanan. Tapi kali ini Kang melakukannya lebih lembut. Gerakannya halus. Robert tak merasa kuatir sekarang.


Dean kembali menunggu saat melihat Kang masih asik terbang melayang mengitari hutan larangan.


"Jangan terbang dekat laut! Takutnya ada kapal yang melihat kita!" teriak Dean mengingatkan.


"Kapal? Apa ada kapal yang lewat sini?" tanya Robert.


"Ya. Di sana ada kota pelabuhan," jelas Dean.

__ADS_1


Robert masih ingin bertanya, tapi dipotong Dean.


"Ayo pulang dulu. Nanti kita obrolin," sela Dean.


"Ah, baiklah," sahut Robert.


"Kang, ayo terbang dengan serius. Nanti kita kemalaman pulang!" Robert mengingatkan. Kang menganggukkan kepalanya.


Kali ini Kang terbang dengan patuh. Dia mengejar Dean yang sudah melesat jauh.


Akhirnya mereks menyusul Dean yang sudah berdiri tepat di sisi laut. Kang dan Robert bisa melihar, di bawah itu ada rumah dan kebun. Tempat yang sangat tersembunyi, terselip diantara kerimbunan pohon-pohon raksasa.


Dean melayang turun. Kang mengikuti. Mereka akhirnya menjejak halaman depan pelataran.


"Robert!"


Indra menghampiri begitu Robert turun dari punggung Kang.


"Indra!" sapa Robert.


Keduanya berpelukan.


"Syukurlah kau selamat dan bertemu Dean. Dimana Niken dan dokter Chandra?"


"Kami di sini. Masuklah." Dokter Chandra menyapa dari pelataran.


Robert bisa melihat semua orang menunggunya di pelataran. Senyum lebar mereka membuat hatinya bahagia dan terharu.


"Mereka teman-temanku Kang. Mari ku kenalkan."


"Hai Kang.... Terima kasih sudah membantu Robert disaat sulit." Dokter Chandra turun ke halaman dan menghampiri Kang dan Robert.


Dokter Chandra menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Kang bingung harus apa.


"Angkat kaki depanmu dan sentuh tangan Dokter Chandra. Itu salam perkenalan di dunia kami," jelas Robert.


Kang mengikuti saran Robert. Mengangkat kaki kanan depannya dan menyentuh tangan Dokter Chandra. Semua orang tersenyum lebar melihat itu.


"Perkenalannya sudah. Apakah Kang bisa masuk ke sini," tanya Alan.


"Keluarkan saja mejanya. Ayo!" Dean memberi aba-aba.


Dean dan Sunil mengangkat meja panjang besar itu bersama-sama. Sementara Alan menarik semua kursi dari pelataran.


"Bagaimana kalian melakukan itu?" Robert terheran-heran. Tapi semua hanya menjawab dengan senyuman.


Dean, Alan dan Sunil sudah selesai menyusun meja besar di halaman. Para wanita mengeluarkan penganan yang ada serta minuman yang dicampur sari buah blueberry.


Semua duduk dengan gembira, kecuali Kang yang dengan postur raksasanya, tak mungkin ikutan duduk. Marianne membawakan cangkir minuman untuk Kang.


"Untukmu," katanya ramah.


"Kang, bisakah kau berubah jadi tampan seperti tadi?" tanya Michael.


Kang mengangguk ragu, dan melihat ke arah Robert.


Dean, adakah tempat sedikit tersembunyi? jika dia berubah jadi manusia, dia harus berganti pakaian dulu," kata Robert.

__ADS_1


"Ada. Mari Kang, ikuti aku," ajak Dean.


Kang mengikuti Dean ke arah 3 kamar yang terletak di bagian lain rumah dan tersembunyi dari hadapan semua orang.


"Robert, temanmu luar biasa," puji Nastiti.


"Apakah dia tampan jika jadi manusia?" tanya Nastiti penuh selidik.


"Kenapa? Apa kau menyukainya?" tanya Michael.


"Tidak tau. Entah kenapa, ketika melihatnya aku merasa seperti melihat seseorang yang agung. Auranya memukau dan membuatku hanya bisa menatapnya dengan segan," jawab Nastiti jujur.


"Kau juga merasakannya?" tanya Robert antusias.


"Kau juga?" Nastiti balik bertanya.


"Aku juga merasa begitu," timpal Niken. Widuri dan Marianne mengangguk bersamaan.


"Saat ku katakan padanya apa yang ku rasa, Kang hanya diam. Yah, dia memang hanya bisa diam. Jangan memintanya bicara. Atau dia akan menyemburkan api dari mulutnya." Robert mengingatkan.


"Lalu bagaimana kalian berkomunikasi? Kang mempunyai kemampuan unik untuk berkomunikasi dengan cara lain. Kalian lihat saja nanti," kata Robert.


"Kata Dean kalian akan segera menikah. Kapan tepatnya?" tanya Robert.


"Setelah semua persiapan selesai, kami akan mengundangmu," jawab Indra tersenyum.


"Kalian sudah kembali...." sapa Sunil.


"Duduk di sini Kang." Robert menunjuk bangku kosong di sebelah kanannya. Kang menurut dan duduk di situ. Dia terus menunjukkan senyuman sopan di wajahnya.


"Kalian membicarakan apa tadi?" tanya Dean.


"Tentang rencana pernikahan Indra dan Niken," jawab Robert.


"Aku juga mau menikah," celetuk seseorang.


Semua orang mengalihkan pandangan ke arah suara itu. Itu suara Nastiti. Sepertinya dia tak sadar saat mengucapkannya. Karena pandangan matanya terus tertuju pada Kang yang duduk tepat di depannya. Wajah Kang bahkan memerah karena ditatap Nastiti dengan intens. Kang akhirnya menunduk karena malu.


Niken yang duduk di sebelahnya terheran-heran. Dilambaikannya tangan di depan Nastiti untuk menyadarkannya.


"Apa kau sedang bermimpi?" tanya Niken. Nastiti tak bereaksi.


Niken menggenggam wajah Nastiti dengan kedua telapak tangannya, dan mengarahkannya tepat di depan wajahnya sendiri. Nastiti terkejut.


"Tatapanmu itu seperti mau menelan Kang saja. Dia sampai malu!" sergah Niken pedas.


"Ahh.... Apa??"


Nastiti tergagap. Wajahnya memerah. Dia lalu lari masuk rumah. Semua orang jadi tertawa geli. Kecuali Kang, yang masih menunduk dengan rasa malu.


"Sudah Kang... lupakan soal tadi. Di sini semuanya adalah keluarga. Tak perlu merasa tak enak hati. Tingkah kami memang kadang konyol," Sunil angkat bicara.


Robert menepuk bahu Kang untuk mengembalikan ketenangannya. Kang mengangguk.


Perlahan Kang bisa ikut menikmati pembicaraan mereka. Mendengarkan kisah-kisah luar biasa A, O dan Z di dunia asal mereka, di antara bintang. Kang akhirnya tau bahwa dunia ini teramat luas. Dan dia telah terkurung ribuan tahun di tempat itu, tanpa tau bahwa masa telah berganti. Bahkan keturunan raja yang makamnya dijaganya pun, telah digantikan oleh dinasti lain berkali-kali, dan berubah jadi negara modern di masa depan.


******

__ADS_1


__ADS_2