
Pagi ini, Robert terbangun dengan tubuh menggigil kedinginan. Terdengar dengkuran halus di sebelahnya. Robert menoleh. Itu dengkuran Kang yang juga tidur di sebelahnya. Terlihat sangat nyaman.
'Hah, tubuhnya mungkin berisi api, tak heran udara sedingin ini justru membuatnya nyaman,' batin Robert.
Robert bangkit. Kedua tangannya saling silang di depan dada. Dia merasa terlalu lama terpapar udara dingin di tempat terbuka. Halaman kuil itu sudah mulai terang. Di luar kubah terlihat kabut putih yang biasa ditemui di daerah pegunungan.
"Kang, bangun," panggil Robert. Tapi Kang tak merespon.
'Sampai jam berapa dia memperhatikan langit tadi malam?' pikir Robert.
Robert membiarkan Kang tidur. Dia berjalan-jalan mengelilingi halaman depan kuil itu. Lalu mulai berlari-lari kecil untuk menghangatkan dirinya. Dan melakukan beberapa gerakan olahraga yang sudah jarang dilakukannya.
Robert sudah berkeringat. Dia sudah lebih bersemangat kini. Dan perutnya sudah sangat lapar. Namun Kang masih tidur dengan pulasnya. Robert menggerutu.
"Kang, bangun. Ini sudah siang." Robert menggoyang tubuh Kang.
"Mmmm...."
Kang menggumam lalu membalik badan memunggungi Robert dan melanjutkan tidurnya.
Robert tak percaya. Biasanya Kang justru bangun lebih pagi darinya.
"Kang, kau bisa lanjutkan tidur di rumah kayu. Kita tertidur di tanah semalaman. Ayo kembali dulu. Aku akan membiarkanmu tidur sampai siang jika mau."
Kata-kata Robert bagai angin lalu.
"Kang, kemarin sore susu sapi dan domba tidak sempat diperah. Kita harus melakukannya pagi ini. Atau mereka akan kesakitan," bujuk Robert.
"Kang, ayo bangun. Aku sudah lapar. Aku tak bisa turun ke ruang bawah tanah jika tak kau bawa turun."
Robert menggerutu.
"Harusnya kau sediakan tangga biar aku bisa naik dan turun sendiri."
Tubuh Kang menggeliat. Dia akhirnya bangun setelah mendengar keberisikan yang dilakukan Robert.
Kang duduk di depan Robert. Tangannya ditaruh di dahi.
"Hah. Untuk apa kamu begadang semalaman? Apa yang kau tunggu?" cecar Robert jengkel.
"Haiss sudahlah. Tak perlu menjawab jika rahasia. Sekarang kita harus turun dan pergi ke rumah kayu. Setelah itu kau bisa lanjut tidur lagi. Biar aku yang urus ternak-ternak itu. Ayo!"
Robert berdiri. Ditariknya Kang agar ikut berdiri. Keduanya berjalan ke atap ruang bawah tanah. Kang membawa Robert turun. Lalu mereka menyusuri lorong menuju rumah kayu.
Hari itu Kang benar-benar melanjutkan tidurnya. Robert membiarkannya. Dia sibuk mengurusi ternak yang kemarin tak terurus.
Menjelang siang, makanan sudah siap di meja. Kang belum keluar. Jadi Robert menikmati makanannya sendiri.
Robert melanjutkan membereskan kebun sayur yang tampak sangat basah. Tanaman itu rebah dan nyaris tenggelam. Dia sibuk melancarkan aliran air agar tak menggenangi bedengan sayur.
Tubuh Robert bermandi peluh. Dia berdiri dan melihat sekeliling.
"Sedikit lagi selesai," gumamnya puas.
__ADS_1
Baru saja Robert ingin kembali jongkok ketika dia merasa ada sesuatu yang aneh. Robert menatap ke langit mencari-cari. Dia yakin tadi seperti ada suara halus di udara. Sebuah getaran yang mengusik telinganya.
Tiba-tiba Kang muncul di halaman. Juga menatap ke langit dan arah sekitarnya.
"Apa kau juga merasakannya?" tanya Robert heran.
Bagaimana Kang yang tidur di rumah bisa ikut merasakan getaran suara sehalus itu? Betapa sensitifnya dia.
Robert meninggalkan pekerjaannya. Di dekatinya Kang.
"Menurutmu, itu suara apa?" tanya Robert ingin tau. Kang menyentuh dahi Robert.
???
Robert terkejut.
"Kang, jika suara itu adalah penanda sesuatu membentur penghalang, berarti ada yang menemukan tempat ini. Bukankah itu bagus?" Robert sangat berharap bisa keluar dari tempat itu.
Kang menggeleng. Kang meletakkan lagi jarinya di dahi Robert.
"Oh, benturan itu berasal dari ketinggian...." Robert kemudian menyadari sesuatu.
"Baiklah, tak mungkin manusia yang melakukannya. Mungkin ada burung terbang yang mati mendadak lalu jatuh membentur penghalang dunia ini." Tak pelak rasa kecewa menghampirinya.
Robert berniat menuntaskan pekerjaannya membereskan kebun yang tersisa. Tapi tiba-tiba Kang menarik tangannya yang penuh lumpur. Kang membawanya berloncatan dari ranting ke ranting.
"Aaaaaaa...."
Robert menjerit-jerit sepanjang perjalanan. Bahunya sakit karena Kang hanya memegang tangannya. Tubuh Robert terombang-ambing ke sana-kemari. Robert takut bahunya tiba-tiba lepas.
Akhirnya Kang berhenti di atas dahan pohon. Dengan wajah pucat, Robert memeluk batang pohon itu erat. Tubuhnya bergetar hebat. Kepalanya pusing. Dia sebenarnya suka naik rollercoster, tapi tidak begini juga.
"Kang, kau bisa membunuhku jika begini," keluh Robert putus asa.
Kang menoleh, tapi hanya tersenyum.
"Kau malah senyum? Teman macam apa kau ini!" teriak Robert kesal.
"Aduuuhhh... lenganku bisa copot kalau begini." Robert mengusap-usap bahunya yang nyeri.
Kang membawa Robert turun. Kali ini gerakannya lebih lembut. Lalu dia menunjuk ke satu arah. Robert mengamati, mengikuti arah jari Kang yang bergerak ke satu tempat.
Tiba-tiba tampak sebentuk jejak telapak tangan di batas dunia itu. Robert terlompat kaget.
'Itu tangan manusia' pikirnya.
Jari Kang bergerak setelah jejak tangan tadi menghilang. Lalu kembali berhenti. Dan kembali terlihat cetakan tangan di sana.
"Kang, ada manusia di luar. Dia menemukan tempat ini. Tapi tak bisa masuk," kata Robert.
Kang mengangguk. Sikapnya sangat waspada. Jarinya terus bergeser mengikuti perpindahan orang di seberang sana.
"Kang, bagaimana kau tau dia berpindah ke arah sana?," tanya Robert heran.
__ADS_1
Kang menunjuk matanya.
"Jangan bilang matamu istimewa dan bisa melihat tembus ke balik penghalang itu." Bibir Robert sedikit mengerucut, mengejek.
Tapi tanpa diduga, Kang justru mengangguk.
"Astaga, Kang...." suara Robert lirih, tak habis pikir.
"Kalau kau bisa melihat tembus pandang ke luar sana, bukankah harusnya mudah mencari pertolongan dari luar?" kata Robert.
Kang meletakkan jari di dahi Robert.
"Jadi, sejak kau terjebak, selama ribuan tahun. Belum ada satupun manusia yang mendekati dunia ini. Kecuali binatang-binatang yang menabrak pembatas. Dan tentu saja aku yang melintas masuk tanpa bisa keluar lagi." Robert mulai mengerti.
Robert mendekatkan telinganya mendekati dinding, berusaha mendengar suara-suara dari luar. Diikutinya arah telunjuk Kang yang terus bergeser. Lalu sebentuk jejak tangan muncul tepat di depannya.
Tanpa sadar, Robert membalas jejak tangan itu. Ketika tangan keduanya bersentuhan, keduanya segera menarik tangannya. Kang menarik Robert menjauh dari batas. Matanya menatap nyalang dan waspada.
"Apa yang kau lihat Kang?" tanya Robert ingin tau.
Arah tatapan Kang makin naik ke atas. Keningnya berkerut. Dia melompat ke ranting-ranting pohon. Seperti mengikuti sesuatu.
"Apakah orang yang tangannya ku pegang tadi sekarang naik ke atas?" gumam Robert.
"Apakah dia melompat seperti Kang? Atau terbang? Bagaimana bisa? Tak masuk akal."
Robert berusaha membuka pikirannya. Bahwa sejak dia terdampar, memang semua sudah terasa tak masuk akal.
"Oh, baiklah.... Mari buka segala kemungkinan yang semustahil apapun. Makhluk seperti Kang yang menyemburkan api dan Vivian yang bersayap juga sudah sangat mustahil di dunia modern," katanya meyakinkan diri sendiri.
Kang turun perlahan. Matanya tak lepas dari dinding penghalang itu.
"Ada apa? Apakah orang tadi itu terbang ke atas?" tanya Robert.
"Beneran terbang?" Robert justru tidak percaya.
"Mungkin dia bangsanya Vivian. Mereka juga bisa terbang dengan sayap besarnya kan?" Asumsi Robert.
Tapi Kang menggeleng. Ditaruhnya jarinya di dahi Robert. Mata Robert membulat. Dia tak berkedip sejenak, mencerna informasi yang diberikan Kang.
"Mereka tidak bersayap. Tapi bisa terbang begitu saja." Robert berkata pada dirinya sendiri.
Jari Kang menunjuk batas itu. Robert ikut melihat. Di seberang sana, orang itu menggurat dinding pembatas, seperti ingin menyampaikan sesuatu.
H A L L O
Robert ternganga mengeja huruf yang ditorehkan. Itu kata umum yang familiar banget di dunianya. Robert jadi sangat antusias.
"Apakah di seberang sana adalah dunia moderen?" gumamnya senang. Dengan bersemangat Robert berkata pada Kang.
"Kang ...?" Perkataannya terputus melihat ekspresi buruk yang ditunjukkan Kang. Wajahnya memerah. Sepertinya Kang siap meledak kapan saja.
"Kang, tenang dulu. Tenang.... Tulisan itu bukan apa-apa. Simpan amarahmu," bujuk Robert.
__ADS_1