
Hari masih gelap, entah pukul berapa ketika dokter Chandra terbangun dari tidurnya. Dibangunkannya Robert yang tidur di sebelahnya.
"Robert, bangun. Baiknya kita berangkat sekarang," ujarnya.
"Hah? Ini masih gelap. Apa tidak menunggu pagi?" tanya Robert heran.
"Menurutku, lebih baik pergi saat gelap. Harusnya bisa mencapai daratan terdekat tanpa dicurigai."
aku bangunkan yang lainnya," sahut Robert.
Semua terbangun dan bersiap dalam kegelapan. Alan membantu menerangi sekitar, untuk memeriksa apakah ada yang tertinggal atau tidak.
"Kami sudah siap," ujar Indra.
"Kalian lanjutkan istirahat di dalam saja," kata Sunil.
Bagaimana dengan Anda Dok?" tanya Alan.
"Aku akan bersama mereka di dalam," jawab dokter Chandra.
"Oke."
Satu persatu Indra, Niken, Widuri, Cloudy, Marianne dan dokter Chandra, lenyap dari pandangan. Semua keperluan dan persediaan juga sudah disimpan kembali, termasuk lempengan batu dan tempayan air abadi.
"Mari kita berangkat," ujar Dean.
Keempatnya melayang tinggi, untuk melihat arah tujuan. Sinar bulan yang redup jadi penuntun jalan.
"Itu! Apa kalian melihatnya?" tunjuk Alan.
"Ya. Ayo!"
Keempat orang itu melesat cepat ke satu titik gelap di kejauhan. Gelapnya malam menyamarkan aktifitas mereka.
Mereka terbang cukup lama baru bisa melihat dengan jelas titik yang dituju. Itu memang pulau yang besar. Sangat besar. Tapi kini mereka bisa melihat cahaya di beberapa tempat.
"Masih ada yang selamat di sana. Pasti sudah ada yang mengevakuasi," kata Sunil.
"Bagaimana sekarang? Mau ke sana atau ke tempat lain?"
"Arah matahari terbit dari sini. Harusnya ini adalah Kaliman. Jika sudah ada yang mengevakuasi, baiknya kita tak ikut campur lagi. Kita susuri garis pantainya dari kejauhan sambil mencari pulau kecil lain yang lebih dekat ke pulau Jawa." Dean memberikan analisanya.
"Kita putuskan seperti itu saja. Kita harus cepat dan menemukan pulau lain sebelum hari terang." Robert mengingatkan.
"Ya, Ayo!"
Sunil telah melesat lebih dulu. Teman-temannya menyusul. Mereka mengitari pantai pulau itu dari kejauhan.
__ADS_1
Cukup lama juga mereka mengikuti garis pantai. Tak banyak cahaya di sana. Tapi tetap terlihat di beberapa tempat. Mungkin itu tempat evakuasi. Di ufuk, cahaya putih memanjang mulai terlihat hingga ke arah langit. Tak lama lagi Malam akan berganti pagi.
"Bukankah itu sebuah pulau?" tunjuk Robert ke arah lautan.
"Kita ke sana saja."
Dean memimpin teman-temannya melesat ke arah pulau kecil di tengah laut. Tak lama mereka berhenti di atas pulau tersebut.
Dari atas situ, mereka bisa melihat beberapa pulau lain di sekitarnya.
"Menurutku, sekarang kita ada di Kepulauan Seribu. Rangkaian pulau yang berada antara Kalimantan dengan Jawa," ujar Alan.
"Ini terlalu kecil. Sepertinya tidak berpenghuni. Baiknya kita cari yang lain, sebelum hari terang," saran Robert.
Keempatnya melanjutkan perjalanan lagi. Kali ini, menuju pulau lebih besar yang terlihat di kejauhan. Terlihat beberapa properti rusak di sana. Semua pohon lenyap.
Tak ada lagi yang bisa disrlamatkan.di situ. Jadi keempatnya melanjutkan perjalanan lagi. Hingga cahaya subuh muncul menerangi ufuk timur, langit mulai terang. Mereka harus segera mencari tempat untuk mendarat.
"Di sana!" tunjuk Sunil ke arah pulau yang lebih besar lagi.
Tempat itu sepi, tanpa ada cahaya lampu sama sekali. Mereka turun lebih dekat. Namun masih dalam batas aman dari pandangan manusia. Tempat itu kosong. Tak terlihat satu orang pun. Pepohonan hanya tinggal tungkul batangnya saja. Puing-puing rumah kelihatan di mana-mana.
"Sepi sekali," komentar Alan.
"Apa yang kau harapkan? Ini masihlah pulau. Kita belum mencapai Jakarta," ujar Dean.
Keempatnya mendarat di pantai yang bau busuknya jangan ditanya lagi. Mereka langsung membersihkan segala bangkai makhluk laut yang mengapung di permukaan serta terdampar di pantai. Tampak belatung bergerak di mana-mana, diantara bebatuan dan pasir.
"Menjijikkan!" keluh Alan.
Dia berkali-kali muntah dan terbang menjauh untuk menghirup udara segar.
"Hei, jangan terbang sembarangan! Cepat kembali!" panggil Sunil kesal.
Saat sinar pagi benar-benar muncul, tak kurang dari tiga kilometer area pantai sudah mereka bersihkan. Robert, Alan dan Sunil membakar sedikit area pantai berpasir dan berbatu, untuk menyingkirkan belatung yang terus merayap ke mana-mana.
Sekarang tempat itu sudah layak dijadikan tempat istirahat. Meski bau bangkai masih diterbangkan angin dari sekitarnya, tapi sudah tak separah sebelumnya.
Tim itu beristirahat sejenak. Mereka lelah terbang sejak tengah malam hingga pagi hari. Dean mengeluarkan lempengan batu untuk alas mereka istirahat. Mengeluarkan teman-temannya dan perbekalan makanan.
"Kami istirahat dulu. Kalian siapkanlah sarapan," ujar Dean.
"Oke," jawab Indra.
Saat keempat orang itu melanjutkan tidur, lima anggota tim lain menyibukkan diri juga. Dokter Chandra berjalan untuk melihat keadaan daratan.
"Jangan jauh-jauh Dok. Nanti saja periksa yang lain setelah mereka sarapan," pesan Indra.
__ADS_1
"Ya. Aku hanya melihat di sekitar sini saja," balas dokter Chandra.
Dia berjalan-jalan di area pantai yang terbuka luas. Jika dilihat dari letak pohon-pohon mati yang tampak teratur itu, sepertinya ini adalah tempat wisata pantai. Mungkin hotel atau villa.
"Tempat ini pasti indah sebelumnya. Tapi tiba-tiba berubah dalam sekejap," gumam dokter Chandra.
"Dokter, sarapan sudah siap!" Indra menyusul di belakangnya.
"Oh, sudah selesai? Kenapa repot-repot menyusul. Kan bisa dipanggil saja." Senyum dokter Chandra ramah.
"Anda sudah berjalan terlalu jauh. Tadi ku panggil tidak dengar, kan?" balas Indra.
"Oh ya? Maafkan aku. Mari kita kembali. Nanti mereka khawatir."
Dokter Chandra dan Indra berjalan beriringan sambil mengobrol.
"Apa yang akan kau lakukan setelah sampai Jakarta?" tanya dokter Chandra.
"Pulang ke rumah!" jawab Indra datar. "Kalau Dokter?" tanyanya balik.
"Tentu saja pulang. Mau ngapain lagi."
Dokter Chandra dan Indra tertawa terkekeh. Mereka sampai tepat saat Sunil ingin menyusul.
"Aku hampir menyusul, tapi kalian sudah kembali," ujar Sunil lega.
"Ayo kita sarapan!" ajak Marianne.
"Apa rencana selanjutnya?" tanya Robert.
"Memeriksa pulau ini. Jika ada yang perlu dikuburkan, ya dikuburkan," jawab Dean enteng.
"Kita tak melanjutkan perjalanan?" tanya Alan.
"Seperti kita lihat di pulau besar tadi malam, kemungkinan di Jawa juga banyak yang selamat dan dievakuasi. Jadi kita tak boleh ceroboh dengan terbang di siang bolong." Dean menjelaskan alasannya tidak melanjutkan perjalanan.
"Betul. Jika manusia biasa melihat kita bisa terbang, bisa-bisa kita dianggap sebagai penyebab bencana ini," ujar Sunil.
"Padahal, kita sama sekali tak terlibat." Indra setuju dengan pemikiran Sunil.
"Kadang, berbeda itu bisa dianggap berbahaya oleh yang tidak mengerti. Bahkan meski kita membantu, tidak semua orang juga akan merasa senang. Kita akan selalu dianggap sebagai orang asing, aneh dan berbahaya." timpal dokter Chandra.
"Baiklah. Jadi hari ini pekerjaan kita adalah membersihkan pulau ini. Lalu beristirahat. Kumpulkan tenaga untuk malam nanti."
Dean sudah memberikan instruksi. Yang lain mengangguk setuju. Mereka menyelesaikan sarapan dengan cepat, agar bisa mulai bekerja.
*******
__ADS_1