
"Ahh ... Gila! Panas sekali. Kemarin-kemarin gak begini," gerutu Alan.
"Mungkin ada fenomena tak biasa untuk perubahan cuaca ini," tebak Robert.
"Mungkin juga. Sayangnya kita tak ahli soal cuaca. Rasanya ingin berendam air dingin," tambah dokter Chandra.
"Bagaimana dengan ternak kita? Aisshhh kita harus memasang atap untuk melindungi mereka," ujar Leon. Dia segera berlari keluar rumah. Dean menyusul dari belakang, untuk membantunya.
Tapi, begitu mereka keluar rumah, terlihat selubung merah melingkupi areal kediaman Leon.
Dean masuk kembali ke rumah. Dilihatnya Alan duduk bersila dan mengeluarkan kemampuannya untuk melindungi seluruh areal rumah dari terpaan hawa panas.
"Dean, sudah tak terasa panas lagi, tapi—"
Leon terdiam saat Dean memberi isyarat untuk tutup mulut.
"Alan melindungi seluruh tempat ini," kata Dean melalui transmisi suara pada tiga temannya yang lain.
Leon, Robert dan dokter Chandra tak lagi menganggu konsentrasi Alan. Sementara Dean, mengeluarkan air abadi dan menyiramkannya ke tubuh Alan.
"Coba kau minum sedikit," bujuknya. Alan mengikuti saran Dean.
Di sudut lain rumah, Leon,bRobert dan dokter Chandra mengobrol melalui transmisi suara.
"Bagaimana kau akan tinggal di sini kalau cuacanya seekstrem ini?" tanya dokter Chandra.
"Betul. Ini seperti serangan panas di negara empat musim. Di puncak musim panas. Atau cuaca gurun," imbuh Robert.
"Apa kalian lupa kalau aku dan Jane tinggal di gurun sebelum bertemu kalian?" ujar Leon mengingatkan.
"Bagaimana dengan ternak dan tanamanmu?" tanya dokter Chandra.
"Ya, harus membuat kandang dengan penutup. Tak apa. Sementara kandang belum selesai, maka aku akan menyimpan ternak di penyimpanan jika cuaca berubah ekstrem." Leon menenangkan kekhawatiran teman-temannya.
Robert menggeleng. Khawatirnya belum hilang. "Lalu tanamanmu bagaimana?"
"Ini pasti hanya terjadi sekali. Lihat saja kebun Sulaiman. Bukankah selalu tumbuh dengan baik?" Leon memberi contoh.
"Jika terjadi lagi hal seperti ini, bagaimana kau mengatasinya? Tak ada lagi Alan yang bisa melindungi tanahmu dengan kubah cahaya," desak Robert.
"Yeahhh ... tinggal dipanen saja semua secepatnya dan simpan di dalam penyimpanan," jawab Leon ringan.
"Mungkin tidak bisa dijual. Tapi setidaknya aku punya stok makanan segar hingga musim tanam dan panen berikutnya!" kata Leon bijak.
__ADS_1
"Sudahlah, Robert. Leon adalah orang yang optimis. Dia secerdas Penasehat Ma. Jangan khawatirkan lagi." Dokter Chandra mengakhiri perdebatan mereka.
Di luar kubah cahaya merah itu, langit jg mulai meredup. Hari mulai sore. Alan melepaskan perlindungannya. Kemudian jatuh tertelungkup kelelahan.
"Alan!" seru Dean khawatir. Tiga temannya yang lain mendekat dan membantu membenarkan posisi Alan.
Dengan cepat, Dean mengambil air abadi dan meminumkannya pada Alan. Tapi air itu mengalur keluar. Itu membuat teman-temannya khawatir.
Robert membuka mulut Alan dengan mendongakkan kepalanya sedikit, agar air minum bisa masuk. Perlahan-lahan secangkir air abadi berhasil melalui tenggorokan Alan. Dean membasahi tubuh Alan yang sudah basah kuyup, agar mendingin lebih cepat.
"Mengkhawatirkan sekali. Lalu bagaimana dengan Sunil dan Sulaiman?" tanya Leon cemas.
"Sunil? Tubuhnya bahkan lebih panas dari api. Dia akan baik-baik saja," tukas Dean yakin.
"Bagaimana dengan Sulaiman? Apa Sunil juga bisa membuat kubah cahaya seperti Alan?" tanya Leon lagi. Dia tak terlalu mengetahui kelebihan teman-temannya ini.
Dean menggeleng. "Aku tak pernah melihat O melakukan hal itu. Tapi aku tebak, dia pasti menyimpan Sulaiman di penyimpanannya," jawab Dean.
Semoga kondisi di sana baik-baik saja," kata dokter Chandra.
Tapi Robert melangkah cepat menuju pintu.
"Kau mau ke mana?" tanya Leon.
"Baiklah, aku akan membereskan kandang sebelum gelap. Jadi besok kita tak perlu khawatir lagi." Leon melangkah keluar.
Teman-teman yang lain juga dikeluarkan. Mereka memandang Alan dengan sedih sekaligus rasa hormat. Meski suka usil, tapi Alan telah berkali-kali membuktikan bahwa dia siap berkorban untuk melindungi semua temannya.
"Para wanita menyiapkan makan malam yang enak dan akan disukai Alan. Dia butuh tambahan energi setelah apa yang dilakukannya sepanjang siang tadi.
Dean membiarkan Marianne dan dokter Chandra merawat dan menunggui Alan. Dia keluar untuk melihat dampak cuaca ekstrem siang tadi. Sebagian besar tanaman meranggas dan mati kekeringan. Beberapa bahkan terbakar di tempatnya tumbuh.
Dean menarik air laut untuk menyirami hampir seluruh pulau. Terutama area rumah dan kebun Leon serta Sulaiman. Serta areal sekitarnya. Penyiraman itu untuk mencegah ekses gesekan angin pada ranting kering yang mungkin bisa menimbulkan kebakaran malam nanti.
Malam sudah turun. Dean mendatangi rumah Sulaiman. Ladang di kiri kanan rumah sudah kosong. Tampaknya Sunil berhasil memanen seluruh tanaman tepat waktu. Yang tersisa adalah dedaunan layu kecoklatan di rumpunnya.
Dean masuk rumah, dan melihat Robert serta Sunil masih di situ.
"Ada apa dengannya?" Mata Dean mengarah pada Sulaiman yang terbaring di dipan.
"Aku membuatnya pingsan tadi. Lalu ku masukkan penyimpanan dan mulai memanen hasil kebun. Tapi sudah malam begini, dia masih belum bangun jg," lapor Sunil.
"Kita bawa ke tempat Leon saja. Kita coba obati dengan air abadi," kata Dean.
__ADS_1
"Oke."
Ketiganya kembali ke bukit, tempat kediaman Leon dan Jane. Asap mengepul dari tanaman panas yang diguyur Dean dengan air.
"Menurutku, serbuan cuaca panas ini bisa mematikan. Dan tak mungkin hanya menimpa pulau ini ...."
Robert ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Tapi ekspresinya jelas sangat khawatir.
"Maksudmu, seluruh Indonesia?" tanya Dean terkejut.
"Aku khawatir seperti itu. Jadi, kurasa kita harus mengecek pulau terdekat dari sini. Jika mereka mengalami hal yang sama, maka—"
"Baik. Kita antar Sulaiman dulu. Lalu memeriksa ke pulau terdekat," putus Dean.
Ketiganya melesat cepat. Kali ini kekhawatiran mereka makin besar. Jadi harus memeriksa secepatnya. Jika mungkin, menolong semampunya.
Setelah menempatkan Sulaiman di dekat Alan, Dean meminta dokter Chandra dan Marianne untuk merawat Sulaiman juga. Mereka masih harus memeriksa ke sekitar pulau.
"Makan dulu. Sejak siang kalian belum makan," desak Widuri.
Robert mengangguk. Ketiganya makan dengan cepat. Lalu pamit pergi. Mereka melesat tinggi untuk mencari pulau terdekat dalam jangkauan.
"Itu!"
Robert menunjuk satu titik di mana tampak asap hitam membumbung di bawah sinar bulan. Ketiganya melesat cepat ke arah tersebut. Lokasinya tidaklah terlalu jauh. Masih di tengah laut luas. Sebuah kapal -atau setidaknya sisa-sisa kapal- mengepulkan asap hitam..Semua bagian kapal terbakar. Ketiga orang itu tak menemukan pemiliknya.
"Mungkinkan karena sangat panas, tangki bensinnya jadi terbakar dan meledak?" duga Sunil.
"Mungkin saja. Ayo, kita cari yang lain!"
Dean terbang ke arah lain yang juga membungkam asap.
"Kapal lain lagi," gumamnya prihatin.
"Apa seluruh Indonesia mengalami serangan gelombang panas ini?" pikirnya khawatir.
"Tak ada yang bisa diselamatkan di sini. Kita cari tempat lain," ujar Robert.
"Itu sebuah pulau kan?" tunjuk Sunil pada satu titik gelap di kejauhan.
"Ayo!"
Dean, Robert dan Sunil melesat ke arah pulau itu. Apakah masih ada yang bisa diselamatkan di sana? Fenomena apa ini? Apa yang terjadi dengan bumi setelah mereka tinggalkan enam tahun yang lalu?
__ADS_1
******