PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 187. Kejutan Untuk Silvia


__ADS_3

"Kalian tunggu di sini, kusiapkan dulu obatnya. Kang, awasi mereka agar tak berkeliaran kemana-mana. Dan kalian, jangan mencoba memprovokasi Kang. Taruhannya nyawa!" Kata Robert memperingatkan.


Robert menutup pintu pondok. Membiarkan Kang dan dua gadis itu di luar.


"Ckckckk. Hidup ribuan tahun di sini, tapi tempat tinggal kalian tetap sejelek ini. Benar-benar tak berseni." Gadis itu tanpa takut menilai pondok sederhana itu.


Tapi Kang tak bereaksi. Dia mewaspai gerakan kedua gadis itu dengan mata elangnya.


Merasa tidak dipedulikan, gadis itu terbang ke samping pondok. Kang bergerak cepat melesatkan tali dan mengikatnya erat. Lalu gadis itu dilemparkan ke tanah dengan keras.


Dhukk!


"Arghh.. Kurang ajar kau. Lepaskan aku dan ayo kita bertarung!" teriak gadis itu marah.


Kang menatap keduanya dengan pandangan tajam dan penuh intimidasi. Auranya keluar dan menekan kedua gadis di depannya. Gadis yang satu sampai jatuh berlutut dengan tubuh bergetar. Sementara gadis satu lagi, terbaring diam tak berkutik di tanah. Kini mereka tau bahwa pria pendiam ini bukanlah lemah.


*


*


Krieett.


Pintu pondok terbuka. Robert muncul. Dahinya mengerut melihat keadaan di depan pintu. Robert menatap kedua gadis itu dengan tatapan tak suka.


"Tck! Kalian menguji Kang? Bukankah sudah ku peringatkan? Kau harus bersyukur dia hanya mengikatmu. Tapi tidak ada lain kali. Aku tak kan mengijinkan dia bersikap lembut jika kalian mengganggu lagi. Paham?!" Bentak Robert.


"Ti.. tidak. Aku tak berani lagi."


Kedua gadis itu baru bisa bernafas lega saat Robert keluar pondok. Kang menarik aura membunuhnya setelah melihat Robert keluar.


"Heh.. aku jadi ragu memberikan obat ini. Kalian bukan orang-orang yang bisa dipercaya." Robert menunjukkan botol keramik kecil di tangannya.


"Tolong beri kami obatnya. Kalian bisa mempercayai kami. Sungguh." Gadis yang sejak tadi diam, menjawab bersungguh-sungguh.


"Diawasi Kang saja dia masih berani bertindak bodoh. Bagaimana jika kami lengah? Bisa habis semua milik kami kalian curi!" tuduh Robert kejam.


"Tidak. Tidak. Apa yang harus kami lakukan agar kau percaya?" tanya gadis itu putus asa.


Robert memegang dagunya dan terlihat sedang berpikir.


Bagaimana jika ku minta sedikit darah dari kalian berdua?" Tanya Robert enteng.


"Apa?" Gadis yang berjongkok di tanah itu mundur ke belakang.


"Aku tidak minta banyak. Hanya 3 tetes saja. Kalian tak kan mati. Itu sebagai jaminan agar kalian tidak macam-macam lagi. Jika kalian masih bandel, maka dengan sekali hembusan nafas, kalian akan musnah!" Ancam Robert.

__ADS_1


"Mus.. musnah?" Rasa takut jelas terlihat di mata kedua gadis itu.


"Aku yang salah. ambil darahku saja. Jangan ganggu dia!" Gadis yang masih terikat itu terus memohon sambil menangis.


'Waahh, aku berbakat juga jadi gangster kejam. Dia sampai nangis ketakutan begitu' batin Robert.


Robert meletakkan jari Kang di dahinya. Itu diartikan oleh dua gadis itu sebagai diskusi untuk menyelamatkan nyawa mereka. Padahal sebenarnya Robert hanya ingin menjelaskan bahwa dia sedang pura-pura kejam saja. Kang mengangguk dan akan mengikuti permainan Robert.


Kedua gadis itu ketar-ketir memikirkan arti anggukan Kang tadi.


'Apakah dia setuju mengampuni nyawa kami atau setuju agar memberikan darah sebagai jaminan?' pikir keduanya.


"Baiklah. Mana 3 tetes darah kalian? Masing-masing hanya 3 tetes saja." Robert mengeluarkan botol kecil lain dari saku bajunya.


Gadis yang berjongkok itu segera setuju. Meski temannya melarang.


"Oke, aku bersedia."


Dia melukai jarinya dengan pisau kecil. Robert menadahkan botol kecil di bawah jari, untuk menampung tetesan darah mereka. Di bawah sinar matahari, darah itu berkilau sejernih tetesan air. Robert terkejut, tapi berusaha menyembunyikan ekspresinya.


"Oke, terima kasih. Sekarang giliranmu pembuat onar." Robert melukai jari gadis itu dan menampung tetesan bening itu dalam botol kecil.


"Bagus. Takdir kalian menyatu sekarang. Salah satu membuat ulah, kalian berdua akan menanggung akibatnya." Botol darah itu disimpan Robert lagi dalam sakunya.


"Ini obatnya. Cepat bawa temanmu ini pergi." Robert melemparkan botol obat kecil itu ke arah gadis yang berjongkok.


Robert dan Kang menatap kepergian keduanya dengan senyum simpul.


"Fiuuhhh.. lelah sekali berakting kejam," Robert duduk di bangku depan pintu.


Kang mendekat dan meletakkan jarinya di dahi Robert. Dia menyuruh Robert mengistirahatkan kakinya yang terkilir.


"Baiklah. Kau juga terluka. Cepat beristirahat saja." Dengan tertatih-tatih Robert masuk ke dalam pondok.


*


*


Saat petang, Kang membawakan sepiring makanan untuk Robert yang tertidur di sudut ruang. Kang dapat melihat bahwa pergelangan kaki Robert bengkak dan mulai membiru


Diletakkannya piring makanan di sisi. Lalu duduk di samping Robert. Ditaruhnya jarinya di dahi Robert. Sebuah hawa hangat memasuki tubuh Robert. Melancarkan semua aliran darahnya yang tersumbat. Merelaksasi pergelangan kakinya agar tak terasa sakit lagi.


*****


Seminggu yang membosankan kembali berlalu. Pelayan wanita tabib sudah melayaninya sejak pagi. Dari mulai berendam air obat selama 2 jam, hingga didandani dengan pakaian baru hingga kembali terlihat cantik.

__ADS_1


"Woaa.. nona terlihat cantik sekali. Kulit anda kembali indah seperti sedia kala. Putih cerah tak bernoda sedikitpun." puji pelayan itu berulang-ulang.


"Obat yang kau racik sangat bagus. Di dunia masa depan, dengan keahlian sepertimu, kau bisa punya klinik kecantikan yang akan digemari para wanita. Produk salepmu akan dipuja semua wanita yang menginginkan kulit sehat dan cerah." puji Silvia.


"Benarkah?" tanyanya tak percaya.


"Ya. Wanita di masa depan sangat peduli dengan penampilan fisiknya. Mereka akan berusaha tetap terlihat muda meskipun sudah berusia lebih dari setengah abad." Silvia meyakinkan gadis pelayan itu.


"Berarti dunia anda dipenuhi dengan wanita-wanita cantik ya." gadis pelayan itu sangat kagum.


"Ya enggak juga sih. Karena masih ada juga wanita yang lebih suka tampil natural dan apa adanya." Silvia tersenyum.


Tok tok tok.


Seorang pelayan lain masuk. Membisikkan sesuatu pada pelayan tabib yang masih memegang daun pintu. Dia mengangguk.


"Nona, anda diminta menemui tabib di ruang tamu. Mari saya antar." ujar pelayan tabib itu lembut. Wajahnya berseri-seri.


"Oke." Silvia berdiri dan mengikuti gadis pelayan di depannya.


Mereka menuju bangunan utama. Bangunan itu adalah kediaman tabib dan keluarganya. Silvia masuk dari pintu samping, melewati taman kecil yang diteduhi dua batang pohon kurma yang sedang berbunga. Mereka segera menemukan jendela-jendela dan pintu ruang tamu dibuka lebar. Terdengar suara perbincangan dari dalam ruangan.


Silvia masuk ruangan setelah pelayan itu mengetuk pintu. Tabib berdiri menyambutnya dengan wajah cerah.


"Mari masuk. Hari ini penyelamatmu datang menjemputmu." Ujarnya senang.


'Menjemput?' pikir Silvia heran.


"Ayo nona." bisik gadis pelayan yang selalu merawatnya itu.


"Oh, iya. Baiklah."


Silvia berjalan mengikuti tabib. Melewati sebuah sekat pemisah. Dia bisa melihat bangku rendah yang ditutupi hambal indah bermotif tradisional dengan nuansa merah marun. Beberapa rumbai di tepi hambal itu membuatnya makin cantik. Bantal-bantal sofa segi empat dan membulat bahkan yang seperti guling kecil warna warni, mampu menunjukkan kelas keluarga tabib tersebut.


Di sana, di antara hamparan hambal indah itu, seorang pria berpakaian mewah tampak tenggelam diantara bantal-bantal sofa. Rambut ikalnya hitam legam melewati bahu. Topinya sangat khas tapi Silvia lupa itu tentang apa.


Tabib sudah berdiri di depan pria itu dan berbicara sedikit. Pria itu membalikkan tubuhnya untuk melihat Silvia. Dan itu membuat jantung Silvia berguncang keras, tak percaya.


'Tuhan, kejutan seperti apa ini' batinnya sendu.


Di sana, pria berambut ikal, berkulit putih, alis tegas seperti pedang menaungi matanya yang abu kehijauan. Mata itu menatap Silvia lembut. Pria itu berdiri dan berjalan menghampiri Silvia yang berdiri kaku seperti patung.


'Tubuh itu, wajah itu, senyum itu.. Adakah seseorang yang bisa begitu mirip dengannya?' Tanpa disadari, buliran air bening mengalir di pipinya yang seputih giok.


"Aku merindukanmu Ethan," bisik Silvia halus. Airmatanya berderai tubuhnya berguncang keras hingga tak mampu lagi menahan posisi berdirinya dengan benar.

__ADS_1


"Nonaaa!" teriak pelayan wanita itu dan menghambur memeluk tubuh Silvia sebelum jatuh ke lantai.


*****


__ADS_2