
Sejak pagi hari, kesibukan di kediaman Glenn makin meningkat. Para pelayan dari kediaman tuan Felix diperbantukan di sini. Para peri terbang ke sana ke mari menambah hiasan yang dianggap kurang.
Hari ini adalah hari pernikahan Pangeran Glenn Ockhenliche dengan Angelina Putri Rembulan.
Di kamar pengantin, Angel makin gugup dan gelisah. Dia terlihat sangat anggun dengan gaun pengantin putih serta asesoris ratna mutu manikam di dadanya. Veil dengan mahkota dari rangkaian mutiara yang mereka ambil di pantai serta buket bunga buatan Laras, Niken dan Silvia sudah siap di atas meja.
Laras menggenggam tangan Angel lembut. Senyumnya menenangkan. Tak sekalipun Angel melepas tangan Laras. Dan Laras juga terus menemaninya, mendengarkan semua kata tak jelas yang menggambarkan kegugupannya.
"Apa aku cantik?" tanya Angel untuk yang ke seratus kalinya.
"Kau pengantin tercantik dan teranggun yang pernah ku lihat." Laras tak bosan menjawabnya dan tetap melempar senyum teduhnya.
"Kalian teman terbaik yang ku miliki," isak Angel, entah sudah yang ke berapa kali dia menangis pagi ini.
"Kau juga teman terbaik yang kami punya," jawab Silvia sambil memeluknya hangat dari belakang.
"Doakan aku dan Indra segera menyusul menikah yaa.." pinta Niken.
"Tentu saja. Aku akan mendoakan kebahagiaan kalian," Angel kembali meneteskan air mata haru.
"Dandananmu akan luntur jika kau terus menangis sayang." sela Silvia. Mereka kembali merapikan bedak di wajah Angel.
Tok..tok..tok..
"Ya, masuk." teriak Niken.
Dokter Chandra masuk ke dalam. Dia mewakili anggota tim untuk mengantar Angel ke pernikahan.
"Raja sudah tiba. Sekarang aku akan mengantarmu ke sana," sikap kebapakan dokter Chandra menenangkan Angel.
Angel mengangguk dan tersenyum. Kali ini dia sudah tak gugup lagi. Dia yang bersedia tanpa paksaan untuk menikahi Glenn. Jadi tak ada kata penyesalan karena menikahi pria yang dicintainya itu. Takdir berpihak padanya kali ini, mendapatkan orang yang dicintai tanpa perlu bersusah payah.
Laras memasangkan veil dan mahkota mutiara di kepala Angel. Merapikan tatanan rambutnya lagi. Silvia merapikan ujung gaun Angel yang sedikit panjang hingga menyentuh lantai. Lalu Niken menyerahkan buket bunga ke dalam genggaman Angel.
"Sempurna," kata Silvia.
Dokter Chandra tersenyum puas.
"Mari kita berangkat." Dokter Chandra menekuk sedikit tangannya di pinggang.
Angel menyelipkan lengannya ke gandengan tangan dokter Chandra. Mereka melangkah bersama menuju pintu kamar. Seorang pelayan membuka lebar pintu itu. Laras, Niken dan Silvia mengikuti dari belakang.
Sampai di luar, anggota tim lain sudah menunggu. Mereka benar-benar terpesona.
"Kau cantik sekali," puji Robert tulus.
__ADS_1
Yang lain ikut memuji dan menyemangati Angel. Gadis itu jadi sangat terharu.
"Sudah, jangan menangis lagi. Nanti dikira orang kau bersedih," kata Niken.
Angel tersenyum dan mengangguk. Mereka kembali melangkah. Para pria mengikuti barisan depan dan terus berjalan ke tempat upacara.
"Pengantin tibaaaa."
Pengawal di depan pintu memberi aba-aba. Pintu ruangan dibuka lebar. Semerbak harum bunga menyeruak keluar, menerpa penciuman masing-masing. Aroma yang menenangkan.
Tamu yang datang sangat banyak. Termasuk utusan tiap klan hadir di acara pernikahan ini.
Dokter Chandra dan Angel memasuki ruangan sambil bergandengan tangan. Mereka berhenti tepat di sebelah Glenn. Dokter Chandra menyerahkan tangan Angel pada genggaman Glenn.
"Jaga dia baik-baik, cintai dia sepenuh hati. Pahami dia dengan kesabaran. Jangan kecewakan kepercayaan kami," ucap dokter Chandra.
"Terima kasih dokter," Glenn mengangguk mengerti.
Dokter Chandra mundur dan duduk di samping Robert. Ada tuan Felix dan istrinya juga di tempat yang sama.
Upacara pernikahan itu dilakukan oleh tetua klan Elf. Banyak kata yang tak dimengerti oleh Robert dan teman-temannya. Tapi Angel terlihat tenang. Dia bahkan bisa menjawab pertanyaan tetua klan dengan fasih.
'Mungkinkah upacara pemurnian itu juga membuatnya dapat memahami bahasa mereka?' pikir Robert takjub.
Dengan direstui Yang Mulia Raja, pernikahan itu dianggap sah. Tiba-tiba banyak kelopak bunga jatuh dari langit-langit ruangan. Suasana menjadi meriah. Terdengar musik dimainkan oleh sekelompok klan peri.
Robert dan timnya jg tak ketinggalan untuk memberi selamat. Wajah mereka sangat cerah dan bahagia.
"Ini mungkin kesempatan terakhir untuk menggunakan kamera. Ayo berkumpul," teriak Niken sambil memasang tripod kameranya.
Semua berkumpul di sekitar Angel dan Glenn. Termasuk sang raja serta tuan Felix dan istri. Mereka menatap penuh rasa ingin tau, apa yang akan dilakukan Niken.
"Ayoo senyum semuanya.. 1. 2. 3!"
Cekrekk
Anggota tim Robert memasang gaya paling heboh di depan kamera. Tapi sang Raja, tuan Felix dan istrinya juga Glenn justru terkejut dan pucat pasi saat sinar blitz menyambar.
"Hah, apa itu?"
"Yang Mulia..!"
Semua orang di ruangan itu terkejut termasuk para pengawal sang raja, yang mengira mereka telah diserang. Mereka sibuk melindungi tubuh rajanya. Dan Angel terjepit di tengah-tengah.
Niken dan yang lainnya berdiri kaku. Tak menyangka kalau blitz kamera bisa terlalu mengejutkan bagi orang-orang di sini.
__ADS_1
"Hahahh.. maaf, itu bukan apa-apa. Hanya lampu kamera. Agar foto yang dibuat bisa lebih jelas," terang Niken dengan gugup.
Indra berdiri disampingnya untuk menguatkan serta berjaga seandainya mereka akan disalah pahami.
Angel sibuk menjelaskan maksud Niken. Menjelaskan tentang kamera serta menjelaskan tentang lampu. Akhirnya mereka mengerti dan tidak merasa takut lagi.
"Apakah gambarnya msh bisa dilihat?" tanya Angel.
"Tidak tau. Biar ku coba," jawab Niken.
Dilepasnya kamera dari tripod lalu membawanya kepada Angel. Baterai kamera itu sudah sekarat. Kapan saja bisa langsung mati.
Semua merubung Niken yang sedang mengotak-atik kamera.
"Ada. Ini gambarnya." Niken menunjukkan 5 foto yang dia setel selisih sedetik dalam satu reel
Angel melihat bahwa foto pertama itu sukses, sampai semua kacau ketika lampu blitz menyambar.. Glenn pasang tampang terkejut, Sang Raja segera menunduk, dan tuan Felix justru memeluk istrinya. Terakhir adalah tampang kaku dan bingung anggota tim Robert melihat kejadian tak terduga di sekitarnya.
Angel tertawa geli melihat Glenn..
"Lihat, kau seperti ini saat terkejut," Angel menunjukkan foto lucu Glenn di kamera.
Glenn terpesona melihat Angel tertawa lepas. Tiba-tiba dia menciumnya di depan semua orang.
"Woaaa..."
Gumaman orang-orang seperti dengung lebah di ruangan itu. Tapi mereka lalu pura-pura tidak melihat.
"Apa yang kau lakukan? Memalukan!" protes Angel dengan wajah bersemu merah.
"Hahahaa.. Mari kita bersenang-senang." Raja mengangkat gelas minumnya tinggi-tinggi. Semua orang mengangkat gelas minum dan mengikuti raja meneguk minuman hingga habis.
"Dokter Chandra, Yang Mulia meminta anda dan tuan Robert untuk ke ruang baca." Seorang pengawal raja berbisik pada dokter Chandra.
"Baik," kata dokter Chandra.
Dicarinya keberadaan Rober diantara orang-orang. Dilihatnya beberapa orang keluar mengikuti pengawal.
"Robert, kita diminta raja untuk ke ruang baca," kata dokter Chandra pada Robert yang sedang berbincang dengan Laras.
"Kita berdua saja?" tanya Robert. Dokter Chandra mengangguk.
"Baik. Ayo. Kalian lanjutkan pestanya. Kami menghadap raja dulu. Pasti ada hal penting," kata Robert pada teman-temannya.
Dokter Chandra dan Robert pergi menuju ruang baca. Sementara pesta masih berlangsung dengan meriah. Makanan dan minuman mengalir tak habis-habis. Pesta akan berlangsung hingga sore. Musik dan tarian tak henti mengiringi mereka yang sedang berbahagia.
__ADS_1
*****