
Dokter Chandra, Marianne dan Aslan kembali malam hari, saat semua sudah pulang. Di rumah panggung, hanya ada Cloudy, yang menyambut dengan geraman halus. Dia kembali melingkarkan tubuhnya mencari kehangatan.
"Kita istirahat saja," kata Dokter Chandra. Ketiganya pulang ke rumah masing-masing.
Pagi hari, Dokter Chandra melihat dengan heran lubang panjang di tanah depan rumahnya hingga melewati kebun bunga.
"Pagi, Dok. Kapan kalian kembali?" sapa Indra saat dia terbang untuk membawa Niken ke rumah panggung.
"Kami pulang tadi malam. Tapi kalian sudah tidur," jawab Dokter Chandra.
"Kalian mau membuat apa ini?" Tunjuk Dokter Chandra ke tanah.
"Kami mau membuat watermill dan windmill di sana!" tunjuk Indra ke satu lokasi yang ditandai Dean.
"Oh ... jadi ini untuk aliran airnya." Dokter Chandra mengangguk mengerti.
"Bagus! Lanjutkanlah!" katanya menberi persetujuan.
"Ya, akan kami lanjutkan hari ini."
Indra dan Dokter Chandra berjalan menuju rumah panggung.
"Pagi Dok!" sapa Robert saat melihat Dokter Chandra menaiki undakan tangga, diikuti Indra.
"Selamat pagi. Kalian terlihat segar hari ini," balas Dokter Chandra.
Robery dan Sunil hanya tersenyum menanggapinya. Mereka membagikan piring makanan untuk semua orang. Sarapan pagi itu bubur gandum yang ditaburi tumisan daging manis dan pedas.
"Bubur ini sangat enak!" Mata Aslan berkaca-kaca.
"Kenapa jadi sedih?" tangan Niken.
"Aku ingat ibu. Di hari terakhirnya, masih sempat menikmati bubur enak buatan Paman Dean!" Aslan menyeka sudut matanya yang berair.
"Bukankah itu bagus?" tanya Indra.
"Aku merasa kurang berbakti. Kurang berusaha. Sehingga ibu jarang sekali bisa menikmati makanan enak." Aslan menunduk sedih.
"Sudah, jangan bersedih lagi. Bukankah kita akan pergi!" kata Marianne.
"Kalian mau mengunjungi kota Aslan?" tanya Robert.
"Bukan! Kami mau ke Jakarta," jawab Dokter Chandra.
"Kau akan menyukai kota kelahiran kami!" ujar Niken.
"Aku ingin sekali melihatnya. Jadi bisa membangun kotaku juga, jawabnya dengan semangat.
"Apakah kalian membutuhkan sesuatu untuk windmill itu?" Dokter Chandra menawarkan bantuan.
"Sebentar aku catat."
Dean meninggalkan meja dan naik ke lantai dua. Dia membawa sebuah buku gambar. Berlembar-lembar sketsa detail tempat peggilingan itu, dikerjakannya hingga larut malam.
Kemudian Dean mencatat alat-alat yang dibutuhkannya. Kemudian diserahkan pada Dokter Chandra.
__ADS_1
"Oke. Akan kucari!" Dokter Chandra menyanggupi.
Setelah sarapan selesai, Dokter Chandra, Marianne dan Aslan pergi. Tinggallah penghuni lain kembali pada kesibukannya.
Robert, Sunil dan Indra melanjutkan membuat saluran air. Sementara Dean sedang sibuk membangun tempat pengolahan gabah.
"Bagus sekali!" puji Widuri siang itu. Dia dan Niken datang membawakan makanan untuk para pria yang sedang bekerja.
"Kenapa kau ke sini?" tanya Dean khawatir.
"Ini, makan dulu sedikit!" Widuri menyodorkan bawaannya.
"Di sini panas. Ayo kembali. Aku harus mencuci tanganku dulu," ujar Dean.
Dibopongnya tubuh Widuri, dan membawa istrinya terbang ke arah kolam. Keduanya beristirahat di bawah kerindangan pepohonan.
"Dean, menurutmu ... lebih baik melahirkan di sini saja, atau pergi ke tempat Tabib Tua di kota Pelabuhan?" tanya Widuri.
"Di manapun yang kau suka. Aku akan mendukungmu. Lagi pula kita punya Dokter Chandra. Apa yang harus dikhawatirkan?" ujarnya membesarkan hati Widuri.
"Baiklah. Aku lebih suka di sini saja sebenarnya," jujur Widuri.
"Oke! Kalau perlu, aku undang Tabib Tua itu datang ke sini!" Dean tersenyum, menenangkan istrinya.
"Apa kau ingin mama dan papa menemanimu?" tawar Dan.
Widuri menatap suaminya penuh cinta. Pria itu selalu tau apa yang diinginkannya, bahkan sebelum dia mengatakannya. "Terima kasih sudah mencintaiku, Dean." Disandarkannya kepala ke pundak Dean.
"Niken sudah kembali. Aku akan melanjutkan pekerjaan. Itu harus sudah selesai sebelum kau melahirkan!" ujar Dean. Dikecupnya dahi Widuri, sebelum bangkit berdiri dan melangkah pergi.
"Apa diameter itu tidak terlalu kecil?" tanya Robert.
"Aliran air kita juga kecil. Jika kincirnya terlalu besar, nanti berat dan sulit bergerak," jelas Dean.
"Benar juga ya." Robert mengangguk. Dia memperharikan Dean yang sedang menotong kayu-kayu dengan ukuran yang sama. Hanya Dean yang mengetahui cara membuatnya nanti.
"Dean, semua saluran air sudah dibuat, kecuali sambungan yang si sana!" tunjuk Sunil.
"Itu belakangan saja. Setelah kita selesaikan pemasangan kincir," jawab Dean.
Apa ada yang bisa kami bantu di sini?" tanya Indra menswarkan diri.
"Tidak ada. Kalian bisa beristirahat atau melakukan hal lain. Semoga kincir ini bisa selesai sore nanti," ujar Dean optimis.
"Kau akan langsung memasangnya?" tanya Indra. Dia terkejut Dean bisa bekerja secepat itu.
"Tidak. Batu penggiling ya belum dibuat. Itu sebabnya kincir dan pemutarnya harus selesai hari ini. Karena besok saatnya membuat batu gilingan," sahut Dean.
"Mau ambil batu dari mana?" tanya Indra lahi.
"Gua Kakek Kang penuh dengan batu!" sahut Sunil.
"Tidak. Batu dari bukit itu juga bisa!" jawab Dean.
"Kau sudah memikirkan semuanya!" puji Robert.
__ADS_1
"Ayo, jangan menganggunya. Kurasa lebih baik kita memeriksa kebun sayur dan ladang sebentar!" ajak Sunil.
"Ayolah ...." Ketiga orang itu terbang untuk memeriksa kebun sayur dan ladang.
*
*
Petang hari semua berkumpul. Robert membawa aneka sayuran yang mereka petik. Niken membersihkan dan menyimpannya di lemari es. Sementara Widuri mulai menyiapkan makan malam.
Para pria mandi bersama di kolam yang jernih, sebelum bergabung di rumah panggung.
"Apakah kincirnya sudah jadi?" tanya Sunil.
Dean mengangguk, sebagai jawabannya. "Heemm."
"Menurutmu, tanaman apa yang kita belum punya, di sini?" tanya Robery.
"Tebu! Kita menambahkan madu pada minuman dan kue, karena kekurangan gula!" sahut Indra cepat.
"Di manakah kita bisa mendapatkan bibitnya?" tanya Robert.
"Sebenarnya, itu tak sulit untuk didapatkan, di Indonesia. Terutama di kampung-kampung," jawab Indra.
"Kita juga harus mencari bibit bambu. Itu bahan bangunan serbaguna. Lebih cepat tumbuh ketimbang pepohonan. Kita bisa kehabisan pepohonan kalau terus membangun tanpa menanami lagi!" beber Dean.
Tiga temannya mengangguk. Sekarang saja sudah terlihat tempat itu jauh lebih luas, sebab tak banyak lagi pepohonan di area tengah.
"Lain kali perhi ke jakarta, sebaiknya kita membeli banyak tanaman!" saran Indra.
Juga bibit ikan air tawar. Kita bisa membuat kolam ikan ditanah kosong depan rumahku," tambah Indra lagi.
"Ide yang bagus sekali!" timpal Sunil.
"Hei, apakah kalian akan terus berendam hingga pagi?" panggil Niken.
"Ya, kami datang!" Indra menyahuti dengan cepat. Dia segera keluar dari kolam. Yang lain ikut menyusul.
"Jika kami ke Jakarta lagi, kami akan membeli banyak bibit tanaman. Kalian mau tanaman apa?" tanya Indra.
"Aku mau mawar, melati, gerbera, daisy ....." Niken langsung menyebut aneka nama bunga.
"Lebih baik dicatat, biar tak lupa," saran Robert.
"Sebentar kucatat, setelah menyelesaikan makan," balas Niken.
"Kau juga boleh menulis, tanaman yang kau ingin tanam di sini!" ujar Dean pada Widuri.
"Nanti kucatat. Kapan kalian mau pergi ke sana?" tanya Widuri.
"Jika Dean tak butuh bantuan lain, besok juga bisa ke sana!" sahut Sunil.
'Baiklah ... selesai ini, kubuat catatannya!" Widuri mengangguk.
*******
__ADS_1