
Malam pertama di kapal berlalu dengan damai. Hari berganti pagi. Keramaian dimulai di depan toilet.
Seorang pria mabuk tak bersedia antri. Dia menerobos barisan serta menggedor-gedor pintu toilet. Keributanpun tak terelakkan.
Dean dan Robert mengawasi dari depan pintu kabin tanpa bicara sepatahpun.
Tadi malam usai Dean dari kabin Kapen, Dean mengatakan pemikirannya. Lalu Alan juga menceritakan apa yang dikatakan Brian.
Kesimpulan sementara yang dibuat, orang yang harus sangat diwaspai adalah penumpang kabin yang di tengah ini. Sebab, dari penjelasan Brian, jelas Jason adalah pebisnis.
Sekarang, orang-orang dari kabin sebelah, berbuat onar dan bersikap arogan. Dan sepengetahuan Dean kemarin, mereka jorok saat menggunakan toilet.
Namun, semakin siang, insiden itu akhirnya berakhir. Menyisakan kekacauan tak terkatakan di dalam toilet.
"Dasar orang-orang barbar!"
Seorang kru mengumpat kasar mendapati toilet yang sangat tidak manusiawi. Tapi dia harus tetap membersihkannya. meski bersungut-sungut.
Dean membantunya mengambil air laut dengan ember, lalu menyiram seluruh toilet. Lalu dibiarkannya kru itu menyelesaikan sisanya.
"Terima kasih bantuannya. Setelah disiram, membersihkannya jadi lebih mudah dan cepat." ujar kru itu pada Dean.
Dean meletakkan 2 ember air dekat pintu toilet. Menyiram hingga bersih seluruh area toilet, bahkan bagian dindingnya juga tak luput dari guyuran air.
Kru itu bisa melihat seluruh pemandangan buruk itu telah hilang. Bersih kembali seperti seharusnya.
Dean kembali dengan 2 ember air lagi. Lalu ditempatkan di dalam toilet sebagai persediaan.
"Beres."
Dean tersenyum membalas pandangan terima kasih kru muda itu.
Selain ke toilet, para wanita tim Dean memang memilih untuk tak kemana-mana.
*
*
Seminggu yang membosankan berlalu.
Siang itu hujan turun. Kapal itu terombang-ambing di laut. Seluruh kru bekerja keras mengendalikan layar dan kapal agar tak berpindah dari jalurnya.
Para penumpang lain memilih untuk tidak berbasah-basah dan berdiam di kabin.
Dean mencoba melintasi dek menuju anjungan, dimana Kapten Smith memberi komando. Tapi berjalan di lantai oleng yang licin dan basah dibawah terpaan angin kencang, bukanlah perkara mudah.
Jadi Dean membuat tubuhnya sedikit melayang tepat di atas permukaan lantai. Lalu pura-pura berjalan terhuyung menuju anjungan kapal.
"Kapten!"
Dean berteriak memanggil, mengatasi ributnya desauan angin disertai air hujan.
"Kapten!"
Dean akhirnya berada lebih dekat dengan Kapten Smith. Pria itu dan 2 kru lain menoleh.
"Hati-hati! Kau harus berpegangan agar tak jatuh terbanting!" Teriak Kapten mengingatkan.
Dean menoleh kiri kanan. Dan menemukan tiang layar, lalu memeganginya dengan kuat.
"Ada apa kau keluar saat seperti ini!" teriak Kapten lagi.
"Apakah hujan ini berbahaya untuk kapal!?" teriak Dean bertanya.
"Biar kami yang memikirkannya!" jawab Kapten.
"Kami mungkin bisa membantu, jika kapal menemui masalah!" teriak Dean lagi.
"Kau akan sangat membantu jika kembali ke dalam kabin!" teriak Kapten pedas.
Lalu Kapten kembali memberi aba-aba pada kru. Dean telah diabaikan sepenuhnya.
Dean termangu. Mungkin dia saja yang terlalu cemas. Kapal ini pasti telah berulang kali kehujanan seperti ini. Dean akhirnya berbalik dan berjalan kembali menuju kabin. Sebelum Dean membuka pintu, terdengar bunyi gelegar petir di langit. Dean berbalik dan menatap langit yang makin gelap.
__ADS_1
'Ini tak benar' pikirnya.
Lalu kru yang berdiri di tiang pengawas berteriak.
"Kita memasuki pusat badai, Kapten!"
"Sunil, Alan, keluar!" panggil Dean dengan transmisi suara.
Kemudian Sunil dan Alan ikut melihat keadaan itu dari depan pintu kabin.
"Awasi keadaan dan bersiap untuk membantu. Beritau yang lain untuk berjaga-jaga!" ujar Dean mengarahkan kedua temannya.
Dean lalu melesat menuju tempat kapten. Dia berdiri tepat disampingnya.
"Apakah selalu ada badai di sini?" tanya Dean mendesak.
"Apa?!"
Kapten Smith kaget melihat seseorang tiba-tiba berada di dekatnya.
"Apa yang kau...."
Ucapan Kapten terhenti saat melihat tubuh Dean melayang. Dia sama sekali tak menjejak lantai kayu. Mata Kapten melotot tak percaya melihat kaki Dean.
'Berarti cerita warga lokal bahwa putri Ketua Kota bisa terbang, bukanlah bualan. Pamannya juga bisa melayang!' batin Kapten Smith sambil termangu.
"Kapten! Apa ini saat yang tepat untuk melamun?!"
Dean menyadarkan kebingungan yang menghinggapi Kapten Smith.
"Ahh. Ya... apa katamu tadi?" tanyanya masih bingung.
"Apa kalian selalu menghadapi badai di daerah sini?"
Dean mengulangi pertanyaannya.
"Tidak! Jika hujan, ya hujan saja. Paling hanya perubahan hembusan angin saja," jawab Kapten Smith.
Teriak seorang kru.
Dean dan Kapten Smith memandang ke arah depan. Itu pusat topan badai. Angin bergulung-gulung menunggu di sana. Di sekelilingnya ada petir menyambar menggelegar. Mengeluarkan kilatan-kilatan mematikan.
"Hentikan kapal ini!" perintah Dean.
"Hei, nak. Masih aku kaptennya di sini!"
Kapten Smith merasa muak dengan gangguan Dean saat dia bekerja.
"Kau tak kan bisa melewati pusaran angin itu!"
Teriak Dean bersikeras. Tapi kapten mengacuhkannya. Dia segera memberi aba-aba untuk bersiap menghadapi badai. Senua kru saling pandang tak yakin.
"Lakukan sekarang!" teriak Kapten Smith murka.
Para kru mengambil posisinya masing-masing dan bersiap menerima perintah selanjutnya.
"Maaf Kapten, anda dibebas tugaskan!"
Dean meringkus sang kapten dan membuatnya melayang di udara.
"Hentikan kapal ini. Atau belokkan arahnya. Hindari mata badai!" Dean mengambil alih komando.
"Bodoh! Kita akan terlambat sampai kalau berbelok!" teriak kapten dari ketinggian.
"Lebih baik terlambat dari pada mati konyol!" Teriak Dean emosi.
"Kalian jangan dengarkan dia. Aku kapten di sini!"
Kapten masih mencoba menpengaruhi kru.
"Maaf kapten! Tapi dia yang berdiri di tempat komando!" teriak kru yang memegang kemudi.
"Dasar pengkhianat! Aku akan menghukum kalian nanti!" teriak Kapten Smith marah.
__ADS_1
Dean tak peduli.
"Arah mana yang aman tanpa batu karang?" tanya Dean pada kru yang memegang kemudi.
"Arah kanan, Kapten!" teriaknya.
"Kalau begitu arahkan kapal ke kanan!" teriak Dean.
"Arahkan kapal ke kanan!" teriak kru lainnya.
Beberapa kru berlompatan dari tempatnya dan posisi-posisi layar bergeser. Kemudi juga diputar ke kanan. Meski sulit dan penuh perjuangan, kapal akhirnya bisa berganti arah dan menjauh dari pusat badai.
Dean mendekati pemegang kemudi.
"Jika kita berbelok dan mengarah ke tujuan melalui rute ini, apakah masih akan terkena imbas badai?" tanya Dean.
"Masih kapten! Kemungkinan pengaruh gerakan anginnya sampai 1 mil! jawab pria itu.
"Jika kita menjauh sedikit lagi, apakah berada dalam jarak aman dari angin?" tanya Dean lagi. Bagaimanapun, dia tidak berpengalaman di laut.
"Aman dari angin kapten! Tapi jalur itu tidak bersih dari karang!" jawab kru itu lagi.
"Hah?! Lalu kenapa kau tidak berbelok saja jika tau jalur di sana berbahaya?" Dean bertanya dengan sewot.
"Anda tidak memberi perintah, kapten!" jawabnya.
"Hahahaaa...."
Tawa membahana Kapten Smith terdengar.
"Kau kira mudah jadi kapten huh?!" ejeknya dengan nada kemenangan.
Dean menurunkan Kapten Smith ke tempatnya.
"Sekarang giliranmu mengatur kapal!" ujar Dean dingin.
"Hei, nak! Jangan mentang-mentang kau saudara ipar Ketua kota Pelabuhan, lalu bisa bersikap seenaknya!" Kapten Smith masih merasa marah.
"Bersyukurlah aku masih waras, jadi lebih memilih menyelamatkan kapalmu ketimbang pamer keahlian. Sekarang silakan kau ambil kembali posisimu!" balas Dean pedas.
"Kau! Aku belum selesai!" teriak Kapten murka, melihat Dean pergi begitu saja.
"Kita menghadapi karang kapten!"
Kru di menara meneriakkan peringatan.
"Kenapa tidak berbelok, bodoh!"
Kapten memukul kepala pengemudi.
"Anda belum menurunkan perintah, kapten!" teriaknya sambil meringis.
"Putar arah ke kiri!"
Suara Kapten Smith menggelegar.
"Putar arah ke kiri!" sambung yang lain.
Para kru berlompatan dan pindah tempat. Lalu arah layar berubah. Kemudi mengarahkan kapal ke kiri, menghindari batu karang di depan sana.
"Huft! Hampir saja!" ujar pengemudi.
"Hampir kepalamu!"
"Belok sedikit lagi. Masih ada karang di sebelah sana!"
Setelah itu terdengar teriakan-teriakan dan umpatan kapten yang masih kesal.
Tapi, meski sulit dan harus bersusah payah menghindari karang, kapal itu akhirnya berhasil melewati badai di belakang mereka, dan kembali ke jalur aman pelayaran.
Semua merasa bahagia karenanya. Bagaimanapun, mereka mengakui kepiawaian Kapten Smith dalam melewati lokasi-lokasi sulit. Kerja keras mereka terbayarkan saat melihat sinar matahari muncul di balik awan. Area berbahaya telah dilewati.
******
__ADS_1