PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 262. Pemakaman


__ADS_3

"Bawa jasadnya ke ruang tengah," perintah dokter Chandra.


Dean mengangkat jasad yang tinggal kerangka dibalut kulit yang mengering dan keriput. Dibawanya melayang dengan hati-hati, ke ruang tengah.


Aslan terkejut melihat jasad yang melayang di udara dan memudian dibaringkan di samping ibunya.


"Ibu...." Wanita tua itu berbisik lirih. Disentuhnya tulang lengan yang ada di dekatnya. "Aku sangat merindukanmu. Kita akan berjumpa lagi."


"Ibu jangan berkata begitu," sela Aslan.


Tapi wanita itu mengacuhkannya. Dia terus menoleh ke samping, seperti mendapat sedikit kekuatan baru. "Bu, ini putraku, cucumu. Berkatilah dia," bisiknya lirih.


Dokter Chandra mengambil lambang bintang di dada jasad itu.


"A, apa kau membawa panel informasi?" tanya Penguasa.


"Ya." Dean mengeluarkan panel batu yang dibawanya dari gunung batu.


Lambang bintang itu ditenpelkan pada panel. Lalu tangan Dean juga diletakkan di sana. Seberkas cahaya keemasan masuk ke panel dan mengaktifkannya. Sebuah cahaya biru berisi data-data melayang di tengah rumah. Aslan dan ibunya kebingungan melihat itu.


Dokter Chandra, Robert dan Dean, membaca informasi yang ada di situ. Semuanya lengkap hingga saat kematian adik Penguasa tiba. Dokter Chandra mengangguk. Semua data itu kembali menghilang.


Sekarang mereka tau kebenaran peristiwa di gua dunia kecil. Ada pihak lain yang mendorong penjaga pintu teleportasi untuk berbuat jahat, dan tewas di tangan orang itu. Seorang manusia bersayap hitam, yang dilemparkan adiknya ke dalam teleportasi tanpa ada jalan kembali.


Dan tentang perjalanan serta hidupnya yang terdampar di pulau ini setelah pertarungan itu. Dimana dia sendiri juga tak bisa kembali ke dunia kecil yang dijaganya. Kehidupannya yang sulit luar biasa, saat kepulauan ini masih diisi beberapa suku yang saling berebut wilayah kekuasaan. Hingga hari kematian yang sudah dipersiapkannya.


Dokter Chandra mengusap air matanya. Kini muncul kasih sayangnya pada ibu Aslan. Dari informasi yang ada, dokter Chandra tau, wanita itu telah mengurus adiknya dengan sangat baik dan penuh kasih sayang.


"Karena kau cucu adikku, maka sekarang Kau juga cucuku. Kau, bisa ikut dengan kami, jika mau," tawar dokter Chandra pada Aslan.


"Aku harus menjaga ibuku," tolaknya.


"Pergi, beri salam pada kakekmu!" dorong ibunya.


Aslan menuruti dan memberi salam hormat pada dokter Chandra.


Tangan dokter Chandra menyentuh kepalanya. Sebuah cahaya putih berkilauan melingkupi tangannya dan menelusup masuk ke dalam kepala Aslan.


Tak lama, cahaya itu hilang. Aslan masih terbengong. Dia mendapatkan banyak sekali informasi di kepalanya. Sesuatu yang benar-benar baru baginya.


"Ibu, aku seperti melihat hal-hal ajaib dalan pikiranku. Tentang manusia-manusia yang bisa terbang ke sana kemari di angkasa biru," ceritanya spontan.


Ibunya melihat dengan tersenyum. Ada rasa bangga di hatinya. "Kau harus bisa menjaga rahasia kakekmu," pesan ibunya.

__ADS_1


"Ya, Bu. Aku berjanji!" ujarnya masih dengan wajah sumringah penuh ketakjuban.


"Ibu bisa tenang sekarang. Su-dah ada yang akan men-jaga-mu," ujarnya lirih dan terbata-bata.


"Ibu!" seru Aslan terkejut. Dia menopang tubuh ibunya lagi.


"I-bu...." Wanita itu menghembuskan nafas terakhirnya.


"Ibu! Ibu!" panggilnya berkali-kali.


Dokter Chandra menghampiri keduanya. Disentuhnya jasad adiknya hingga lenyap ke dalam penyimpanan. Kemudian memeriksa nadi ibunya Aslan.


Setelah memastikan, dokter Chandra menggeleng. "Ibumu sudah pergi," ujarnya sedih.


"Ibu...."


Aslam memeluk tubuh kurus ibunya dan menangis.


"Bagaimana, Penguasa?" tanya Robert lewat transmisi suara.


"Dia berjasa pada adikku. Aku ingin menguburkan adikku berdampingan dengan putrinya di dunia kecil...."


"Tapi, bagaimana kita menjelaskan pada orang-orang di sini, jika dia tak dimakamkan di sini?" tanya Dean.


"Kita makankan pura-pura saja," usul Robert.


"Idemu boleh juga. Tapi baiknya kita tanyakan dulu pendapat Aslan." Dokter Chandra mempertimbangkan perasaan Aslan.


Sekarang ketiganya memandangi Aslan yang sudah sesenggukan.


"Aslan, kematian ibumu harus segera diumumkan. Kita harus memakamkannya hari ini. Tapi kami punya rencana bagus. Entah kau setuju atau tidak," Dean membuka percakapan setelah Aslan berhenti menangis.


"Apa rencana kalian?" tanyanya dengan mata mulai membengkak.


"Aku ingin menguburkan ibumu berdampingan dengan adikku di tempat yang lebih baik," kata dokter Chandra.


"Tidak mungkin. Ibu adalah pemersatu kelompok ini. Jika jasadnya dibawa pergi, mereka akan sangat kehilangan," tolak Aslan.


"Kami sudah memikirkannya. Kita pura-pura memakankan ibumu di sini, namun ternyata kita simpan dan makamkan bersama dengan jasad ibunya di tempat lain," jelas Dean.


"Apa itu mungkin?" tanya Aslan heran.


"Kami akan mengaturnya, jika kau setuju." Robert meyakinkannya.

__ADS_1


"Baiklah. Aku yakin, ibu juga ingin dimakankan berdampingan dengan nenek." Aslan setuju.


"Baik, mari kita bergerak cepat!"


Robert menjelaskan rencana-rencana di kepalanya. Dean, dokter Chandra dan Aslan setuju.


Peti mati batu marmer dikembalikan sesuai posisi semula. Jasad ibu Aslan juga dibaringkan lagi di tempat tidurnya di atas peti mati.


Aslan mulai pergi mengunjungi salah seorang tetangganya, mengabarkan hal itu. Tak butuh waktu lama, kelompok kecil di pulau itu datang memenuhi halaman rumah Aslan. Mereka bisa lihat jasad putri guru mereka dari jendela, dan dari dalam rumah.


Kemudian Aslan mengatakan pesan terakhir ibunya, untuk dimakamkan bersama dengan peti mati yang dulu disiapkan ibunya. Tempat itu sedikit gempar. Tapi kemudian tenang kembali setelah melihat bahwa wanita itu setiap hari memang tidur di atas peti mati dari batu.


Akhirnya, pesan terakhir itu disetujui untuk dijalankan. Mereka mencari tempat tertinggi di pulau kecil untuk jadi pemakaman. Dean mengikuti. Dia telah mengukur besarnya peti mati, untuk membuatkan lubang yang pas.


Saat Dean memotong bongkahannya batu dengan jarinya, orang-orang disitu berseru takjub. Tapi mereka tetap sigap membantu mengeluarkan semua tansh dan batu, agar ada cukup ruang untuk memasukkan peti mati.


Beberapa orang lain mengangkut pasir-pasir pantai yang akan dipakai untuk menimbun makam.


Siang hari yang terik, semua sudah siap. Peti mati dikeluarkan. Melihat jasad ibunya ditaruh di dasar peti, Aslan meneteskan air mata lagi. Dokter Chandra menghiburnya.


Dean dan Robert mengangkat peti batu itu ke atas bukit. Orang-orang mengikuti naik ke bukit sebagai penghormatan terakhir.


Kemudian lempengan batu peti disusun satu persatu mengelilingi dinding batu. Kemudian jasad itu dimasukkan. Robert mengatur posisinya dengan baik. Dean meletakkan penyangga marmer di satu bagian dinding.


"Aslan, kita akan menutupnya," teriak Dean.


"Ya, tutuplah," ujarnya sambil mengangguk.


Dean kemudian mengangkat lempengan batu marmer lain dan dipasang menyerong. Robert dan Dean mengatur posisi batu, meninggi di atas jasad itu.


"Apa kau bisa meraihnya, Dean?" tanya Robert lewat transmisi suara.


"Sebentar. Dean sedikit serius dengan batu marmet yang dipasang menyerong itu. Tapi dis sebenarnya sedang menjangkau tubuh ibunya Aslan.


"Oke, aku sudah menyimpannya," ujar Dean. Mereka segera menyelesaikan pemasangan lempeng batu itu dengan rapi.


"Sudah. Pasir itu sudah bisa dimasukkan." Robert memberi aba-aba sambil keluar dari lubang.


Orang-orang meneruskan pemakaman hingga selesai dan lubang tertimbun semua. Sebagai akhir, Dean kembali meletakkan batu marmer sebagai penutup makam.


Pemakaman hari itu selesai. Ada rasa sedih kehilangan, tapi harapan baru juga muncul. Kehadiran kakek Aslan, membuat mereka optimis dapat hidup lebih baik lagi nanti. Mereka akhirnya kembali ke rumah masing-masing.


Aslan lama berdiri di tepi makam, merenungi siklus hidup. Dari ada, menuju tiada. Bahkan untuk manusia super seperti neneknya pun, kematian tetap tak terelakkan.

__ADS_1


"Ayo kita kembali," ajak Dean. Aslan mengangguk. Dean membawanya terbang, untuk kembali ke rumahnya.


************


__ADS_2