
"Putrimu mengatakan bahwa pemilik lencana itu adalah ibunya. Apakah kau suami Bi?" tanya Dean tanpa basa-basi.
"Ya. Bi adalah istriku. Aku akan menceritakan tentang pertemuan kami jika kalian ingin tau." Pria itu bicara dengan susah payah.
"Tidak perlu. Tentang Bi kami bisa memastikannya sendiri."
Dean mengeluarkan panel batu yang disimpannya dalam ruang penyimpanan. Panel itu ada di depan mereka sekarang. Sunil melihat dengan wajah tak percaya.
"Kau membawa panel itu?" tanyanya heran.
"Sekarang ternyata bisa berguna bukan?" jawab Dean enteng. Sunil mengangguk.
Dean mengambil lambang bintang milik Bi dari atas meja. Diletakkannya lambang itu di atas panel.
Sebelum Dean mulai membuka data yang tersimpan di dalamnya, wanita muda itu masuk sambil membawa nampan minuman, lalu diletakkan di meja. Diperhatikannya apa yang tengah dilakukan Dean.
Dean mulai mengeluarkan semua data yang tersimpan di dalam lambang dengan meletakkan tangannya pada panel batu. Segera cahaya kebiruan mengambang di udara. Huruf-huruf bertebaran di dalam cahaya itu. Wanita itu ikut melihat semua informasi yang tersaji. Matanya membulat membesar, terutama saat dia melihat gambaran seorang pria tak dikenalnya dalam bagian awal informasi itu. Sunil dan Dean terus membaca semua data hingga selesai dan cahaya biru itu menghilang. Dean kemudian menyimpan lagi panel batu miliknya.
Wanita muda itu masih terpaku di tempatnya berdiri. Dia tampak sedang mencerna informasi yang dilihatnya. Sementara ayahnya duduk dengan tenang di kursi besar di depan sana.
"Apa kau bisa membaca tulisan tadi?" tanya Sunil pada wanita di sampingnya.
"Ya. Ibu mengajariku bahasa dan tulisan dari dunianya. Dan ayah juga mengajariku bahasa dunia ini." jawabnya jujur.
"Apa anda juga mempelajari bahasa dunia kami?" tanya Sunil pada tuan kota.
"Ya. Bi mengajarkannya padaku." jawabnya singkat.
"Jadi kau juga tau bahwa data yang ada terputus setelah putrimu menginjak usia 15 tahun. Lalu apa yang terjadi pada Bi?" Dean terlihat tak sabar.
"Ya, saat itu kami mendengar gemuruh suara dari dalam hutan. Meski sebelumnya kami sudah mendengar juga sesekali, tapi karena penghuni pulau ini hanya kami bertiga, maka kami bisa mengabaikannya dan tak peduli. Kami tak akan mengganggu dan berburu di hutan itu. Masih banyak area lain yang aman."
"Tapi makin lama pulau ini makin berkembang. Sebagai penghuni pertama, aku diangkat jadi pemimpin kota. Pendatang baru mulai membuka area untuk pemukiman. Meski mereka tak melanggar syarat untuk bermukim di hutan larangan, tapi karena makin berkurangnya area hutan lain, maka mereka mulai masuk untuk berburu. Setiap tahun selalu saja ada pemburu yang hilang di hutan larangan."
"Sebagai pemimpin kota, aku dan Bi hanya bisa membuat batasan hutan yang bisa mereka jelajahi. Jika melewati batas itu, maka resiko hilang bukan lagi tanggung jawab pemimpin kota."
"Tapi kemudian sekelompok orang datang ke pulau dengan kapal besar. Bersikap angkuh dan ingin menguasai kota ini. Larangan dilanggar. Dia membawa orang-orangnya untuk membuktikan bahwa tak ada yang perlu ditakuti di hutan larangan. Aku yang sudah tak bisa mencegah, akhirnya membiarkan saja mereka ke sana."
__ADS_1
"Dan seperti yang kami duga. Sore itu suara gemuruh yang dahsyat kembali terdengar. Dan lebih dari biasanya. Pulau ini seperti berguncang keras. Beberapa rumah rubuh dibuatnya. Hal ini tentu membuat kami cemas. Dan Bi, akhirnya memutuskan untuk memeriksa apa yang terjadi di hutan itu."
"Setelah menenangkan penduduk kota, Bi membawaku terbang untuk melihat apa yang terjadi."
"Itu adalah pemandangan pembantaian. Banyak sekali korban yang jatuh dan tampaknya itu belum selesai. Bi mencoba membantu dengan mengirimkan sinarnya, tapi tempat itu seakan memiliki perisai kubah yang dapat memantulkan serangan dari luar. Kami berdua hampir terkena serangan balik."
"Kami kembali ke kota dan mendiskusikan ini dengan beberapa pengurus kota lainnya. Bi bilang, satu-satunya cara menghadapi monster itu adalah masuk ke dalam perisainya dari dalam hutan."
"Kami mencegahnya. Bagaimanapun tidak ada yang bisa keluar setelah masuk ke sana. Semua tewas dibantai monster itu. Aku juga tak ingin mengorbankan istriku untuk menolong orang-orang keras kepala itu. Tapi Bi bersikeras. Sebagai prajurit dia berkewajiban menjaga keamanan warga di dunia yang ditinggalinya. Dia menyerahkan lambang itu untuk Yoshi putri kami. Mentransfer sebagian kemampuannya pada Yoshi.."
"Apa?!"
Teriakan Dean memutuskan penjelasan ketua kota.
"Maksudmu Bi masuk ke sana dengan setengah kemampuannya?" Dean tampak panik.
Ketua kota mengangguk.
"Itu namanya bunuh diri! Dia mengorbankan dirinya untuk kota ini. Bodoh. Kau bodoh Bi!" Dean mengumpat dengan marah.
"Dean, Bi berkorban untuk melindungi keluarganya juga. Kau lihat, anaknya sudah tumbuh besar dengan aman sekarang." Sunil menyadarkan Dean yang emosi.
"Anda bisa lanjutkan cerita anda," kata Sunil pada ketua kota.
"Kau benar. Bi mengorbankan dirinya untuk menghadapi monster itu. Tekadnya bulat untuk menahan monster itu selamanya disana, jika memang tak bisa membunuhnya. Aku dan 3 orang pengurus kota mengantar Bi ke dalam hutan. Kami berhenti setelah melihat perisai cahaya transparan. Bi berpesan agar aku mengukir lambang bintang itu di gerbang kediaman. Dia memintaku untuk membantu saudara-saudara yang datang dari dunianya."
"Aku melihatnya masuk ke dalam perisai cahaya itu. Lalu terjadi pertarungan hebat di dalam. 6 hari aku terus menunggu di luar perisai itu. Meski pertarungan sudah lama berhenti, tapi Bi tak pernah keluar lagi." Ketua kota itu meneteskan air matanya.
"Saat aku berjalan keluar hutan, aku menemukan seorang anak muda yang terkapar dengan tubuh penuh luka. Ku bawa dia kembali ke kota. Saat dia sembuh, dia pergi bersama kapal yang mereka bawa sebelumnya."
"Tapi 15 tahun kemudian anak muda itu kembali. Dia berusaha menguasai ekonomi kota ini. Namun segan bersinggungan denganku karena pernah menyelamatkan nyawanya. Dialah Duke."
"Apa anda tau bahwa dia melatih orang-orang bela diri? Dia punya banyak ahli beladiri yang bisa menjadi pasukan untuk menyerang anda kapan saja." Sunil mengingatkan.
"Ya, kami juga mengetahui hal itu. Yo sesekali terbang mengitari kota untuk memeriksa keadaan penduduk. Jadi kami sudah mengetahui itu. Tapi menurutku, dia menyiapkan pasukan itu untuk masuk ke hutan terlarang. Aku pernah dengar issue bahwa ayahnya termasuk sebagai salah satu korban tewas dalam kejadian 15 tahun sebelumnya."
Ketua kota menyelesaikan ceritanya. Disesapnya minuman yang sudah dingin itu dari cangkir.
__ADS_1
"Tampaknya kau mengenal ibuku dengan baik." Yoshi memandang Dean penuh selidik.
Dean mengangguk. Dikeluarkannya sebuah alat dari penyimpanannya. Dean menggenggamnya, matanya bercahaya keemasan. Lalu telapak tangannya terbuka. Terlihat cahaya keemasan bergerak di atas alat itu. Semua orang memandang dengan penuh perhatian saat cahaya itu membentuk siluet tubuh seorang wanita.
"Ini Bi yang ku kenal."
Dean menatap gambaran itu dengan perasaan campur aduk.
"Ya, itu ibu yang ku ingat. Ibu..." Yoshi memeluk ayahnya. Bahunya berguncang pelan. Dia menangis sesenggukan.
Dean menutup lagi tangannya. Gambaran itu kembali hilang.
"Ini untukmu saja. Kau bisa melihatnya jika kau merindukannya." Dean menyerahkan alat itu ke tangan Yoshi.
"Aku dan Bi serta beberapa anak lain, tumbuh besar bersama. Kami seperti saudara. Kakak dan adik. Tak ku sangka bisa bertemu suami dan putrinya di kota ini." Dean memberi penjelasan.
"Berarti kau adalah pamanku?" Yoshi berkata ragu.
"Kau boleh memanggilku begitu jika mau." Dean tersenyum.
"Kalau begitu, siapkan makanan untuk pamanmu dan temannya. Kita sudah melewatkan jam makan siang," tegur ketua kota pada putrinya.
"Baik, akan segera ku siapkan."
Gadis itu bangkit berdiri dan hendak beranjak keluar. Tapi dicegah oleh Dean.
"Tidak, terima kasih. Mungkin di lain waktu saja. Ada teman yang sedang menunggu kami kembali," ujar Dean.
"Kalian bisa kembali ke hutan itu setelah makan," ketua kota masih berusaha menahan.
"Tidak, teman-teman kami sedang berdagang di pasar. Kami harus kembali ke pasar." Jawab Sunil.
"Baiklah. Yo, kau temani mereka ke pasar untuk mencari teman-temannya," perintah ketua kota.
"Baik ayah."
"Kalian bisa ke sini kapan saja. Pintu kediaman ini terbuka untuk kau dan teman-temanmu." Ketua kota itu tersenyum hangat.
__ADS_1
*****