PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 418. Leluhur Bangsa Cahaya


__ADS_3

"Mungkin perlu ditanyakan pada Kakek, yang pengalaman hidupnya jauh lebih banyak?" saran Kang


"Aku jemput kakek dulu!" Kang langsung bergegas keluar ruangan.


"Sekarang bagaimana?" tanya Tabib Tua. Dia meneriksa nadi Widuri. Memeriksa perutnya juga.


"Menurut penglihatanku, besar kandungan seperti ini sekitar delapan bulanan. Kita harus menunggu sedikit lagi hingga cukup bulan, baru bisa membedahnya," jelas Dokter Chandra.


"Bagaimana pendapat Tabib?" tanya Dean.


"Pendapat Dokter Chandra benar. Kita memang harus menunggu sedikit lagi," Tabib itu setuju dengan pendapat Dokter Chandra.


"Yabie, kau bisa berhenti sekarang. Tampaknya ancaman paman dan kakakmu, berhasil mengendalikannya," ujar Dokter Chandra.


"Tapi---"


"Jangan khawatir!" potong Dokter Chandra. "Aku akan memasangkan infus padanya."


Dokter Chandra mengeluarkan tiang infus, botol dan jarum. Dengan cekatan dia memasang jarum dan menyambungkannya dengan selang infus.


Yabie terkejut melihat air dari botol menetes ke selang dan berakhir di punggung tangan Widuri.


"Apa fungsinya itu?" tanya tabib.


"Untuk mengisi cairan tubuhnya, agar tidak dehidrasi. Lalu tambahkan obat pereda nyeri. Dokter Chandra menyuntikkan obat melalui lubang pada yang tersedia.


"Apakah hal seperti ini biasa di tempat kalian?" tanya tabib lagi.


"Ya, ini umum diberikan pada pasien di dunia kami." Dokter Chandra menjelaskan berbagai hal yang sedari tadi ingin ditanyakan tabib tua itu.


"Ilmu kesehatan kalian sudah sangat maju!" pujinya.


"Tapi, ketika aku bertualang, ilmu itu jadi tidak terlalu bisa diabdalkan. Terutama karena dokter di dunia kami bergantung sepenuhnya pada alat dan obat-obatan moderen. Di sini, aku membutuhkan anda untuk bisa meracik obatnya!" jelas Dokter Chandra.


"Widuri sudah lebih tenang. Sebaiknya kalian pulang saja. Kasihan bayimu. Besok kau bisa ke sini lagi dan melihatnya!" bujuk Marianne pada Yoshi.


"Pulanglah. Aku akan tinggal di sini!" Yabie menenangkan kekhawatiran kakaknya.


Yoshi menoleh pada Dean. Dia mendapat anggukan juga dari pamannya.

__ADS_1


"Baiklah. Jika terjadi sesuatu langsung katakan padaku!" pesannya.


"Ya. Kau beristirahatlah!" ujar Dean.


Yoshi berjalan ke pintu. Dia berpapasan dengan adik iparnya. Apa kau ingin kubawa pulang?" tawar Yoshi.


"Tidak. Aku ingin membantu ayah di sini." tolaknya.


"Baiklah." Yoshi terbang bersama suaminya, meninggalkan pusat pengobatan itu.


Malam terasa panjang. Tapi Yabie, tabib dan Dokter Chandra bisa beristirahat bergantian. Hanya Desn yang duduk di sebelah Widuri sambil menelumgkup. Tangan keduanya terus bertaut.


Kang datang bersama kakeknya. Dia juga pasti lelah dan belum istirahat. Harus melewati pintu teleportasi pergi dan pulang dalam semalam. Artinya, dia terbang di sepanjang jalur teleportasi, agar cepat sampai.


"Biar kulihat dulu!" kata Kakek Kang, saat disapa Dokter Chandra.


Kakek Kang menatap perut Widuri yang membuncit. Matanya membesar seakan tak percaya. "Luar biasa!" gumamnya. Dia tak ingin membangunkan Dean yang tertidur di sebelah Widuri.


"Apanya yang luar biasa?" tanya Dokter Chandra penasaran.


"Sebaiknya kita bicara di luar," ajaknya. Kang juga ditariknya keluar.


Kang mengangguk dan terbang menembus gelapnya malam. Udara di luar terasa lebih dingin dari pada di dalam ruangan.


"Ceritakan padaku!" Desak Dokter Chandra.


Kakek Kang manggut-manggut. "Entah apakah ini ada hubungannya atau tidak, tetapi aku pernah membaca di pusat pengetahuan negaraku. Ada satu kisah kaisar yang turun dari langit."


"Di negaraku, dikisahkan bahwa dia berasal dari dunia para makhluk abadi, yang lebih tinggi dari kita. Dia diusir dari dunia atas karena berbuat kesalahan. Dalam pengembaraannya, sikap sembrononya makin menjadi-jadi. Sehingga dia ditolak masuk ke setiap wilayah berpenghuni."


"Kemudian dikatakan lagi, akhirnya dia memilih satu bintang yang jauh dari manapun. Sendiri dan kesepian. Dalam tahun-tahun dia menghilang, ada banyak wanita yang juga ikut hilang dari keluarganya. Orang-orang menuduh dia sebagai penculiknya. Tapi tak ada yang bisa membuktikan. Dia tak pernah terlihat lagi memasuki kota-kota, sejak ditolak."


"Lima belas tahun berlalu. santer terdengar adanya satu klan kecil yang baru berdiri. Berada di gugusan bintang paling sepi dan sunyi. Tempat yang sangat cantik. Rumor mengatakan bahwa penduduk kota itu adalah satu keluarga. Dan tubuh mereka semua mengeluarkan aneka cahaya. Itu membuat tempat tinggal mereka jadi terang benderang."


"Dan di akhir kisah disebutkan bahwa itulah cikal bakal Bangsa Cahaya. Cahaya kehidupan diberikan oleh manusia abadi itu kepada para keturunannya. Dan mereka membangun kota itu menjadi sebuah negara besar!" timpal Dokter Chandra.


"Hehehe ... kau membaca buku itu juga." Kakek Kang terkekeh.


"Tidak. aku tidak membacanya..Tapi mendapatkan cerita itu dari nenekku saat aku lima belas tahun," jawab Dokter Chandra.

__ADS_1


"Namun, tak satupun dari kita yang pernah melihat langsung penggagas berdirinya Bangsa Cahaya. Jadi kita tak bisa mengatakan jika itu adalah dia!" timpal Kakek Kang.


"Nenek bilang, orang itu mendadak hilang, saat ada penyerangan ke tanah kami. Lalu anak tertua dari istri pertamanya, naik menggantikannya memimpin keluarga mereka. Tak ada yang mengetahui di mana hilangnya. Kemungkinan dia tewas, demi menyelamatkan anak keturunannya." Dokter Chandra menambahkan.


"Tapi itu jadi kontradiktif jika kita mengurut sejarah asal usulnya yang berasal dari makhluk abadi di dunia tinggi. Seharusnya dia takkan mati, meskipun kalah dalam pertarungan!" debat Kakek Kang.


"Kau benar. Berarti musuhnya mengetahui bahwa fisiknya mungkin hancur. Namun tidak dengan jiwanya. Seperti juga kami, para penerusnya. Jiwa kami bisa dibangkitkan meski fisik kami habis dimakan usia!" Dokter Chandra sekarang memahami cerita yang dikatakan neneknya.


Kakek Kang manggut-manggut. "Itulah sebabnya dia dikurung di dunia kecil, agar tak bisa keluar lagi."


"Siapa sangka, anak cucunya sendiri yang membebaskannya!" timpal Dokter Chandra.


"Jadi, ketimbang kau mencoba mendesakkan kekuatan cahayamu padanya, bukankah lebih baik kau coba bicara dengan telepati seperti yang biasa kalian lakukan?" saran Kakek Kang.


"Transmisi Suara!" Dokter Chandra membenarkan. Kakek Kang mengangguk.


"Biar kucoba."


Dokter Chandra masuk ke ruangan. Widuri seperti tertidur lelap. Di sebelahnya, Dean terus menggenggam jemarinya. Dokter Chandra duduk di bangku, di sebelah tempat tidur. Tangannya diulurkan ke atas perut Widuri. Seberkas cahaya putih lembut, menelusup masuk ke dalam.


"Kakek buyut, leluhur, ini aku cicitmu, dari Bangsa Cahaya yang berasal dari bintang terjauh. Apakah kau dapat mengenali cahaya jiwa anak keturunanmu?" tanya Dokter Chandra.


"Bayi ini juga anak keturunanmu dengan manusia yang telah membantu kita. Dikarenakan sebuah bencana besar, seluruh bangsa yang berada di bintang, hancur berantakan. Hanya sedikit yang tersisa dari mereka yang benar-benar murni Bangsa Cahaya," ujar Dokter Chandra dengan sedih.


"Tolong, jangan ganggu bayi ini. Ayahnya adalah satu-satunya bakat engineer terakhir bangsa kita. Berkahilah dia dan anak keturunannya, agar nanti bisa memajukan kembali Bangsa Cahaya," harap Dokter Chandra.


Tak disangka, selarik cahaya biru keemasan yang halus, memasuki kepala Dokter Chandra. Kakek Kang bisa melihat wajah Dokter Cjandra yang tersenyum haru. Matanya yang berkilau cemerlang, kini terlihat seperti kaca bening.


Kemudian cahaya itu mendekati Dean, tapi tidak memasukinya. Kemudian terbang ke arah Yabie yang tertidur di kursi lain. Kemudian dia terbang di depan Dokter Chandra dan menari-nari sebentar, sebelum kembali masuk ke perut Widuri.


Dokter Chandra menarik tangannya. Senyum lega terpancar di wajahnya. Dia menoleh pada Kakek Kang. "Terima kasih untuk pengetahuanmu. Dia memang kakek buyut kami."


"Syukurlah. Segalanya akan aman kalau begini." Kakek Kang menarik nafas lega.


"Ya, semua baik-baik saja. Putra Dean yang sangat beruntung," lirih Dokter Chandra.


Mereka bisa istirahat dengan tenang sekarang. Widuri sudah aman. Mungkin kelahirannya akan lebih cepat dari awal. Tapi dia aman.


**********

__ADS_1


__ADS_2