
"Ayo kita kembali. Kau harus bertemu dengan cucumu," ujar Dokter Chandra. Ivy mengangguk. Keduanya terbang ke rumah panggung.
Di sana telah berkumpul semua orang. Di meja makan juga sudah disiapkan hidangan.
"Aslan, kemari! Perkenalkan dirimu!" panggil Dokter Chandra. Aslan mendekat dan wajahnya penuh senyuman.
"Aku cucumu, Nek," sapa Aslan pada Marianne. "Namaku Aslan."
"Anak yang baik. Seperti ibumu, kau juga merawatnya hingga hari terakhirnya. Kau memang pantas jadi cucuku," sambut Ivy.
Kemudian, yang lain juga diperkenalkan sebelum makan malam dimulai. Malam itu dipenuhi cerita seru dan menegangkan yang diceritakan kembali oleh Ivy.
"Lalu bagaimana dengan anak-anak itu? Apakah pengawal anda pernah membawa mereka ke sini? Tapi, selama kami tinggal di sini, tak ada orang lain yang datang ke sini," beber Dean.
"Itu yang merisaukanku juga. Aku ingin pergi mencari mereka untuk sementara waktu," cetus Ivy.
"Tunggu! Jangan buru-buru membuat keputusan. Satu hal yang ingin kuingatkan adalah, Anda menggunakan tubuh Marianne. Dia wanita paruh baya yang hanya tahu menjahit dan memasak. Jangan memaksa tubuh itu bertarung. Dia takkan mampu. Kami menolak rencana sembrono apapun yang bisa merugikan Marianne!" tegas Robert.
"Hei!"
Ivy memukul meja dengan keras dan berdiri dari duduknya. Dia sangat tersinggung dengan ucapan Robert.
Namun,bSunil, Indra, Robert, dan Dean langsung berdiri tegak menghadapi Ivy. Mata keempatnya bersinar terang, menantangnya.
"Kembalikan Marianne! Kau sudah mati puluhan tahun yang lalu!" ujar Dean penuh penekanan.
Aslan ternganga melihat Dean dan teman-temannya berani menghadapi neneknya yang marah. "Jika tak didinginkan, ini akan berakhir buruk," pikirnya.
Dilihatnya tangan Dokter Chandra yang sekarang sedang menyentuh tangan Ivy. "Apa kau bisa tenang dulu?" bujuknya. "Kita hanya bisa selesaikan segala sesuatu jika kepala tetap dingin."
Ivy mendengus kesal, kemudian kembali duduk. Matanya masih melotot dengan garang ke arah Robert dan teman-temannya.
"Kalian juga tenanglah ... mari kita selesaikan bersama-sama." Dokter Chandra melemparkan tatapan lembut ke arah teman-temannya. Membuat mereka langsung menurut, dan kembali duduk.
"Begini Ivy, biar kujelaskan status bangsa cahaya saat ini. Pada dasarnya bangsa kita telah musnah ribuan tahun yang lalu. Kau, aku, A, O, Z dan Jenderal So, juga sudah tiada. Jiwa kita menumpang di tubuh mereka. Saling membantu dalam kehidupan. Simbiosis mutualisme!" terang Dokter Chandra.
"Dalam simbiosis mutualisme, tak boleh ada pihak yang dirugikan. Sementara sikapmu ini, dapat merugikan Marianne. Itu sebabnya mereka tak terima. Kita ini hanya menumpang hidup pada manusia bumi. Jika kita gegabah, maka tubuh manusia bumi bisa hancur. Lalu kita juga ikut hancur bersama mereka. Itu sebabnya, harus hati-hati, jika kau tak ingin mati lagi!"
Dokter Chandra bicara dengan lembut dan penjelasannya mudah dicerna. Ivy terdiam dan jadi lebih tenang sekarang. Dia mulai menyadari hal itu. "Kakak benar. Maafkan aku," ujarnya lirih.
"Aku hanya ingin mencari tau keberadaan anak-anak yang kuselamatkan dulu," ujarnya lagi.
"Kita akan mencari mereka. Apa kau masih ingat cara datang dan pergi ke tempat itu?" tanya dokter Chandra.
"Ya! Aku tau jalannya!" jawab Ivy yakin.
"Baik. Kita akan merencanakan perjalanan itu nanti. Sekarang kita makan dulu. Aku sudah lapar," ujarnya.
__ADS_1
Ketegangan mencair. Mereka mulai menikmati makan malam yang sudah hampir dingin. Beberapa obrolan memecah kekakuan yang sempat tercipta.
"Aku mulai merasakan gerakan di perutku." Widuri mengabarkan dengan wajah semringah.
"Wahh ... berarti kakinya sudah cukip besar!" Mata Niken berbinar-binar. Dia ikut bahagia mendengar kabar itu.
"Apa dia menyakitimu? Aku akan menghajarnya jika lahir nanti!" celetuk Dean.
"Hahahaha...." deraian tawa membahana di gelapnya malam. Makan malam itu kembali hangat. Ivy tertarik melihat Widuri.
"Boleh aku ikut merasakannya?" tanyanya.
Widuri menoleh pada Dokter Chandra, untuk minta pendapat.
"Tidak apa. Mungkin putramu bisa mendapat berkat kehidupan dari Ivy," angguk Dokter Chandra mengijinkan.
Widuri berdiri dari kursinya dan mendekati Ivy. Dibiarkannya tangan Ivy menyentuh perutnya yang makin membuncit.
Tangan Ivy diselubungi cahaya hijau kuning keemasan. Seberkas cahaya kecilnya menyelusup masuk ke perut Widuri. Wajah Ivy terlihat ikut bercahaya. Senyumnya terkembang. Kemudian ditariknya lagi tangan itu. "Dia anak yang tampan dan sehat. Bagus sekali," ujarnya senang.
"Benarkah? Terima kasih, Ivy," ujar Widuri. Dia kembali ke kursinya di sisi Dean.
"Apa kau bisa memeriksa kandunganku?" tanya Niken penuh harap.
"Tentu saja. Kemarilah!" panggilnya.
"Anak-anak yang sehat. Kelompok ini akan bertambah besar. Dan mereka akan merepotkanmu nanti," ujarnya tersenyum lebar.
Niken ikut tersenyum senang. "Terima kasih, Ivy."
*
*
Saat makan malam selesai, Dokter Chandra meminta perhatian. Anggota kelompok mendengarkan dengar serius.
"Aku pernah berjanji untuk memberikan jiwa penjaga teleportasi itu pada putramu, nanti," ujar Dokter Chandra pada Dean.
"Tapi setelah ada Aslan, aku berubah pikiran. Kurasa lebih baik kita pindahkan jiwa penjaga teleportasi itu kepadanya. Harapanku, jika jiwanya bisa dipulihkan, maka kita bisa mengharapkan pengetahuannya tentang teleportasi. Agar kita tidak tersasar terus-menerus," beber Dokter Chandra.
"Masuk akal!" cetus Indra.
Dean mengangguk setuju. Robert dan Sunil juga merasa bahwa itu langkah yang tepat. Sebelumnya, memang tidak ada pilihan lain, selain menunggu lahirnya putra Dean. Tapi sekarang ada Aslan. Bukankah peluang jadi lebih besar?
"Aku setuju," sahut Sunil.
"Aku juga!" sambung Robert.
__ADS_1
"Itu pilihan yang tepat!" imbuh Dean.
"Baik. Kita putuskan seperti itu saja!" Dokter Chandra menetapkan.
"Dean, tolong siapkan meja batu untuk meletakkan jasadnya," perintah Dokter Chandra.
"Oke!" Dean menyusun lempeng batu hitam jadi sebuah meja. Dokter Chandra mengeluarkan jasad penjaga teleportasi itu, dan meletakkannya di meja batu. Semua memperhatikan.
"Aslan, kemari! Kau sudah melihat proses perpindahan jiwa nenekmu kemarin. Sekarang giliranmu!" tegas Dokter Chandra.
Aslan mendekat dengan takut. Dia masih ingat jerit kesakitan Marianne malam itu. "Apa aku sanggup menahan rasa sakitnya?" batinnya ngeri.
"Tenang saja. Minum ini!" Dean menyodorkan segelas air abadi pada Aslan, yang langsung diteguknya hingga habis.
Dokter Chandra telah memegang sebilah pisau ditangannya. Diraihnya tangan Aslan yang sedikit bergetar. "Kau harus menguatkan hati. Jika jiwamu kuat, dia tak akan menguasaimu, tapi membantu mencapai tujuanmu!" nasehatnya.
"I-Iya, Kakek," jawab Aslan dengan suara bergetar.
Dokter Chandra menggeleng. "Siap yaa," ujarnya. Lalu mata pisau itu menggores jari Aslan. Dua tetes darah jatuh di dahi orang itu. Seberkas cahaya hijau kebiruan menyelubungi jasad itu, dang menyambar Aslan.
Suara jeritan Aslan memenuhi ruangan. Niken Dan Widuri tak pernah bisa terbiasa dengan hal itu. Tetap saja terasa mengerikan dan meremangkan bulu roma.
Tak lama, tubuh Aslan melayang jatuh. Ivy menangkapnya dengan cepat dan meminta Dokter Chandra segera memeriksanya. Dean meminumkan air abadi ke mulut Aslan yang pingsan.
"Baik, mari kita beristirahat malam ini, dia akan kubawa ke rumah." Dokter Chandra berjalan pergi. Ivy mengikutinya.
"Kau mau kemana?" tanya Dokter Chandra. Pulang ke rumahmu!" jawabnya.
Dokter Chandra berhenti berjalan. Memandang Ivy dengan aneh. "Itu sebabnya kau tidak boleh menguasai tubuh Marianne. Kau jadi kebingungan sendiri. Rumahmu di sini. Di lantai dua!" Tunjuk Dokter Chandra ke lantai dua rumah panggung di depannya.
"Kembali dan beristirahatlah. Kau harus berdamai dengan dirimu sendiri. Baru kau bisa menghargai bantuan manusia bumi untuk bangsa kita," tegas Dokter Chandra.
Ivy ditinggal sendiri di depan tangga rumah panggung.
"Kami kembali, Ivy. Selamat beristirahat," sapa Niken. Indra kemudian membawa istrinya terbang dari sana.
"Bye, Widuri ... kami pulang!" Robert dan Sunil juga melesat keluar ruangan. Mereka berpapasan dengan Ivy di tangga.
"Bye Ivy," sapa keduanya sebelum menghilang di balik pepohonan.
"Ivy, kami naik lebih dulu. Kau juga segeralah istirahat," nasehat Widuri.
"Ya," sahut Ivy canggung.
"Apakah aku harus mengalah?" pikirnya.
********
__ADS_1