PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 340. Kecelakaan Sunil


__ADS_3

Note: Maafin author, ambil libur gak bilang dulu. 🙏 Tapi sdh beritahu di grup kok. Ayo, gabung di grup chat. Informasi penting akan di notice di grup lbh dulu.


******


"Apa yang terjadi?" tanya Dean, begitu sampai di sana.


Di depan pintu teleportasi, setengah tubuh Sunil sudah terbaring di lantai. Sementara Robert sedang memegangi kepalanya dan meletakkan dengan hati-hati.


"Kita bawa ke rumah dulu," ujar dokter Chandra.


Dengan perasaan cemas serta berbagai pertanyaan memenuhi kepala, Dean mengangkat tubuh Sunil hati-hati. Lalu dibawanya melayang, keluar gua. Yang lain mengikuti dari belakang.


Sunil dibaringkan dengan hati-hati di lantai atas. Para wanita ikut terbangun dan mengamati dari jauh, apa yang terjadi.


Indra membawakan dua cangkir air abadi, untuk diminumkan pada Sunil. Dahi Sunil terlihat biru lebam. Dan dia pingsan sekarang.


"Apa dia terbentur sesuatu?" tanya Indra.


"Yah ... memang seperti itu. Semuanya baik-baik saja dan sesuai harapan kita. Kami telah mendapatkan waktu yang tepat saat ke sana. Bulan Januari 2022 di India," papar dokter Chandra.


"Wahh, itu waktu yang tepat!" seru Niken.


"Benar. Oleh sebab itu, kami memberi Sunil kesempatan untuk melihat keadaan kedua anaknya sebelum kembali ke sini," kata Robert.


"Bagaimana dengan dua anaknya? Apa hubungannya dengan keadaan Sunil sekarang?" tanya Marianne tak sabar.


Dokter Chandra menggeleng. "Tak ada hubungan antara keadaan Sunil dan anak-anaknya. Mereka baik-baik saja di sana. Keluarganya telah merawat kedua anak itu dengan baik ...."


"Lalu?" potong Dean tak sabar.


"Saat kami kembali melalui pintu teleportasi dan menarik pintu itu masuk ke lorong teleportasi, Pintu itu sedikit tersangkut. Dengan sedikit usaha keras, akhirnya kami berhasil menariknya masuk dalam lorong teleportasi. Tapi ...." Dokter Chandra melihat Sunil dengan tatapan sedih. Dia teringat kejadian itu.


"Jangan sepotong-sepotong menjelaskannya." Marianne tak sabar menunggu dokter Chandra bercerita.


"Lalu pintu yang ditarik dengan keras itu, melayang cepat ke arah kami. Sunil tak sempat mengelak. Dia terkena hantaman pintu, hingga terlempar keluar dari bola cahaya. Beberapa saat, tubuhnya terpental ke sana-sini di dalam lorong teleportasi," papar dokter Chandra.


Aahhh ...."


Teman-temannya menatap dengan sedih. Mereka dapat membayangkan kejadian itu dari cerita dokter Chandra.


"Bukankah tubuhnya terikat dengan pintu teleportasi?" tanya Dean.


"Ya. Dan itulah yang menyelamatkannya. Setelah menstabilkan bola cahaya yang juga berguncang, kami menariknya masuk ke dalam bola cahaya, lalu menunggu sampai di sini."


"Apakah benturan di kepalanya itu membahayakan?" tanya Widuri.


"Mudah-mudahan tidak. Denyut nadinya memang sedikit kacau pada awalnya. Tapi Robert telah memberi minum air abadi sejak di perjalanan kembali. Sekarang ... denyut nadinya terasa normal."


Dokter Chandra meraba pergelangan tangan Sunil, lalu menyentuh lehernya juga.


"Berarti kita hanya bisa menunggu dia bangun dengan sendirinya," gumam Niken.

__ADS_1


"Bagaimana jika kita bawa Sunil kembali ke India, agar bisa dirawat di Rumah Sakit?" usul Marianne.


"Ya, benar. Bukankah tahunnya sudah tepat?" Niken setuju ide Marianne.


Robert menggeleng. Kita, harus cari tempat yang sedikit terasing sebagai tempat kita bertahan hidup selama ini, agar cerita kembalinya kita, tak dianggap absurd."


"Robert benar juga. Cerita kita harus sama dan masuk akal. Tak boleh menceritakan hal-hal ajaib yang kita temukan. Atau, orang-orang dunia sana akan menganggap kita gila," timpal Indra.


"Mau pulang saja, jadi rumit begini," gerutu Widuri.


Yang lainnya terdiam. Mereka juga memikirkan hal yang sama. Ada perasaan tidak adil di dalam hati. Setelah berjuang sendiri sejak pesawat jatuh. Melewati banyak rintangan yang harus mengorbankan nyawa. Kenapa saat pulang saja jadi merasa takut?


"Nanti kita pikirkan lagi. Kalian istirahatlah dulu," ujar Dean pada dokter Chandra dan Robert.


"Apa kalian lapar? Biar kusiapkan makanan," tawar Marianne.


"Tidak perlu Marianne, terima kasih. Kami ingin istirahat sekejap, sebelum pagi menjelang." balas dokter Chandra.


"Baiklah, biar aku yang berjaga di dekat Sunil." Dean menawarkan diri. Yang lain mengangguk dan mulai istirahat.


Sambil bersandar pada dinding rumah, Dean melihat ke arah Sunil. Dia berpikir sendiri dan akhirnya menemukan ide lain.


"Bicarakan pada mereka besok pagi saja," gumam Dean sembari tersenyum.


*


*


"Biar aku yang menjaganya. Kau pergi makan lalu istirahatlah dulu," ujar Widuri pada Dean yang membawakan sarapannya ke atas.


"Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Dean dari kejauhan.


"Sudah lebih baik," jawab Widuri tersenyum hangat. "Terima kasih sudah memahami keadaanku, Dean."


"Kau istriku, tentu aku harus mencoba memahami. Apa lagi kau begini karena aku." Dean tertawa kecil.


"Apakah dia sangat menyusahkan? Aku akan menghukumnya ketika dia lahir nanti." Dean tersenyum lebar.


Widuri tertawa haru di sudut kamar. "Aku mencintaimu, Dean," ujar Widuri penuh perasaan. "Aku ingin memelukmu, tapi ...."


Dean tak menunggu Widuri berubah pikiran. Dia langsung terbang mendekat dan memeluk Widuri.


"Apapun yang kau minta, jika aku mampu, akan kukabulkan," ucapnya dengan rasa bahagia.


"Dean, a-aku mu-al ...."


Suara Widuri mengejutkan Dean. Dia segera menjauh dan membiarkan Widuri mendapatkan udara segar.


"Maafkan aku. Ku kira—"


"Tidak! Tidak apa-apa. Aku sudah lebih baik. Sepertinya tidak separah kemarin-kemarin."

__ADS_1


Meskipun berkata begitu, Widuri masih memilih untuk duduk di depan jendela kamar. Dia ingin udara ruangan itu bebas dari aroma Dean.


"Kau yakin? Ini sarapanmu. Harus kau habiskan. Nanti siang kucarikan buah segar untukmu." Dean meletakkan nampan makan lebih dekat ke arah Widuri.


"Oke. Sana, pergi makanlah. Lalu istirahat. Kau begadang menjaga Sunil," imbuh Widuri.


"Oke."


Dean berbalik dan menuruni tangga menuju ke lantai bawah. Teman-temannya sedang asik berbincang. Mereka menanyakan tentang keadaan tahun 2022. Dean duduk dan bergabung bersama yang lain.


"Bagaimana Widuri?" tanya dokter Chandra.


"Sudah lebih baik." Dean tersenyum cerah. "Aku sudah bisa memeluknya sebentar, sebelum mualnya muncul lagi," tambah Dean.


"Itu bagus. Suami hanya perlu memahami dan membuat istri bahagia. Seiring waktu, tubuhnya akan beradaptasi dengan kehamilanhya," pesan dokter Chandra.


Dean mengangguk sambil menyuap makanan. "Akan ku ingat itu," balasnya dengan mulut penuh.


"Lalu kalian, kapan menyusul?" goda Robert ke arah Indra dan Niken yang duduk berdampingan.


"Aku juga ingin secepatnya punya bayi. Tinggal menunggu kemurahan Tuhan saja," sahut Niken sembari sikutnya menyentuh lengan Indra.


Yang lain terkekeh melihat kode Niken tadi. Wajah Indra memerah digoda seperti itu di depan yang lain.


"Rumah kalian sudah selesai?" tanya dokter Chandra.


"Sudah," jawab Indra cepat. Dia lega karena dokter Chandra mengalihkan topik pembicaraan.


"Kalau begitu, pindahlah sore nanti. Mungkin kalian bisa segera menyusul Widuri dan Dean."


"Huftt ... uhukk ... uhukk ...."


"Hahahaha."


Tawa meledak di meja makan, melihat Indra terbatuk-batuk mendengar saran dokter Chandra.


"Baik, kami akan segera pindah." Niken menjawab dengan wajah berbinar-binar.


Suara tawa makin ramai terdengar. Sementara Indra, tak dapat menyembunyikan wajahnya yang memerah. Dengan kikuk dia mengangguk saat tangan Niken memeluknya.


"Iyaaa ... kita bereskan rumah itu hari ini. Jadi sore nanti sudah bisa pindah." Indra menunjukkan senyum tak berdaya pada Niken.


"Jangan terpaksa begitu!" Niken cemberut.


"Mana ada ...." Indra berusaha memperbaiki senyumannya.


"Dok, nanti aku ingin menanyakan sesuatu," sela Dean.


Oh? Tentu. Aku mau melihat keadaan Sunil dulu di atas. Setelah itu kita bicara," sahut dokter Chandra.


********

__ADS_1


__ADS_2