
Dean, Michael dan Alan berangkat setelah membereskan semua urusan menyiram tanaman dan mengisi semua tempat persediaan air.
Di hutan larangan, mereka memetik cukup banyak buah apel dan membawa serta sebatang bibit kecilnya. Ketiganya terlihat tak sabar untuk mengunjungi Robert, terutama Michael.
Dean dan Sunil sudah mulai hafal posisi celah tersebut. Jadi mereka bisa dengan mudah menemukannya.
Dean masuk lebih dulu. Disusul Michael yang dipegangi oleh Sunil dari atas. Lalu Sunil juga menyusul masuk.
"Tak ada orang di sini," kata Michael.
"Ayo lihat ke depan rumahnya," ajak Dean. Dia melesat lebih dulu ke halaman luas yang kemaren didatanginya. Tapi tak ada seorangpun di situ.
"Robert.... Robert...." panggil Michael.
"Mari kita cari," ajak Sunil.
Dia kembali melayang naik membawa Michael. Dean mengikuti. Mereka melihat ke sekitar kebun sayur yang terbentang di depan halaman rumah. Tak ada Robert dan Kang di sana.
"Di sana ada lembah!" seru Michael.
"Lembah yang indah, dan airnya sebiru langit," timpal Sunil.
Ketiganya melayang mengitari lembah. Lalu tetdengar suara tawa.
"Hahahaaa...."
Mata Dean, Sunil dan Michael langsung mencari asal suara.
"Di sana!" tunjuk Dean ke arah padang bunga.
Ketiganya segera menghampiri.
"Robert!" panggil Dean.
Robert dan Kang dengan terkejut segera menoleh.
"Dean!"
"Kau, Michael? Kau sungguh Michael? Ya Tuhan...." Robert sungguh terkejut.
Sunil menurunkan Michael yang segera dipeluk oleh Robert.
"Syukurlah kau baik-baik saja. Ku kira tak kan pernah bisa melihatmu lagi. Hahahaa... syukurlah," ucap Robert bahagia.
"Apa kau masih mengenalku?" tanya Sunil.
"Kau Sunil. Tak mungkin aku lupa," sahut Robert sambil menepuk bahu Sunil.
"Hahahaa.. ingatan mu masih tajam ternyata." Sunil tersenyum.
"Kenalkan, ini Kang temanku. Dia yang menolongku saat di sini," kata Robert.
Kang hanya mengangguk dan tersenyum ramah.
"Dia Kang? Bukankah kemarin itu...,"
"Ah, yaa.. kalau tidak berubah, dia tak bisa terbang untuk memeriksa penyusup. Hahahaaa." Robert tertawa canggung.
Dean mengerti, dan tidak mempermasalahkannya.
"Tadi kami memanggil-manggil di depan rumah kalian. Tapi tak ada orang. Jadi kami cari hingga ke sini," jelas Dean.
"Oh, ya?" ujar Robert.
"Kami awalnya hanya ingin memeriksa tanaman soba yang sudah tua saja. Tetapi rupanya banyak banget yang sudah siap panen. Jadi sekalian saja dipanen," jelas Robert.
"Kang, bagaimana kalau panen hari ini dicukupkan dulu? Mari kita ajak mereka ke rumah," kata Robert.
Kang mengangguk. Semua peralatan memanen serta batang-batang soba yang telah dipotong, dimasukkan dalam cincin penyimpanan Kang. Kang memegang tangan Robert.
"Ayo," ajak Robert.
Kang lalu melompat ke sana kemari dari dahan ke dahan. Dean, Sunil dan Michael tertegun melihat atraksi itu.
"Mereka seperti bajing loncat!" gumam Michael tak berkedip.
"Hahahaaa... Kau ini."
Dean dan Sunil tertawa seketika.
__ADS_1
Ketiganya segera melesat menyusul Kang yang telah sampai di tepi tebing.
*
"Apa ini?" tanya Robert pada bibit tanaman yang disandarkan ke tiang teras.
"Oh, ini bibit pohon apel. Kami menemukan pohon apel yang manis di hutan. Ku kira itu akan cocok ditanam di sini," jelas Dean.
"Kalian duduklah. Ku ambilkan air minum," kata Robert.
"Katakan dimana ini mau ditanam, biar ku bantu. Baiknya segera ditanam, sebelum layu." Dean mencegah Robert masuk rumah.
Robert melihat sekitar.
"Kang, ini pohon buah apel. Baiknya ditanam di mana? Pohonnya mungkin akan besar."
Kang berjalan ke sisi kiri rumah. Sekitar 3 meter dari teras. Tak jauh dari kolam ikan. Ditunjuknya tanah.
"Di sini saja. Sebentar ku ambil alatnya di belakang," kata Robert.
"Tidak perlu alat. Ambilkan saja air untuk menyiramnya," ujar Dean.
Dean berjongkok dan menggunakan keahlian jarinya untuk melobangi tanah. Dalam sekejap saja lubang tanam itu telah siap.
Kang melihat cara kerja Dean dengan takjub. 'Teman Robert punya tangan ajaib' pikirnya.
Dean memasukkan bibit apel yang tadi mereka bawa. Lalu menimbunnya sedikit. Robert datang dengan wadah air. Dan ikut terkejut melihat bibit apel itu telah selesai ditanam.
Dean menyirami bibit itu dengan seksama. Dia melihat pohon itu dengan puas.
"Kau harus tumbuh subur seperti indukmu, ya." Harap Dean.
Dean mencuci tangannya dengan air yang tersisa di wadah.
"Duduk dulu kalau sudah selesai. Aku ambilkan minuman," kata Robert.
Sunil, Dean dan Michael beriringan ke arah teras dan duduk di bangku teras. Dean mengeluarkan setumpuk buah apel matang kemerahan di meja.
"Ini buahnya?" tanya Robert tak percaya.
"Itu sangat manis. Cobalah," ujar Sunil.
"Waahhh.... Ini manis sekali." Mata Robert berbinar-binar.
"Kang, tanaman yang ditanam tadi itu, buahnya begini."
Robert mengangsurkan sebuah apel ke tangan Kang.
"Makanlah. Kau akan menyukai rasanya," bujuk Robert.
Kang mencoba menggigit buah di tangannya. Dan matanya langsung berbinar bahagia. Dia mengangguk-angguk senang dengan buah tangan yang dibawa Dean dan kawan-kawannya.
Mereka duduk mengobrol dan saling cerita. Robert bersedih mengetahui tentang meninggalnya Dewi. Dia pun menceritakan kejadian kapal timnya yang karam di laut. Dan kemudian senang setelah Sunil menceritakan tentang dokter Chandra, Indra dan Niken yang kini bergabung dengan tim Dean.
Robert kemudian terdiam ketika mengetahui soal sakitnya Laras yang tak mungkin sembuh. Serta keputusannya untuk tetap tinggal di dunia yang ditempatinya sekarang ditemani oleh Liam.
"Aku ingin mengunjunginya. Apakah tempatnya jauh dari sini?" tanya Robert.
"Lumayan," Jawab Michael.
"Kami akan segera mengadakan upacara pernikahan Indra dan Niken. Kau bisa ikut datang ke acara itu.
"Benarkah? Akhirnya mereka menikah juga," sambut Robert mengalihkan perasaannya yang kacau.
"Kalian bagaimana? Tidak ingin menikahi wanita di tim?" tanya Robert penuh selidik.
"Dean sudah mewakili kami. Dia menikah dengan Widuri." sahut Michael cepat.
"Benarkah? Bagus sekali. Selamat ya Dean. Semoga bahagia dan cepat punya anak," ujar Robert.
Sunil dan Michael langsung tertawa ngakak. Dean mendelik ke arah dua temannya.
"Kang, kau bisa datang mengunjungi kami ke rumah besar di hutan larangan," undang Sunil.
Kang melihat teman-teman barunya dengan mimik tak percaya. Tapi Dean dan Michael mengangguk dengan mimik tulus.
"Teman Robert juga teman kami. Kau sudah menolongnya di sini. Kami harus berterima kasih padamu," ujar Dean meyakinkan Kang.
"Hemmm," jawab Kang sambil mengangguk.
__ADS_1
"Kang setuju untuk mengunjungi kalian." Robert menjelaskan arti deheman Kang.
"Kang, kau tau arti ucapan kami. Kenapa kau tak bicara saja?" tanya Michael.
"Kau akan terkejut nanti," Robert tersenyum lebar.
"Memangnya kejutan seperti apa yang belum ku alami?" kata Michael sombong.
"Tidak. Kejutan yang ini belum pernah kau temukan." Robert melambaikan tangannya menolak.
"Kenapa kau yang menolak sih? Kang saja tidak mengatakan apapun." Sunil ikut mendebat Robert.
"Haahhh.. kalian tidak tau apapun. Aku hanya bersikap baik," keluh Robert sambil menggelengkan kepala.
"Dean, kau melihat Kang kemarin. Bisa kau bayangkan jika dia buka mulut?" Kali ini Robert mengalihkan pandangannya pada Dean.
Dean terkejut. Dia ingat bagaimana transformasi Kang kemarin. Naga hijau besar itu?
'Akankah dia menyemburkan api jika buka mulut?' pikir Dean setelah menyadarinya.
"Robert benar. Lagian, kenapa kalian memaksakan kehendak pada orang lain? Tidak sopan!" omel Dean mengingatkan dua temannya.
"Kau tau Robert? Sejak menikah, dia jadi lebih sering mengomel seperti Widuri. Entah hilang kemana Dean yang cool dulu itu," Michael membalas Dean.
"Hahahaaa...."
Robert dan Sunil tertawa mendengar balasan Michael.
"Kami harus kembali sebelum sore. Atau para wanita akan menahan makan malam," kata Sunil hiperbola.
Robert tertawa mendengarnya. Dia mengangguk mengerti.
"Apa kau tak ingin ke sana?" tanya Michael heran, melihat Robert yang tidak bersiap pergi.
Robert menoleh pada Kang.
"Apa kau mau berkunjung ke rumah teman-temanku?" tanya Robert pada Kang.
Kang menatapnya ragu. Jarinya diangkat dan diletakkan ke kening Robert. Robert mengangguk mengerti.
"Aku akan berkunjung jika dengan Kang. Aku ingin membawanya melihat suasana di luar. Boleh?" tanya Robert.
"Tentu saja!" jawab ketiganya serempak.
"Tapi dengan fisik begini, dia tak bisa terbang, jadi...." Robert menoleh pada Dean.
Dean paham, karena dia telah melihatnya kemaren.
"Tak apa. Ayolah, sebelum malam. Nanti kalian sulit mencari jalan kembali jika gelap," ujar Dean yakin.
"Baik, kami tutup kandang ternak dulu, setelah itu kita bisa berangkat," ujar Robert.
Kang dan Robert masuk rumah.
"Jangan lupa membawa apel-apel ini ke dalam," kata Sunil.
"Ah iya, lupa," ujar Robert.
Dean mengirim pesan transmisi pada Sunil.
"Kang itu seekor naga. Jadi jangan tunjukkan ekspresi jelek nanti. Pulanglah lebih dulu dan ingatkan yang lainnya di rumah."
Sunil mengajak Michael pergi.
Tak lama Robert dan Kang sudah kembali. Mereka hanya mendapati Dean yang duduk di bangku teras.
"Di mana mereka?" tanya Robert.
"Mereka kembali lebih dulu. Banyak tugas yang membutuhkan kekuatan manusia terbang di sana." Dean tersenyum miring.
"Maksudmu?" tanya Robert tak mengerti.
"Setelah kau lihat tempat kami, kau akan mengerti kata-kataku. Kami tak seberuntung kau tinggal di dunia yang bagus dan cukup air." Dean menepuk pundak Robert.
"Ayo kita susul mereka," ajaknya cepat.
"Ayo Kang." Robert dan Kang berjalan mengikuti Dean ke padang rumput.
******
__ADS_1