
Leon membuka matanya lebar. Lalu keningnya berkerut sedikit.
"Rasanya kau mirip seseorang. Tapi siapa yaa...?" Leon bergumam sendiri.
Wanita itu makin ribut....
"Emmmpphh... emmpphhh!"
"Ssstttt!"
Leon meletakkan jari di bibirnya.
"Jangan berisik! Aku mengambil resiko dihukum cuma untuk mengembalikan gelangmu yang jatuh," bisik Leon dengan mata melotot kesal.
Wanita itu terus saja ribut....
"Emmppph... emmpphhh!"
"Tidak... aku tidak akan membantu kriminal."
Leon menggoyangkan tangannya, menolak terlibat.
Wanita itu menggeleng... "Emmpphh!" Matanya melotot melihat Leon.
"Aku harus kembali. Kau harus bersikap baik, agar mereka tak menyakitimu." Leon menasehati.
Lalu kain penutup itu diturunkannya. Dan dia berjalan pergi dengan hati-hati. Sepanjang langkahnya menuju gerobak, Leon terus berpikir keras. Wanita itu mirip seseorang yang dia tak ingat, kenal dimana.
"Ahh... bukan hal mustahil juga ada wajah-wajah yang mirip dengan orang lain. Aku saja sangat mirip dengan artis MI."
Leon terus menggumam hingga tiba di samping gerobak. Jane duduk dengan khawatir di situ.
"Ada apa?" tegur Leon.
"Kau!" Jane melompat memeluknya dan menangis.
"Apa yang terjadi?" tanya Leon bingung.
Isakan Jane makin kencang.
"Apa ada yang mengganggumu saat aku pergi tadi?" tanya Leon khawatir.
Dilepaskannya pelukan Jane dan memeriksa tubuhnya berputar-putar. Matanya jelas memperlihatkan kekhawatiran yang besar.
"Kau kemana tadi?" tanya Jane setelah bisa menguasai perasaannya.
"Buang air." Jawab Leon jujur.
Jane terdiam sejenak. Matanya berkedip beberapa kali dengan salah tingkah. Lalu dia naik kembali ke gerobak.
Leon yang bingung dan tidak mendapat jawaban, kembali bertanya.
"Ada apa? Kenapa menangis? Apa ada yang mengganggumu?"
Jane menggeleng sambil menunduk. Beruntung malam yang tidak cukup terang itu dapat menyembunyikan dengan sempurna rona wajahnya yang memerah.
__ADS_1
"Ku kira kau meninggalkanku di sini...."
Suara Jane yang lirih, hampir tak terdengar.
Leon masih ingin mendebat, tapi kemudian dia menyadari sesuatu. Dia menghela nafas panjang, dan naik juga ke atas gerobak.
"Ayo tidur lagi. Aku takkan meninggalkanmu tanpa mengatakan sesuatu," ujar Leon menghibur.
Tapi dalam pikiran Jane, yang dia tangkap adalah, suatu hari Leon akan pergi juga. Entah kenapa hal itu menggores hatinya. Dia berbalik memunggungi Leon. Airmatanya menetes diam-diam.
Sementara Leon kembali memejamkan matanya. Dia tak terlalu memikirkan Jane saat ini. Dia terus memikirkan wanita dalam kerangkeng tertutup itu.
Malam di gurun berbatu itu berlalu dalam kedamaian.
"Silvia!"
Leon terduduk dengan keringat mengucur. Wanita di kerangkeng itu dan Silvia yang ada dalam mimpinya, adalah orang yang sama.
"Ada apa? Kenapa berteriak? Apa kau memimpikan sesuatu?"
Suara Jane mengembalikan kesadaran Leon. Sejenak, ditatapnya Jane dengan bingung. Lalu teringat sesuatu.
Leon melompat turun dari gerobak, dan berlari ke arah kereta berpenutup yang tadi malam dilihatnya.
"Mau kemana? Kita akan segera berangkat!" teriak Jane. Tapi Leon tak mendengarkannya.
"Sial!"
Leon mengumpat kesal. Kereta itu sudah pergi. Diedarkannya pandangannya ke segala arah. Tapi dia tak melihat bayangan kereta lain di gurun itu.
"Bodoh! Bodoh!" dia terus mengumpat.
Seseorang berlari ke arahnya.
"Ada apa?"
Itu suara Jane.
Leon menggeleng dan meremas rambutnya karena kesal dan marah pada dirinya sendiri.
Jane memeluknya. Menuntunnya kembali.
"Jika ada sesuatu, kita bisa bicarakan sambil jalan. Yang lain sudah menunggu."
Suara Jane yang lembut, seperti air pegunungan yang sejuk bagi Leon saat ini. Tanpa sungkan, dia memeluk wanita itu dan menangis.
Jane terdiam melihat reaksi Leon. Dia menyadari bahwa ada hal berat di hati pria itu, yang sudah tak sanggup ditahannya.
"Aku akan mendukungmu...." ujar Jane sambil mengelus punggung Leon. Untuk beberapa saat, Leon merasakan ketenangan.
"Mau berapa lama lagi kami harus menunggu kalian selesai bermesraan?!"
Terdengar teguran pedas dari arah kafilah dagang. Disusul suara tawa orang-orang.
Leon tersadar. Dihapusnya air matanya dan melepaskan pelukan dari Jane.
__ADS_1
"Aku sudah baik-baik saja. Mari kita kembali."
Leon menggenggam jemari Jane dan menarik tangannya untuk pergi dari situ. Orang-orang masih tertawa kecil melihat mereka berdua. Jane tertunduk malu.
Seorang penjaga ternyata masih belum selesai mengomeli....
"Kami semua tau kalau kalian suami istri, tapi...."
"Maafkan...." Leon memotong ucapan penjaga itu.
"Aku sudah menunda perjalanan semuanya karena masalahku. Maaf," ujar Leon sesopan mungkin.
Suara-suara tawa langsung lenyap. Mereka tak lagi mempermasalahkan. Toh tiap orang pasti punya masalah. Jika dia bisa menyelesaikan masalah hanya dengan memeluk istrinya, bukankah itu bagus.
Kafilah itu kembali melanjutkan perjalanan. Menyusuri area gurun tandus berbatu. Gerobak-gerobak berjalan lambat.
Saat seorang penjaga lewat di sebelah gerobaknya, Leon tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Paman, di persinggahan tadi, ada banyak rombongan berhenti. Tapi kita berjalan sendiri. Apakah mereka sudah pergi?" tanya Leon.
"Ya! ada yang pergi lebih pagi, untuk mengejar tempat persinggahan berikutnya. Kita yang terakhir berangkat... karena kau." Jawab penjaga itu pedas.
"Maafkan aku." Leon harus bersabar dengan omongan itu, karena memang itu salahnya.
"Apa mereka juga pergi ke tujuan yang sama?" tanya Leon penuh harap.
"Hanya satu yang berencana pergi ke kota yang sama dengan kita. Yang dua lagi, pergi menuju kota di utara dan selatan."
Penjaga itu menjawab sebelum melanjutkan pengawalannya atas kafilah itu.
Leon terhenyak mendengar jawaban penjaga.
'Lalu kemana arah kereta Silvia?' pikirnya bingung.
Leon terus menyesali kebodohannya tadi malam. Sudah jelas Silvia mengenalinya. Dia sampai melotot dan minta tolong begitu rupa, tapi Leon tetap tak mengerti.
"Bodoh!" umpat Leon lagi.
Jane menghela nafas. Sudah sejak dari dia menemukan Leon tadi, pria itu terus saja mengucapkan kata bodoh. Berulang kali. Sambil meremas rambutnya dengan kesal. Tapi Jane tak tau apa masalah Leon. Pria itu tak mau menceritakannya.
Leon terus saja kesal sepanjang jalan. Dia ingin menolong Silvia, tapi tak tau caranya. Mau mengejar, tapi ke arah mana? Utara? Selatan? Leon tak tau jalan. Lalu bagaimana dengan Jane? Membawanya jelas bahaya. Meninggalkannya sendiri di rombongan ini juga bukan pilihannya.
"Ya Tuhan... jaga Silvia, Tuhan...."
Leon tak tau harus bagaimana lagi, selain berdoa. Dia sungguh menyesal. Andai saja dia mau sedikit ikut campur, maka dia akan tau permasalahan yang dihadapi Silvia.
"Tapi, jika Silvia ditangkap sebagai kriminal, bagaimana aku bisa membantunya?" gumam Leon semakin bingung.
Kepalanya makin pusing. Banyak sekali hal yang tak bisa dipecahkannya. Bikin kepala seperti mau meledak saja.
"Sebaiknya kau istirahat saja. Biar aku yang pegang kekang kuda," Jane membujuk Leon.
Leon yang memang sedang tak bisa berkonsentrasi, akhirnya menyerahkan tali kekang kuda pada Jane. Dia memilih pindah ke bagian belakang. Berbaring tepat dibelakang Jane.
Leon terus berpikir dan mereka-reka rencana untuk menolong Silvia. Setelah kembali dari berdagang ini, Leon akan mencari cara untuk bisa pergi ke kota di utara, atau selatan. Dia harus menemukan Silvia! Tekadnya sudah bulat.
__ADS_1
******