PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 203. Pemakaman Bi


__ADS_3

Sejak pagi, pondok kayu di tengah hutan itu sudah disibukkan dengan beragam aktifitas.


Acara pemakaman Bi dimulai ketika matahari naik. Itu sekitar jam 8 atau 9. Mereka akan hadir di kediaman ketua kota. Jadi pagi dimulai lebih awal. Menyiapkan sarapan, serta mengemas kue yang dibuat kemarin. Sebagian dibawa ke tempat Yoshi, sebagian lagi untuk Laras tentunya.


Setelah sarapan, semua sudah rapi dan siap untuk berangkat.


"Kalian yakin pondok dibiarkan kosong?" tanya Michael ragu.


"Aku bisa tinggal jika boleh," tambahnya lagi.


"Biarkan Cloudy yang berjaga," kata Dean.


"Aku cuma kuatir meninggalkan Cloudy sendirian," kata Micael.


"Kenapa?" tanya Indra heran.


"Takutnya ada pemburu menerobos ke sini dan memburu Cloudy dengan berbagai alasan," jelas Michael.


"Michael benar Dean. Tempat ini tak bisa dibiarkan kosong melompong," kata Sunil.


"Kalau begitu biar aku temani Michael berjaga di sini." Indra sependapat dengan Michael.


"Lagi pula, sulit bagi kalian membawa kami terbang bolak balik," tambahnya.


"Ya sudah kalau begitu. Indra dan Michael berjaga di sini. Lainnya berangkat." Dean menyerah.


"Ayo berangkat," kata Dean.


3 bayangan melesat ke arah pinggir kota. Dean membawa Widuri. Alan membawa Nastiti dan Niken. Sementara Sunil dengan Marianne.


Dari pinggir kota mereka berjalan menuju kediaman ketua kota. Sudah banyak tamu yang datang untuk memberi penghormatan terakhir.


Ibu Yoshi dianggap sebagai pahlawan yang tewas untuk melindungi kota. Mereka menghormatinya.


Dean melihat peti mati di pelataran yang dibuat khusus untuk acara itu. Bersama teman-temannya mereka menyapa ketua kota yang terlihat makin ringkih. Ketua kota duduk di kursi besarnya. Di sisinya berdiri Yoshi dan Yabie. Aroma kesedihan kental terasa.


Dean berjalan mendekati peti mati. Dia tak terkejut melihat tubuh Bi utuh. Waktu itu dia lihat Alan membawa 1 kendi besar air abadi bersama Yoshi dan Yabie.


"Beristirahatlah dengan tenang, Bi. Kedua anakmu telah berkumpul bersama. Aku juga melepasmu dengan rela. Kau pejuang hebat bangsa kita. Aku bangga padamu," gumam Dean di depan peti. Matanya bersinar keemasan.


Dean menarik Laras untuk berdiri di sampingnya.


"Ini istriku Bi. Restui kami dari tempatmu di sana ya," kata Dean.


Bergantian Alan, Sunil dan yang lainnya memberi salam dan penghormatan. Hingga tiba waktunya untuk menurunkan peti ke dalam tanah. Peti itu kemudian ditutup rapat.


Dean, Alan, Sunil dan Yabie mengangkat peti menuju tempat peristirahatannya yang terakhir. Yang lain mengikuti dari belakang.


Taman belakang itu memang teduh dan indah. Ada lubang di dekat tembok belakang. Dean, Alan, Sinil dan Yabie menurunkan peti perlahan-lahan. Tak terasa, air mata Dean menetes jatuh. Mata Dean yang keemasan bersinar redup. Setengah hatinya telah dikuburkannya di sini.


"A, kuasai dirimu," tegur Alan lewat transmisi suara. Dean segera tersadar.


Ketua kota mendapat kesempatan untuk menimbun lubang pertama kali. Lalu disusul Yoshi yang tak henti mengalirkan air mata. Lalu Yabie, Dean, Alan dan Sunil.


Mereka menunggu petugas menimbun lubang hingga penuh. Semua berdoa dengan cara masing-masing. Suasananya khidmat.


Tepat siang hari, acara penguburan telah selesai. Penganan dan minuman sudah ditata para pelayan di pelataran depan. Ketua kota menyapa warganya sebentar, sebelum kembali ke rumah untuk beristirahat.


Rombongan Dean juga tak lama berada di situ dan segera pamit untuk menjenguk Laras.

__ADS_1


Mereka berjalan menyusuri jalan mendaki. Kediaman tabib berada diantara desa petani dan desa nelayan. Itu bukanlah dekat. Tapi mereka tak mungkin terbang di tengah kota saat siang bolong begini. Itu bisa memicu kehebohan.


Sore hari baru mereka sampai dengan kelelahan. Terutama Marianne. Wajahnya memucat. Tabib akhirnya meminta dia untuk dirawat sejenak di ruangan Laras. Marianne mengangguk tak berdaya.


"Hai Laras, apa kau masih ingat aku?" Terdengar suara nyaring sesaat pintu dibuka.


Laras yang tertelungkup ditemani Liam, langsung menoleh ke arah pintu.


"Niken ...," serunya tertahan. Laras berusaha tersenyum.


"Ah, kau sudah bisa tersenyum. Kau pasti akan baik-baik saja," kata Niken senang.


"Hush jangan berisik," tegur Nastiti.


Nastiti berjalan bersama Marianne. Di belakangnya ada tabib mengikuti. Marianne diminta segera berbaring untuk diperiksa.


"Marianne..., ucap Laras lirih.


"Tidak apa-apa. Marianne hanya kelelahan. Kami berjalan jauh dari kota ke sini," jelas Nastiti.


"Jadi bagaimana denganmu? Masih terasa sangat sakitkah?" tanya Nastiti.


"Ya sakitlah. Mana ada operasi tanpa bius yang tidak sakit," bantah Niken.


"Sudah, jangan terlalu berisik. Biarkan mereka beristirahat. Jika mau jenguk, satu-persatu dong." Tegur Widuri.


"Kau sendiri juga ikut masuk biarpun sudah ramai. Dasar!" Niken tersenyum lebar.


"Aku hanya mau meletakkan kue di sini. Laras, jangan lupa dimakan ya," kata Widuri lembut.


"Terima kasih," balas Laras.


Rombongan itu berada di kediaman tabib hingga langit menggelap. Lalu pamit pulang karena hari gelap bisa menyamarkan mereka saat terbang melintasi kota. Marianne ditinggal untuk dirawat sehari lagi.


*


*


Aktifitas kembali seperti semula. Para pria menyelesaikan pembangunan rumah. Dan yang wanita mengurus kebun.


*


Siang hari Yoshie dan Yabie datang. Mereka mengajak Dean kembali ke kota mati. Dean jadi teringat dengan padang rumput di belakang tembok kediaman Yoshi. Itu tampak seperti bagian dari dunia kecil pertanian yang dulu dijaganya.


"Yoshi, bagaimana bisa ladang gandum dan padang rumput itu bisa ada di sana?" tanya Dean.


"Apakah itu seharusnya tidak di sana?" tanyanya balik.


"Itu seperti bagian dari dunia kecil yang aku jaga sebelum lenyap sebagian akibat benturan dahsyat," jelas Dean.


"Benarkah?" Yoshie merasa itu ajaib sekali.


Dean menggeleng. Diapun tak ingin percaya. Bagaimana bisa pecahan dunia kecilnya terlempar begitu jauh dari tempat dulu mereka berenam jatuh? Laut itu di sebelah sana. Bahkan sangat jauh dari pantai laut tawar.


'Alangkah dahsyatnya benturan saat itu,' pikir Dean.


"Yabie, bagaimana bisa hutan maple jadi dihuni hewan buas? Dulu hanya ada sapi, domba dan kuda saja yang dipelihara," tanya Dean tak mengerti.


Hewan-hewan buas itu suka sekali masuk ke kota mati. Mereka mengacak-acak seisi kota. Memakan kebun sayurku, bahkan ayam dan kelinci yang ada di kandang. Jadi, yang bisa ditangkap ku masukkan ke belakang sana. Yang jahat dimatikan saj," jawab Yabie tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Sekarang kita tau kenapa hewan buruan menghilang dari hutan," celetuk Yoshi.


"Mereka masuk ke kota mati." Dean mengangguk mengerti.


"Kenapa tak kau keluarkan saja binatang-binatang itu?" tanya Yoshi


"Sudah ku coba. Tapi mereka kembali lagi." Yabie mengangkat bahunya.


Dean mengerutkan keningnya.


'Apakah binatang-binatang itu takut akan sesuatu yang ada di hutan ini?' pikirnya.


'Tapi apa?' Dean belum bisa memahaminya.


Mereka telah sampai di batas kota mati, lalu melayang turun. Ketiganya masuk melalui celah yang tak terlihat siapapun.


"Paman, menurutmu bagaimana baiknya mengatur orang-orang itu?" tanya Yoshi.


"Menurutku, kita harus membersihkan dulu kota ini dari puing-puing. Lalu membangun ulang rumah yang lebih layak. Menata kota lebih teratur dan hijau." kata Dean.


"Bukah itu merepotkan?" bantah Yoshi.


"Memang lebih repot. Tapi rumah yang sekarang itu juga sudah lapuk. Sudah berbahaya untuk ditempati," jawab Dean.


"Satu lagi yang penting. Dengan memindahkan mereka dari situ, maka dunia kecil di balik tembok itu bisa lebih aman. Mereka juga aman dari binatang buas."


"Baiklah. Kita lakukan sesuai saran paman saja. Kami siap membantu," sambut Yoshi. Dean mengangguk.


Mereka menuju tempat pertama yang ingin diperbaiki. Yaitu bagian kanan gerbang kota. Hingga ke samping kiri rumah tua Yabie.


Bertiga, mereka mengangkat semua puing dan debu dari area itu. Semuanya dibawa ke luar tembok dan dikumpulkan di situ. Segera tempat itu bersih dari debu dan puing-puing.


Lalu ketiganya mulai membersihkan area samping kanan rumah tua Yabie. Tempat itu akhirnya jadi lega dan rapi. Kenny dan Mattew memperhatikan dari jendela. Bagaimana puing dan debu melayang di udara menuju luar tembok. Mereka senang karena kota itu akan ditata lebih rapi dan layak huni.


Hingga sore hari, seluruh puing telah dikeluarkan dari kota. Kota kecil itu jadi terlihat lebih luas sekarang. Dan mereka menenukan lubang-lubang sumur tua yang tertimbun begitu banyak sampah.


Dean menemui Mattew dan Kenny.


"Kami akan melanjutkan pembersihannya besok. Anak-anak jangan bermain di luar dulu. Ada beberapa sumur tua di luar sana. itu bahaya buat mereka," jelas Dean.


"Ya. Kami mengerti. Terima kasih sudah membersihkan kota ini. Jika besok butuh bantuan, katakan saja," tawar Mattew.


Dean mengangguk.


"Kami harus kembali. Apakah kebutuhan makan kalian cukup?" tanyanya khawatir.


"Cukup. Kami punya cukup ubi, ikan dan sayuran," jawab Kenny.


"Baiklah. Segera beristirahatlah. jangan lupa kunci pintu pagar dan pintu rumah," pesan Dean.


"Kenapa? Apakah kota ini berbahaya?" tanya Mattew khawatir.


"Kota ini sudah aman. Tapi seperti juga kalian yang bisa masuk ke sini dari hutan angker, mungkin saja orang lain bisa melakukan hal yang sama, kan?" kata Dean.


"Orang lain mungkin tak sebaik kami. Jadi berhati-hatilah," pesan Dean.


Mattew dan Kenny mengangguk mengerti. Segera setelah Dean, Yoshi dan Yabie pergi, pintu gerbang rumah itu segera mereka kunci. Pintu dan jendela ditutup. Dan lentera dipasang sebagai penerangan.


"Paman, mendengar perkataanmu tadi, ku pikir kita harus menggeser tembok kota ke batas kubah cahaya," kata Yoshi.

__ADS_1


"Aku juga berpikir begitu. Mereka hanya anak-anak kecil. Kasihan jika tidak dilindungi." Dean sependapat.


******


__ADS_2