
Widuri sedang memeriksa jemurannya saat ada hujan berbau asam jatuh tak jauh dari pagar halaman. Cloudy mengaum dan menggeram halus di tepi pelataran.
"Apa itu?" Dia melihat ke atas dan mendapati Dean sedang memegang seseorang.
"Siapa yang kau bawa?" Teriak Widuri dari bawah.
Teriakan Widuri menarik perhatian Nastiti, Marianne dan Michael. Mereka ikut keluar dari pelataran untuk melihat.
"Dokter Chandra." Dean membawa dokter Chandra duduk di bangku.
"Dokter. Akhirnya kita bertemu lagi." Michael berseru girang.
"Kau.. Michael?" Dokter Chandra menatapny ragu.
"Ya, aku Michael. Itu Marianne." Michael menunjuk Marianne yang berdiri di samping Widuri.
"Tapi kalian diculik kapal Viking." Dokter Chandra menatap Marianne tak percaya.
Ayo minum dulu dokter." Widuri membawa secangkir air abadi.
"Ini ada sedikit penganan untuk mengisi perut," sambungnya sambil meletakkan piring dan cangkir di atas meja.
Dokter Chandra meraih cangkir dan meneguk isinya. Rasa panas dan gatal di tenggorokan akibat muntah tadi kini sudah terasa lebih baik.
"Aku harus mencari yang lainnya. Nanti Alan juga mungkin akan membawa Niken. Jadi siapkan makanan lebih cepat. Mereka pasti lapar.
"Apa maksudmu yang lainnya?" Tanya Marianne.
"Biar dokter Chandra yang cerita. Aku tak akan membuang banyak waktu lagi." Dean mulai melayang naik.
"Oh ya, aku sudah hubungi Yoshi. Mudah-mudahan tabib bisa datang secepatnya." Dean memberitahukan dari ketinggian.
"Dokter, anda bisa mandi dan berganti pakaian kering lalu istirahat di kamar bersama Sunil." Saran Michael.
"Sunil? Dimana dia? Apa dia tidur?" Dokter Chandra mengira Sunil masih tidur karena bergantian jaga malam.
Michael menggeleng.
"Dokter mandi saja dulu. Terlalu lama dengan pakaian basah, bisa membuat anda sakit." Nastiti memotong pembicaraan.
"Ah, baiklah. Dimana kamar mandinya?"
Michael mengantarnya ke kamar mandi. Dokter Chandra melihat kamar mandi itu dengan takjub. Itu adalah batang pohon besar yang dilubangi dan diberi pintu. Saat dia membuka pintu kamar mandi, dia lebih terkejut lagi. Meski dengan bahan-bahan sederhana, tapi jelas kamar mandi ini dibuat dengan seksama dan fungsional. Ada wastafel, bak mandi, toilet dan sebuah alat di langit-langit yang tampak seperti shower.
'Siapa yang membuat kamar mandi ini, benar-benar jenius,' batinnya.
__ADS_1
"Dokter, ini baju ganti anda." Michael mengetukk pintu kamar mandi.
Dokter Chandra membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengambil baju yang disodorkan Michael. Lalu menggantungnya di cantelan yang ada dibalik pintu.
Michael kembali duduk di bangku. Kepalanya dipenuhi pemikiran. 'Ada apa dengan mereka?' pikirnya risau.
"Kau, jangan ungkit soal Sunil dulu. Kita belum tau apa yang terjadi dengan mereka. Jangan menambahi beban pikiran dokter Chandra." Nastiti berbisik ke telinga Michael.
"Tapi jika dokter Chandra mau beristirahat di kamar, bukankah dia akan bertanya?" Michael membantah dengan suara rendah.
"Katakan saja Sunil sedang tidur. Setelah dia bangun dan lebih segar, kita bisa menceritakan tentang Sunil." Nastiti tetap pada pendapatnya.
"Hah. Terserah kau sajalah." Michael menyerah.
"Hei, kalian." Terdengar teriakan Alan.
Michael berlari ke halaman untuk melihat Alan. Dia sedang memanggul seseorang di pundaknya.
"Siapa yang kau bawa?" tanya Michael setelah Alan menjejak tanah.
"Ini Niken." Alan mendudukkan Niken yang terlihat pingsan, di atas bangku.
"Kenapa dia?" Widuri sudah berada di situ.
"Sebelumnya dia sudah diselamatkan Dean. Saat ditinggal untuk memeriksa dokter Chandra, dia kabur ke dalam hutan. Aku segera mencarinya karena mengira dia ditangkap makhluk dari kubah cahaya." Alan mengambil secangkir air dari tempayan.
"Lalu bagaimana dia bisa pingsan? tanya Michael.
"Saat ku pegang tangannya, dia menggigitku. Lihat bekasnya. Apa dia shio anjing? Gigitannya sampai membuat luka begini."
Alan menunjukkan lengannya yang memang tercetak bekas gigi yang mulai terlihat sedikit membengkak dan bernoda darah.
"Lalu kau memukulnya hingga pingsan. Benarkan?" Tuduh Nastiti.
"Itu gerakan refleks.. Aku tak sengaja." Alan membela diri.
"Kalian uruslah. Aku harus membantu Dean. Dia tadi bersama dokter Chandra." Kata Alan ingin segera pergi.
"Aku sudah di sini." Dokter Chandra keluar dari kamar mandi. Wajahnya mulai terlihat segar.
"Ah, berarti Dean sudah mengantar anda lebih dulu. Lalu dimana dia sekarang?" Tanya Alan.
"Dean kembali ke pantai itu. Untuk mencari yang lain, katanya." Jawab Michael.
"Baik, biar ku susul dia sekarang. Mudah-mudahan kita bisa menemukan yang lain secepatnya." Alan melayang menuju atas pepohonan sebelum melesat pergi menyusul Dean.
__ADS_1
Dokter Chandra ternganga melihat Alan yang bisa melayang dan terbang. 'Persis seperti Dean' pikirnya sambil termangu menatap ketinggian.
"Dokter, anda bisa beristirahat dulu. Kami akan menyiapkan makanan dan merawat Niken." Kata Nastiti.
Michael mengerti arti kerlingan mata Nastiti. Dia membawa dokter Chandra ke arah kamar.
"Aku sudah mencuci pakaianku. Itu harus dijemur dulu." Kata dokter Chandra.
"Biar saya bantu menjemurnya. Tubuh anda masih sangat lemah. Istirahatlah." Ujar Nastiti tegas.
Michael membimbing tangan dokter Chandra hati-hati melewati pelataran batu yang tak rata. Sampai di depan pintu kamar. Dokter Chandra kembali kagum melihat log kayu raksasa yang diubah menjadi kamar itu.
Saat dokter Chandra masuk kamar, dia menemukan meja nakas di depan pintu. Setelah itu, hanya ada dipan kayu besar yang tampaknya dijadikan tempat tidur bersama. Ada jendela di depan dan belakang dipan. Sirkulasi udara terasa lancar di ruangan.
'Siapa yang membangun pondok ini? Tak mungkin orang biasa mampu memotong log kayu raksasa dan mengukirnya menjadi beragam ruang fungsional,' batinnya.
"Anda bisa beristirahat disamping Sunil." Kata Michael tersenyum canggung.
Dokter Chandra melihat Sunil yang terbaring lurus di pojok dipan kayu besar itu. Mata ahlinya bisa membedakan orang tidur, pingsan atau koma. Dia menjadi waspada. Tak kan mudah lari dari mereka. 'Niken yang mencoba lari saja bisa tertangkap kembali dan dibuat pingsan,' pikirnya.
"Apakah jika aku tidur, maka aku akan berakhir seperti Sunil?" Tanya dokter Chandra tajam.
Mata Michael membesar, tak menyangka akan mendengar tuduhan sekejam itu.
"Tidak.. tidak. Apa yang anda katakan? Anda akan baik-baik saja. Tentang Sunil, nanti kami ceritakan setelah kondisi anda pulih. Kami tak ingin menambah beban pikiran anda dulu." Michael berusaha menjelaskan.
Terdengar ribut-ribut di luar. Michael melihat dari jendela.
"Ah, tabib sudah datang. Apa anda ingin diperiksa oleh tabib?" tanya Michael ragu.
"Aku baik-baik saja." Tolak dokter Chandra.
"Tapi mungkin Niken butuh bantuan." Sambungnya.
"Baiklah, akan saya sampaikan penjelasan anda ini. Sekarang istirahatlah." Michael berdiri dan keluar dari kamar.
"Cloudy, tolong kau jaga dokter Chandra ya. Beritau kami jika dia butuh sesuatu." Terdengar suara Michael di depan pintu kamar.
Dokter Chandra membelalakkan mata saat mendengar auman halus. dan seekor kucing besar melompat masuk kamar. Kucing itu memperhatikannya sejenak. Menggeram halus lalu duduk di lantai dengan kepala mendongak.
Dokter Chandra menahan nafas melihat seekor macan tutul abu-abu mengawasinya dengan lekat. Nyawanya serasa terbang lebih dulu melihat itu.
"Siapa mereka sebenarnya? Bagaimana mereka bisa terlihat seperti orang-orang yang ku kenal? Apakah pulau ini menyihir aku dan Niken hingga berpikir tentang orang-orang yang kami kenal?" gumam dokter Chandra gelisah.
"Aku harus tunggu Niken sadar, lalu melarikan diri bersamanya," Putus dokter Chandra akhirnya.
__ADS_1
*****