PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 21. Kita Berencana Tuhan Yang Menentukan


__ADS_3

Siang itu di shelter kedua, Dean menceritakan hal yang menimpa tim 3. Meminta semua orang untuk memberi pendapat atas hal itu. Apa yang sebaiknya dilakukan selanjutnya.


"Menurutku, lebih baik mereka tetap di sana. Bagaimanapun, ada dokter Chandra yang mengawasi dan Robert yang menjaga." Marianne angkat suara. "Suhu tubuh mereka sudah rendah, jika kita pindahkan ke sini kan harus melewati hutan penuh salju juga. Maka suhu tubuh mungkin akan makin turun. Ku rasa resikonya jadi lebih besar."


"Memangnya kenapa kalau suhunya makin turun?" tanya Dewi tak mengerti.


"Kemungkinan mengalami hipothermia parah yang bisa mengakibatkan kematian. Sekarang suhu mereka hanya rendah dan mereka tertidur seperti sedang hibernasi. Nafas dan detak jantung masih ada meski lemah. Mungkin Robert sudah berusaha keras menjaga shelter itu tetap hangat dengan menjaga perapian. Hingga dia sendiri makin melemah dan ikut mengantuk karena suhu udara yang terlalu dingin akibat hujan." Silvia menambahkan.


"Ya. Dan sekarang shelter sudah diperbaiki jadi lebih baik. Ruangan sudah dibuat lebih hangat. Dan dokter Chandra juga sudah sadar. Itu sudah lebih baik. Yang paling penting Dean sudah menyiapkan supply makanan di sana. Kita harus cukup makan berlemak agar tubuh bisa menghasilkan panas." Marianne mengangguk pada Dean.


"Jika seperti itu, besok kita bisa cek lagi ke sana dan bawakan makanan untuk mereka." Indra memberi usulan. Beberapa orang mengangguk setuju, lalu hening karena masing-masing sibuk dengan pikirannya.


"Apakah ada pendapat lain?" tanya Dean masih menunggu tanggapan. Dean masih berharap mereka semua bisa berkumpul di satu tempat untuk memudahkan pengawasan.


Brukk.


"Aduhh.. Sudah sampai, syukurlah. Aku tak sanggup lari lagi." Gilang terjatuh di depan pintu shelter dan tetap berbaring di salju sambil meringis dan terlihat sangat kesulitan. Semua yang sedang berkumpul jadi terkejut, menoleh ke pintu.


"Hah.. hah.." Liam menyusul menjatuhkan diri terlentang di salju dengan nafas terengah-engah. Dadanya naik turun dengan cepat. Matanya terpejam, karena sangat kelelahan. Dean dan Indra segera bangkit keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Tak jauh dari sana Leon menyusul dengan susah payah. Wajahnya pucat pasi, mulutnya komat-kamit. Dia jatuh jauh dari pintu. Tangannya menunjuk ke arah hutan. Leon sepertinya tak mampu berdiri lagi. Tubuhnya sedikit bergetar. Dean berlari ke arahnya. "Ada apa? Apa kalian dikejar sesuatu?"


Widuri menghampiri Leon membawa secangkir air hangat untuk menenangkannya. Dibantu dan dengan disangga Dean, Leon meminum air hangat yang disodorkan Widuri. Minuman itu habis dengan cepat. Leon memang sangat haus karena berlari begitu jauh. Dia mulai tenang sekarang. "Beruang. Kami.. dikejar.. beruang. Besar.. sekali," ujarnya masih dengan suara terputus-putus.


"Dimana?" Dean terkejut.


"Dekat jebakan ikan arah air terjun yang kau katakan kemarin." Liam yang menjawab. Ada Silvia di sebelah membantunya duduk untuk minum air hangat.


Leon mengangguk mengiyakan. Dia masih merasa lemas, dipapah Widuri masuk shelter untuk menghangatkan diri.


"Kami ke sana mengambil ikan untuk makan malam. Saat sedang berjalan untuk pulang, di belakang seperti ada langkah kaki berdebam dan suara raungan binatang. Kami berhenti, dan melihat, lalu lari pulang." Gilang menjelaskan.


"Ikannya dimana? tanya Nastiti heran, karena ketiga pria itu tidak membawa apapun di tangannya.


Gilang dan Liam berpandangan, bingung. Lalu berteriak pada Leon yang berada di dalam: "Leon, ikan-ikannya dimana?"

__ADS_1


"Entah. Aku tak ingat dimana menjatuhkannya. Jangan tanya lagi." Leon bersungut-sungut. 'Sudah bagus bisa lari dan menyelamatkan diri, kenapa masih meributkan ikan? Apa tidak sayang nyawa?' batinnya.


"Apa beruangnya mengejar kalian ke sini?" tanya Indra memastikan.


"Tidak tau. Kami hanya terus lari. Tidak berani lihat ke belakang lagi." jawab Liam.


Dean mengangguk. "Mungkin beruang itu berhenti mengejar setelah mendapatkan ikan yang kalian bawa."


"Ya sudah, ayo masuk dan menghangatkan diri dulu di dalam. Pikirkan ikannya nanti saja," ajak Marianne lembut menenangkan semua orang.


"Indra, temani aku memeriksa jebakan ikan yang lain. Kita tak punya supply untuk makan malam ini." Dean berjalan keluar diikuti Indra.


"Aku ikut," Toni menyusul sambil membawa tombak kayu. Dean dan Indra mengangguk setuju.


Bertiga mereka berjalan beriringan. Kali ini lebih waspada pada sekitarnya. Hutan ini tak cuma dihuni kelinci dan serigala. Ternyata ada juga beruang besar. Dean melihat tombak kayu dalam genggamannya. 'Apa senjata ini cukup untuk menghalau dan mengalahkan beruang?' pikirnya.


"Luka bekas gigitan serigala di lenganmu bagaimana In?" tanya Dean pada Indra.


"Sudah mulai mengering. Sudah tidak apa-apa," jawab Indra menunjukkan lengannya yang masih dibalut kain.


"Bagus," ujar Dean.


"Ya, lebih baik seperti itu. Terlalu banyak kejutan hari ini." sambung Indra.


"Kita berencana, Tuhan yang menentukan," Toni ikutan nimbrung. Indra setuju dengan itu. Jempolnya diarahkan pada Toni sambil tersenyum.


"Yang paling penting dalam situasi kita seperti ini adalah tetap mempertahankan rasa optimis. Tetap berjuang. Jika berputus asa, maka habislah. Dengan sikap optimis dan positif, maka tidak ada kesempatan untuk trauma pasca kecelakaan masuk mengganggu jiwa." Indra terkekeh sambil berjalan. "Aku bukan ahli jiwa, jadi seperti itulah pemikiran sederhanaku."


"Yah.. kita semua punya cara pertahanan dalam diri sendiri yang secara naluriah keluar saat dibutuhkan." Dean tersenyum.


"Itu namanya insting bertahan hidup," Toni menimpali. Dean dan Indra mengiyakan.


***


Sore hari, Laras dan Niken akhirnya bangun. Tubuh mereka masih lemah. Dokter Chandra merawat mereka. Robert membuat jebakan lain tak jauh dari shelter. Dia kembali dengan darah di tangannya. Dokter Chandra terkejut.

__ADS_1


"Apa kau bertemu serigala?" Tanyanya cemas.


"Ya. Dia melukaiku sedikit," jawab Robert.


"Sini ku periksa." Dokter Chandra menggulung lengan baju Robert. Dia terkejut.


"Ini bukan sedikit. Ini sobek. Binatang itu menggigit dan menarikmu kan?" Dokter Chandra menyimpulkan.


Dokter Chandra menuangkan air panas pada sedikit kain perban untuk memudahkan membersihkan noda darah. Mereka tidak punya obat luka, jadi hanya bisa membersihkan luka untuk menghindari infeksi. Lalu membalutnya dengan rapat agar luka sobek itu bisa menutup kembali.


"Selesai. Jangan kena air dulu sebelum lukanya kering," saran dokter Chandra.


"Maaf, kami menyusahkanmu," kata Laras pelan. Robert menoleh. "Ah, kau sudah bangun rupanya." suaranya terdengar senang.


"Ya, Niken juga sudah bangun. Tapi dokter bilang, kami harus istirahat dan menghangatkan tubuh dulu." jelas Laras.


"Bagus. Istirahatlah." Robert tersenyum, lalu berdiri dan keluar.


"Mau kemana lagi?" tanya dokter Chandra mengikuti dari belakang. Robert menunjuk pada tubuh serigala tak jauh dari pintu.


"Itu belum ku bersihkan. Jadi lebih baik diselesaikan sebelum hari gelap." Kata Robert sembari meraih tubuh serigala dan berjalan menjauh dari shelter.


"Jangan jauh-jauh." Dokter Chandra tetap mengikuti dari belakang bermaksud membantu. Dia tau, tangan Robert terluka, jadi pasti nyeri saat digerakkan. Bagaimana dia tidak ingin membantu? Sementara Robert bahkan bertaruh nyawa agar mereka bisa makan. Sementara Alex dan Michael belum sadar, jadi hanya dia yang bisa membantu meringankan tugas Robert.


Robert berhenti tak jauh dari shelter lalu meletakkan tubuh serigala itu di salju. Dia menggali tumpukan salju cukup dalam sebagai tempatnya membersihkan serigala itu. Dia mulai menguliti binatang itu. Terlihat sangat mahir. Pekerjaan itu dibuatnya ringkas saja. Bagian kepala serta kaki dipotong dan dibuang. Yang tersisa hanya bagian tubuh hingga paha.


"Sini ku bantu," kata dokter Chandra saat melihat Robert akan membuka perut serigala itu. Dia mengambil pisau yang diserahkan Robert dan mulai membelahnya. Semua bagian perut dibuang kecuali hati dan jantung. Lalu isi perut beserta kepala dan kaki serigala itu kembali ditimbun dengan salju yang dipadatkan untuk menghindari tercium binatang buas.


Robert sedang membersihkan daging dan kulit serigala dengan menggosokkan salju berulang kali sampai bersih. Mereka kembali ke shelter dan menemukan Michael juga ternyata sudah sadar.


Laras dan Niken sudah bisa duduk. Kini tinggal Alex dan Lena yang belum sadar. Laras mengikuti cara yang diajarkan dokter Chandra untuk merangsang saraf keduanya, tapi masih belum membuahkan hasil.


"Bagaimana dengan mereka?" tanya dokter Chandra. Laras menggeleng. Dokter Chandra mendekati Alex, menempelkan telinganya ke dada Alex. 'Detak jantungnya lemah dan ritmenya lambat' batinnya. Diulangnya pemeriksaan itu pada Lena, hasilnya sama.


"Masih seperti tadi. Kita hanya bisa menunggu. Detak jantung mereka lemah dan lambat. Benar-benar seperti sedang hibernasi." Dokter Chandra menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Malam itu terasa lebih sunyi. Robert tidur lebih dulu. Laras, Niken dan Michael yang baru terbangun belum bisa tidur lagi. Suara lolongan serigala sudah seperti nyanyian pengantar tidur. Mereka mulai terbiasa dengan itu.


***


__ADS_2