PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 82. Jalur Neraka


__ADS_3

"Kalian sudah selesai?" tanya Sunil saat melihat Dean dan Alan kembali.


Dean mengangguk dan melangkah hati-hati menuju pintu keluar lorong itu. Ada tumbuhan semak dan merambat yang nyaris menutupi mulut gua itu. Keadaan di luar jadi tidak tampak jelas.


Alan dan Sunil menyingkirkan bebatuan yang berserakan ke arah dinding. Itu untuk mengantisipasi bahaya terpeleset atau tersandung bebatuan.


Dean menyibak pelan daun-daun rambat yang bergantungan di depannya. Sinar matahari yang menyilaukan langsung menerpa matanya. Tempat yang buram itu jadi terang seketika.


Dean melihat yang terpampang di depan, dengan kening mengerut. Alan dan Sunil ikut menyibak dedaunan rambat ketika melihat Dean tertegun. Mereka pun ikut tertegun melihat apa yang tampak di luar pintu gua itu.


Lama ketiganya terpaku. Yang ada di depan sana benar-benar di luar dugaan dan jauh dari harapan. Dengan lesu mereka duduk di bebatuan dan bersandar pada dinding gua.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Sunil angkat bicara.


"Kita harus diskusikan hal ini dengan Widuri, Nastiti dan Dewi."


"Ahhh.. dunia di bawah itu jauh dari harapan. Itu jalur neraka." Alan kecewa sambil meremas rambutnya yang mulai gondrong.


"Pasti akan sangat berat jika kita tinggal di situ." Dean menyimpulkan.


"Mari kita kembali dulu, diskusi untuk menemukan jalan terbaik," bujuk Sunil lembut.


Mereka berjalan masuk. Dean kembali menutup pintu lorong dengan batu agar tak ada binatang atau hal-hal yang tak diinginkan masuk ke dalam gua mereka.


Dean mengajak Alan dan Sunil mengambil persediaan batu bara untuk menghangatkan pondok, karena hujan sudah makin sering turun. Udara terasa makin dingin. Setelah itu mereka kembali ke pondok.


Dewi yang melihat ketiganya kembali sambil membawa batu bara, merasa heran.


"Bukankah kalian tadi ingin membuka pintu lorong itu?" tanya Dewi.


Alan menjawab dengan anggukan tak bersemangat. Ketiga pria itu memasukkan batu bara ke dalam pondok dan menyusunnya dekat perapian untuk digunakan nanti malam.


"Dimana Widuri dan Nastiti?" tanya Dean setelah mereka membersihkan tangan yang kotor. Ketiga pria itu mengambil duduk di bangku mengelilingi meja di keteduhan teras yang beratap ranting dan ilalang.


"Mereka bilang mau memeriksa tanaman jagung liar."


Dewi mengisi cangkir teman-temannya dengan sari buah apel yang tadi baru diperasnya. Ditambahi kucuran air lemon, minuman itu jadi terasa makin segar di hari yang panas.


"Bisakah kalian berdua bantu Widuri dan Nastiti agar cepat selesai?" tanya Dean pada Alan dan Sunil.


"Baiklah. Ayo Sunil."


Alan menghabiskan minumannya lalu bangkit dan menghilang di balik rimbunan kebun sayur. Sunil mengikuti dengan patuh dari belakang.


Dean juga segera pergi ke arah lain dan meninggalkan Dewi terbengong sendiri dengan kepala penuh pertanyaan.


*


Menjelang sore, semuanya sudah berkumpul di pondok. Para wanita masih sibuk dengan pekerjaan membersihkan sayur dan lainnya untuk persiapan makan malam.


Alan sedang memutar-mutar panggangan ayam di perapian batu di depan mereka. Sunil masih belum selesai mengangkat kayu-kayu bakar yang dipotongnya. Kayu-kayu itu disusun rapi di dapur. Para wanita lebih suka memasak dengan api kayu ketimbang batu bara.


Dean sedang mengerjakan sesuatu di depan teras. Dia terlihat asik sendiri dan tak hirau obrolan teman-temannya. Lalu dia berdiri dan menilai pekerjaannya sendiri. Dean tampak puas. Lalu masuk pondok dan menyalakan perapian yang berfungsi sebagai penghangat ruangan. Diletakkannya apa yang dikerjakannya tadi di dekat batu-batu bara yang baru mulai menyala, lalu meninggalkannya.


"Aku mandi dulu," teriaknya saat menghilang menuju belakang pondok, tempat kamar mandi berada.


"Jadi bagaimana dengan pintu lorong itu?" tanya Widuri sambil makan sepotong paha ayam panggang yang dilumuri mentega dan keju.

__ADS_1


Alan dan Sunil menoleh pada Dean mempersilahkannya menjawab.


"Dunia di balik gua itu benar-benar di luar dugaan. Itu tempat yang sangat berat untuk ditinggali." Dean memberi petunjuk.


Dewi dan Nastiti saling memandang. Sementara Widuri memejamkan mata sambil berpikir.


"Apa di sana hutan belukar yang sangat lebat?" Nastiti menebak dengan cepat.


Alan menggeleng sambil terus makan.


"Laut?" sambung Dewi.


"Gunung salju lagi?" sambar Nastiti.


Alan dan Sunil kembali menggeleng dengan pandangan tak bergairah. Widuri memperhatikan hal itu.


"Apakah gurun pasir?" tanya Widuri hati-hati.


Nastiti dan Dewi terkejut dengan tebakan Widuri.


'Jangan sampai deh melewati gurun pasir' pikir Dewi putus asa.


"Gurun, tapi bukan gurun pasir juga sih," jawab Dean tersenyum.


"Hah!?"


"Gurun?!"


Ketiga wanita itu langsung berhenti mengunyah makanan dengan mata terbelalak dan mulut terbuka.


"Jangan kelamaan buka mulut begitu, nanti kemasukan nyamuk hloo," ledek Alan melihat ekspresi terkejut ketiganya.


"Lebih baik kalian ikut melihat ke sana besok. Baru kita diskusikan lagi kelanjutan perencanaan perjalanan kita," saran Dean.


"Ahhh.. tapi jujur saja nih. Aku benar-benar sudah kehilangan semangat untuk pergi," Dewi mengeluh dengan wajah kusut.


"Tapi kita juga tak bisa terus di sini. Kabut asap terus bergerak mendekati tempat ini." Widuri mengingatkan.


"Ya ampuunn.. Tak adakah pilihan lain selain pergi ke gurun atau tetap tinggal?" Nastiti terlihat gregetan.


"Ada," jawab Dean tenang.


"Ada? Pilihan apa lagi?" tanya Nastiti dengan mata imut penuh harap.


"Ada 3 pilihan sekarang. Tetap tinggal, turun menuju gurun di luar gua sana, atau menerobos kabut hitam di sekeliling kita."


Dean tetap tenang saat mengatakan pilihan-pilihan musykil itu.


"Hahahh.." Alis Nastiti terangkat, menatap Dean dengan wajah tak berdaya.


Widuri memiringkan kepalanya sedikit. Memikirkan semua diskusi itu.


"Kita mencari jalan lain untuk meninggalkan tempat ini, kan karena menghindari kabut hitam. Jadi pilihan kita untuk melanjutkan perjalanan hanya lewat gurun itu." gumam Widuri.


"Ya Tuhaann.. Bisa hitam dong gua tinggal di gurun," keluh Dewi.


Sunil dan Alan menatapnya aneh lalu menggelengkan kepala dengan takjub. Ternyata yang dikhawatirkan Dewi adalah suhu panas yang bisa menggosongkan kulit. Benar-benar diluar perkiraan.

__ADS_1


"Air. Apakah kalian ada melihat sungai atau mata air di sana?" Widuri masih fokus dengan hal itu.


Dean menggeleng.


"Mungkin kita perlu menjelajahi dulu baru bisa menemukan air."


"Berarti kita harus bersiap membawa cukup banyak persediaan air untuk bekal. Tapi itu hanya akan memenuhi tempat penyimpananmu.


"Domba-dombaku bagaimana?" Dewi mulai tampak sedih lagi.


"Kita lanjutkan tentang itu setelah kalian melihat sendiri besok," putus Dean.


"Sekarang aku mau beritau bahwa setelah membuka pintu lorong itu, kami menemukan kerangka dua pelindung yang tewas di balik pintu."


"Apa?!" Ketiga wanita itu terkejut.


Dean menatap Alan mendorongnya untuk mengatakan apa yang dipikirkannya.


Alan menatap Dean ragu. Karena sejujurnya dia bahkan sudah melupakan keinginannya tadi. Tapi jika Dean memberi waktu untuk bicara, Alan jadi berfikir, mungkin saja ada hal baik lain dibalik itu.


Setelah menimbang cukup lama, akhirnya Alan mengatakan hal yang dia bicarakan dengan Dean di ruang gua tadi pagi.


"Apa??" Widuri, Sunil, Nastiti dan Dewi benar-benar terkejut mendengarnya.


"Kau gila!" Dewi membelalakkan matanya.


"Tapi Dean, apa kau tau cara memancing roh pelindung itu keluar dan menempel pada Alan?" Widuri sangat penasaran.


"Tinggal teteskan darah Alan ke kening jasad itu." Dean menjawab ringan, seakan itu adalah yang sangat biasa.


"Berarti dulu darah Dean menetes ke jasad A yang ada di atas bak batu di ruangan itu, makanya roh A memasuki tubuh Dean?" Dewi menyimpulkan.


"Ya, saat itu tangan Dean sedang terluka. Pasti ada setetes darah yang jatuh ke jasad A." Sunil mulai ingat kejadian itu.


Semua temannya mulai mengangguk mengerti.


"Apa keuntungan dan kerugian jika Alan dimasuki roh pelindung?" tanya Nastiti.


"Keuntungannya, semua kekuatan dan keahlian pelindung bisa digunakan Alan untuk mempermudah perjalanan kita."


"Tapi ada kerugiannya juga. Pelindung adalah orang yang kuat bahkan lebih kuat dariku. Jika kekuatan jiwa Alan tak bisa mengimbangi keberadaan mereka, bisa jadi merekalah yang akan menguasai tubuh Alan. Resikonya, Alan mungkin akan tertidur selamanya."


Uraian Dean membuat mereka terhenyak. Tak menyangka akan seberbahaya itu. Alan mungkin tidak mati, tapi dia tak bisa menjadi dirinya sendiri lagi setelah proses itu dilakukan. Ini proses yang beresiko tinggi.


"Tapi kenapa A tidak seperti itu?" tanya Dewi.


"Aku menyadari, bahwa aku sudah mati dan menumpang tinggal di tubuh Dean. Meski aku bisa menguasainya, tapi entah kenapa aku tak ingin melakukannya. Jadi kutransfer ingatanku, kekuatan dan kemampuanku pada Dean. Itu membuatku jauh lebih santai dan kalian tidak lagi bingung membedakan aku dan Dean." kali ini A yang menjawab. Matanya tampak bersinar keemasan dalam gelapnya malam.


"Tapi para pelindung itu belum tentu berpikiran sama. Itu maksudmu bukan?" Widuri memastikan.


Dean mengangguk lalu menyesap minumannya.


"Meskipun kita butuh kekuatan dan kemampuan mereka untuk mempermudah perjalanan kita, namun resikonya yang besar harus benar-benar dipikirkan dengan serius."


Dean menatap Sunil dan Alan.


"Semua terserah kalian. Tak ada yang memaksa," Dean menepuk pundak Alan dan Sunil.

__ADS_1


Malam itu kegalauan memenuhi kepala semua anggota tim Dean. Mau mencari jalan pulang, tapi medan berat adalah satu-satunya jalan yang tersedia, sementara keahlian sangat kurang.


***


__ADS_2