PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 130. Rencana Perjalanan (revisi)


__ADS_3

"Angel, kami sudah memutuskan untuk melanjutkan perjalanan." Robert mulai serius.


"Kapan? Kenapa mendadak begini?" Tanya Angel kaget.


"Kami sudah terlalu lama di sini. Lagipula kau sudah ada yang menjaga. Kami merasa lega." Dokter Chandra menambahkan.


"Setelah kalian pergi, maka kita tak kan bisa bertemu lagi." Angel menunduk sedih.


"Hei, coba tanya Glenn, apakah di negara ini ada orang yang bisa melukis kita semua? Itu bisa jadi pengobat rindumu." Niken mendapatkan ide cemerlang.


"Kau benar. Itu ide yang bagus sekali. Nanti ku tanyakan." Angel kembali tersenyum.


"Jadi kami ingin bicara dengan Glenn lebih dulu." Robert kembali pada topik utama.


"Nanti ku sampaikan saat dia kembali." Angguk Angel.


"Tapi, bukankah kalian belun memiliki sisa pecahan cermin teleportasi yang lain?" Tanyanya lagi.


"Kami berencana mengikuti petunjuk tetua klan penyihir saja. Mencari dinding cahaya di tengah laut di negara klan kurcaci biru." Jawab Robert.


"Ahh, bagaimana jika keadaan dibalik dinding cahaya itu ternyata berbahaya? Apa tak bisa kalian tinggal di sini saja?" Bujuk Angel.


"Yah.. memang tak ada yang mengetahui apa yang ada dibalik itu. Tapi tak ada pilihan jalan lain lagi. Jadi kami mengandalkan keberuntungan saja." Jelas Laras.


"Yups, sama seperti ketika kita melintasi dinding cahaya di hutan salju untuk menghindari kejaran serigala." Sambung Liam.


"Siapa sangka ternyata tiba di padang bunga dan pantai yang indah. Benarkan?" Silvia terlihat optimis.


"Juga, ketika kita memutuskan untuk melintasi kolam mata air hangat dan tiba di hutan sihir. Modal nekat. Hahahaa.."


Indra tertawa mengingat mereka yang selalu tersihir hingga tertidur pulas di hutan itu.


"Kalau kita tak nekat memasukinya, maka kau tak kan bertemu dengan suamimu itu." Niken menggoda Angel.


"Yah, kalian benar. Jika kita tak nekat untuk terus mencari jalan, maka kita hanya akan berada di hutan salju dan makan daging kelinci." Angel tersenyum mengingat pengalaman yang telah dilaluinya.


"Baiklah. Aku mendukung kalian. Hanya dengan terus berusaha, baru kita akan menemukan titik terang." Angel mengangguk mengerti.


"Sebentar, aku ingin mengatakan sesuatu," kata Gilang.


"Katakanlah," sambut Angel.


Semua mata memandang ke arah Gilang. Menunggu apa yang ingin dikatakannya.


Gilang meragu sejenak. Dia menghela nafas panjang sebelum bicara.


"Robert, bisakah aku tetap tinggal di sini? Tapi tentu itu hanya bisa jika Glenn bersedia memberiku pekerjaan untuk bertahan hidup." Gilang bicara sambil menunduk.


"Hah??!!" Semua temannya terkejut.


"Apa maksudmu dengan tinggal?" tanya Robert. Yang lain juga menunggu penjelasan Gilang.


"Yeahh. Sebenarnya aku sudah ingin tinggal di pantai itu. Itu tempat yang bagus. Tapi karena ada bajak laut dan kalian memutuskan pergi, masa aku harus tinggal sendiri? Itu gak asik sama sekali. Jadi aku ikut pergi juga." Gilang menghela nafas lagi.


Semua orang masih belum merasa puas dengan penjelasan itu. Masih memintanya menuntaskan cerita.

__ADS_1


"Yah, di sini ada banyak orang baik. Aku senang di sini. Nyaman. Asalkan ada pekerjaan dan bisa hidup mandiri, itu sudah cukup. Aku ingin mencoba peruntunganku di sini. Anggap saja seperti sedang merantau," jelas Gilang.


"Kau yakin? Kau tidak rindu keluargamu?" tanya Laras.


"Aku yatim piatu. Dan sebatang kara. Pun tak punya kekasih di Indonesia." Mata Gilang menerawang.


Dokter Chandra mengangguk bijak.


"Kau bisa pikirkan lagi hingga tiba saat kami pergi. Kami tak berhak melarang keputusanmu." Ditepuk-tepuknya bahu Gilang memberi semangat.


"Tapi kau harus ingat Gilang. Merantau di sini tak memungkinkanmu untuk mudik," canda Indra.


"Tentu saja aku tau." Gilang tersenyum.


"Kalau begitu, kami mendukungmu," ujar Leon tersenyum lebar.


Anggota tim itu berpelukan dan larut dalam suasana haru.


"Kau lagi apa?" tanya Silvia pada Niken.


"Kalian coba duduk dan cari posisi. Biar ku buatkan sketsa dulu."


Niken sedang memilih-milih kertas dan pena yang cocok untuk membuat sketsa kebersamaan mereka di taman.


"Lalu posisimu sendiri dimana? Masa kau justru tak ikut?" tanya Angel heran.


"Kalian cari posisi dulu, nanti aku akan menentukan posisiku diantara kalian." Jelas Niken.


Akhirnya mereka setuju untuk berpose agar Niken bisa membuat sketsa. Jika Niken merasa bisa membuat gambar itu, maka itu pasti bisa. Mereka tak butuh pelukis lain. Hasil goresan tangan Niken selalu bagus dan terlihat nyata sekalipun hanya berwarna hitam putih.


*****


Sudah 2 hari Dean mengintai kubah cahaya di tengah hutan itu. Kadang ditemani Alan, kadang dengan Sunil. Tapi belum ada hasil apapun. Mereka bahkan tidak melihat makhluk aneh yang waktu itu menerobos masuk ke dalam kubah cahaya.


"Sudah 2 hari dan tak ada apa-apa di sini. Makhluk itu juga tak terlihat lagi. Mungkin dia sudah mati karena masuk ke sarang monster." Kata Sunil. Dia bosan melakukan hal yang menurutnya tidak berguna ini.


Dean bukannya tak memikirkan kemungkinan itu. Tapi dia masih belum bisa rela jika Bi hilang tanpa kabar. Jika dia tewas, maka harus bisa melihat kerangkanya. Jika masih hidup, harus tau kenapa dia tak kunjung kembali ke sisi suami dan anaknya.


"Hari sudah sore. Ayo kita kembali. Besok kita intai lagi." Ajak Sunil.


"Baiklah. Ayo." Dean mengangguk. Mereka terbang menuju pondok.


"Ah, kalian sudah kembali." Michael menyapa dari depan pintu kamar mandi.


"Kenapa? Apakah air kamar mandi habis? Biar ku isi." Dean ingin berbalik namun dicegah Michael.


"Bukan. Aku hanya menyapa kalian saja. Tadi Alan sudah mengisi air kamar mandi kok," jawab Michael.


"Hei, kalian yang baru kembali. Pergi mandi sana. Langit sudah gelap. Kami akan segera membereskan meja."


Kata-kata Nastiti terdengar seperti perintah yang tak boleh ditolak. Dean dan Sunil saling lirik.


"Kau pergi mandilah. Aku akan mandi di bawah tebing. Sekalian mengumpulkan ikan-ikan untuk lauk malam ini," kata Dean.


"Kau terlambat. Aku sudah membawanya." Alan muncul sambil membawa tempayan berisi ikan-ikan segar dan sudah dibersihkan.

__ADS_1


"Begitu dong. Kau yang paling perhatian dengan kami."


Widuri mengambil ikan-ikan dan langsung membumbuinya. Dia mengabaikan Dean sama sekali. Widuri jengkel karena sejak diijinkan memeriksa kubah cahaya, Dean jadi melupakan keperluan tim mereka. Pikirannya hanya tertuju pada kubah. Dia berangkat pagi setelah sarapan dan kembali setelah hari hampir gelap.


Dean masih tidak menyadari keanehan sikap Widuri. Jadi dia santai saja.


"Ya sudah. Kau pergi mandi sana. Aku akan mandi di tebing saja." Kata Dean pada Sunil.


Sunil segera pergi. Dia tak ingin menambah ketegangan suasana. Dia bisa tau bahwa Widuri bersikap dingin. Jadi lebih baik tak cari masalah agar tak ada yang perlu meledak.


'Semoga kali ini Dean bisa lebih peka,' batin Sunil.


*


*


"Alan, Sunil. Besok kalian temani kami ke pasar untuk menjual selai blueberry. Kita juga butuh beberapa hal lain di pasar." Kata Nastiti.


"Besok Alan harus menemaniku mengintai kubah itu," cegah Dean.


Suasana makan malam itu seketika jadi hening. Widuri menunduk, tapi tangannya berhenti menyendok makanan di piring. Alan bahkan bisa melihat bahwa kedua tangan itu sedikit bergetar. Tampaknya Widuri sedang menahan emosi.


'Bakal ada perang dunia nih' pikir Sunil.


'Semoga Dean gak gila menantang ucapan Nastiti', Michael berdoa dalan hatinya.


"Ya kan Alan? Tadi sudah giliran Sunil. Besok kau lagi yang harus..."


Brakkk!


Semua terkejut mendengar meja digebrak. Widuri berdiri dari duduknya dengan wajah merah. Matanya melotot ke arah Dean.


'Ah, A benar-benar cari masalah.' batin Sunil. Ditendangnya kaki Alan di bawah meja sambil mengirim transmisi suara.


"Kau harus memihak Widuri dan Nastiti. Cepat." Kata Sunil ke dalam pikiran Alan.


"Tidak Dean, besok aku akan menemani para wanita ke pasar. Harusnya selai-selai itu dijual tadi pagi. Tapi kau dan Sunil sudah berangkat pagi sekali." Alan mencoba menjelaskan situasi mereka pada Dean. Berharap Dean tak melupakan tugasnya sebagai anggota tim.


"A, jangan cari gara-gara lagi. Cukup! Besok harus ke pasar. Kau sudah 2 hari mengabaikan tugas sebagai anggota tim. Kau salah, jadi jangan membantah." Alan mengirim pesan transmisi pada Dean.


Seketika Dean terdiam. Mulutnya yang tadi sudah siap untuk membantah, seketika kembali terkatup rapat. Dean menunduk.


"Baiklah. Besok aku akan ikut ke pasar." Dean mengalah.


"Tidak. Kau di sini saja dan bangun atap untuk area tengah ini. Kami tak mau jadi kerupuk garing yang dijemur di siang hari."


Widuri berucap dengan lambat. Kentara sedang berusaha mengendalikan diri.


"Baiklah. Maafkan sikapku yang keterlaluan," ucap Dean tulus. Dia juga mulai menyadari kesalahannya kini.


Widuri tak menjawab sepatah katapun. Dia kembali duduk dan melanjutkan makannya tanpa menoleh kanan kiri.


Hati Dean terluka melihat Widuri mengabaikannya. Tapi ini memang salahnya. Lebih tepatnya, salah A yang menguasainya hingga mengabaikan Widuri dan anggota tim lain.


*****

__ADS_1


__ADS_2