
Siang itu mereka mendiskusikan rencana selanjutnya. Secara bulat diputuskan akan melanjutkan perjalanan melewati lorong pohon mapel di kolam air hangat setelah semua persiapan selesai.
Pertama, mereka harus punya kuda masing-masing. Lalu Harus berlatih memanah dan menunggang kuda dengan baik. Itu penting agar perjalanan lancar dan keamanan terjaga.
Berikutnya mempersiapkan logistik yang memadai dan menyimpan benih tanaman penting. Karena berdasarkan pengalaman, tempat baru yang mereka tuju masih belum dikenal dan belum tau cara mendapatkan sumber makanan untuk semua anggota tim.
Selanjutnya, mereka akan mengumpulkan mutiara yang mungkin nanti bisa digunakan sebagai alat pembayaran jika mereka menemukan desa.
Mereka harus membuat garam lebih banyak untuk stok, dan juga ikan serta daging rusa asap. Robert akan mengambil tanaman Oat lagi untuk tambahan logistik nanti. Juga rencana membuat sabun cuci dari minyak kelapa.
Seperti itulah hari- hari dilalui. Tanpa terasa 2 purnama berlalu. Malam itu langit kelabu, seakan isyarat bahwa akan turun hujan lebat. Bayangan bulan sabit diantara gumpalan awan tak mampu memberi cukup cahaya di langit.
Kuda-kuda diikat dengan kuat di dalam kandang agar tidak berlarian jika panik mendengar gelegar petir. Stok rumput dan wadah minum disiapkan dalam kandang. Gilang menggantungkan lilin penerang dari gerabah di bagian pojok kandang kuda. Cahaya kuning temaram yang hangat, menenteramkan kuda mereka.
Anggota tim lain sibuk menyingkirkan jemuran agar tidak kebasahan. Ikan-ikan asin yang belum kering benar juga dipindahkan ke dapur. Termasuk meja besar yang biasa ada di tengah halaman, kini dipindahkan ke dapur.
Mereka berkumpul di dapur yang hangat dengan perapian yang dibiarkan tetap menyala. Hujan rintik-rintik mulai turun. Mereka harus puas untuk makan di dapur diterangi lilin. Sesekali petir menggelegar.
"Ahh, ada yang kita lupa. Ikan. Kira lupa membuat tutup kolam ikan. Jika hujan deras, air kolam akan luber." Dokter Chandra menepuk keningnya.
Robert segera berlari sambil menyambar keranjang. Indra menyusulnya membawa keranjang lain. Berdua mereka berjibaku menciduk ikan-ikan dengan keranjang willow di bawah guyuran hujan yang mulai menderas.
"Sudahlah, segini cukup. Kita bawa keranjang kerang dan kepiting ini bersama."
Robert menghentikan usaha yang hasilnya tak seberapa itu. Akhirnya Indra membantu Robert membawa keranjang kepiting yang biasa disimpan dalam kolam. Mereka membawa keranjang lain berisi ikan-ikan yang berhasil ditangkap barusan.
Liam dengan gesit menyiapkan tempayan gerabah besar untuk menampung ikan-ikan dan keranjang kepiting. Robert dan Indra masih bolak-balik mengambil air untuk mengisi tempayan agar ikan tetap hidup.
"Kalian ganti baju dulu baru makan," perintah dokter Chandra.
Indra dan Robert berjalan melintasi teras pondok wanita menuju ke pondok pria untuk berganti pakaian kering.
"Niken, bisa kalian buatkan teh jahe hangat malam ini?" tanya dokter Chandra.
"Baik dok. Kami buatkan teh echinacea dan jahe plus madu untuk mengusir flu dan masuk angin,"
Silvia menjawab dan dengan cepat memilih bunga dan daun yang dimaksudnya untuk direbus dalam teko air bersama jahe iris dan tambahan madu.
Sementara Silvia menyiapkan teh herbal, Laras, Niken dan Angel sudah menghidangkan makanan di meja.
__ADS_1
Semua berkumpul dan makan dengan lahap. Derasnya hujan dan bunyi petir tak mengurangi kegembiraan mereka yang memberi kehangatan. Mereka sudah seperti keluarga kini.
"Jadi bagaimana? Apa kita mundurkan rencana perjalanan kita?" tanya Laras.
"Malam ini hujan sangat deras. Jalanan pasti sangat becek dan licin. Lagi pula tinggi air sungai mungkin naik yang membuat kita sulit menyeberang," Robert mengomentary.
"Iya. Kita tunggu sampai sungai dan jalanan aman. Arah ke sana lumayan berbatu juga kan." Leon menimpali.
"Baiklah. Kita tunggu dua atau 3 hari ini. Makin bagus cuasa, makin cepat kita berangkat." Dokter Chandra memutuskan.
"Yang penting, hal-hal yang perlu dibawa, disiapkan saja dulu," tambah Robert.
"Baik. Kami mengikuti saja. Semua yang perlu, sudah disiapkan. Jadi tak perlu mencari kepiting dan kerang lagi di pantai." Laras menjawab.
"Iya. Sabun cuci sudah ada. Ikan dan daging rusa asap cukup. Ikan, cumi dan kerang asin juga sudah dipacking." Niken bersuara.
"Herbal, bunga, daun dan akar dan bibit yang kau sebutkan sudah dikeringkan untuk persediaan teh herbal kita." Silvia menambahkan.
"Madu dan lilin sangat cukup," Leon ikut laporan.
"Bagus. Kita tinggal jalan kalau begitu." Gilang mengacungkan jempolnya dan tersenyum.
"Hemm... perjalanan berkuda mungkin akan sedikit terguncang. Apakah tidak bahaya?" Indra khawatir.
"Persoalan memindahkan sarang lebah madu ini bukan hanya tentang guncangan di jalan, tapi juga tentang sumber makanan mereka. Jika kita tidak menemukan ladang bunga lagi, maka mereka akan kelaparan. Bahkan mungkin kitalah yang harus menyediakan air madu untuk satu kandang itu." Robert berpikir keras.
"Bukahkah kita membawa banyak bibit bunga? Kita hanya perlu memberi makan sampai bunga-bunga yang kita tanam, tumbuh dan mekar." Angel mengutarakan pendapatnya
"Itu belum bisa ku putuskan sekarang. Tapi akan diusahakan untuk membawa satu dari 3 sarang lebah yang kita buat, jika memungkinkan." Robert menghentikan diskusi tentang lebah.
"Baiklah," Angel mengangguk.
Mereka memilih beristirahat lebih cepat karena sapuan udara dingin berisi titik-titik air membuat tubuh menggigil.
*
Pagi hari langit biru jernih dengan gumpalan awan berarak membiru dipadu rona kuning matahari pagi di ufuk sana. Indah dan nyaman, itulah kata yang tepat untuk mendiskripsikan lukisan langit. Namun berbeda di sekitar pondok mereka.
Permukaan tanah lempung itu benar-benar licin. Laras dan Niken yang ingin ke kali juga kebingungan.
__ADS_1
"Pakai ini untuk pegangan," Liam menyerahkan 2 batang tongkat kayu pada keduanya.
"Jangan terlalu dekat ke sungai, air dari hulu mungkin belum turun semua." Robert mengingatkan.
"Ya," jawab keduanya yang lalu berjalan pelan.
"Benar-benar tak bisa kemana-mana hari ini. Tempat ini berubah jadi sawah. Hahahaa," Gilang tertawa keras.
Tapi tidak bagi Robert. Dia tetap turun ke tanah berlumpur, memeriksa kolam ikan yang airnya luber dan hanya menyisakan 2 ekor ikan di air keruh.
"Bantu aku di sini," teriak Robert dari arah tempat penampungan air yang sebagian dibiarkan terbuka untuk menampung air hujan.
Indra dan Gilang turun dari pondok.
"Mau diapakan tempayan air ini?" tanya Indra.
"Kita geser ke dekat pondok. Untuk cuci tangan dan kaki yang kotor sebelum masuk pondok."
Robert bersiap dan memegang bibir tempayan. Pelan-pelan ketiganya menggeser letak wadah air itu mendekati pintu pondok. Itu selesai saat Laras dan Niken kembali dari sungai.
"Untuk apa ini dipindahkan?" tanya Niken.
"Untuk cuci kaki yang kotor sebelum masuk." Indra menjawab lembut.
"Apakah persediaan air minum kita cukup?" tanya Robert.
"Cukup, ada 2 tempat air yang full di dalam," jawab Laras sigap.
Baiklah, ini cukup. Dan aktifitas kita tak kan banyak hari ini." Robert mengangguk.
Satu harian itu mereka hanya bisa beraktifitas di sekitar pondok saja. Atau ke sungai jika panggilan alam tiba.
Hari-hari yang membosankan untuk tim yang selalu kelebihan energi itu. Tapi mereka harus bersabar menunggu waktu yang tepat untuk mengejar harapan menuju "pulang".
***
Ilustrasi salah satu jenis bunga echinacea. Apakah termasuk dalan salah satu koleksi bunga di rumah kk?
__ADS_1