
Ivy akhirnya berdiri dan keluar dari tempat persembunyiannya. Beberapa anak panah beterbangan ke arahnya. Ivy mengibaskan tangannya, dan semua anak panah itu langsung jatuh ke tanah.
Indra ikut keluar dan berdiri tak jauh dari Ivy. tangannya mulai berwarna kemerahan. Namun belum ada api di situ. Dia masih melihat keadaan. Harus dipastikan dulu, orang-orang itu bukannya keturunan Bangsa Cahaya.
Sekarang, sepuluh orang berdiri berjejer di bagian atas gerbang. Busur dan anak panah diarahkan pada Ivy dan Indra. Di pintu pagar bagian luar, pria yang memegang obor dan tak bisa masuk itu, berdiri gemetar dan ketakutan.
"Biarkan aku masuk! Aku tak mengenal mereka! Tolong...." Suaranya yang mengiba, diabaikan para penjaga. Pintu pagar itu tetap tertutup rapat.
Pria itu berjongkok dan meringkuk ketakutan. "Tolong, jangan bawa aku...." lirihnya ketakutan.
Indra merasa heran melihat itu. "Apa yang terjadi di sini sebenarnya?" pikirnya.
Seorang pria berdiri lebih di depan dari yang lain. Sepertinya dia adalah pemimpin para penjaga. "Siapa kalian!" bentaknya kasar.
Indra menoleh pada Ivy, membiarkannya menjawab itu. Tapi jawaban Ivy diluar prediksi Indra. Ivy justru mengeluarkan busur besarnya. Dipasangnya anak panah pada busur dan diarahkan pada pintu gerbang di depan sana.
Tentu saja langkahnya itu memancing agresifitas para pemanah di atas gerbang. Mereka bersiaga, dan bisa melepaskan anak panah kapanpun. Indra memicingkan mata. Dia tak khawatir dengan hujan panah itu. Dia yakin, mampu melindungi Ivy.
Tapi Ivy ternyata tak butuh perlindungan. Dia bisa menyelubungi dirinya sendiri dengan cahaya hijau keemasan. "Siapa yang mengenali anak psnah ini, dia orangku! Dan akan mengenaliku meski rubuan tahun berlalu!" ujar Ivy.
Busur dan anak panah diarahkannya ke langit yang gelap. Kemudian anak panah itu terlepas dari busurnya dengan kecepatan tinggi, hingga membentuk garis-garis api sepanjang perjalanannya.
Indra terpana melihatnya. Tak heran Ivy dijuluki Jenderal Panah Pembunuh! Kecepatan lesatan anak panahnya tak bisa diikuti mata! Yang menandai perjalanan panah utu adalah garis api yang mengikuti di belakangnya, seperti sebuah bintang jatuh.
Indra melirik sekejap ke arah para penjaga gerbang. Mereka juga tak kalah terkejutnya. "Itu panah yang ada dalam legenda!" seru salah seorang, dengan takjub.
Indra melihat kembali anak panah di sngkasa. Hanya ada garis cahaya api yang kini mulai melengkung. Dan dia terlonjak! "Mustahil!" gumamnya.
Tapi seruan-seruan terkejut dari para penjaga menyadarkannya, bahwa itulah yang sebenarnya terjadi. Dilihatnya Ivy, untuk mengetahui bagaimana caranya mengendalikan anak panah yang terbang diangkasa, bisa berbalik ke arah mereka lagi.
"Ternyata kau mengendalikan anak panah itu dengan gerakan tangan dan batinmu!" Indra melihat Ivy berkonsentrasi mengendalikan laju dan arah anak panah yang tadi dilepaskannya.
"Dia sudah mencapai level ekspert dalam hal memanah dan satu-satunya yang bisa menyatu dengan anak panahnya. Beruntung aku bukan musuhnya," batin Indra.
Sekarang, anak panah itu meluncur cepat ke arah mereka. Para penjaga itu berlarian menghindar, untuk menyelamatkan diri.
__ADS_1
"A-apakah ... apa-kah ka-kau lelu-hur ka-kami?" Pria dibalik pintu gerbang bertanya ketakutan.
Dia melihat semua uang dilakukan Ivy. Itu seperti legenda yang diceritakan para tetua. Dia juga ingin lari menyelamatkan diri. Tapi kakinya tak bisa digerakkan, seakan lumpuh. Kedua kakinya bergetar hebat, bahkan seluruh tubuhnya pun tak bisa dikendalikannya lagi.
Ivy mendesah berat. Kedua tangannya langsung bergerak dan menangkap anak panah yang datang. Senjata berbahaya itu seketika lenyap dari pandangan.
Indra melihat Ivy yang terbang ke arah pria yang bahkan sudah tak mampu memegang obor itu. Ditariknya pria muda itu dan dibawa ke tempat Indra.
"Apa kata legendamu! Siapa leluhurmu! Katakan!" bentak Ivy.
"Le-legenda bilang, kami berasal dari cahaya. Leluhur kami dari Negeri Cahaya. Ta-tapi suatu hari, pemimpin kami hilang tak tentu rimbanya."
"Tetua generasi awal, masih mencari hingga seratus tahun lamanya. Hingga satu persatu tewas dalam melindungi suku cahaya yang tersisa. Tetua terakhir mengatakan, untuk memusatkan perhatian pada perlindungan suku, agar tak mudah diserang."
"Dan untuk memperbanyak jumlah, kami berbaur dengan para manusia yang singgah di sini. Sekarang sudah lima generasi berganti sejak leluhur kami menghilang."
"Namun cerita tentang kehebatannya dalam perang dan memanah, terus diturunkan, agar generasi muda tidak melupakan asal-usulnya." Pria itu menceritakan hal yang dia dengar dari para tetua suku.
Ivy tertunduk. "Sudah lewat lima generasi!" ujarnya lirih. Dia jatuh terduduk.
"Apakah tak ada lagi darah murni Bangsa Cahaya di suku ini?" Suaranya kabur, seperti sebuah gumaman yang tak jelas.
"Ada! Setiap Ketua Suku adalah keturunan asli Bangsa Cahaya!" sahut pria itu.
Ivy langsung menoleh padanya. "Benarkah?
Pria itu mengangguk yakin. "Be-benar!" ujarnya. "Itu salah satu syarat menjadi Ketua Suku!"
"Bawa aku padanya!" Ujar Ivy cepat. Dia segera bangkit dari duduk, dan pria itu juga ditariknya berdiri.
"Ta-tapi pintu gerbang ditutup mereka. Aku tak bisa masuk!" Tunjuknya ke gerbang kayu itu.
"Apakah kalian tak bisa terbang?" tanya Ivy. Pria itu menggeleng.
"Hanya keturunan murni yang masih bisa terbang! Dan sekarang jumlahnya hanya lima orang!" jawab pria itu lagi.
__ADS_1
"Semua Bangsa Cahaya bisa terbang di angkasa! Tak ada pintu gerbang yang perlu kita khawatirkan!" Dibawanya pria itu terbang ke udara.
"Aaaaahhhhh!" Jerit ketakukan terdengar di malam sunyi itu. Tapi Ivy justru terkekeh senang.
"Tunjukkan yang mana kediaman Ketua Suku kalian!" perintah Ivy.
Pria itu menunjuk satu rumah kayu lusuh, diantara rumah lusuh lainnya.
"Desa kalian ini terlihat menyedihkan!" gerutu Ivy tak senang. Dia lalu melesat cepat ke arah rumah yang ditunjuk si pria. Indra mengikuti dengan setia di belakangnya.
Beberapa orang menunjuk dan berseru, melihat mereka terbang. "Lihat! mereka seperti Ketua Suku! Bisa terbang, dan tubuhnya bercahaya! Bagus sekali!"
Sampai di depan rumah Ketua Suku, Ivy menurunkan pria itu. "Panggil!" suruhnya.
"Ketua Suku sedang tidak sehat. Aku keluar untuk mencari bahan obat!" ujarnya ragu.
"Kalau begitu, sampaikan bahwa kita akan masuk dan menjenguknya!" perintah Ivy lagi.
"Ketua Suku, aku tabib Mora, minta ijin masuk. Ada leluhur kita yang ingin mengunjungimu!" ujarnya sopan.
Tak menunggu waktu lama, seorang pria yang sebelumnya bertanya di atas gerbang, keluar. Dia tak percaya tabib itu bisa masuk desa bersama dengan orang asing yang tak dikenal.
"Kau pengkhianat! Membawa musuh masuk ke desa!" ujarnya marah. Tangannya melayang ke arah kepala dang tabib muda.
Indra mencekal tangan itu dengan tangannya yang semerah api.
"Aaaahhhhhh! Kalian monster! Pengawal! Tangkap mereka semua!" teriaknya marah.
Indra langsung menampar wajah pria itu dengan keras. Tak pelak, tertinggal bekas tangan Indra di wajahnya yang sekarang terlihat setengah gosong.
"Kau terlalu banyak omong!" Indra menendangnya ke arah para pengawal yang mulai berkumpul.
"Kalian pergi saja. Biar aku bermain-main dengan mereka!" ujarnya pada Ivy.
Ivy mengangguk dan mendorong tubuh tabib itu untuk masuk dan menunjukkan jalan.
__ADS_1
*******