
Alan sudah mencoba menyetrum sepuluh ujung jari tangan Sunil. Tapi tak ada reaksi apapun. Dia kesal sekali.
"Bangun O, bangun! Aku sudah merangsang saraf jari-jarimu tapi kau tak juga merespon."
Ditariknya leher baju kaos Sunil dan berkata geram, " Apa kau mau kusentrum jantungmu baru bangun?"
Dean menahan cengkraman tangan Alan pada baju Sunil.
"Apa kau gila? Lepaskan!"
Michael turut menenangkan Alan. Keributan itu terdengar dari luar. Semua menoleh ke sana. Widuri baru mau melangkah untuk mencari tau, Dean sudah menyeret Alan keluar dari kamar. Wajah keduanya sangat kesal.
"Apa yang terjadi?" Marianne bertanya khawatir.
"Seperti biasa, dia mengacau lagi."
Dean mendudukkan Alan di bangku.
Alan tertunduk lesu. "Aku sudah mencoba merangsang saraf jarinya. Kalian tau? 10 jari tangannya, semuanya sudah ku coba. Tapi Sunil yang memberikan reaksi sedikitpun."
Yang lain menghembuskan nafas panjang. Mereka menyadari kegundahan Alan. Karena merekapun merasakan hal yang sama juga.
Dean dan Michael sudah duduk di meja. Para wanita segera menghidangkan makan malam. Perut yang lapar dapat memancing emosi. Jadi buat Alan kenyang dulu, lalu biarkan dia istirahat. Pondok akan tenang setelahnya.
"Mengobati itu tak bisa langsung sembuh. Sering kali teknik pengobatan harus dilakukan berulang kali dan dosisnya ditingkatkan secara bertahap." Tabib tua itu memberi nasehat.
Yoshi mengangguk setuju.
"Lalu kapan lagi paman Sunil bisa mendapat rangsangan saraf lagi?" tanyanya.
"Lakukan sehari 2 kali. Pagi coba rangsang saraf jari tangannya. Sore coba rangsang jari kakinya. Coba lakukan ini selama 3 hari ke depan. Setelah itu kita lihat lagi perkembangannya." Jelas tabib.
"Baik tabib. Kami akan memperhatikan hal itu." Sahut Dean.
"Kau dengar itu? Kita jangan putus asa," kata Widuri pada Alan yang asik mengunyah makanan.
"Hemm.. Besok akan ku coba lagi." Balas Alan dengan mulut penuh.
Semua akhirnya lega melihat Alan kembali tenang. Mereka menikmati makan malam itu dengan tenang.
Sementara Marianne juga menyuapi Sunil dengan kaldu daging dan sayuran sambil tak lelah mengajaknya ngobrol.
"Baiklah, ini sudah malam. Dan kami sudah kenyang. Aku akan mengantar tabib pulang." Kata Yoshi.
Dean menyodorkan sedikit uang ke tangan tabib itu. Tapi ditolaknya.
__ADS_1
"Aku belum melakukan apapun untuk temanmu, tapi telah menerima banyak kemurahan hati. Bayaran ini belum pantas ku terima."
"Yoshi, bawa aku ke sini 3 hari kemudian untuk melihat perkembangan pamanmu." Tabib berpesan pada Yoshi.
"Ya. aku akan mengingatnya." Yoshi mengangguk mengerti.
"Terima kasih, untuk bantuan tabib." Dean menundukkan kepalanya sedikit.
Yoshi bersiap pergi dan memegang kedua tangan tabib itu.
"Biar ku antar sampai atas," Kata Dean.
Yoshi naik perlahan menuju ketinggian puncak pepohonan sambil memegangi kedua tangan tabib tua itu. Dean mengikuti naik.
"Baiklah paman, sampai di sini saja. Aku akan mengantarkan tabib sekarang." Ujar Yoshi saat diketinggian.
Blaaarrrr.. Blaaarrrr!
Terdengar bunyi dentuman keras berkali-kali. Itu mengejutkan Dean dan Yoshi. Mereka menoleh ke asal suara.
"Itu, di sana." Seru Yoshi.
Terlihat kilatan cahaya petir dan gelegar guntur di arah kanan mereka berada.
"Tampaknya akan ada badai besar. Semoga dampaknya tak sampai kemari." Kata tabib tua.
"Sebaiknya paman jangan ke sana lagi. Area itu memang seperti itu. Cuacanya bisa tiba-tiba berubah dari cerah menjadi topan badai. Sangat mengerikan! Kata Yoshi mengingatkan.
Dean mengangguk. "Segera pulanglah, nanti ayahmu khawatir." Ujar Dean.
Yoshi mengangguk lalu melesat pergi bersama tabib tua itu. Dean masih mengamati fenomena alam di sisi lain pulau itu. Lalu dia turun kembali.
"Dean, apa kau mendengar suara geluduk?" Tanya Nastiti.
"Ya, sepertinya di area pantai air asin akan mengalami badai malam ini." Jawab Dean.
"Benarkah? Mungkin kita harus mempersiapkan diri juga, jika seandainya dampaknya sampai ke sini." Ujar Widuri.
"Ya, ayo." Nastiti bergerak cepat.
Dia segera merapikan semua peralatan makan yang masih terserak di meja. Widuri membantunya membersihkan dan menyusunnya dalam tempayan besar dan menutup rapat. Itu dilakukan agar benda-benda kecil tak mudah terbang saat ada angin kencang bertiup ke tempat mereka.
Dean memeriksa tiang penyangga atap. Dia harus yakin bahka itu cukup kuat.
"Alan dan Michael dimana?" tanya Dean. Mereka sudah masuk untuk beristirahat." Sahut Widuri.
__ADS_1
"Marianne?" Tanya Dean lagi.
"Dean, Widuri, aku istirahat duluan. Dan kalian jangan pacaran terus. Bikin iri saja," celoteh Nastiti dari pintu kamar.
Widuri melambaikan tangannya, mengisyaratkan bahwa dia mendengar kata-kata Nastiti barusan.
"Dean, tidakkah kau melihat perubahan Marianne?" Tanya Widuri.
"Berubah bagaimana?" Dean tak mengerti.
"Sejak kita membebaskannya dari Duke dan menulihkan tubuhnya, ku rasa sebenarnya dia tak baik-baik saja."
"Menurutmu dia sakit, tapi tak mau mengatakannya?" Tebak Dean.
Widuri mengangguk. " Tubuhnya lemah, dan mudah lelah. Dan kadang aku bisa melihat wajahnya memucat lalu bulir-bulir keringat muncul di dahinya. Seperti sedang menahan rasa sakit."
Dean prihatin mendengarnya.
"Nanti saat tabib datang lagi, kita akan minta Marianne agar diperiksa juga." Putus Dean.
"Terima kasih Dean. Kau sangat peka. Tak sulit bagi siapapun untuk menjelaskan sesuatu, karena kau bisa segera mengetahui inti masalahnya." Puji Widuri.
"Bagaimana kau bisa memujiku seperti itu? Bukankah dulu kau selalu bertengkar denganku?" Dean mencoba mengajuk isi hati Widuri.
"Huh. Kau jangan mulai membuatku marah saat aku sedang bersikap baik." Widuri jadi kesal.
"Baiklah.. baiklah.. jangan kesal lagi. Aku hanya bercanda." Dean meraih tubuh Widuri dan membawanya bersandar di dadanya yang bidang.
"Sayang, bagaimana jika kita tak kunjung kembali ke Indonesia. Apa kau masih akan terus menggantung perasaanku?" Tanya Dean sambil menghirup aroma khas tubuh wanita itu.
Widuri termangu. Dean ada benarnya. Entah kapan mereka baru bisa menemukan jalan pulang.
"Kenapa kau jadi diam?" Tanya Dean.
"Bukankah kau yang membuatku diam dengan pertanyaanmu itu?" Widuri mencolek mesra ujung hidung Dean yang mencuat kokoh.
"Ah, kalau kau tak mau menjawabnya. Tak apa-apa. Jangan terlalu dipikirkan. Hanya saja, aku ingin lebih dari sekedar memelukmu. Tapi aku tak ingin melanggar batasanmu." Ucap Dean jujur.
"Beri aku waktu untuk memikirkannya ya..." Disambutnya bibir Dean yang telah haus itu dengan mesra.
A few moments later.
"Suara guntur itu telah hilang. Sepertinya badainya tak sampai ke sini. Aku akan memeriksa pantai itu besok. Mungkin sangat berantakan di sana." Kata Dean.
"Baiklah. Aku akan beristirahat dulu. Sampai jumpa besok pagi." Widuri mengecup pipi Dean sebelum pergi.
__ADS_1
Malam itu berakhir tenang di pondok. Tapi tidak di pantai air asin. Kepingan-kepingan papan berserakan di permukaan air. Banyak tubuh terombang-ambing di laut luas. Orang-orang itu tak sadarkan diri. Jika bukan karena berada di atas sebilah papan, mungkin mereka sudah tenggelam ke dasar laut yang gelap dan dingin. Tubuh-tubuh itu terpencar ke sana ke mari. Saling menjauh satu sama lain.
*****