PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 159. Lamaran untuk Widuri


__ADS_3

Sore hari Yoshi sampai di pondok di tengah hutan. Dilihatnya ada bangunan baru di situ. Dan Dean masih menyelesaikan beberapa detailnya.


"Ini lebih cantik dari kamar lain. Pemandangannya juga bagus. Apakah ini untuk bibi Widuri?" tebak Yoshi jitu.


"Kau seperti peramal saja." celetuk Dean sambil terus bekerja.


"Hemm, tinggal ditanami beberapa bunga dekat jendela, sepasang bangku di sudut itu untuk menikmati laut, maka pondok mungil ini akan jadi pondok penuh cinta." Ledek Yoshi sambil tertawa.


"Dean, sudah sore. Selesaikan besok saja." Widuri berteriak dari sudut dapur.


"Oke," jawab Dean.


"Jika paman serius, kenapa tidak segera menikahinya?" Yoshi bertanya dengan heran.


"Maukah kau kau melamarkan dia untukku?" tanya Dean.


"Ternyata pamanku penakut. Hahahaa," Yoshi tak dapat menahan tawanya.


"Merasa lucu heh? Kau coba saja, agar tau jawabannya." Dean membuang pandang ke arah lautan di bawah tebing.


Yoshi ternganga. "Jadi paman pernah melamar bibi Widuri? Kapan? Langsung ditolak ya?"


"Kau itu beneran ingin tau atau ingin meledekku hah?" Dean menyentil dahi Yoshi dengan gemas.


"Aduhh," Yoshi mengusap-usap dahinya.


"Tentu saja aku ingin tau. Tapi tak menyangka jika pamanku yang tampan ini ditolak mentah-mentah."


Yoshi berlari menyelamatkan diri sambil tertawa.


"Kau ini keponakan macam apa. Sama sekali jauh dari harapan. Tidak ada empati sama sekali."


Mereka lari berkejaran di halaman hingga ke pelataran.


"Bibi, tolong aku. Dari tadi paman menyentilku karenamu." Adu Yoshi pada Widuri.


"Karenaku?" Tanya Widuri heran. Yoshi mengangguk dengan wajah polos.


"Jangan kau dengarkan dia. Anak ini harus diberi sedikit sentilan agar menghormati pamannya."


Dean sudah berdiri di depan Widuri. Melihat Yoshi ngumpet di belakang Widuri, dia kuatir Yoshi akan bicara yang bukan-bukan pada Widuri.


"Widuriiii. Air kamar mandinya habis. Bagaimana ini?" Teriak Niken dari kamar mandi.


"Kau pergi isi air dulu. Setelah itu mandi. Terserah kalian kalau masih mau berlarian lagi nanti malam.


Dean melihat gelagat buruk, dia segera berbalik setelah melotot ke arah Yoshi. Lalu melesat ke tebing untuk mengambil air.


"Niken, tunggu sebentar, Dean sedang mengambilkan air!" Teriak Widuri.


"Oke." Sahut Niken.


"Ayo bantu aku menyiapkan makan malam." Widuri menarik tangan Yoshi yang sudah berjalan menuju kamar Sunil.


"Aku mau melihat paman Sunil."


"Bantu masak dulu. Sunil takkan kemana-mana. Lagi pula sudah ada dokter Chandra dan Marianne yang menemaninya." Jawab Widuri tangkas.


Meski Yoshi enggan masuk dapur, tapi kemudian dia segera tersenyum.


"Bibi, maukah kau menikah dengan pamanku Dean?"


"Uhukk.. uhukk.."


Widuri terbatuk tiba-tiba mendengar pertanyaan yang tembak langsung seperti itu.


"Kau baik-baik saja? Apa aku mengejutkanmu?"


"Tidak.. Ehemm.. Apa dia menyuruhmu mengatakan itu?" tanya Widuri ingin tau.


"Tidak. Paman tidak menyuruhku. Dia cuma bertanya apakah aku berani melamarkanmu untuknya," elak Yoshi.


Widuri tersenyum simpul. Dia terus memperhatikan pekerjaannya.


"Bibi, pamanku serius ingin menikahimu. Dia sudah menyiapkan tempat tinggal untukmu di sana." Yoshi menunjuk kamar baru tak jauh dari dapur.


"Dia bilang itu untukku?" Widuri mengernyitkan kedua alisnya.

__ADS_1


'Dean sungguh serius' batin Widuri.


"Baiklah, akan ku pertimbangkan. Katakan seperti itu padanya."


Widuri meraih tangan Yoshi.


"Sekarang tolong aduk sup kita. Aku mau ambil ikan di tempat pengasapan." Widuri meninggalkan Yoshi.


"Jawaban bibi belum pasti. Tapi masih lumayan, ketimbang ditolak mentah-mentah."


Yoshi menggeleng heran dengan sikap Widuri yang tak mudah takluk dengan ketampanan Dean.


Alan dan Nastiti sudah kembali dengan cukup banyak ikan untuk dimasukkan dalam tempat pengasapan agar lebih awet disimpan.


Alan juga mengeluarkan sangat banyak buah kelapa di pojok dapur.


"Banyak sekali. Untuk apa itu?" Tanya Yoshi.


"Untuk diambil air dan santannya. Untuk masak atau bisa dibuat minyak juga kalau rajin." Marianne muncul di dapur.


"Ide bagus Marianne. Sudah sangat lama sejak terakhir menumis makanan dengan mentega buatan Dewi." Widuri mengacungkan jempolnya.


"Sekarang baru ku sadari bahwa sebelumnya Dewi ah yang selalu menyiapkan susu, yogurt, mentega ataupun keju untuk kita." Nastiti menundukkan kepala.


"Kalian kenapa?" Niken yang baru selesai mandi, menghampiri.


"Kami sedang merencanakan membuat minyak dengan segunung kelapa yang dipetik Alan." Jawab Widuri cepat.


"Bibi, jika cukup banyak, mungkin bisa dijual di pasar. Harganya bagus." Usul Yoshi.


"Ide bagus Yoshi. Kita buat begitu saja. Jika kekurangan kelapa, biarkan Alan dan Dean yang memetiknya ke tepi pantai sana." Nastiti sudah membayangkan gemerincing uang koin jika menjualnya ke pasar.


"Dia siapa?" Tanya Niken.


"Aku Yoshi. Keponakan paman Dean." Jawab Yoshi sambil tersenyum ramah.


"Keponakan Dean? Bagaimana bisa?" Niken menatap Yoshi tak percaya.


"Panjang ceritanya. Sekarang sudah mulai gelap. Jadi amankan kampung tengah¹ kita dulu. Sudah pada lapar semua kan?" Marianne menengahi.


Mereka akhirnya kembali sibuk di dapur menyiapkan makan malam.


Malam sudah benar-benar turun saat semua orang akhirnya bisa duduk bersama untuk menikmati hidangan hangat. Malam ini gerimis turun. Udara jadi lebih sejuk.


Bau tanah basah yang menguap ke udara


Laksana aroma kekasih yang saling bertemu


Bumi dan langit adalah sepasang kekasih


Yang saling melepas rindu lewat hujan


Menghidupi semua makhluk dengan aliran bening cintanya


Menumbuhkan semua tanaman dari rahim bumi yang dikasihinya


"Ah, aku lupa sesuatu." celetuk Yoshi.


Semua mata memandangnya dengan penuh minat.


"Tadi sore setelah menyusuri pantai hingga dermaga, aku mendengar kasak-kusuk orang di pasar. Ada yang memasang berita di papan bahwa ada seorang pria yang hanyut, dan telah diselamatkan oleh para nelayan."


"Hah?!"


Semua orang terkejut dan saling pandang tak percaya.


"Kenapa tak kau katakan sejak tadi? Kita bisa mencarinya kan? Mungkin itu salah satu dari kami!" Ujar Niken marah.


"Aku lupa. Sudah ku katakan tadi bahwa aku lupa." ujar Yoshi menunduk.


"Hal sepenting itu kau bisa lupa? Atau memang kau tak peduli pada teman-teman kami yang masih hilang." tuding Niken kesal.


"Niken!"


"Sabar. Bagaimanapun dia sudah diselamatkan. Jadi kita masih bisa mencarinya besok."


"Kenapa harus besok jika bisa hari ini?" Niken ngotot.

__ADS_1


"Malam hari sangat gelap. Bagaimana bibi mau mencari?" tanya Yoshi polos.


"Kau, jangan panggil aku bibi! Sedari tadi aku tak mengerti bagaimana kau diterima di sini. Entah Dean benar-benar pamanmu, atau itu hanya cara licikmu untuk mendekati kami. Apa maumu sebenarnya?"


Rasa cemas bercampur kesal Niken berubah jadi kecurigaan. Membuatnya melontarkan berbagai tuduhan pada Yoshi yang belum dikenalnya.


Tubuh Yoshi gemetar. Widuri yang duduk di sebelahnya menyadari itu. Digenggamnya jemari Yoshi dan melempar senyum keibuan.


"Bibi.. Memang hanya kau bibiku karena hubunganmu dengan pamanku. Tapi aku ingin menghormati semua teman paman dengan sebutan serupa. Huhuhuu.." Yoshi menangis di pelukan Widuri.


"Aku senang kau panggil paman. Dan jangan lupa paman Sunilmu juga." Ucap Alan membesarkan hati Yoshi.


"Aku juga gak keberatan dipanggil paman," Michael menambahkan.


"Siapa yang tak suka jadi bibi seorang gadis cantik sepertimu? Aku tak keberatan," Nastiti tersenyum lebar.


"Sudah, jangan sedih lagi. Niken hanya sedang galau. Dia tak berniat menyakitimu. Jangan simpan di hati ya.." Ucap Marianne penuh kelembutan.


Tapi tidak dengan Dean yang sejak tadi diam. Bukan dia tak peduli dengan kata-kata Niken. Justru dia merasa sangat tersinggung. Matanya yang bersinar keemasan terus menatap Niken dengan tajam. Dokter Chandra dan Alan menyadari itu.


'Jika yang menatap Niken begitu adalah aku atau Sunil, Niken pasti sudah jadi debu' pikir Alan.


"A, lupakanlah. Jangan simpan di hati." Alan menirim pesan transmisi.


Tapi Dean terlanjur emosi. Dia membalas pesan Alan secara langsung.


"Tapi Yoshi memang keponakanku. Dia putri Bi satu-satunya. Beraninya dia menuduh Yoshi sembarangan!" Teriak Dean kesal ke arah Alan.


Semua orang terkejut melihar Dean tiba-tiba marah pada Alan. Padahal tempat duduk mereka berjauhan.


"A, aku mengirimimu pesan transmisi agar kau tenang. Kenapa kau justru menambah keributan dengan berteriak di sini? Ahh, aku yang berniat baik justru diomeli. Terserah kau saja!"


Alan meninggalkan meja makan, menuju kamar.


"Marianne, tolong ambilkan makanan Sunil, biar aku yang menyuapinya. Aku bisa emosi jika terus duduk di situ." Gerutu Alan.


Marianne segera bangkit melakukan permintaan Alan.


Semua orang di meja kini mengalihkan pandangan pada Dean.


Namun sepertinya emosi Dean masih belum reda. Matanya masih bersinar keemasan. Dokter Chandra menyadari itu. Dia ingat pesan tetua klan Penyihir.


'Apakah mereka sebangsa? Nanti aku harus mencari tau' kata dokter Chandra dalam hatinya.


"Yoshi adalah putri saudariku. Kau boleh percaya atau tidak, bukan urusan kami. Tapi jangan pernah menuding dia sesuka hatimu. Kau sedang cemas kami bisa memaklumi. Dan ini peringatan pertama dan terakhir. Sekali lagi kau menyakiti keluargaku, kau boleh tinggalkan tempat ini!" Ujar Dean dingin.


"Dean!"


Semuanya terkejut mendengar kata-kata yang Dean lontarkan.


"Nastiti, tolong beri makan Cloudy. Dean, ikut denganku!" Widuri menatap Dean tajam.


"Paman, bibi, jangan bertengkar karena aku, oke? Aku mau pulang saja."


Yoshi bangkit dan langsung melayang pergi. Tubuhnya memendarkan cahaya. Dean memandangnya dengan sedih. Dia menyadari Yoshi sedang menekan emosinya saat ini. Itu sebabnya tubuhnya mengeluarkan semburat cahaya. Sayapnya mungkin akan terlihat jika dia tak segera pergi.


"Kau sudah menyakitinya!"


Dean masih melemparkan kemarahannya pada Niken sebelum mengikuti tarikan tangan Widuri. Mereka menuju kamar baru yang tadi siang dibuat Dean.


Widuri menatap mata Dean yang masih bercahaya keemasan. Dia tau A masih menguasai Dean.


"A, kembalikan Dean ku!" Kata Widuri tajam. Kedua telapak tangan Widuri merengkuh wajah Dean.


Perlahan sinar keemasan itu meredup. Dean sudah kembali. Ditatapnya Widuri dengan mata seribu tanya.


"Kau bisa memelukku jika merasa emosimu tak terkendali," bisik Widuri lembut sambil memeluk Dean.


Dean merengkuh tubuh mungil itu dalam dekapannya. Mendengarkannya suara Widuri dapat menenangkan gejolak hatinya. 'Wanita ini adalah obat hatiku' batin Dean yakin.


"Menikahlah denganku. Kita bisa tinggal terpisah dari mereka." Dean mengutarakan lagi isi hatinya.


Widuri terkikik geli. "Tadi sore Yoshi melamarku untukmu. Malam ini kau melamarku lagi. Kau memang pantang menyerah ya! Bagaimana caraku menolakmu lagi?" Suara manja Widuri melumpuhkan semua pertahanan Dean.


Mereka melalui malam itu penuh cinta. Hanya berdua, di kamar mereka sendiri. Meluruhkan semua emosi yang tadi terasa menyesakkan.


*****

__ADS_1


__ADS_2