
Catatan penulis:
Mohon bijak dalam membaca. Yang belum cukup umur boleh skip.
*
*
Dean terbangun lewat tengah malam. Widuri tidur disamping Dean. Diperhatikannya wajah cantik itu. Dikecupnya kening Widuri sebelum bangkit.
"Emmm, mau kemana?" Tanya Widuri saat menyadari lengan yang menjadi bantalnya diangkat.
"Aku harus berjaga. Tidurlah lagi. Cloudy akan menjagamu." Ujar Dean lembut.
Dean keluar kamar dan meminta cloudy menjaga di dalam. Macan itu menurut.
Saat Dean sampai di pelataran, Dilihatnya Alan berjaga sambil tiduran.
"Hei, kenapa kau tidur di sini?" tanya Dean.
"Hemm? Aku masih mengantuk sudah dibangunkan Michael," sahut Alan sambil merem.
"Kau tidurlah di sana. Punggungmu bisa bungkuk jika posisimu begitu," tegur Dean.
Alan melihat papan kayu yang ditunjuk Dean.
"Oke." Katanya, lalu pindah tidur.
Dean menggeleng heran melihat Alan berjalan dengan mata terpejam.
Dean memilih beberapa kayu untuk dibuat sesuatu. Dia tak bisa hanya duduk diam saat berjaga. Dia selalu membuat sesuatu setiap malam. Dan benda buatannya biasanya jadi benda keperluan dapur.
Tapi kali ini Dean ingin membuat kursi malas untuk Sunil. Dean memotong, memahat kayu semalanan. Ditambahkannya roda pada kursi itu agar mudah dipindahkan.
Kursi itu sudah selesai. Sekarang, Dean harus merubah undakan tangga kamar menjadi jalan landai yang bisa dilewati oleh kursi malas itu.
Sebelum pagi, Semua pekerjaan itu selesai. Dean sudah sangat lelah.
"Alan, bangun. Ini hampir subuh."
"10 menit lagi," Alan membalikkan badannya, melanjutkan tidur.
"Sudah 10 menit. Ayo bangun. Kau isi air kamar mandi sana." Dean menarik kaki Alan.
"Aku pergi tidur. Jika terjadi sesuatu, itu jadi tanggung jawabmu!" seru Dean.
Alan langsung duduk dan menguap. Begitu membuka mata, dia langsung melihat kursi malas dengan sandaran rendah sudah siap dekat pintu kamar. Bahkan tangga di pintu kamar sudah dibuat lebar dan melandai hingga pelataran.
Alan tersenyum puas. Dean selalu tau apa yang harus dibuat, tanpa diminta. Kemarin masih ingin membuat tandu. Tapi yang disiapkannya selalu lebih dari ekspektasi.
"Baik. Sekarang aku isi air kamar mandi dulu. Main air, biar gak ngantuk." Katanya pada diri sendiri.
Setelah langit terang dan para wanita keluar, Alan masih sibuk menyapu daun-daun kering di halaman.
__ADS_1
"Wah, ini kursi yang bagus. Dilengkapi roda? Apakah ini untuk Sunil?" suara dokter Chandra memecah kesunyian pagi.
"Tampaknya begitu dok. Jalan untuk kursi roda itu juga sudah dibuat Dean." Kata Nastiti.
"Apa Dean membuatnya semalaman?" dokter Chandra tak melepaskan matanya untuk melihat detail kursi roda itu.
"Ya. Dia baru tidur sebelum subuh." Jawab Alan.
"Aku mau mandi dulu." Alan melesat terbang ke arah tebing.
Pondok kembali sunyi. Nastiti dan Marianne sibuk di dapur. Tanpa bantuan Widuri, maka pekerjaan jadi bertambah.
Niken duduk di bangku dengan bingung. Sikap Nastiti dan Marianne sejak tadi malam terasa menyesakkan. Dia didiamkan di kamar. Jadi Niken keluar kamar dan ikut berjaga dengan dokter Chandra juga Michael.
Dari keduanya Niken tau kebenarannya. Dan dia menyadari kesalahannya pada Yoshi. Dean benar bahwa dia tertekan karena kehilangan Indra dan teman-teman yang lain. Tapi bukan berarti boleh menyakiti Yoshi. Dari dokter Chandra Niken juga tau bahwa tabib yang merawatnya dibawa oleh Yoshi.
Sekarang Niken ingin mencari tau orang yang ditemukan oleh para nelayan itu. Apakah itu teman mereka atau tidak. Persoalannya adalah, yang tau desa itu adalah Yoshi. Untuk bisa minta bantuan Yoshi, berarti harus minta maaf dulu pada Dean.
Sekarang Dean baru berangkat tidur. Berarti Niken harus menunggu agak siang baru bisa membujuk Dean. Itupun kalau berhasil.
'Aduh, Niken. Mulutmu ini kenapa lebih pedas dari rawit setan' rutuknya kesal pada diri sendiri.
'Sabar.. sabar.. Aku harus membujuk mereka yang sedang kesal padaku. Jadi aku harus ramah dan siap melakukan apapun' batin Niken.
"Ada yang bisa ku bantu?" Tanya Niken pada Nastiti.
"Oh, kau sudah siap untuk bergabung dengan kami?" Sindir Niken.
"Maafkan sikap kasarku." Niken berucap tulus.
"Baiklah. Ajari aku." Niken tersenyum senang.
Marianne membawanya ke sudut dapur dimana terletak alat penggiling di situ. Marianne mengajari Niken cara menggiling kacang walnut yang sudah direndam oleh Marianne semalam.
"Aku baru tau cara membuat susu kacang seperti ini. Hebat sekali."
Niken merasakan kekaguman dengan peralatan di pondok ini. Kamar yang dibuat rapi komplit dengan rak untuk baju, meja nakas kecil, serta ventilasi udara yang cukup agar ruangan kecil itu tidak terasa panas. Kamar mandi layaknya kamar mandi modern tapi terbuat dari kayu benar-benar mengagumkan. Dan dapur besar, meski menggunakan kayu api tapi bebas asap. Di sini bahkan ada zink pencuci piring dan tungku yang rapi serta oven untuk memanggang roti dan kue.
Dan barusan dia juga dibuat kagum pada kursi roda yang dibuat dengan sandaran rendah khas kursi malas. Itu jelas dibuat dengan pertimbangan matang, agar Sunil merasa nyaman selama duduk di situ. Dan semua itu buatan tangan Dean!
Dean memang ketua tim ini. Dia sudah memberikan kontribusi besar bagi timnya agar tidak merasa kesulitan dalam beraktifitas karena keterbatasan alat sebab hidup di dunia asing. Tak heran mereka ikut bersikap dingin setelah sikapnya yang buruk tadi malam.
"Kau melamun. Lihat, kau memutar penggiling sementara kacangnya masih ada di mangkuk," tegur Nastiti.
"Oh, ya ampun.. Maaf.. maaf.." ucap Niken gugup.
"Selamat pagi semua. Maaf aku ketiduran." Suara Widuri menyapa semua orang di dapur.
"Tak masalah. Tapi jangan kebiasaan. Atau kau harus membersihkan ikan seharian sebagai hukumannya." Seru Nastiti.
"Hahaha.. oke.. oke," tawa Widuri menghilang di balik pintu kamar mandi.
Semua orang berbincang ceria saat sarapan. Widuri membicarakan tentang ke pasar pada Alan. Mereka kehabisan stok gandum. Jadi harus membelinya.
__ADS_1
"Oke," Alan setuju.
"Apa aku bisa ikut?" Tanya Niken hati-hati.
"Tanganku cuma dua." Kata Alan.
"Tak apa. Aku bisa berjalan sendiri. Tak perlu kau gendong." Jawab Niken cepat.
Semua orang memandangnya dengan tatapan rumit.
"Ehem.. taukah kau kita tinggal dimana sekarang? Mari ku beri tau." ujar Alan. Dengan cepat melesat. Disambarnya tubuh Niken dan membawanya terbang ke atas puncak pepohonan. Niken menjerit ketakutan.
"Alan, jangan mulai lagi!" teriak Michael panik. Semua orang tau kalau Alan sangat iseng dan kekanakan.
"Kalau kau menjerit lagi, beneran ku lepaskan hlo." Kata Alan jahil.
"Jangan. Jangan." Niken memeluk Alan erat-erat.
"Lihat pemandangan ini biar kau tau situasi sebelum bicara yang bukan-bukan." Ujar Alan.
Niken membuka matanya pelan-pelan. Dilihatnya langit pagi yang membiru dengan awan-awan putih berarak.
"Indah sekali."
Di bawah sana hamparan hutan hijau sejauh mata memandang. Dan lautan biru menghampar dibaliknya.
"Menakjubkan."
"Apa di laut itu kami kena badai?" tanya Niken menunjuk ke arah belakang Alan.
"Bukan." Alan membalikkan tubuh Niken agar menghadap arah yang sama dengannya.
"Nun jauh di sana adalah sisi lain pulau ini. Di lautan itulah kalian menghadapi badai." Kata Alan.
"Jauh sekali. Bahkan tak terlihat pantai dan lautnya." Gumam Niken.
"Hemm." Alan setuju.
Lalu dia memutar tubuh menghadap kota. Dan karena hari sudah terang, tak ada lagi cahaya pelabuhan yang bisa jadi penanda kota.
"Arah sana adalah kota. Kami mau ke sana. Dan supaya tidak kesiangan, kami harus terbang hingga pinggiran kota." Alan menjelaskan.
"Jauh juga." Niken tertegun.
Menyadari kata-katanya yang konyol tadi. Sekarang dia mengerti kenapa Alan bilang bahwa tangannya cuma dua. Alan tak bisa membawa terbang lebih dari 2 orang.
"Baiklah. Aku paham sekarang." Niken mengangguk mengerti.
Alan membawanya turun setelah itu. Widuri dan Nastiti sudah bersiap untuk ke pasar. 2 keranjang berisi buah blueberry sudah siap. Alan menyimpannya dalam kalungnya. Dokter Chandra dan Niken terkejut melihat kedua keranjang lenyap di depan mata mereka.
"Kami akan mencari Yoshi setelah urusan di pasar selesai. Nanti kami cari tau siapa orang yang ditolong para nelayan." Kata Widuri bijak.
"Terimakasih Widuri." Niken merasa lega dan malu karena sudah memaksakan kehendak dan pemikirannya sendiri.
__ADS_1
Tim Dean ternyata sangat baik dan pengertian. Bahkan meski dia telah menyakiti bagian dari mereka. Niken merasa sangat malu.
*****