
Hampir seminggu Dean, Robert dan dokter Chandra tinggal di tempat itu. Waktu terasa lambat dan membosankan karena mereka tak punya kegiatan selain menonton televisi, bermain tenis meja atau ngobrol di ruang makan.
Robert sudah ingin pergi dari situ. Dia merasa tidak betah hanya terkurung di dalam gedung. Mereka bahkan tak diijinkan bermain di pantai.
"Dok, aku sudah tak betah lagi. Tempat ini mencurigakan. Semakin lama kita di sini, semakin khawatir keluarga kita di sana. Perasaanku mengatakan, kita takkan diijinkan pergi!" ujar Robert.
"Apa mungkin pulau ini adalah tempat rahasia?" terka Dean.
"Rasanya memang aneh. Setiap kali aku bertanya ini pulau apa, di mana, mereka tidak mau menjawabnya," timpal Robert.
"Baiklah jika hingga besok tidak ada kabar sama sekali dan mereka hanya ingin menahan kita. Maka kita pergi saja dari sini," putus dokter Chandra.
"Aku setuju!" sambar Robert cepat.
"Aku juga setuju," timpal Dean.
*Aku tak sabar ingin kembali ke dunia kecil kita. Kita bisa mencoba keluar lagi lain kali, setelah merubah kordinatnya." imbuh Dean yang tampak kesal.
"Ah, kalian di sini, rupanya." Stephen si rambut jagung, muncul di pintu ruang televisi.
"Ada apa?" tanya Robert.
"Jemputan kalian sudah tiba," ujarnya dengan wajah cerah.
"Benarkah?" Robert menatap kedua temannya, menanyakan pendapat mereka.
"Coba tanyakan, bagaimana keadaan keluarga kita. Apakah mereka akan membawa kita menemui mereka atau bagaimana?" saran dokter Chandra pada Robert.
"Temanku bertanya tentang kabar keluarga kami. Apakah mereka menjemput kami pulang?" tanya Robert pada Stephen.
"Tentang itu, kami tidak punya kewenangan. Kami hanya mengabarkan kedatangan kalian. Dan jemputan sudah tiba. Kalian bisa bersiap-siap lebih dulu." Dia menjawab dengan sopan.
"Baiklah ... kami akan bersiap-siap lebih dulu," ujar Robert.
'Oke," kata Steven "Aku akan menunggu kalian di ruang makan," ujarnya lagi sebelum pergi.
"Bye!" Robert mengangguk padanya.
"Baiklah. Kita kembaki ke kamar dan bersiap-siap." ajak dokter Chandra.
"Oke," jawab Dean.
Ketiga orang itu, kembali ke kamar. Jemudian membersihkan dir dan berganti pakaian. Setelah itu bersiap-siap menuju ruang makan.
Ketiganya kembali mengenakan pakaian mereka sendiri. Melangkah tak sabar me riang maksn.
Di satu meja, terlihat Stephen dan dua orang asing lain duduk bersama. Steven melambaikan tangan ketika melihat Robert dan dua temannya datang.
"Ke sini," panggilnya.
Robert dan dua temannya menghampiri mereka. Seorang penjaga yang berseragam hitam, mengambilkan sebuah kursi lagi untuk ketiganya.
"Duduklah," tunjuk Steven ke arah kursi.
"Mereka adalah petugas dari pos di daratan. Bertugas menjemput kalian ke sini untuk dibawa ke pos terdekat di daratan. Stephen memperkenalkan dua tamunya.
__ADS_1
"Hai ... kami orang yang terdampar di sini," sapa Robert ramah.
"Apa persiapan kami sudah selesai? Kita akan segera berangkat," ujarnya, tanpa memperkenalkan diri.
"Kami tidak butuh bersiap-siap. Yang kami miliki hanyalah baju ini," sahut Robert.
Bagus kalau begitu. kita bisa berangkat sekarang." ujar pria asing itu seraya berdiri. Orang disebelahnya dan Stephen juga akhirnya ikut berdiri.
"Baik." Robert mengangguk.
"Jadi, kita pergi nih?" Dean memastikan lewat transmisi suara.
"Bagaimana dok?' desak Robert.
"Apanya yang bagaimana?" tanya dokter Chandra lewat transmisi suara..
"Bukankah tadi sepakat, jika hingga besok tidak ada yang menjemput, maka kita akan pergi. Nah ... sekarang jemputannya sudah datang. Apa tak ingin mencari tahu dulu?" sambungnya lagi.
"Apa kalian tak ingin pergi?" Suara teguran Stephen menyadarkan keduanya.
"Tentu saja." Robert mrngikuti langkahnya
Enam orang itu berjalan beriringan dan sampai di depan pintu kaca, yang merupakan akses keluar masuk. Stephen mencet tombol di dinding lalu pijakan mereka bergetar sedikit dan kemudian lantai naik ke atas.
Bayangan pepohonan mulai terlihat dari jendela kaca. Mereka akan segera keluar dari bangunan megah itu
"Akhirnya bisa melihat langit dan birunya laut lagi," ketus dean tiba-tiba.
Setelah berada di luar, mereka diharuskan memanjat naik ke atap gedung itu. Ternyata sudah ada sebuah helikopter menunggu di sana, di atas atap bangunan megah itu. Itu seperti helikopter tentara yang kapasitasnya cukup besar.
"Ada apa, Dok?" tanya Dean.
"Aku tak mau naik itu," kata dokter Chandra.
"Ada apa?" tanya salah satu dari dua orang yang menjemput.
"Temanku tak berani naik itu," jelas Robert.
"Jangan menyulitkan. Tak ada kendaraan lain. Bawa dia masuk!" ketus orang itu.
"Ayo Dok, kita akan baik-baik saja. Jangan khawatir," bujuk Robert.
Dokter Chandra menggeleng, tak beranjak dari tempatnya. Memaksa Dean dan Robert mengangkatnya.
"Maaf, Dok," bisik Dean.
Bersama Robert, keduanya mengangkat dokter Chandra dan membawanya ke helikopter.
Dengan susah payah, ketiganya berhasil duduk di dalam helikopter. Robert dan Dean duduk mengapit dokter Chandra. Mereka khawatir padanya. Mengira dokter Chandra merasa takut menaiki kendaraan terbang itu. Seorang yang menjemput, duduk di depan, disebelah pilot. Sementara yang seorang lagi, duduk sendirian di belakang.
"Berangkat!" seru yang di depan.
Pilot segera meraih beberapa tombol dan menyalakan pesawatnyanya. Helikopter itupun segera melayang naik. Stephen melambaikan tangan dari bawah.
Dean dan Robert melihat ke luar jendela. Yang terlihat hanyalah lautan luas, sejauh mata memandang. Tak ada satupun pulau lain yang terlihat.
__ADS_1
"Robert, menurutmu, kita ada di lautan mana, sekarang?" tanya Dean lewat transmisi suara.
"Masa sih kita tersasar jauh hingga benua Amerika?" tambah Dean lagi.
"Tak mungkin. Kita hanya menggeser sedikit titik kordinatnya, dari India," bantah Robert.
"Apakah kita berada di samudera Hindia?" tanya Dean lagi.
"Menurutku sekitar itu. Tapi aku juga tak tau pulau-pulau apa saja yang mungkin ada di sini," jawab Robert.
"Dok, apakah kau mengetahui sesuatu?" tanya Dean. Dokter Chandra yang terdiam sejak naik helikopter ini, membuatnya cemas.
"Ada apa, Dok?" bisik Robert.
"Sebentar lagi kita sampai. Tenangkan teman kalian," terdengar suara dari depan. Orang itu menoleh ke arah dokter Chandra yang terus menunduk dan menggenggam tangan kedua temannya. Dia menganggukkan kepala.
Robert mengangguk, mengira itu ditujukan padanya. "Baik," ujarnya.
Namun, sekonyong-konyong, dokter Chandra mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah depan. Matanya menyala keputihan. Orang di depan itu tak mengetahui, karena dia sudah membalikkan badannya ke arah depan lagi.
"Aku tak ingin mengikuti mereka!" seru dokter Chandra sekonyong-konyong.
"Dok, tenanglah. Jika ingin pergi, kita bisa terbang setelah mendarat nanti. Berontak di dalam sini, hanya akan mencelakai mereka," bujuk Robert.
"Mereka bukan orang baik. Itu bukan tempat yang baik!" seru dokter Chandra ngotot. Pandangan matanya lurus ke depan, menunjukkan kekhawatiran yang dalam.
"Baik, kita keluar saja kalau begitu!" Dean mendukung dokter Chandra.
"Jangan lakukan itu!" teriak dokter Chandra ke arah belakang.
Orang itu terkejut mendapati pandangan menusuk dokter Chandra padanya. Sebuah jarum suntik terlihat jelas di tangannya yang kiri.
"Apa yang mau kalian lakukan!" Bentak Dean. Dipukulnya tangan yang memegang jarum itu dengan keras, hingga jarumnya jatuh. Robert menbantu meringkus irang yang duduk di belakang.
"Helikopter sedikit bergoyang. "Apa yang kalian lakukan!" teriak pilot.
"Kami turun di sini saja!" seru Robert marah. Kalian tidak bermaksud baik!" Dicobanya membuka pintu samping helikopter itu. Tapi kemudian dia merasa kehilangan tenaga. Kepalanya terasa sakit.
"Apa yang terjadi?" keluhnya lemah.
"Dean, Dokter, kalian...."
Tiga sekawan itu mulai tertidur.
"Maafkan aku," gumam samar dokter Chandra yang berjuang keras untuk tidak langsung tertidur. Sebuah cahaya putih yang lemah, mengalir ke dalam aliran darah di tangan Dean dan Robert saat mereka pingsan. Lima menit kemudian, dokter Chandra menyusul pingsan dan jatuh tertelungkup di atas punggung Dean. Tangan ketiganya masih terjalin.
Ada asap yang keluar dari atap helikopter yang membius ketiganya. Dua penumpang lain dan pilot, mengenakan masker penutup hidung, agar terhindar dari efek obat.
"Cukup lama juga menbuat yang tua ini pingsan," gerutu yang seorang.
"Sudahlah, bersiap saja. Sebentar lagi kita mendarat," tegur yang seorang.
"Paket sampai dengan aman. Siapkan brankar tiga!" ujar orang di depan melalui radio.
"Roger!"
__ADS_1
*******