PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 208. Cahaya Putih Vertikal


__ADS_3

Pagi sekali.


Aktifitas tim Dean berpindah ke kota mati. Dean, Alan dan Sunil sudah membawa para wanita ke sana. Juga Indra dan Michael. Tak ketinggalan Cloudy dibawa serta.


Dean dan Alan mengangkat meja besar mereka ke kota mati untuk tempat menyajikan makanan.


Dean bahkan memotong cukup banyak log-log kayu kecil untuk digunakan sebagai bangku-bangku darurat. Disusun di area kosong depan kedua rumah baru, di bagian kiri rumah tua Yabie.


Mereka memasak berbagai makanan di rumah tua Yabie. Ini mereka lakukan untuk menyambut Laras dan menyambut penghuni baru kota mati.


Yabie bahkan kemarin mengijinkan Dean memotong satu domba gemuk untuk acara hari ini.


Sunil sudah membawa kursi rodanya ke rumah baru Laras dan Liam. Widuri dan Niken juga sudah membuat rangkaian bunga liar untuk digantung di pintu 2 rumah baru itu.


Mereka sudah siap. Beberapa hidangan juga sudah ditata di meja besar. Suasana kota jadi ceria dengan suara tawa renyah anak-anak.


Anak-anak yang semula takut melihat Cloudy, sekarang bermain riang dan berlarian bersama. Cloudy yang semakin gemuk, terlihat senang mengejar mereka ke sana ke mari. Sebab sudah lama dia tak bisa berlari dengan bebas.


Tiba-tiba suara teriakan para bocah itu terhenti. Cloudy mengaum. Indra dan Michael segera melihat ke pintu gerbang kota kecil itu.


Benar saja, Yabie dan Yoshi sudah membawa kembali dokter Chandra dan Laras. Widuri menyambutnya di tepi jalan berbatu. Sunil sudah membawa kursi roda ke sana.


Laras merasa sangat terharu melihat sambutan itu. Widuri memeluknya lembut.


"Apa kau ingin lihat rumah barumu?" tanya Widuri tersenyum manis.


"Tentu."


Laras balas tersenyum dan kembali menerima pelukan Niken, Nastiti dan Marianne.


"Apa kau merindukanku?" tanya Liam sambil tersenyum lebar.


"Ya, aku merindukanmu," Laras meneteskan air mata haru.


"Jangan bersedih. Ini hari bahagia kita menempati rumah baru di kota yang baru," bujuk Liam.


Didorongnya kursi roda Laras ke arah rumah mereka. Dibawanya Laras melihat sekeliling rumah itu.


"Apa kau suka rumah ini?" tanya Indra.


"Suka. Ini... bagus sekali. Aku menyukainya." Wajah Laras berseri-seri.


"Liam, nanti bantu aku menanam sayuran di halaman belakang ini. Lalu aku ingin menanam bunga-bunga di halaman depan," kata Laras antusias.


"Siap nyonya!" jawab Liam spontan. Ekspresinya sangat bersemangat.


"Ehem...." Michael berdehem dan tersenyum kecil.


"Liam, ucapanmu itu... apa kau sedang nembak Laras?" goda Alan.


"Ahh... kalian ini. Usil saja," elak Liam dengan wajah memerah.


"Laras, kau harus mencicipi hasil masakan kami. Aku sudah memasak sejak pagi buta."


Niken mendorong kursi roda keluar rumah, menyelamatkan Laras dan Liam dari suasana canggung.

__ADS_1


Niken dan Nastiti sibuk berceloteh tentang aneka makanan yang tadi mereka masak. Itu membuat Laras kembali tersenyum. Dia juga tertawa melihat kelucuan Cloudy yang bermain bersama anak-anak.


"Kota ini terlihat menyenangkan sekarang. Kalian bahkan memelihara seekor macan," komentarnya.


"Cloudy bukan macan. Dia cuma seekor kucing besaaarrr," bantah Nastiti. Laras terkekeh mendengarnya.


Tapi memang benar kata Laras," potong Kenny.


"Kota ini memang terasa menyenangkan." tambahnya.


"Dan setelah kalian menumbuhkan beberapa tanaman, maka nama kota ini bukan lagi kota mati," kata Yoshi optimis.


"Tanah kosong setelah saluran air bisa dimanfaatkan sebagai kebun atau apapun yang sesuai nanti," tambah Yoshi.


Laras manggut-manggut. Kagum dengan pekerjaan besar tim Dean dan yang lainnya.


"Kerja kalian cepat juga," ujarnya takjub.


"Yeah.. ada manusia-manusia super di sini," sahut Michael dengan mimik lucu.


Laras tersenyum. Mengira Michael sedang membuat lelucon.


"Kak Laras, kami senang kau sudah sehat lagi," kata seorang bocah.


"Bisakah kita belajar lagi seperti di desa?" tanya yang lainnya.


Laras mengangguk bahagia dan memeluk mereka.


"Tentu saja. Kalian harus belajar agar pintar. Aku akan jadi guru kalian seterusnya," jawab Laras sungguh-sungguh.


"Di sini lebih aman, tidak ada perang. Andai saja ayah dan ibuku bisa ikut ke sini...." Salah satu anak kecil itu terlihat murung dan sedih.


Niken segera memeluknya. Hatinya luka membayangkan anak-anak kecil yang sudah kehilangan orang tua ini.


"Bukankah di sini ada banyak kakak juga bibi Marianne. Jadi jangan terlalu sedih lagi yaa...," bujuk Niken.


"Ayooo mari kita mulai makan. Ayo Yabie, kau harus lebih dulu mengambil makanan. Ini peresmian kota kecilmu. Kau tuan rumah di sini." Nastiti menarik Yabie ke arah meja.


"Yaa.. ayo makan.. Perutku sudah lapar," teriak anak-anak spontan.


"Hahahaa...."


Semua tertawa. Dan suasana kembali riuh rendah. Mereka mengobrol satu dengan lainnya dengan riang.


Dean membahas kelanjutan perencanaan penataan kota mati dengan Yabie, Mattew, Kenny dan Liam. Karena merekalah yang nanti akan meneruskan detail kecilnya.


Lewat tengah hari, semua kegiatan akhirnya selesai. Bagaimanapun, Laras butuh istirahat yang cukup. Atau dia akan merasakan sakit yang teramat sangat di punggungnya. Liam membawa Laras untuk beristirahat di kamarnya.


Tempat itu kembali sunyi. Para wanita telah diantar pulang kembali ke rumah di tengah hutan. Meja besar juga sudah dipindahkan kembali. Tinggal Yabie dan Yoshi di sana.


Dengan ijin Yabie, Dean membawa seekor domba yang sedang hamil ke kediaman mereka. Dean berharap para wanita bisa mendapatkan susu lagi, seperti saat di gunung batu.


Seekor sapi yang sedang menyusui serta anaknya juga telah dikeluarkan untuk dipelihara oleh Kenny. Ditempatkan di sisi kanan kediaman Yabie. Dean membuatkan pagar pembatas agar sapi-sapi itu tidak bermain terlalu jauh yang mungkin bisa tergelincir ke saluran air.


"Kalian bisa mendapatkan susu setiap hari dari sapi ini. Susu bisa dibuat jadi mentega dan keju," kata Dean.

__ADS_1


"Ya, kami biasa membuat mentega dan keju saat di desa," kata Kenny.


"Oke. Kalau begitu rencana ini tepat. Kalian bisa memeliharanya." Dean mengangguk senang.


"Mungkin nanti aku bisa mencari di desa beberapa ekor ayam untuk kalian pelihara di sini," kata Yabie.


"Terima kasih tuan," kata Mattew senang.


Memilih tinggal dan memulai hidup baru di sini adalah pilihan tepat buat mereka. Sebagai penduduk desa yang juga hidup dari bertani, mereka jadi lebih leluasa di sini. Karena lahan yang bisa digarap masih sangat luas.


"Oke Mattew, Kenny. Kami harus segera kembali," kata Dean.


"Baiklah. Besok kami akan menggarap kebun di sebelah sana. Tanaman padi yang di dalam sudah bisa dipindah ke lahan yang lebih luas," kata Mattew.


"Bagus!"


"Tapi, untuk tanaman padi, baiknya buat saluran air dulu. Karena padi butuh banyak air untuk tumbuh dengan baik," saran Dean.


"Baik. Akan kami kerjakan seperti itu," sahut Mattew.


"Aku mau kembali. Apa kalian masih mau di sini?" tanya Dean pada Yabie dan Yoshi.


"Aku ikut, paman," sahut Yoshi cepat.


"Aku juga!" ujar Yabie.


Ketiganya melesat cepat ke gerbang kota. Membukanya dengan sekali sentuhan, lalu menutupnya kembali dari luar.


"Apa kalian mau langsung pulang?" tanya Dean sambil terbang.


"Tidak. Aku ingin main ke tempat paman dan bibi dulu. Aku belum lihat rumah kalian yang baru," kata Yoshi.


"Ayo kalau begitu." Dean melesat lebih cepat, diikuti Yoshi dan Yabie.


"Paman, lihat ke sana!" tunjuk Yabie ke arah tengah pulau.


Dean dan Yoshi berhenti dan melihat cahaya putih terang muncul di tengah pulau, diantara lebatnya hutan.


"Yoshi, bawa domba ini ke rumahku. Aku dan Yabie akan memeriksa cahaya itu," kata Dean.


Yoshi segera mengambil alih domba yang dibawa dari kota mati.


Dean melesat ke arah cahaya itu. Cahaya vertikal tegak lurus dari hutan ke atas langit.


Dean kemudian ingat bahwa Alan pernah juga melihatnya, tapi mereka tak menemukan apapun.


Yabie terbang lebih cepat untuk mengejar Dean. Dean tak ingin kehilangan arah datangnya cahaya. Itu pasti sesuatu yang besar. Alat yang sangat besar untuk bisa mengirimkan cahaya setinggi itu. Bukan sekedar cahaya laser biasa.


'Apakah itu jammer penghalang sinyal di hutan ini?' pikir Dean.


Cahaya itu sudah hilang. Tapi Dean telah mengunci titik lokasinya dan sedang berkonsentrasi menuju ke sana.


"Semoga ini adalah jawaban pencarian kami. Mudah-mudahan bisa segera pulang dan kembali ke peradaban modern," harap Dean.


******

__ADS_1


__ADS_2