PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 114. Merinding


__ADS_3

Dean, Alan dan Sunil kembali ke pondok mereka di hutan dengan perasaan puas. Mereka berhasil meminimalkan korban. Hanya Duke yang mati, itu sudah cukup.


"Kalian sudah kembali?" tanya Michael heran karena ketiga temannya hanya pergi sekitar 1 jam saja.


"Sudah beres, jadi kami kembali." Alan menjawab dan duduk di kursi.


Sunil mengambil air minum untuk memulihkan tenaganya. Disodorkannya secangkir air minum dari mata air abadi untuk Alan.


"Terima kasih." Alan meneguk isinya dengan segera.


"Kalian pergi tidurlah lebih dulu..Aku dan Michael akan berjaga berdua," saran Dean.


"Oke."


Alan dan Sunil menghilang di balik pintu kamar.


"Dean, ku rasa kita perlu memasang pagar sekitar tempat tinggal kita. Aku merasa merinding saat berjaga sendirian," kata Michael.


"Apa kau merasa ada yang aneh di sekitar sini?" tanya Dean.


Mata Dean segera berubah keemasan dan melihat ke sekeliling tempat tinggal mereka. Tak heran juga jika ada yang aneh, karena mereka memang tinggal di hutan lebat. Dean juga ingat, perkataan orang di pinggir hutan saat itu. Hewan-hewan buruan sudah tak terlihat selama berbulan-bulan. Entah apakah ada hubungannya dengan feeling Michael malam ini.


Dean melayang naik dan mengitari pondok itu, memeriksa sekitarnya dari atas. Dia tak menemukan apapun yang mencurigakan. Dean kembali turun dan duduk dekat Michael.


"Aku tak melihat hal mencurigakan. Tapi bagaimanapun, kau benar. Kita memang harus membuat pagar di sekeliling tempat ini. Besok kita lakukan." Putus Dean.


"Baiklah. Lagi pula, jika ada kalian bertiga, kita akan selalu aman. Aku tak kuatir lagi tentang malam ini." Michael mengangguk.


*


Pagi hari yang sejuk, suasana masih pagi benar dan udara dipenuhi uap air dari kabut yang menggantung. Namun kicauan burung sudah terdengar riuh dan membangunkan Widuri. Dia bangkit dan keluar menuju kamar mandi. Jarak pandang yang pendek membuatnya berusaha menajamkan pandangan. Dia heran, karena tak melihat seorangpun yang duduk berjaga di dekat perapian.


"Tak biasanya tak ada yang berjaga. Kemana mereka?" gumam Widuri sambil melangkah menuju kamar para pria.


"Ahhh!" jerit Widuri.


Wajahnya terlihat sangat terkejut, menatap ke satu arah. Diperhatikannya kembali arah yang tadi membuatnya terkejut. Tapi Widuri sudah tak melihat apapun.


"Ada apa kau menjerit di pagi buta?" tanya Nastiti yang muncul dengan wajah masih mengantuk.


"Aku melihat sesuatu bergerak di sana tadi," tunjuk Widuri ke arah hutan dan semak belukar di depan mereka.


Nastiti memicingkan mata untuk melihatnya. Tidak ada apapun. Itu hanya pohon-pohon besar dan semak belukar.


"Tidak ada apa-apa tuh," kata Nastiti.


"Tadi aku beneran melihat sesuatu di sana. Mirip manusia, tapi..." Widuri membantah dengan ragu.


"Mungkin hanya monyet, simpanse, atau orang utan," hibur Nastiti.


"Hemm, ku rasa kau benar." Widuri tersenyum.


"Oke, aku ke kamar mandi dulu. Kau tak takut sendirian kan? Siapa yang berjaga sekarang? Kenapa tak terlihat seorang pria pun di sini?" Nastiti mengomel sambil menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Ah, ya. Siapa yang giliran jaga tapi tak berada di tempatnya?"


Widuri melanjutkan langkah menuju kamar para pria. Dilihatnya Alan, Sunil dan Michael masih tertidur pulas. Tak ada Dean di kamar, berarti dia yang giliran jaga. Lalu kemana dia?


Brukk.. brukk..


Suara benda-benda jatuh, membuat Widuri menoleh. Tampak Dean menumpukkan potongan-potongan kayu di area pinggir pondok.


"Untuk apa kayu-kayu ini?" Widuri menghampiri Dean.


"Untuk membuat pagar sekeliling pondok," jawab Dean.


Widuri mengangguk. Dia lalu menyusul ke kamar mandi saat melihat Nastiti keluar.


"Kau tadi dimana Dean?" tanya Nastiti.


"Aku mengambil kayu di hutan sana," jawab Dean.


"Tadi tak ada seorangpun yang menjaga tempat ini. Widuri menjerit. Katanya melihat sesuatu di sana." Lapor Nastiti.


"Benarkah?"


Dean terkejut. Lalu dengan cepat terbang ke arah yang ditunjuk Nastiti. Dia memeriksa dengan seksama, termasuk permukaan tanah. Dean melayang rendah dan memeriksa jejak yang dicurigainya. Meski samar, tapi itu masih tampak seperti jejak kaki manusia.


"Jejak baru, tapi hanya tercetak samar. Jika bukan berat tubuhnya yang ringan, maka harusnya dia sedang bertumpu pada sesuatu yang lain,"


Dean menganalisa temuannya. Lalu kembali melayang dan memeriksa area sekitarnya. Mencari jejak lain untuk mengetahui kemana makhluk yang dilihat Widuri itu pergi. Dengan mata keemasannya, Dean menyisir tempat itu dan menemukan jejak samar lainnya.


"Ini harus dibicarakan dengan O dan Z. Mereka ahlinya menangani hal seperti ini," gumam Dean.


Dean kembali ke pondok dan melihat Widuri dan Nastiti sudah asik di dapur. Tampak Marianne keluar dari kamar mandi.


"Dean, air keran sudah berhenti menetes." Lapor Marianne.


"Baik. Segera ku isi."


Dean melayang naik, lalu melesat menuju tebing untuk mengambil air laut.


"Kalian beruntung sekali karena Dean, Alan dan Sunil mendapatkan kemampuan khusus seperti itu." kata Marianne.


"Ya, begitulah. Pekerjaan sulit dan berat jadi lebih mudah dan ringan." jawab Nastiti.


Ketiga wanita itu mulai asik ngobrol sambil menyiapkan sarapan.


Saat sarapan, kejadian Widuri tadi pagi serta temuan jejak oleh Dean akhirnya dibahas.


"Jadi tadi malam itu benar bahwa pondok kita diawasi. Itu sebabnya aku merasa merinding." kata Michael.


"Yah, feelingmu kuat. Itu sebabnya pagi-pagi aku pergi memotong beberapa pohon untuk dibuat pagar. Tapi justru saat aku pergi itu Widuri melihatnya lalu menjerit," timpal Dean


"Setelah Widuri menjerit, aku muncul. Dan dia sudah kabur." Nastiti menambahkan.


"Lalu kau mencari jejaknya ke tempat yang ditunjuk Nastiti. Dan menemukan jejak lain." Alan memegang dagunya dan berpikir.

__ADS_1


"Tapi jarak tiap jejak itu sekitar 10 meter jauhnya. Apakah dia melompat? Atau makhluk berkaki panjang? Apa kau bisa deskripsikan yang kau lihat Widuri?" tanya Dean.


"Tidak jelas juga sih. Menurutku dia tetlihat seperti manusia biasa. Tapi Nastiti bilang, mungkin itu monyet, simpanse atau orang utan. Jadi, tak ku pikirkan lagi." jawab Widuri jujur.


"Setelah makan, biar Aku dan Alan pergi memeriksanya. Kau dan Michael buat pagar." putus Sunil.


"Oke, siap.." sahut Michael senang karena bisa ikut berpartisipasi.


Setelah sarapan, Dean menunjukkan jejak-jejak yang ditemukannya pada Sunil dan Alan. Setelah itu dia membuat pagar bersama Michael. Pagar itu setinggi dua setengah meter. Saat tengah hari, setengah pekerjaan pagar sudah selesai. Dean bekerja lumayan cepat, karena ada cukup banyak pohon yang bisa ditebang di hutan itu.


Sunil dan Alan kembali. Mereka beristirahat dan menikmati salad buah serta sirup lemon buatan para wanita.


"Jadi kalian tidak menemukannya?" tanya Marianne.


"Jejak itu hanya berputar-putar. Sepertinya dia sudah mengantisipasi bakal dikejar. Jadi dia berusaha menyulitkan," jawab Alan.


"Artinya, makhluk itu cerdas. Ku rasa itu bukanlah binatang, tapi manusia," gumam Nastiti.


"Ya, menurutku juga begitu." Dean setuju.


"Artinya, ada orang lain yang tinggal di hutan ini selain kita." Widuri menambahkan.


"Kalau begitu kita segera selesaikan seluruh pagar hari ini. Entah dia punya maksud baik atau buruk, kita harus mengantisipasinya." kata Sunil.


"Dean, kamar-kamar kita belum punya pintu hlo.." Widuri mengingatkan.


"Baik, akan ku kerjakan." jawab Dean.


"Dan satu hal lagi," sela Nastiti.


"Persediaan buah, sayur dan rempah kita makin menipis. Bisakah kita mendapatkannya dari pasar?" tanyanya dengan mata berkedip-kedip.


"Nanti kami pikirkan dulu caranya," sahut Dean.


Ke empat pria itu bahu-membahu membangun pagar mengelilingi area pondok. Dean menebang lebih banyak pohon ukuran sedang. Memotong setinggi 3 meter lalu membelahnya jadi 4 bagian. Balok-balok kayu itu dipindahkan Alan agar Sunil dan Michael mudah menjangkaunya. Sebelum sore, pekerjaan mereka selesai.


Ada cukup banyak stok bayu bakar dari batang-batang kayu yang tersisa. Dean menumpuknya dekat dapur. Menambahkan 2 titik tungku api lagi agar sekeliling tempat itu bisa lebih terang.


Alan menyerahkan cukup banyak buah blue berry pada Nastiti. Dia menemukan banyak rumpun blueberry tak jauh dari tempat Dean menebang pohon.


"Apakah buah seperti ini ada banyak di sana?" tanya Nastiti antusias.


"Sangat banyak. Itu hanya di sebagian kecil rumpun yang ku petik. Kau bisa memetiknya lagi besok jika mau. Akan ku tunjukkan tempatnya." sahut Alan.


"Mungkin kita bisa menjual buah ini ke pasar, untuk dijual atau dibarter dengan bahan makanan lain." Mata Nastiti berkilat senang.


Alan mengangguk-angguk.


"Bisa dicoba. Besok pagi-pagi kita petik lalu bawa ke kota."


"Yeayyy.. akhirnya aku bisa melihat peradaban," seru Nastiti bahagia.


*****

__ADS_1


__ADS_2