
Hamparan rumput dengan bunga-bunga kecil seperti permata yang memantulkan sinar mentari sore menjadi bias-bias pelangi berwarna-warni. Pepohonan rindang aneka jenis dan warna serta bunga warna-warni membentuk pergola menaungi jalan berkelok-kelok di depan sana. Beberapa rumah mungil dan cantik berdiri di dahan-dahan pohon yang kokoh.
Sulur-sulur rambat dengan bunga bercahaya kekuningan tampak kontras pada area yang mulai temaram. Sulur-sulur itu seperti rangkaian lampu kelap-kelip di pohon natal. Indah sekali.
Di balik semua itu, tampak pula beberapa bangunan indah dengan menara-menara tinggi berwarna gading menyembul di atas puncak-puncak pohon yang tinggi. Seakan ingin bersaing dengan gedung megah lain yang ada di atas batu-batu melayang yang berhampiran dengan awan.
"Apa sekarang kita berada di dunia fantasi?" Angel benar-benar tak habis pikir, bagaimana mereka bisa terdampar di tempat seindah imajinasi masa kecilnya.
"Daebak," gumam Silvia.
Satu sosok mungil bersayap indah terbang menghampiri pemimpin perjalanan di depan. Mereka bicara dengan bahasa mereka sendiri. Setelah itu rombongan kembali melanjutkan perjalanan melalui jalan setapak.
"Kalian ke sini semua." perintah pria yang memimpin jalan.
Robert dan timnya membimbing kuda dan menghampiri. Mereka menginjak bebatuan yang membentuk area melingkar. Pemimpin itu dan 2 anggotanya ikut masuk dalam lingkaran. Lalu tiba-tiba seberkas cahaya hijau kebiruan menyelubungi. Ketika cahaya itu hilang, mereka telah berada di suatu tempat lain disamping sebuah gedung megah berwarna putih bersih dengan ornamen-ornamen bunga berwarna biru di dindingnya.
"Lewat sini," kata pria itu.
Robert dan teman-temannya mengikuti memasuki halaman dalam gedung itu. Mereka disambut beberapa orang bertelinga lancip lainnya. Kuda-kuda mereka akan dibawa pergi bersama dengan semua barang bawaan. Robert protes dan mempertahankan tasnya.
Akhirnya pria yang membawa mereka mengijinkan untuk membawa tas masing-masing. Lalu kuda-kuda dibawa pergi. Anggota tim Robert dibawa masuk ke dalam bangunan itu.
Mereka diantar menuju lantai 2 dimana terdapat jejeran kamar. Tapi Robert meminta mereka untuk tetap sekamar berdua agar bisa saling menjaga.
"Nanti kami akan memanggil saat makan malam telah siap. Jadi silahkan istirahat dan membersihkan diri lebih dulu." Orang itu berlalu dan menghilang di balik tangga kayu.
"Baik, kita membersihkan diri dan istirahat dulu. Setidaknya mereka masih cukup baik. Tapi jangan mengendurkan kewaspadaan," pesan Robert.
Mereka memilih kamar masing-masing. 2 kamar wanita berada diantara kamar para pria.
Setelah masuk kamar, Robert menghampiri jendela dan memandang keluar.
"Selain batas halaman, hanya warna putih semata yang terlihat," gumam Robert.
"Mungkin kita diteleportasi oleh sinar hijau kebiruan itu ke salah satu gedung yang berdiri di atas batu-batu melayang?" tebak dokter Chandra.
"Hah?!" Robert terkejut.
"Apa untuk menjaga agar kita tak bisa lari?" Robert menebak-nebak apa yang sedang terjadi.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Bagaimanapun gedung ini tidak tampak seperti penjara dimataku. Mungkin kediaman pria bertopeng yang pergi sebelumnya. Jadi mari mandi dan istirahat sebelum makan malam. Nanti kita tanyakan saja kebenarannya." Dokter Chandra mencari-cari dimana letak kamar mandi.
__ADS_1
"Akhirnya aku bisa mandi," ujarnya senang sambil masuk ke kamar mandi dengan tas ransel di pundaknya.
*
Sepuluh anggota tim Robert telah berkumpul di ruang makan yang luas berisi meja panjang. Para pelayan mengarahkan mereka duduk lalu menyajikan makanan dan minuman yang masih mengepulkan asap. Udara dingin memang sangat cocok untuk menikmati makanan hangat.
Pria yang membawa mereka ke tempat itu masuk dan duduk di kursi paling ujung, tapi itu jelas bukan kursi utama.
"Saya adalah Randal, yang ditugasi ketua untuk menjaga kalian hingga ketua kembali nanti. Jadi, jika ada kebutuhan lain, silahkan hubungi pelayan. Kami akan upayakan untuk melayani tamu tuan dengan baik."
Randal mengangkat gelas minumnya, diikuti Robert dan yang lainnya.
"Sekarang silahkan dinikmati hidangan sederhana kami," katanya ramah, lalu meneguk minumannya.
Mereka semua makan dengan lahap, karena memang seharian tadi perut tidak diisi sama sekali. Dan hidangan itu sungguh lezat. Mereka menikmati makan malam tanpa bersuara sedikitpun.
Hingga ketika pelayan menghampiri dan mengganti piring-piring dengan piring-piring buah, Robert tak bisa menahan pertanyaan lagi.
"Apakah ketua anda adalah pria bertopeng bermata biru?" tanya Robert.
Pria itu mengangguk.
"Ya. Saya diminta membawa kalian ke kediaman ketua, menjamu serta menjaga hingga ketua kembali.
"Semua makhluk hidup yang bukan penghuni asli hutan itu, akan hilang selamanya jika hingga sore tak juga terbangun dari tidur.
Mereka terkejut mendengar itu. Benar-benar berbahaya.
"Hilang kemana?" tanya Gilang.
"Belum ada yang kembali untuk menceritakan kemana mereka hilang. Jadi tak ada yang tau. Tapi asumsi kami, mereka yang hilang sudah tewas dalam pengaruh sihir hutan itu." jawab Randal.
Jawaban itu membuat mereka makin bergidik ngeri. Syukurlah rombongan Randal melewati tempat mereka dan membangunkan. Jika tidak, sungguh malapetaka.
"Kemana ketua kalian pergi?" tanya Robert hati-hati.
"Itu tak bisa saya beritahu. Jadi tunggulah dengan tenang. Kalian bebas berjalan-jalan di taman atau berkuda di halaman belakang. Tapi jangan melewati pagar pembatas," kata Randal.
"Kenapa? Apakah ada bahaya?" tanya Indra.
"Ya. Kediaman ketua berada di pulau pribadi. Pulau ini melayang diantara awan. Pagar pembatas dibuat untuk menjaga binatang-binatang peliharaan agar tak terjatuh dari ketinggian yang tak terbayangkan," jawab Randal sambil tersenyum.
__ADS_1
"Waahh.. ajaib sekali." Niken terpesona.
"Apakah di tempat asal kalian tak ada pulau melayang?" ganti Randal yang keheranan.
"Kalau ada pulau-pulau melayang di bumi, pasti kerja pilot jadi lebih sulit. Hahaa.." Laras tertawa geli.
"Rawan nabrak kaya metromini," sambung Gilang menahan tawa.
"Pilotnya serasa nyetir angkot dong.. Hahahaa.." Silvia menambahi.
Tawa berderai terdengar di ruang makan. Randal yang tak terlalu mengerti arah pembicaraan mereka ikut tersenyum melihat tamu-tamunya sudah mulai rilex.
"Bagaimana jika kita berbincang di ruang baca?" tawar Randal.
"Itu bagus sekali."
Dokter Chandra mengangguk cepat. Bukankah ini kesempatan langka untuk bisa membaca buku-buku asing? Mereka meninggalkan ruang makan. Melewati lorong panjang lalu sampai di ruangan yang dindingnya ditutupi rak dengan buku-buku tua kuning kecoklatan.
Dokter Chandra tak sabar dan segera menarik sebuah buku tebal dari raknya saat Randal sedang menyalakan perapian.
"Tulisan yang indah. Meskipun aku tak tau apa yang ditulis, tapi ini benar-benar indah."
Dokter Chandra menunjukkan buku itu pada Robert. Robert setuju. Tulisan itu seperti tulisan kuno. Huruf-hurufnya terukir dengan indah dalam banyak lengkungan. Belum lagi tepian halaman yang juga dihiasi dengan bunga-bunga rambat.
Randal memperhatikan kebingungan mereka.
"Apa kalian tidak bisa membaca?" selidiknya heran.
"Tulisan kami berbeda. Coba ambil sehelai kertas lalu kau tulis namamu. Nanti saya tuliskan namamu dengan tulisan kami." dokter Chandra memberi ide.
Randal mengambil sehelai kertas kekuningan dan pena dari bulu burung di sebuah meja baca. Dia menuliskan namanya. Dokter Chandra terpukau melihat tulisan itu. Lalu ditulisnya nama Randal sesuai penulisan bahasa Indonesia. Randal tak kalah terkejut melihat perbedaan itu.
"Sungguh berbeda," gumamnya.
"Apakah suku kalian tinggal jauh dari kerajaan kami? Tulisan kalian sangat berbeda." Randal tak bisa menyembunyikan keheranannya.
"Jauuuhhhh sekali. Kami terdampar didunia yang sama sekali asing karena sebuah kecelakaan pesawat. Dan sampai sekarang masih belum menemukan jalan pulang." Laras menunduk sedih.
Sudah berbulan-bulan mereka terdampar dari satu dunia asing ke dunia asing lainnya. Kapankah mereka bisa menemukan celah pintu yang tepat untuk kembali ke bumi, ke Indonesia?
__ADS_1
Silahkan tinggalkan like, komen dan pilih favorit untuk menyemangati othor yaa.. Thank you 💙💙💙