PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 397. Perjalanan Menuju Indonesia 3


__ADS_3

Mereka mencapai daratan lebih cepat dari pada munculnya matahari. Kemudian ketiganya melintasi tanah kosong yang ditumbuhi semak belukar lebat. Ada sebuah bangunan kecil dan tua di tengah-tengah. Tapi beberapa bagiannya sudah runtuh. Tempat itu seperti tanah yang tak terurus dan terabaikan.


Setelah melewati pagar besi tua berkarat, ketiganya kini berada tepat di pinggir jalan raya. Namun jalan itu masih sepi. tak ada satu kendaraan pun yang melintas di pagi buta itu.


"Mau ke mana kita? Kiri atau kanan?" tanya Sunil.


Tadi kita menyusuri pantai dari arah kanan. Sekarang berarti ke kiri!" ujar Robert.


"Ya. Jika ke kanan, kita akan menemukan tempat wisata itu lagi!" Dokter Chandra sepakat dengan Robert.


"Oke!"


Ketiganya berjalan cepat setengah terbang di jalanan yang sangat sunyi itu. Sampai kemudian sebuah kendaraan melintas jauh di depan sana.


"Di sana persimpangan. Ayo cepat!" ajak Dokter Chandra. Mereka kembali berjalanan dengan setengah terbang, agar bisa cepat sampai ke persimpangan.


Benar saja. Itu adalah jalan yang lebih besar lagi. Jalanan itu belum terlalu ramai. Mungkin yang berangkat pagi-pagi sekali, adalah mereka yang pekerjaannya dimulai pagi hari.


Dokter Chandra mencari-cari sesuatu di persimpangan itu.


"Anda mencari apa?" tanya Sunil.


"Plang nama jalan! Kita bisa mengetahui negara apa ini, dengan melihat huruf yang tertera pada plang nama jalan ataupun papan reklame!" jawab Dokter Chandra.


Sekarang ketiganya melihat ke sekitar, mencari petunjuk jalan. Tapi mereka tak menemukannya.


"Masa sih, tempat wisata di sana itu tidak membuat penanda jalan di sini?" gerutu Sunil.


"Bisa jadi jalan ini tidak sampai ke sana!" sahut Robert. Dokter Chandra mengangguk.


"Ya sudah. Kita ikuti saja terus jalan ini. Nanti pasti ketemu esuatu yang bisa jadi petunjuk!" ajak Dokter Chandra.


"Dok. Apakah anda tak ingin beristirahat dulu? Kita sudah terbang semalaman. Dan melintasi hutan mangrove pagi-pagi. Sebaiknya isi tenaga dulu!" saran Sunil.


"Iya. Mumpung tempat ini masih sunyi, kita bisa beristirahat dengan tenang!" timbrung Robert.


"Baiklah. Mari kita istirahat sejenak!"


Ketiga orang yang tersesat itu berhenti di bawah sebatang pohon flamboyan besar yang rindang dan sedang berbunga. Mereka duduk di tanah begitu saja dan menikmati bekal yang disiapkan para wanita.


Matahari bergerak naik makin tinggi. Kendaraan yang lewat juga makin beragam.


"Lihat bis itu!" tunjuk Sunil pada bis yang baru melintas.


"Tulisan iklan di body bus itu mirip ukiran. Aku tak mengerti!" sahut Robert.


Aku melihat salah satu penumpangnya yang melihat dan tersenyum ke arah kita. Matanya mirip mata orang oriental!" ujar Dokter Chandra.


"Kemungkinan kita berada di Vietnam, Kamboja ataupun Thailand. ujar Sunil.


Mungkin saja!" Angguk Dokter Chandra setuju.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Robert.


"Kita sudah mengetahui posisi kita sekarang. Berada di utara dari Indonesia. Kita tunggu gelap turun, lalu terbang kembali ke arah kita datang sebelumnya!" ujar Dokter Chandra.

__ADS_1


"Berarti koordinat yang dibuat Ta, sebenarnya tidak jauh meleset. Hanya saja, karena terlalu gelap, kita gagal mengenali sekitarnya!" imbuh Robert.


Sunil manggut-manggut sambil mengunyah bekalnya.


"Jika ingin bergerak saat malam, baiknya kita mencari tempat untuk beristirahat," saran Sunil.


"Bagaimana kalau kita kembali ke rumah tua pinggir hutan bakau?" usulnya.


"Semak belukarnya terlalu rimbun. Bisa saja ada ular yang bersembunyi di sana," cegah Robert.


"Lalu mau istirahat di mana?" tanya Sunil akhirnya.


"Itu ada pohon besar lagi di sana. Tidak terlalu dekat ke jalan raya. Juga tidak terlalu banyak semak belukarnya." Dokter Chandra menunjuk satu tempat taj jauh dari tempat mereka duduk.


"Boleh juga. Ayolah. Aku juga sudah lelah." Sunil segera berdiri. Tiga pria itu akhirnya beristirahat di sana menunggu senja.


*


*


Setelah mengisi perut, Dokter Chandra, Sunil dan Robert bersiap untuk kembali ke tempat mereka keluar dari jalur teleportasi. Diyakini, lokasi itu harusnya berada di atas lautan bagian utara Indonesia, ataupun teluk Thailand.


Langit sudah sepenuhnya gelap. Tapi jelas bahwa malam baru saja dimulai. Kemungkinan bertemu pesawat sangat besar. Akhirnya diputuskan untuk terbang lebih rendah, agar tak terjadi hal yang tak diinginkan.


"Ayo!' komando Dokter Chandra.


Ketiganya melesat cepat ke arah mereka datang sebelumnya.


Hampir satu jam kemudian.


Dalam sepuluh menit, mereka telah berada di atas tempat itu.


"Itu Singapura. Mari lanjutkan!" ajak Dokter Chandra lagi.


"Oh? Oke!"


Robert dan Sunil menyusul Dokter Chandra yang telah melesat lebih dulu ke depan sana.


"Sumatera!" kata Dokter Chandra lewat transmisi suara.


Mereka melewatinya lagi. Sunil dan Robert jadi bertanya-tanya, di manakah gerangan mereka akan turun? Bukankah seharusnya mencari pulau terpencil, untuk menjadi alibi?


"Dok, kita mau turun di mana?" tanya Robert akhirnya.


"Jakarta!" jawab Dokter Chandra yakin.


"Apa?"


Seruan kaget Sunil dan Robert memenuhi kepala Dokter Chandra.


"Jangan berteriak lewat transmisi suara! Kalian mendesah saja, aku mendengarnya!" semprot Dokter Chandra sewot. Kepalanya terasa sakit mendengar teriakan Sunil dan Robert.


"Maaf, Penguasa." Robert dan Sunil jadi merasa bersalah.


"Ayo cepat. Jangan lelet!" Dokter Chandra mengingatkan.

__ADS_1


Ketiganya kembali melesat terbang. Tak ada lagi yang protes. Mereka percaya pada keputusan Penguasa Cahaya.


"Selat Sunda!" ujar Dokter Chandra lagi.


Mereka makin dekat ke Jakarta. Mau turun di manakah Dokter Chandra?


"Kurasa, kita sebaiknya turun di sekitar sini saja. Di sana sudah mulai terlalu terang!" kata Dokter Chandra.


"Oke!" Sunil dan Robert mengangguk setuju.


Mereka turun perlahan, sambil melihat sekitarnya. Tempat itu memang gelap. Tapi bukan berarti tak ada yang iseng menggunakan teropong untuk melihat bintang 'kan.


Ternyata itu merupakan area perkebunan. Pohon-pohon rindang menghampar seluas beberapa hektar di tanah berbukit.


"Apa kita mau turun di sini?" tanya Sunil.


"Tidak! Jangan! Nanti kita malah dikira pencuri hasil kebun!" larang Dokter Chandra.


"Oh? Baiklah." Sunil tak berminat untuk mendebat.


"Itu jalan desa. Apa mau turun di situ?" Kali ini Robert yang bertanya.


"Tidak! Kita cari jalan yang agak besar saja. Desa kecil itu, biasanya saling mengenal satu sama lain. Kalau tiba-tiba ada orang asing berjalan-jalan malan hari, mereka bisa berprasangka buruk. Kita mungkin akan berakhir di kantor pengaman desa dan ditanyai macam-macam!" jelas Dokter Chandra lagi.


"Alangkah sulitnya," gumam Robert.


"Itu jalanan yang agak besar. Apakah sesuai?" tanya Sunil.


Dokter Chandra tak langsung menjawab. Dia melihat ke sekeliling lebih dulu.


"Rasanya kita masih sangat jauh dari jalan utama menuju Jakarta" katanya.


"Jika turun di sini, kita masih harus berjalan berkilo-kilo meter, baru sampai ke jalan raya. Kalian mau berjalan kaki?" tanya Dokter Chandra.


"Tak masalah!" jawab Robert dan Sunil.


"Oke. Mari cari mesjid atau pos ronda ataupun kios kosong yang ada di pinggir jalan, untuk beristirahat!" ujar Dokter Chandra.


"Oke!"


Mereka kembali menajamkan pandangan ke arah bawah. Terbang mencari tempat yang bisa dijadikan tempat beristirahat.


"Bagaimana dengan itu?" tunjuk Sunil ke arah bangunan segi empat tanpa dinding. Bangunan itu ditopang dengan beberapa tiang penyangga atap. Tempatnya terbuka. Ada beberapa meja panjang dan kursi kayu.


"Tempat ini seperti pendapa. Atau mungkin tempat belajar anak-anak di sini!" Dokter Chandra menilai bangunan itu.


"Bisakah kita istirahat di situ?" tanya Robert.


"Harusnya sih, tidak ada masalah," jawab Dokter Chandra.


"Atau di gubuk kecil itu saja!" tunjuk Sunil ke seberang jalan.


"Nah, itu pos ronda! Mari turun dan istirahat di sana!" ajak Dokter Chandra.


Ketiganya turun perlahan dan mengawasi sekitarnya. Jangan sampai ada yang melihat mereka turun dari langit.

__ADS_1


********


__ADS_2