PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 144. Mencari Tabib Untuk Sunil


__ADS_3

Pagi tiba.


Setelah sarapan, Michael dan Alan bersiap dengan misi masing-masing. Tapi mereka sudah lebih tenang, karena selain Michael, kini ada Cloudy yang turut menjaga pondok.


Alan membawa Nastiti yang merasa bosan terus di pondok. Sementara Dean membawa Widuri untuk dikenalkan pada ketua kota. Di pondok hanya ada Michael, Marianne, Sunil dan Cloudy.


*


*


"Paman, bibi. Kalian datang. Aku ingin ke pasar hari ini. Kalian mau ikut?" Sapa Yoshi di depan pintu.


"Tidak. Kami ingin bertemu ayahmu." Jawab Dean.


"Oh, ayah sedang menerima tamu. Masuk dulu." Yoshi membawa dua tamunya ke taman dalam.


"Tunggulah sebentar di sini. Ku ambilkan minuman dulu." Kata Yoshi yang segera menghilang ke dalam.


Widuri mengamati taman itu. Lumayan luas. Bagian sisi dinding dipenuhi pohon-pohon bunga berwarna warni. Beberapa perdu terawat baik. Bunga-bunga bintang berwarna putih memenuhi permukaan pagar hidup yang pasti telah dipangkas dengan teratur.


Tak jauh dari sebuah gerbang kecil yang ada pada dinding batu itu, berdiri kokoh sebatang pohon besar. Seorang pelayan bercaping lebar sedang memungut sesuatu di bawahnya. Ada yang berjatuhan dari atas pohon.


Widuri melihat ke atas pohon. Ada 2 orang sedang memegang galah, memukul-mukul dahan dan menjatuhkan sesuatu ke tanah. Dia mendekat.


"Pohon apa ini?" Tanyanya ingin tau.


Pelayan itu terkejut, karena tak mengira ada orang tak dikenal di area dalam. Namun sebelum dia bertanya, matanya tertumbuk pada sosok Dean yang berjalan menyusul.


"Ini pohon walnut nyonya." Jawab pelayan itu sopan.


Para pelayan di situ sudah diberi tau bahwa Dean adalah paman Yoshi, Nona mereka. Saudara dari ibunya. Meski mereka tidak pernah melihat ibu Nona mereka karena telah lama tiada, tapi mereka tetap harus menghormati Dean dan teman-temannya.


"Walnut? Itu kacang yang sangat enak." Mata Widuri berbinar-binar. Dia menengadah ke arah atas.


"Kau suka walnut?" Tanya Dean.


"Bukankah itu enak. Siapa yang tidak suka." Cibir Widuri.


"Apa lagi jika dicampur dengan lelehan coklat dan karamel. Yummyyy."


Dean tersenyum melihat mimik Widuri yang membayangkan snack lezat. Betapa inginnya Dean membahagiakan wanita itu. Dia terbang ke atas pepohonan dan mengumpulkan cukup banyak walnut dari pohon.


Para pelayan itu terdiam melihat bagaimana Dean terbang dengan lincah mencari buah-buah walnut tua kecoklatan. Dia benar-benar paman nona Yoshi. Mereka sama-sama bisa terbang dan melayang. Mereka sudah tau bahwa nyonya mereka berasal dari dunia lain. Kemampuannya terbang diturunkan pada Yoshi. Dan semua pelayan rumah itu menyimpan rapat rahasia keluarga ini. Kini mereka bisa lihat sendiri saudara nyonya mereka memiliki kemampuan yang sama.


"Bibi, kau sedang apa?" Yoshi muncul membawa nampan minuman.


"Pamanmu mengambilkan walnut untukku. Bolehkah?" Tanya Widuri.


"Itu prosesnya lama. Nanti ku berikan yang sudah bersih saja. Paman, turunlah. Ini minumannya. Aku sudah mengatakan pada ayah kalau kalian di sini." Teriak Yoshi pada Dean.


Dean melayang turun. Kumpulan kacang yang diambilnya ikut melayang turun di dekat tangannya. Pelayan di bawah itu melihat dengan takjub. Pria itu tak butuh wadah untuk menyimpan buah kering. semuanya dibiarkan melayang di udara.


"Berikan itu pada pelayan. Nanti bawa pulang yang sudah bersih saja." Yoshi mengulangi perkataannya.


Dean mengangguk. Didekatinya pelayan yang memungut buah kering. Diarahkannya semua walnut yang melayang itu ke dalam keranjang yang ada di punggung si pelayan. Kemudian semua buah yang terserak dikumpulkan Dean juga. Dan kembali dimasukkannya dalam keranjang.


"Hah?"


Pelayan itu kini linglung. Tak ada lagi buah tua yang harus di pungutnya di atas tanah. Semuanya telah dibersihkan Dean.


'Andai saja aku punya kemampuan itu, pasti pekerjaanku cepat selesai,' batinnya kagum.


"Woyy.. kalian jangan melamun saja. Mana lagi buahnya. Di sini sudah habis." Teriak pelayan itu ke arah dua temannya di atas.


Dean, Widuri dan Yoshi tersenyum. Mereka menuju bangku di teras.

__ADS_1


"Apakah ada hal penting paman? Apa orang di hutan itu sudah ketemu?" Tanya Yoshi ingin tau.


Dean menggeleng. Widuri menyeruput minumannya dan dengan santai menikmati taman teduh dan asri itu. Rumah besar ini letaknya sangat dekat ke pantai. Tapi di sini terasa sangat teduh. Banyak pohon rindang dan bunga-bunga yang membuat kesan panas pantai hilang tak berbekas. Taman ini seperti oase hijau dibawah intensnya gempuran cahaya matahari.


"Ini tentang Sunil. Kami pikir sudah saatnya mencari tabib untuk memeriksanya." Ujar Dean lesu.


"Paman Sunil belum sadar juga?" Yoshi terlonjak kaget.


"Sudah berhari-hari." Gumamnya dengan kening mengerut.


Seorang pelayan muncul dan mengatakan bahwa tamu telah pergi.


"Ayo kita tanyakan pada ayah." Yoshi berdiri dengan tak sabar.


*


*


"Hemmm... Seorang tabib ya? Ada satu tabib yang bagus. Tapi tinggal di perbukitan sebelah sana. Dia jarang turun ke kota, karena ingin melayani rakyat kecil." Kata ketua kota.


"Apakah yang ayah maksud adalah tabib tua berkaki satu?" Tanya Yoshi memastikan. Ayahnya mengangguk.


"Ya, dia. Dia tabib terbaik yang ada di sini. Tapi tak suka dengan keramaian kota. Apa lagi setelah berselisih dengan Duke yang membuat kakinya terluka parah dan akhirnya diamputasi. Pada hal dulu dialah yang mengobati Duke saat kami nenemukannya terluka parah di hutan." Ketua kota menggeleng kecewa.


"Apakah kau ingin dia memeriksa ke tempatmu, atau kau mau membawa Sunil untuk diperiksa di sini?" Tanyanya pada Dean.


Dean memandang Widuri meminta pendapatnya.


"Jika dia tabib yang bisa dipercaya, dibawa langsung ke pondok juga tak ada masalahkan?" Widuri justru balik bertanya.


"Tidak. Dia bisa dipercaya dan selalu menjaga rahasia." Jawab ketua kota.


Widuri mengangguk pada Dean.


"Baiklah. Bagaimana cara kami menemuinya?" tanya Dean tak sabar.


"Ya ayah, aku akan segera ke sana." Yoshi langsung berdiri dari duduknya.


"Kalau begitu, kami juga kembali saja dan menunggu Yoshi datang." Kata Dean.


"Tunggu."


Ketua kota membuka laci mejanya dan mengeluarkan satu kantong yang bergemerincing. Dilemparnya kantong itu ke arah Dean.


"Kalian akan memerlukan uang untuk membayar jasanya." Kata ketua kota.


Dean termangu. Dibukanya kantong yang tadi ditangkapnya. Ada beberapa koin tembaga dan perak di dalam situ.


"Sebenarnya kami juga menjual sesuatu di pasar dan memiliki sedikit uang. Jadi sepertinya kami belum memerlukan ini." Dean mengembalikan kantong uang ke meja.


"Baiklah. Aku tidak tau jika kalian juga berbisnis di pasar." Ketua kota merasa bersalah.


"Ya, kami memetik buah liar di hutan atau membuat sirop, jus dan manisan. Lalu menjualnya ke pasar." Widuri menjawab cepat.


"Jadi, sekarang kami kembali. Terima kasih untuk bantuan anda." Kata Dean hormat. Keduanya melangkah keluar.


Yoshi cemberut pada ayahnya karena sudah menyinggung pamannya. Disusulnya Dean dan Widuri. Ketua kota merasa tak berdaya. Dia hanya ingin membantu saja dengan kantong uang itu. Tak ada maksud lain. Tapi putrinya kini kesal padanya.


"Bibi, sebentar aku ambilkan kacang walnut yang kau inginkan." Yoshi mengingatkan Widuri.


"Ah iya. Hampir saja lupa." Widuri menepuk jidatnya sendiri.


Yoshi tersenyum dan segera menghilang ke bagian dalam rumah. Dean dan Widuri menunggu di bagian depan rumah itu. Dari situ bisa melihat beberapa pekerja dan petugas berseragam hilir mudik mengangkut barang. Beberapa petugas dengan pedang terselip sesekali lewat.


"Bibi, ini." Yoshi muncul dan menyerahkan sebuah kantung berukuran besar ke tangan Widuri.

__ADS_1


"Berat sekali. Apa kau mengosongkan gudang persediaanmu?" Tanya Widuri heran.


"Tidak. Aku memiliki beberapa hal yang menurutku enak. Aku ingin bibi ikut mencicipinya." Yoshi tersenyum malu.


"Oh, baiklah. Terima kasih. Kami akan mencobanya." Kata Widuri ramah. Dia tak memeriksa lagi apa isinya, karena mengira itu mungkin kue-kue atau jajanan khas daerah itu.


Dean menyimpan kantong besar itu dalam ruang penyimpanannya. Lalu mereka berpamitan. Mereka langsung kembali ke pondok.


*


*


Alan dan Nastiti telah mencapai tebing pantai. Mereka memeriksa area itu dengan seksama. Hutan di bawah itu sunyi. Tak ada terlihat satupun binatang liar besar yang mungkin bisa jadi buruan.


"Bagaimana bisa binatang di sini juga menghilang? Hutan ini sangat aneh." Celetuk Nastiti.


"Benar. Ini sudah sangat jauh dari kubah cahaya. Kenapa masih tak ada binatang buruan?" Alan juga merasa heran.


Mereka terus menyusuri hutan itu sambil sesekali memandang laut di kejauhan. Seperti kata Dean, area ini seperti area asing dimana tak ada satu kapalpun yang melintas. Laut luas itu kosong melompong.


Alan dan Nastiti terus terbang makin jauh. Hingga mereka menemukan pantai landai lainnya.


"Alan, coba kita ke sana dan berteduh dulu. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Ini panas sekali." Kata Nastiti.


Alan mengangguk setuju untuk beristirahat sebentar. Mereka akhirnya mencapai area pasir putih. Alan turun perlahan setelah yakin bahwa tak ada orang lain di dekat situ.


"Alan, aku mau air kelapa." Kata Nastiti dengan mimik dibuat se-cute mungkin.


"Jangan tunjukkan tampang begitu. Kau jadi kelihatan aneh." Sergah Alan pada Nastiti.


Nastiti langsung jutek.


"Aku hanya ingin bersikap baik. Kalau kau tak mau dibaikin ya sudah." Ujar Nastiti dongkol.


Alan tertawa cempreng. Dia terbang ke atas sebatang pohon kelapa dan memetik beberapa buahnya yang muda.


"Jadilah dirimu sendiri. Kalau kau tiba-tiba berubah baik, aku jadi mengira kau sedang kesurupan.. Hahahaa." Ledek Alan sembari tertawa senang.


Nastiti cemberut. Tapi tak berkata apapun. Ditunggunya dengan sabar Alan memotong kelapa muda dengan api lasernya. Alan menyerahkan buah kelapa yang sudah terpotong pucuknya.


Nastiti gembira karena cara Alan sangat praktis ketimbang abang-abang tukang es kelapa di pinggir jalan saat bulan ramadhan. Dengan tak sabar dituangnya air kelapa ke dalam mulutnya.


"Aahh.." Nastiti melihat buah kelapa itu dengan pandangan tak percaya. Dia mau protes, tapi saat melihat Alan juga sedang menuang air kelapa, dia menantikan bagaimana reaksi Alan.


"Aahhh.. sial!" umpat Alan.


"Hahahaaa.."


Nastiti tertawa terpingkal-pingkal melihat air kelapa itu membasahi semua baju Alan.


"Air kelapanya jadi ikut panas karena kau menggunakan lasermu yang panas itu." Jelas Nastiti.


"Rasanya juga tidak segar lagi." Gumam Alan.


"Lakukan dengan cara tradisional saja. Seperti abang-abang kelapa pinggir jalan. Ayooo aku haus banget nihh." Desak Nastiti.


Alan akhirnya mengeluarkan sebuah pisau besar dari penyimpanannya dan mulai memotong kulit buah kelapa.


Butuh waktu dan tenaga memang. Tapi hasilnya sesuai harapan. Mereka berbaring di atas dedaunan kelapa di bawah keteduhan pohon. Angin panas dari arah laut mengusir rasa panas menyengat.


"Sepertinya kelapa-kelapa ini tak pernah dipetik. Mereka tumbuh rapat dan tak beraturan." Kata Alan setelah menilai hutan kelapa itu.


"Bagaimana kalau kita panen saja? Bawa pulang untuk dibuat jadi minyak goreng. Yang muda bisa kita jual di pasar. Aku belum pernah melihat orang menjual minuman air kelapa di pasar." Nastiti memberi ide.


"Otak bisnismu langsung menangkap peluang ya. Oke, nanti kita panen semua kelapa di sini." Jawab Alan.

__ADS_1


*****


__ADS_2