PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 44. Temuan Yang Signifikan


__ADS_3

Dean, Sunil, Dewi dan Nastiti tengah asik memilih dan mengumpulkan batu-batu yang berserakan begitu saja di lorong gua yang tidak sampai 3 meter panjangnya. Mereka menaruh beberapa kristal cahaya sebagai penerangan. Batu- batu yang sudah disortir akan dipindahkan ke tempat mereka bermalam. Beberapa kali mereka bolak balik memindahkannya dan dikumpulkan dekat pintu gua.


"Di sini terasa lebih dingin dan lembab. Kenapa kita tak memasang perapian saja agar lebih terang dan hangat?" usul Dewi.


"Tidak boleh." Dean melarang.


"Kenapa?" Dewi tak mengerti.


"Karena di sekitar kita ada banyak kotoran kelelawar. Kita saja sampai harus menutup mulut dan hidung dengan kain untuk mengurangi baunya." Sunil menjawab.


"Apa hubungannya?" Nastiti juga ingin tau.


"Kotoran yang menumpuk lama dan tidak cukup ventilasi seperti ini mungkin mengandung gas. Gua ini mungkin akan langsung meledak begitu kita menyalakan api." Dean akhirnya menjelaskan.


"Waah bahaya sekali. Lalu bau kotoran yang menyengat ini, apakah tidak membahayakan kesehatan?" tanya Nastiti lagi.


"Memang beresiko untuk paru-paru jika kita terlalu sering dan terlalu lama di dalam sini." Jelas Dean kembali.


"Aku sedang memikirkan cara untuk mengeluarkan kotoran yang menumpuk di dasar gua itu agar udara disini bisa lebih bersih," tambah Dean.


"Baiklah." Dewi mengangguk mengerti.


Mereka menghentikan pekerjaan setelah menurut Dean batu yang diambil sebagai sampel sudah memadai. Beriringan mereka keluar gua untuk menghirup udara segar.


"Hah! Bau sekali disana. Bikin sesak nafas saja," keluh Nastiti sambil duduk bersandar di bebatuan depan gua.


"Rasanya ingin mandi," kata Dewi.


"Kalian bisa mandi di sana," tunjuk Dean ke arah samping gua sebelah kiri.


"Apakah ada sungai di situ?" Dewi berjalan ke arah kiri mulut gua.


"Bukan sungai. Tapi aliran air kolam di gua, mengalir kesana dan seperti pancuran kecil karena di bawahnya lebih rendah. Kemarin aku sudah mencobanya. Disitu cukup tertutup dan bisa dijadikan pancuran mandi." Dean menegaskan.


"Ayo ambil pakaian ganti dulu," ajak Nastiti pada Dewi. Berdua mereka segera lenyap di kedalaman gua.


Dean dan Sunil lanjut memisahkan batu yang mengandung biji besi dengan batu hitam yang bisa dijadikan batu api.


**


Alan dan Widuri sudah mengumpulkan cukup banyak aneka buah dan sayuran dari kebun. Mereka sedikit membersihkan dan mencabut rerumputan di kebun sayur saat memetik sayuran. Rerumputan liar yang dicabut dikumpulkan untuk nanti dijadikan kompos oleh Widuri.


Sekarang sepetak kecil kebun sayur sudah cukup rapi. Alan membantu menancapkan ranting-ranting di sekitar untuk memagarinya. Widuri cukup puas melihat hasil kerja mereka saat itu.


"Kurasa disini sudah selesai. Jadi kita bisa lanjut mencari sumber air dan tanah liat yang dipesankan Dean tadi pagi," ajak Alan.

__ADS_1


"Untuk apa tanah liat?" tanya Widuri sambil mengikuti langkah Alan.


"Dean bilang untuk membuat tungku mencairkan biji besi." Alan terus berjalan melintasi rerumputan yang tinggi.


Cukup jauh mereka berjalan sebelum mulai mendengar suara grojokan air. Keduanya berpandangan dengan mata berbinar.


"Air.." serempak keduanya berkata dan bersiduluan ke sumber suara.


"Hah?!" Wajah keduanya tak dapat dilukiskan saat terpana menemukan apa yang mereka cari.


"Jauh panggang dari api." Widuri menggerutu.


"Ppffft.. hahahaa.." keduanya lalu tertawa terpingkal-pingkal.


"Apa kau juga tadi mengira itu suara air sungai?" tanya Alan.


"Ya. kukira itu suara aliran sungai yang deras. Tak taunya hanya pancuran kecil," sungut Widuri.


"Hahaha.. Tapi setidaknya kita sudah menemukan sumber airnya kan," tawa Alan belum usai.


"Yahh. Setidaknya tugas mencari sumber air sudah diselesaikan. Dan ku rasa, aliran air utamanya ada disebelah sana," tunjuk Widuri ke sisi lain yang lebih tinggi.


"Kau tak ingin cuci muka di air terjun kecilmu itu?" ledek Alan usil.


"Air terjun apaan? Ini cuma pancuran yang menciptakan selokan. Untuk cuci muka saja harus merunduk," omel Widuri keki.


"Itu sebenarnya air terjun yang berundak tiga. Lihat itu yang pertamanya," tunjuk Alan ke arah atas.


"Lalu itu undakan yang kedua," tunjuk Alan lagi.


"Apa gunanya? Tetap saja hasil akhirnya adalah pincuran kecil ini," tunjuk Widuri ke arah air yang terus mengucur deras itu.


"Sebenarnya ketinggiannya bisa kita coba akali nanti. Dipasang sesuatu untuk menahan air diundakan pertama atau kedua." Alan mulai mengamati aliran air itu.


"Nanti dirembuk dengan teman-teman yang lain saja. Sekarang kita cari sekitar sini adakah tanah lunak dan liat seperti keinginan Dean." Alan menusuk-nusukkan tombaknya ke permukaan tanah.


Widuri mengikuti langkah Alan mencoba memeriksa tanah disekitar aliran air selokan. Mereka jalan makin turun dari tempat semula.


"Tunggu Alan. Tidakkah kita sudah terlalu jauh berbelok dari pancuran air itu?" Widuri menghentikan langkah kakinya.


Alan berhenti melangkah lalu mengamati sekitarnya.


"Ya, jalan ini makin menurun. Kita kembali dulu saja," usul Alan.


Widuri mengangguk setuju dan mengikuti Alan dari belakang. Mereka menanjak naik mengikuti aliran selokan kecil sebelumnya.

__ADS_1


"Alan, tunggu sebentar. Lihat itu." Widuri menunjukkan sesuatu yang sebelumnya luput dari pandangan mereka.


"Apa itu?" tanya Alan.


"Itu tanaman gandum. Gandum liar atau mungkin juga bagian dari milik penghuni kebun di atas," Widuri berasumsi.


"Batu aku memanen yang masih bisa diselamatkan." Widuri lalu mengarah kebun gandum yang sudah tumbuh tak teratur dan asal-asalan. Bulirnya kecil-kecil dan banyak yang sudah rebah. Namun dibawah tumpukan jerami itu muncul tanaman-tanaman baru yang cukup rapat.


Alan membantu Widuri memetik tangkai gandum dengan pisau batu yang mereka bawa.


"Baiklah, saat ini sudah cukup. Besok kita bereskan sisanya." Widuri menghentikan kegiatannya.


"Kenapa berhenti? Ini masih sangat banyak," tunjuk Alan pada hamparan gandum itu.


"Justru karena sangat banyak, makanya lebih baik dilanjutkan besok. Sekarang matahari sudah melewati garis kepala kita." Widuri menunjuk ke atas.


"Baiklah. Ayo kita kembali agar tak kemalaman di hutan," Alan melangkah kembali menuju arah selokan. Mereka mengikuti aliran air sebagai penanda jalan kembali agar tidak tersesat.


**


'Kenapa mereka belum kembali juga?' Dean cemas karena langit mulai memerah tapi Alan dan Widuri masih belum keluar dari hutan.


Sunil keluar dari gua dan mendapati Dean yang masih duduk mencangkung di atas batu sambil memperhatikan hutan.


"Apa perlu kita susul mereka?" tanya Sunil.


"Tolong ambilkan kristal cahaya. Biar aku susul ke hutan. Kau jaga Dewi dan Nastiti di sini," Dean sudah tak sabar lagi.


Sunil kembali ke dalam gua untuk mengambil kristal cahaya sebagai penerang Dean di dalam hutan.


"Ini Dean." Sunil menyerahkan kristal cahaya yang cukup besar pada Dean yang segera berdiri dan menegapkan tubuhnya.


Dean menyambar tombak lalu berjalan ke arah jalan mereka biasa masuk ke hutan. Tapi belum sempat Dean memasuki kawasan hutan, dia mendengar suara obrolan dan tawa kecil. Tak lama tampak samar-samar sosok Alan di keremangan hutan. Makin lama makin jelas berjalan ke arahnya. Dean mengatupkan rahang dan menghela nafas lega melihat mereka kembali.


"Hei, mengapa kau disini? Ini sudah petang Dean," Alan menyapa dengan tampang innocent.


Dean tersenyum, "Ku kira kalian tersesat, jadi aku bermaksud mencari kalian di hutan." sambut Dean.


"Haha.. kami baik-baik saja. Hanya berjalan terlalu jauh jadi terlambat kembali." Alan menepuk pundak Dean menenangkan.


"Ayo jalan. Jangan terus menghalangi langkahku." protes Widuri di belakang.


"Ah, iya. Mari kita kembali," Dean tersadar lalu segera berlalu.


Malam itu mereka mendiskusikan temuan dan hal-hal yang akan dilakukan esok hari.

__ADS_1


'Cukup banyak temuan yang signifikan di tempat ini. Apakah kami lebih baik menetap disini saja?' pikir Widuri gamang.


***


__ADS_2