PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 277. Melintasi Pintu Teleportasi


__ADS_3

Komputer itu akhirnya diabaikan. Perhatian Alan beralih pada bola kristal di sebelahnya. Yang lainnya memeriksa seisi ruangan. Tanpa sengaja Ma menyentuh sesuatu di dinding yang sedang diperiksanya.


Terdengar bunyi mekanis.


Klikk!


"Hei, hati-hati. Aku menyentuh sesuatu di sini!" teriaknya.


Yang lain menghentikan pemeriksaan mereka dan ikut mengamati apa yang terjadi.


Bagian dinding itu berputar. Lalu menampilkan rak yang disembunyikan dibaliknya.


"Menarik!" ujar Sunil.


Rak itu diisi berbagai buku dengan aneka bahasa di bumi. Mereka membuka beberapa buku tua dan tebal itu untuk melihat hal-hal yang mungkin disembunyikan di dalamnya.


"Mereka benar-benar menjelajah ke bumi," ujar Dean.


Robert mengangguk. "Berarti kita tinggal mencari alat teleport yang mereka gunakan."


Setengah jam kemudian.


Mereka sudah memeriksa semua benda yang ada di rak itu. Benar-benar hanya souvenir yang dibawa dari tempat-tempat lain.


"Tak ada apapun yang bisa jadi petunjuk teleport itu," kata Alan.


"Kita periksa lagi dinding lain dengan seksama," saran Robert.


Kelima orang itu kembali menyebar. Memeriksa setiap dinding dengan lrbih teliti lagi.


"Di sini ada sesuatu!" ujar Dean.


Teman-temannya kembali berkumpul dan menunggu sistem mekanis itu berhenti bekerja. Dinding itu bergeser ke samping dan menunjukkan apa yang disembunyikannya.


"Sebuah pintu?" kata mereka serempak.


"Mungkinkah teleport itu ada di baliknya?" ujar Ma.


"Bagaimana cara membukanya?"


Tak ada yang menjawab pertanyaan itu. Mereka sudah mendekati tempat itu dan berdiri di depannya, mengamati.


"Apa perlu ku potong pakai laser?" tanya Alan tak sabar.


"Jangan! Bagaimana jika itu ternyata pintu teleportasinya?!" cegah Robert.


"Periksa lagi!" perintah Dean.


Mereka memeriksa sekeliling pintu, tapi tak menemukan tombol mekanik untuk membukanya. Tak ada juga pola aneh di daun pintu yang bisa menjadi kunci pembuka.


"Tak ada apapun! Tapi tak mungkin dia membawa daun pintu dari negara lain hanya sebagai oleh-oleh dan hiasan dinding."


Robert masih terus mempelajari pintu itu. Berwarna coklat kehitaman yang terlihat tua dan sudah kehilangan kilapnya. Dicobanya untuk mendorong daun pintu yang entah terbuat dari kayu apa.


Krieetttt....


"Terbuka? Hanya didorong begitu saja?" seru Alan tak percaya.

__ADS_1


Dean dan Sunil terkekeh geli. Mereka terlalu memandang tinggi. Mengira semua disembunyikan dengan sistem mekanik. Ternyata ini hanya pintu ruangan biasa.


'Berarti dibalik ini juga hanya ruang biasa yang tak perlu dikhawatirkan,' batin Dean.


"Itu dia!" seru Robert.


"Apa kau menemukan pintu teleportasinya?"


Yang lain mendekat untuk melihat ruangan lain di balik pintu.


Di sana, di puncak undakan batu setinggi 2 meter. Berdiri sebuah cermin besar berbingkai yang bercahaya terang.


Sunil, "Ku kira, inilah pintu teleport menuju dunia dan dimensi lain."


Dean mengangguk. "Kau benar. Pintu teleportasi yang di ruang sebelumnya berarti hanya menuju dunia-dunia bintang saja."


Mereka terbang mendekat untuk mempelajari pintu itu lebih cermat.


"Apakah tak ada cara untuk mengatur tempat tujuan kita? Misal, di negara mana, tahun berapa?" kata Alan.


Sunil, "Kau benar. Jika dilihat dari komputer itu, harusnya mereka menjelajah ke tahun 1980an."


Mereka kembali memeriksa bingkai pada cermin besar itu. Tapi itu hanya bingkai sederhana. Tak ada kode apapun.


"Apakah kita harus berjudi dengan nasib lagi?" tanya Alan ragu. Rasanya terlalu lelah jika harus terus menjalani hidup seperti itu.


Tak seorangpun yang menjawab perkataan Alan. Mereka mencoba untuk memeriksa lebih teliti lagi.


"Tak ada petunjuk apapun!" ujar Ma.


Dean menambahkan lagi.


"Ini pintu teleportasi. Punya prosedur sama dengan pintu teleport ke dunia bintang. Yang artinya, bisa untuk melakukan perjalanan bolak-balik. Mereka telah membuktikan dengan membawa beberapa cendera mata."


"Kau ingin bilang, baiknya kita coba saja?" tanya Alan serius.


"Yah... jika dirasa tak sesuai, kita masih bisa kembali kemari." Dean tersenyum.


"Hah! Siapa juga yang mau kembali ke sini? Ini tempat terburuk yang kita kunjungi!" ujar Alan sewot.


"Bukan begitu. Bagaimanapun, masih ada pintu teleportasi yang satu lagi di ruangan lain," jawab Dean dengan sabar.


"Tentang itu.... Bisakah kita mencopot dan membawanya saja? Agar tak perlu bolak-balik ke sini?" saran Robert.


"Satu hal lagi," kata Sunil.


"Mungkin kita perlu menghancurkan koloni makhluk buas di dunia ini."


"Kenapa?"


Kalian tau kan informasi tentang pintu cahaya di kota Rawa sudah tersebar. Bila tak kita basmi para makhluk buas itu, maka para pendatang itu hanya akan menjadi makanan mereka begitu tiba di sini," jelas Sunil.


"Kau mau meledakkan mereka?" tanya Alan. Sunil mengangguk.


"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Robert.


"Lewat jalur ventilasi seperti saat Dean masuk!" jawab Sunil.

__ADS_1


"Baiklah. Kita bereskan dan ambil yang perlu diambil di sini. Lalu beri Sunil kesempatan melakukan rencananya. Setelah itu, kita pergi."


Dean telah memutuskan. Semua mengangguk setuju. Mereka kembali ke ruangan besar.


Mengambil satu kotak koin mata uang asing. Beberapa artefak antik. Dan tak ketinggalan bola kristal cahaya.


"Aku mau coba mengambil pintu teleport yang satu lagi," ujar Alan.


"Percuma." kata Ma.


Alan, "Kenapa?"


"Karena pintu teleport baru bisa berdiri dan berjalan semestinya, jika ada cukup dukungan kekuatan yang bagus. Jadi jika kau melepaskan dia dari tempatnya, maka dia tak lg berguna," ujar Ma.


Alan terdiam. Dia tak mengetahui hal itu.


"Sebentar lagi jendela ventilasi terbuka," kata Ma.


"Aku akan bersiap!" ujar Sunil.


Dean, "Biar ku temani."


"Dan kalian yang lain, bersiaplah di ruangan sana. Kami akan segera menyusul." tambah Dean lagi.


"Oke!" Alan masuk ke ruang teleport di atas anak tangga itu diikuti yang lainnya. Mereka menunggu aba-aba.


Dean membawa Sunil ke tempat ventilasi dimana dia masuk sebelumnya.


"Ini dia lubangnya. Berhati"lah. Hal pertama yang terjadi adalah dorongan udara dari dalam. Hati-hati kau tertiup keluar sana." Dean menasehati.


"Ok!"


Tak lama terdengar gemuruh udara yang pengap disedot dari seluruh ruangan untuk dikeluarkan.Saat dorongan berkurang, Sunil mencoba memasuki lorong vent. Dean memandangnya cemas.


Sunil berusaha bertahan dari tarikan udara masuk. Dia bersiap-siap. Menggelembungkan mulutnya. Dan sebelum jendela ventilasi itu menutup, Dia meniupkan udara panas yang ditahan mulutnya. Dengan matanya dia membakar udara panas yang bergulung-gulung itu. Lalu melemparkannya ke arah luar. Bola api itu dengan cepat terbang keluar.


Sunil melesat cepat ke arah baling-baling yang mulai bergerak lambat. Lorong ventilasi ini akan segera tertutup rapat.


Klap!


Jendela ventilasi tertutup sepenuhnya setelah Sunil berhasil melewati.


"Ugh... lolos juga. Ayo kita pergi!"


Sunil dan Dean melesat cepat menuju pintu teleportasi. Mereka tak mau mengambil resiko jika seandainya bangunan ini tak mampu menahan ledakan nuklir yang dikirim Sunil keluar.


"Cepat pergiii!" teriak Dean dari ruang besar.


???


"Bodoh! Cepat pergi!"


Sunil dan Dean telah melesat masuk ke ruangan, menuju pintu teleport. Mereka terbang ke sana sambil menarik tiga teman mereka yang masih terbengong-bengong.


******


1 Bab 🙏

__ADS_1


__ADS_2