
"Dok, ini sudah lewat seminggu minggu. Dia masih menolakku mendekat," keluh Dean saat mereka istirahat di ladang gandum.
"Bersabarlah. Nanti juga biasa lagi," sahut dokter Chandra.
"Berapa lama dia akan begitu?" tanya Dean ingin tau.
"Biasanya hanya trimester pertama," jawab dokter Chandra lagi.
"Apa itu trimester?" tanya Dean bingung.
"Orang hamil itu biasanya sembilan bulan. Rasa mual biasanya muncul di tiga bulan pertama—"
"Tiga bulan?" Dean memotong ucapan dokter Chandra saking kagetnya. "Lama sekali ...." Dia menunduk lesu.
Melihat itu, dokter Chandra tersenyum simpul. "Wanita hamil, harus sangat dijaga di tiga bulan pertama itu. Bayimu itu masih kecil sekali. Dia sangat rapuh."
"Widuri sangat membutuhkan perhatian dan pengertianmu saat ini. Hatinya juga sedang sensitif. Jangan membuatnya sedih," pesan dokter Chandra.
Indra berjalan menghampiri dari ladang gandum. "Kapan kita mau menanami ini?" tanyanya.
"Besok saja. Setelah istirahat baiknya kita petik tomat dan cabai di sana. Sudah mulai matang.
"Oke! Jadi ladang ini tidak perlu diapa-apain lagi nih?" tanya Indra lagi. Mereka sudah seminggu mencari kotoran ternak di Padang rumput, untuk dicampurkan dengan tanah ladang gandum ini.
"Sore sehabis memetik sayur, kita sirami dulu hingga cukup basah. Jadi besok mudah menanam bibitnya," sahut Dean.
"Jika kalian mau menyiram, lebih baik gunakan air laut untuk menyiraminya. Sedikit tambahan garam dalam tanah, akan bagus untuk memperkaya tanah ini," ujar dokter Chandra.
"Air laut? Mau kita cari ke mana?" tanya Indra heran.
"Sebenarnya, pemandangan di balik bukit ini mengarah ke laut. Hanya saja, setelah sekian lama, pohon-pohon di sana jadi menghutan. Pantainya tertutupi," jelas dokter Chandra.
"Waahh menyenangkan sekali. Kita bisa berenang lagi di pantai," ujar Indra gembira.
*
*
Sore itu dokter Chandra mengajak Widuri dan yang lainnya untuk bermain ke pantai. Diharapkannya, dengan begitu, mood Widuri bisa kembali bagus.
Sementara yang lainnya asik bermain di pantai, Dean dan Indra beberapa kali mengambil air laut untuk menyirami ladang gandum. Mereka menyirami hingga tanah itu mulai jenuh air dan agak tergenang di beberapa tempat.
"Sudah cukup. Biarkan semalaman hingga airnya meresap. Besok kita sebar bibit," kata Dean.
"Bagus. Aku sudah tak sabar berenang di laut," sahut Indra. Dia langsung terbang meninggalkan Dean.
__ADS_1
Tim itu menikmati petang yang indah di tepi pantai. Mereka bermain dengan gembira. Kecuali Widuri dan Dean, yang terpaksa menjaga jarak.
Hei, aku menemukan lobster di sini!" teriak Indra dari tengah laut.
"Asiikkk ... bawa ke sini!" teriak Niken senang. "Cari yang banyak untuk makan malam!" teriaknya memberi semangat.
Tak lama Indra kembali dengan membawa beberapa lobster besar ke pantai. Di jarak sepuluh meter, Widuri sudah merasa mual dan berlari menjauh.
"Itu amis. Bawa yang jauh!" seru Dean marah. Dia mau membawa Widuri pergi, tapi Widuri menolak. Mualnya justru bertambah parah.
"Biar aku yang membawanya kembali," ujar dokter Chandra bijak.
"Dean, aku ikut," seru Marianne.
Mereka berempat kembali ke pondok di tepi kolam air terjun. Dokter Chandra menurunkan Widuri ke tanah.
"Terima kasih, Dok. Udara di sini jauh lebih segar," jawab Widuri. Dilihatnya Dean menurunkan Marianne lebih jauh, agar tidak membuat perutnya mual.
"Maafkan aku, Dean. Aku juga tak tau kenapa begini," batin Widuri sedih.
"Jangan bersedih. Dia mengerti, kok." Marianne menepuk pelan tangan Widuri.
"Ayo masuk. Kau sudah kena angin dari tadi. Mari, kubuatkan bubur kesukaanmu," ajak Marianne penuh pengertian.
Dokter Chandra dan Dean memandang keduanya masuk rumah. Dean hanya bisa menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Seakan beban berat itu dapat hilang bersama helaan nafasnya.
"Aku merasa jadi suami yang tidak berguna, Dok." Dean melemparkan kerikil ke tengah kolam.
"Eh, aku tadi siang melihat buah apel dan pir di hutan sana, sudah mulai matang. Baiknya kau petik untuknya. Rasa asam manis dan segar, juga bisa merubah mood orang hamil."
Dokter Chandra mengabaikan keluhan Dean. Karena dia sudah tak tau mesti membujuk seperti apa lagi. Disaat seperti ini, Dean cuma bisa lebih pengertian lagi. Karena sebenarnya, bukan hanya dia yang sedih. Widuri juga merasa sedih.
"Besok akan kupetik untuknya," sahut Dean senang.
"Bagus Dean. Cara satu-satunya bagimu adalah terus menunjukkan cinta dan perhatian yang lebih besar lagi, agar Widuri tidak merasa sedih. Agar beban pikirannya berkurang. Apa kau bisa?" tanya dokter Chandra.
Dean mengangguk. "Bisa, Dok."
*
*
Saat makan malam.
Widuri sudah beristirahat di lantai atas. Tapi di ruang makan, diskusi baru dimulai.
__ADS_1
"Kita sudah dua Minggu lebih di sini. Jadi apa rencana selanjutnya?" tanya Sunil.
"Bisakah kita tinggal di sini saja?" Niken bertanya pada Indra.
Semua mata memandang pada keduanya.
"Kau yakin?" tanya Indra.
"Menurutku, tempat ini sempurna. Ada bukit, kebun, ternak, hutan dan laut. Kita bisa hidup mandiri di sini. Lalu punya bayi, seperti Widuri," tutur Niken.
"Tapi, lalu bayi kita tak bisa menikah, karena tak ada orang lain selain kita, di sini!" debat Indra.
Niken terdiam. "Benar juga!" gumamnya. "Kenapa aku tak memikirkan itu sebelumnya?" ujarnya polos.
"Hah ... kau ini!" Indra memeluk Niken dengan gemas.
"Tapi, kalau Widuri mau tinggal di sini, kita bisa menikahkan anak kita dengan anak mereka. Itu pasti bagus. Hahahaha," Niken tertawa senang.
Sekarang semua pandangan beralih ke arah Dean, seakan mengajukan pertanyaan, "Apakah Kau akan tinggal di sini?"
Dean kebingungan sendiri.
"Hei, itu hal yang tak bisa kuputuskan sendiri. Widuri juga harus ditanya," elak Dean.
"Lalu, kalian sendiri bagaimana?" tanya Dean pada Sunil dan Robert.
"Jika kalian tinggal, aku juga ingin tinggal!"
Kalimat itu mengejutkan. Mereka menoleh. Marianne mengangguk dengan yakin.
"Jika ada yang mau tinggal di sini, aku juga akan tinggal. Tempat ini sangat indah. Seperti yang dikatakan Penguasa, ini adalah dunia yang sempurna. Pada dasarnya, kehidupan sederhana seperti ini adalah impianku untuk menikmati masa pensiun," papar Marianne.
Sepertinya, Marianne sudah tau apa yang diinginkannya. Dia hanya menunggu tiba di tempat yang tepat, serta menunggu teman. Dia tak mungkin hidup sendirian, seberapun bagusnya tempat itu.
Jadi, sekarang tinggal bertanya pada diri sendiri. Apa keinginan masing-masing.
"Aku ingin tinggal di sini juga, kalau Niken dan Indra di sini!"
Suara itu mengejutkan mereka. Widuri duduk di anak tangga, mendengarkan diskusi mereka. Dean terkejut mendengarnya. Dia sudah tau keinginan Widuri. Tapi Dean sendiri merasa bertanggung jawab pada Penguasa. Dia ingin pergi ke manapun Penguasa pergi.
"Sayang, di sini tak ada Rumah Sakit. Tak ada Dokter. Bagaimana kau akan melahirkan?" tanya Dean cemas.
"Tuh! Kau dengar itu?" imbuh Indra pada Niken. "Kalau Kau sakit, bagaimana?"
Niken dan Widuri terdiam.
__ADS_1
*******