PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 259. Tiba di Kota Tujuan


__ADS_3

Leon mulai menyusul kafilah dagang yang paling belakang. Dia yakin, itu bukan kafilahnya. Jadi dia mendahului, dan mengejar barisan yang lebih di depan.


Itu rombongan gerobak yang sangat panjang. Leon melewati satu persatu. Kemudian Satu gerobak di depan sana, keluar dari barisan dan berbelok ke arah kanan. Gerobak-gerobak lain di belakangnya, mengikuti. Karena kafilah itu memotong jalannya, Leon tak punya pilihan selain menunggu barisan itu lewat.


"Sepertinya mereka berdagang di kota perbatasan ini. Lalu ke kota mana Tuan Ammar membawa kafilahnya?" gumam Leon.


A few moments later.


Barisan itu akhirnya berakhir. Leon langsung memacu keretanya. Buntut kafilah di depan sudah tak terlihat. Beruntung jalan di depan itu tak memiliki percabangan lain, jadi Leon hanya perlu mengikuti jalan berkelok-kelok di depannya.


15 menit kemudian, Leon akhirnya menemukan gerobak kafilah yang dikenalnya. Juga 2 orang pengawal yang mengawal mereka. Dia makin bersemangat.


"Tuan!" teriak Leon pada 2 orang pengawal yang menjaga di belakang.


Mereka mencari ke arah suara yang memanggil. Sebuah kereta penumpang yang sangat bagus menyusul di belakang mereka.


"Kau?!"


Leon meringis.


"Bagaimana kau bisa berada di belakang?" tanya seorang pengawal dengan herannya.


"Apakah istriku ada di depan?"


Leon mengabaikan pertanyaan mereka. Para pengawal itu mengangguk.


Kegembiraan di wajah Leon tak bisa disembunyikan.


"Terima kasih."


Leon langsung keluar barisan dan mengambil jalan samping, untuk menyusul Jane.


Kedua pengawal itu sedikit bingung dengan situasi itu. Bukankah sebelumnya mereka sangat mesra? Kenapa sekarang suaminya ada di belakang? Apa mereka bertengkar? Apakah ada hubungannya dengan berita Leon menyelamatkan istri tuan Mustafa?


Tapi pikiran itu tak pernah mereka utarakan. Tugas mereka hanya mengawal kafilah. Melindungi dari orang-orang jahat. Bukan mengurusi hal-hal pribadi. Mereka kembali berjaga di belakang.


Leon menemukan gerobaknya. Dengan ekspresi gembira, dia memanggil....


"Jane!" panggilnya setelah menyamai gerobak tua itu.


Pria 40an tahun yang sedang mengendalikan gerobak tua itu, menoleh ke arahnya. Jelas terkejut melihat Leon naik kereta penumpang yang sangat bagus, dan muncul dari belakang.


"Kau...?!" Hanya itu yang terucap.


Mata Leon membeliak lebar ketika tidak menemukan Jane di gerobak itu. Yang sedang nengendalikan gerobak adalah pria yang menitipkan barang di situ.


'Apakah dia menjual gerobak ini? Lalu dia mengikuti siapa?' pikir Leon panik.


"Dimana Jane?" tanya Leon kasar.

__ADS_1


"Di depan." Pria itu menunjuk ke depan.


Leon melajukan lagi keretanya. Melewati satu gerobak penuh barang. Dia melihat 2 pria di tempat mengendalikan kuda. Itu orang-orangnya tuan Ammar. Leon mengangguk, kemudian melewatinya.


Masih ada 7 gerobak lagi yang harus diperiksanya. Jane entah menumpang pada siapa, Leon tak tau. Tapi dia harus menemukannya. Dan membawanya pindah ke dalam kereta ini.


Leon melihat sebuah gerobak barang yang sangat bagus dan penuh barang.


'Ahh, ini pasti masih milik tuan Ammar. Alangkah banyak barang yang dibawanya' pikir Leon kagum.


Tinggal 3 gerobak dan kereta lagi di depan. Dengan bersemangat, Leon melewati gerobak barang yang penuh itu. Matanya mencari-cari bayangan Jane di depan.


Ada 1 gerobak dan 2 kereta penumpang di depan.


'Apakah Jane menumpang di kereta orang?' batinnya risau.


"Ck..ck..ck.... Ayo lebih cepat sedikit larimu...." ujar Leon pada kuda yang membawa keretanya.


"Leon?!"


Sebuah suara yang sangat dikenalnya, mampir di telinga. Leon yang sudah melewati gerobak barang itu, menghela kuda agar memperlambat larinya. Dicarinya asal suara dari gerobak yang baru dilewatinya tadi.


"Jane!" serunya gembira.


"Kembalikan saja kendali gerobak itu pada pemiliknya. Kau bisa ikut denganku dan duduk nyaman di sini," ujar Leon bersemangat.


Jane mengerutkan keningnya dan sedikit bingung.


Sekarang gantian Leon yang kebingungan dengan kata-kata Jane.


"Apa maksudmu? Aku ketiduran tadi! Seorang penjaga perbatasan yang ingin menumpang ke kota yang membangunkanku. Dia yang menunjukkan jalan ke sini."


Jane melebarkan matanya tak percaya. Bagaimana bisa seseorang tidur begitu saja dalam sebuah pembicaraan? Jane belum pernah melihat hal itu. Jadi dia diam saja dan terus mengendalikan kuda penarik gerobak.


"Hei, kenapa masih diam? Kembalikan tali kekang itu pada pemiliknya. Kau bisa duduk nyaman di sini!" panggil Leon tak sabar.


"Aku pemiliknya," jawab Jane datar.


???


"Apa maksudmu?" tanya Leon tak mengerti.


"Suami temanmu yang memberikan ini dan kereta itu," jawab Jane lagi.


Leon benar-benar terdiam sekarang. Matanya mengedip beberapa kali. Tak mempercayai pendengarannya.


"Mustafa memberikan gerobak penuh barang dan kereta bagus ini buat kami? Seberapa kaya dia?" gumamnya.


"Hei...! Kau menghalangi jalan, tuan!"

__ADS_1


Suara hardikan marah seseorang, menyadarkan Leon dari lamunannya. Di depannya telah berdiri sebuah gerobak barang yang berlawanan arah. Pemiliknya melihatnya dengan marah, karena Leon mengambil jalur jalan orang lain dan menghadang jalan gerobaknya.


"Ah,, maaf... maaf...." ujar Leon yang menyadari kesalahannya.


"Cepat menyingkir!" Balas pria di gerobak depannya marah.


Seorang pengawal dengan cekatan membantu melancarkan jalan. Dia menghentikan laju gerobak di belakang Leon. Tak lama, Leon bisa kembali masuk dalam barisan. Dan kafilah itu kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Lewat tengah hari.


"Kota tujuan ada di depan!" teriak pengawal memberi informasi.


"Aahhh... akhirnya sampai juga. Perutku sudah sangat lapar." Leon bicara sendiri di kereta itu.


Sore hari, barulah kafilah dagang itu benar-benar menghentikan perjalanan. Gerobak-gerobak itu berbaris di sebuah tempat luas dan panjang. Seperti memang disiapkan untuk menerima pedagang dari luar kota. Tempat itu benar-benar ramai. Meski hari sudah sore, masih saja banyak pengunjung dan orang yang lalu lalang.


Mengikuti pedagang-pedagang lain yang mulai memasang lentera, Leon juga mulai memasang lentera untuk menerangi kereta dan gerobak mereka. Tempat itu jadi terang benderang.


"Jadi mirip pasar malam," celetuk Leon sambil tersenyum.


Jane menghampiri Leon di keretanya. Dia membawa 2 keping roti dan seteko air.


"Bagaimana kau mendapatkan roti ini?" tanya Leon.


"Beli dengan uang yang terakhir. Jadi ingat, harus bisa menjual barang-barang. Atau kita akan kelaparan!" jawab Jane ketus.


Leon merasa tak berdaya. Dia tak ingin meladeni Jane yang masih jengkel karena kesalah pahaman mereka. Jadi dia memilih untuk menggigit rotinya perlahan-lahan.


"Hemmm.. ini roti yang enak sekali!"


Mata Leon berbinar-binar. Roti itu ada isinya. Dan isinya daging cincang yang dibumbui rempah pedas. Leon sangat menyukainya.


Jane tersenyum melihat ekspresi Leon. Tapi dia masih merasa sedikit jengkel.


"Apa kau mau bilang, kalau roti buatanku tidak enak?" serang Jane.


Leon tersentak. Ekspresi manis di wajahnya langsung menghilang.


"Bukan... bukan. Jika kita punya daging, aku percaya kau pun bisa membuat roti yang seenak ini." Leon menggeleng.


"Maafkan aku. Aku yang belum mampu membelikanmu daging."


Leon merasa bersalah. Bagaimana bisa dia memberi ekspresi begitu rupa? Sementara Jane bahkan mungkin baru kali ini makan daging.


Jane tak mempermasalahkannya lagi. Dia mengunyah roti yang memang sangat enak itu sambil tersenyum tipis.


Malam itu anggota kafilah beristirahat dengan tenang. Para pengawal setia berjaga. Jane pindah tidur di kereta. Dan dia segera pulas, karena memang belum tidur sejak kemarin malam.


Leon tak mengganggunya. Dia tidur di bagian kusir, agar bisa sekalian mengawasi gerobak barang milik mereka. Leon tak tau apa saja isinya. Dia akan memeriksanya besok pagi saja. Sekarang dia hanya ingin membayar tidurnya yang kurang.

__ADS_1


******


__ADS_2