PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 132. Menyelamatkan A, O dan Z


__ADS_3

Dean mengejar tubuh Sunil yang jatuh dengan cepat. Alan sudah diabaikan sepenuhnya.


Aaaaaaahhh


Teriakan kengerian empat orang di bawah terdengar oleh Dean. Mereka tak berdaya melihat tubuh Sunil meluncur jatuh seperti meteor yang akan menghantam bumi.


Dean menangkap tubuh Sunil tepat beberapa meter sebelum menyentuh tanah. Tak ayal tubuh keduanya terhempas akibat daya dorong Sunil yang makin kencang. Dean menahan hempasan di tanah dengan punggungnya tepat di depan pintu pagar pondok mereka. Dia merasa kehilangan daya dan tubuhnya terasa remuk. Tapi dengan kemampuan terakhir, tempayan air muncul di samping keduanya.


Michael, Marianne, Widuri dan Nastiti lari mengejar dua teman mereka yang sudah tak bergerak di tanah becek.


"Dean... Dean.. bangun.." Widuri menangis terisak-isak sambil mengguncang tubuh Dean yang ditimpa Sunil.


"Widuri, jangan panik. Mari kita selamatkan mereka. Michael, bantu pindahkan Sunil ke pelataran. Cepat."


Nastiti bergerak cepat dan tidak panik sama sekali, seakan dia sudah biasa menangani hal itu. Bertiga dengan Marianne, mereka mengangkat tubuh Sunil lebih dulu.


"Widuri, beri minum Dean dengan air abadi. Cepat!" Teriak Nastiti di telinga Widuri untuk menyadarkannya akan situasi.


"Ya." Widuri tersentak dan mengangguk cepat.


Widuri lari mengambil cangkir untuk memberi Dean minum air abadi.


"Michael, kau ambil gayung kamar mandi dan ambil air di tempayan itu. Gesit!" perintah Nastiti tak sabar.


Michael lari ke kamar mandi. Meski tanah licin akibat hujan, dia sudah tak peduli lagi. Segera dibukanya tutup tempayan dan menyiduk air langsung di dalamnya. Air itu dibawa ke tempat Nastiti dengan hati-hati.


"Ini airnya."


Nastiti segera memberi Sunil minum dengan air itu kemudian menyiramkan sisanya ke tubuhnya yang gosong.


"Lagi!" perintah Nastiti. Michael kembali lari mengambil air.


"Apakah cara ini akan berhasil?" tanya Marianne lamat-lamat. Jelas dia sangat khawatir.


"Selama nyawa Sunil masih ada, maka semua akan baik-baik saja." jawab Nastiti yakin.


"Ini," Michael kembali dengan gayung air di tangannya.


Nastiti menyambutnya. Tiba-tiba...


Blaaarr.. Jeddeerrrr..


Suara gelegar petir yang sangat dahsyat mengagetkan ketiganya. Gayung itu jatuh di atas tubuh Sunil.


Empat orang itu mendongak ke atas langit. Mereka ternganga melihat Alan menyambut sambaran petir dengan bahagia di atas sana. Petir masih menyambarnya beberapa kali lagi.


"Alan!" teriak mereka dengan ngeri.


Tubuh Alan jatuh setelah sambaran petir itu hilang. Tapi cahaya putih susu menyambarnya dengan cepat.


"Aahhh.. Apakah itu Yoshi?" tanya Michael. Matanya mencari-cari dimana tubuh Alan yang tadi terlihat jatuh.


"Semoga saja Yoshi berhasil mendapatkannya. Sekarang kita pindahkan Dean dulu ke sana." Kata Nastiti.


Berempat mereka menggotong tubuh Dean dan membawanya ke pelataran.


"Kau sudah beri dia minum belum?" Tanya Nastiti pada Widuri.


"Sudah. Biar ku ambil lagi air dan memberinya minum." Sahut Widuri.


"Michael, ambil air lagi." Nastiti menyerahkan gayung pada Michael.


"Itu Yoshi!" Teriak Michael di tengah hujan.


Yoshi membopong tubuh gosong Alan dengan wajah sedih. Dia semakin panik saat menyadari bahwa Sunil juga mengalami hal yang sama. Dan Dean juga sedang pingsan. Dibaringkannya tubuh Alan di sebelah Dean.


"Michael, gesit. Jangan seperti keong!" teriak Nastiti marah.

__ADS_1


"Iya, aku datang. Tanahnya licin." Michael membela diri.


Nastiti mencoba memberi minum ke mulut Alan yang sudah tak bisa dikenalinya. Dadanya sesak menahan gemuruh emosi. Terlebih lagi karena air itu tak bisa masuk ke mulut Alan. Dia mengalir keluar lewat sela bibirnya. Dengan gemas air itu dituang Nastiti ke wajah Alan.


"Gara-gara kamu!" teriak Nastiti kesal.


"Ambil air lagi Michael."


Suara teduh Marianne mengisi kesadaran Michael. Dia meraih gayung itu dan kembali berlari ke tengah hujan untuk menciduk air.


"Apa air itu penting?" Tanya Yoshi yang melihat Michael kembali datang dengan gayung penuh air.


"Ya." Jawab Widuri.


Yoshi sengera melesat terbang ke tengah halaman dan membawa tempayan air ke dekat tiga tubuh kaku yang terbaring di pelataran basah.


"Terima kasih Yoshi." kata Michael senang.


Dia tak perlu lagi berlarian ke sana ke mari di tengah hujan deras. Dia bukan manusia super. Tubuhnya sudah menggigil kedinginan. Giginya bergemeletukan menahan udara dingin yang menerpa tubuh basahnya.


"Michael, baiknya kau segera mandi dan ganti pakaian. Setelah itu coba hidupkan perapian. Langit sudah gelap dan kita semua kedinginan." ujar Marianne lembut. Michael mengangguk.


Widuri dan Nastiti belum berhenti menyirami tubuh ketiga teman mereka yang terbaring tak bergerak.


"Marianne, kau juga segera ganti pakaian kering." Widuri mengingatkan.


"Baik, kita bergantian." Marianne mengangguk.


Dia berjalan hati-hati menuju kamar. Batu-batu di pelataran itu sudah basah semua.


"Apa yang terjadi dengan ketiga pamanku?" tanya Yoshi setelah menahan tanya begitu lama.


"Dia ingin bermain dengan petir," tunjuk Nastiti ke wajah Alan.


"Lalu Dean dan Sunil mencoba mencegahnya. Tak berhasil. Sunil justru kena sambaran petir dan Dean jatuh menghempas tanah di depan pintu pagar." Widuri menambahkan.


"Dengan air dari mata air abadi." Sahut Widuri.


"Apakah itu bisa?" tanya Yoshi heran.


"Hanya nyawa yang putus yang tak bisa diselamatkan oleh air ini. Tapi dia justru tak bisa meminumnya sedikitpun."


Nastiti kembali kesal melihat Alan. Yoshi dan Widuri mafhum bahwa kekesalan Nastiti adalah ekspresi khawatirnya pada kondisi Alan yang bahkan tak bisa menerima air obat itu.


"Biar ku coba."


Yoshi meletakkan telapak tangannya ke kening Alan. Seberkas cahaya putih susu menyelimuti Yoshi. Perlahan cahaya putih susu itu mengalir ke tubuh Alan lalu melingkupinya sepenuhnya.


Yoshi melepaskan telapak tangannya. Dia jatuh duduk di lantai batu. Wajahnya pias.


"Minum ini untuk memulihkan tenagamu." Widuri menyerahkan secangkir air pada Yoshi.


Yoshi menurut dan meminum air itu hingga habis.


"Apa kau punya kemampuan penyembuhan?" tanya Nastiti kagum.


Yoshi mengangguk.


"Tapi setelah melakukannya, tenagaku akan menghilang beberapa saat. Biasanya butuh waktu hingga seminggu agar tubuhku pulih." Paparnya lagi.


"Semoga air ini bisa membantu memulihkan tubuhmu lebih cepat." Hibur Widuri.


"Tidak apa-apa. Mereka adalah paman-pamanku, keluargaku. Aku harus menolong sebisaku. Seperti aku menolong ayah."


Matanya sedih karena kemampuannya yang lemah membuat dua pamannya yang lain tak bisa mendapatkan pertolongannya.


Widuri menyadari kesedihan Yoshi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Selama nyawa mereka belum terbang, maka mereka akan baik-baik saja dengan meminum air abadi," bujuknya.


"Widuri, Nastiti, kalian pergi ganti pakaian kering. Biar aku dan Yoshi yang menjaga mereka bertiga." Kata Marianne lembut.


Marianne sudah berganti dengan pakaian kering. Michael sedang berusaha menyalakan api dengan susah payah karena kayu bakar yang tersisa semua terkena tampias hujan.


Pondok itu terlihat remang-remang karena hanya mengandalkan penerangan dari kristal cahaya ungu di beberapa tempat. Asap membubung dan memenuhi area pelataran sebab api membakar kayu-kayu lembab.


"Yoshi, pergilah ganti pakaianmu dengan yang kering." Ujar Marianne lembut setelah Nastiti dan Widuri kembali dengan tubuh kering.


"Tapi pakaianku ada di rumah. Aku belum bisa terbang sekarang," jawab Yoshi.


"Gunakan pakaianku saja." kata Widuri. Yoshi menurut dan mengikuti Widuri ke kamar.


"Uhuk.. uhuk.."


"Dean, akhirnya kau sadar juga." Marianne memeluk Dean bahagia.


Dean tertegun dan merasa heran. 'Ah ya. Tadi Aku menangkap Sunil.' Batin Dean yang berusaha mengingat beberapa hal.


"Sunil bagaimana?" tanya panik.


Marianne menunjukkan tubuh Sunil dan Alan yang tetbaring di sebelah kiri dan kanan Dean.


"Kalian sudah memberi mereka minum air dari tempayan kan?" Tanya Dean memastikan. Tangannya mencoba memeriksa denyut nadi di leher Sunil dan Alan. 'Masih ada. Tapi denyut nadi Sunil sangat lemah' batin Dean sedih.


"Sudah. Yoshi juga sudah membantu menyelamatkan Alan tadi." Nastiti ikutan menyahuti.


"Yoshi? Dia ada di sini?" tanya Dean heran.


"Kalau bukan karena Yoshi yang menangkap tubuh Alan, dia pasti sudah jatuh terhempas sepertimu." Nastiti menjawab masih dengan nada ketus.


"Syukurlah." Dean merasa lega.


Dia berdiri dan menyiramkan lagi air dari tempayan ke tubuh dua temannya hingga basah kuyup sepenuhnya. Diberinya mereka minum dengan air itu.


"Aku akan membawa mereka ke kamar dan berganti pakaian." Kata Dean.


Tubuh Alan dan Sunil melayang di udara. Air menetes jatuh dari tubuh keduanya. Dean membawa mereka masuk ke kamar.


"Di mana mereka?" tanya Widuri setelah keluar kamar bersama Yoshi.


"Dean membawa Alan dan Sunil ke kamar untuk berganti pakaian." Jawab Nastiti.


"Dean sudah sadar? Syukurlah." Wajah Widuri berseri-seri.


"Paman!" Yoshi melesat cepat ke arah kamar.


Widuri terpana. Tubuhnya kaku melihat Yoshi memeluk Dean dan Dean memeluknya hangat serta menenangkan kekhawatirannya. 'Sepertinya kehadiranku tak dibutuhkan lagi' batin Widuri perih.


"Hei Dean, Widuri panik dan terus menangis melihat kau pingsan. Dikiranya kau sudah mati!"


Suara Nastiti laksana alarm di telinga Dean. Direnggangkannya pelukan Yoshi dan mencari Widuri yang sudah menghilang. Ditatapnya Nastiti dengan pertanyaan di matanya.


Nastiti mengangkat dagunya ke arah kamar. Dean mengerti. Dikeluarkannya meja dan bangku-bangku dari kalung penyimpanan. Juga kayu-kayu bakar kering.


"Kalian bisa masak untuk makan malam." Kata Dean sebelum menghilang ke kamar, menyusul Widuri.


Yoshi yang ingin mengikuti Dean segera ditarik Nastiti.


"Kau bantu bibimu ini menyiapkan makan malam kita. Oke?"


Yoshi mengangguk dan membantu Marianne serta Nastiti menyiapkan makan malam. Sementara Michael segera membuat perapian baru di dekat meja bundar. Pondok itu kembali diterangi cahaya. Nyala api meliuk-liuk di tiup angin malam yang basah di tengah hutan belantara.


Hujan sudah mereda. Tinggal suara gemericik air jatuh satu-satu dari teritisan atap. Suara kodok dan jangkrik bersahutan mengisi suasana malam.


*****

__ADS_1


__ADS_2