
Widuri lelah menangis dan kayu api juga sudah yang terakhir. Sementara Dean tak kunjung kembali. Saat ini Widuri tidak lagi merasa Dean pergi meninggalkannya dan tak kunjung kembali itu bukanlah karena sikap buruknya, tapi mulai khawatir telah terjadi sesuatu hal yang membuatnya tak bisa kembali. Widuri menjadi semakin cemas. 'Apa yang terjadi? Kenapa dia tak juga kembali? Apa dia tersesat? Apakah bertemu binatang buas di lorong gua? Hmmm, binatang apa yang mungkin ada di dalam gua?' pikirnya cemas.
Beruang? Serigala? Ular? Apakah dia terluka atau tewas karena bertarung hanya mengandalkan tombak?
"Ahh tidak! Tidak. Pikiran buruk ini harus dibuang jauh-jauh." Widuri terus bicara sendiri.
Kruukkk.. kruukkk.. Perutnya yang bersuara keras membuat Widuri terhenyak. Dia merasa sangat lapar. Mestinya dia sudah bisa makan jika berada di shelter.
"Ahh salahku. Semua salahku yang terlalu mengikuti rasa penasaran, hingga jatuh ke sini dan membuat Dean ikut terjebak juga karena ingin menjaganya." Widuri merasa kesal pada sikapnya selama ini.
Widuri merasa seperti orang munafik yang tampak baik di depan semua orang, tapi mudah menyimpan kecurigaan buruk terhadap pribadi orang lain. Apa sikap negatif ini muncul akibat kekecewaan atas pengkhianatan Frans padanya? Wajahnya mulai murung. 'Pengkhianatan itu tidak hanya meruntuhkan rasa percaya diriku, tapi mengurangi kepercayaanku terhadap orang lain.'
Widuri mengusap-usap perutnya dengan air mata menggenang. 'Dia tak harus ikut terjebak dan kelaparan serta kehausan jika bukan demi menjaga dan menolongku. Tapi sikapku sudah sangat buruk dengan menuduhnya yang bukan-bukan. Jika dia kembali, aku akan minta maaf dan bersikap baik padanya.'
"Kembalilah Dean, aku takut di sini sendirian." bisik Widuri pelan sembari melihat lorong gelap di depannya.
"Dean! Dean! Widuri! Apa kalian baik-baik saja di bawah sana?" Terdengar suara orang dan kayu-kayu yang disingkirkan. Ruang gua itu menjadi lebih terang. Widuri melangkah tertatih ke arah lubang yang terbuka di atas kepalanya dengan bahagia karena ternyata mereka yang di lubang tak dilupakan.
"Aku baik-baik saja." Widuri berteriak sambil melambai gembira. Dia bisa melihat kepala orang terjulur di lubang itu, tapi tidak jelas siapa.
"Kami kehabisan makanan dan kayu api di sini." teriak Widuri lagi dengan suara penuh harapan.
"Ya, kami tau kalau kalian akan lapar. Ini akan kami lemparkan kayu-kayu bakar, ubi dan kelinci ke dalam. Eh, dimana Dean? Kenapa hanya kau yang menjawab?" tanya orang di luar.
"Dean sedang menyusuri lorong gua. Katanya ingin mencari jalan keluar. Aku diminta menunggu kalian di sini," jawab Widuri.
Widuri ragu apakah perlu untuk mengatakan pada rekan di atas bahwa Dean telah lama pergi dan belum kembali. Widuri khawatir itu akan membuat cemas temannya yang lain yang mungkin akan membuat salah seorang di antaranya ikut turun dan terjebak juga seperti Dean. Tunggu saja dulu. Jika hingga kedatangan berikutnya Dean masih belum kembali, baru dia akan mengatakannya.
Kayu-kayu api, 1 ekor kelinci utuh mentah, daun-daun pinus dan beberapa ubi telah dijatuhkan.
__ADS_1
"Widuri, aku akan menjatuhkan panci untuk memasak air. Coba kau tumpuk daun-daun pinus itu lebih tebal untuk menahan agar panci tidak penyok saat jatuh." Suara di atas memberi instruksi. Widuri menumpuk daun-daun itu menutupi permukaan batu di dasar lubang jadi lebih tebal.
"Sudah ku lakukan," teriak Widuri memberi tau.
"Awas yaa.." Lalu terdengar bunyi klontang beberapa kali saat panci itu mendarat di tumpukan daun dan terlontar kembali baru mendarat lagi di permukaan batu beberapa kali sebelum akhirnya berhenti.
Widuri berjalan untuk memungut panci itu. Sedikit penyok dan terkelupas lapisannya. Tapi masih bisa digunakan.
"Panci sudah ku dapatkan, tapi tidak ada sumber air di sini." teriak Widuri sambil menunjukkan panci di tangannya ke arah atas.
"Yaa kami tau. Menyingkirlah dari situ. Aku akan lemparkan bola-bola salju ke bawah, mungkin bisa kau kumpulkan untuk keperluan minum."
"Baik. Idemu benar-benar cerdas. Aku sudah begitu haus di sini." suara Widuri yang terdengar sedih sampai ke atas.
"Hei,, jangan sedih. Kita akan menemukan jalan keluar dari masalah ini. Tetaplah optimis." Suara di atas menyemangatinya.
"Hei, minggir, aku akan menjatuhkan bola salju ini." Suara lain kembali terdengar. Widuri menjauh dari tumpukan daun pinus.
"Berhasil tidak?" tanya orang di atas.
"Tidak. Pecah berantakan setelah membentur daun-daun." jawab Widuri.
"Hei,, tenang saja. Kami tau tak kan mudah menjatuhkan bola salju sejauh ini tanpa resiko pecah. Jadi kami sudah siapkan beberapa bola salju. Sabarlah dan menjauh dari situ."
Widuri bergeser lagi dan menunggu. Di lemparan ketiga, salju yang berhamburan tidak terlalu banyak lagi, karena dia sudah mendarat di permukaan salju sebelumnya.
"Sebentar, ini sudah mulai bagus. Biar ku ambil dulu." teriak Widuri. "Oke, lanjutkan jika masih ada."
Brukk, bola salju yang dibungkus daun pinus itu jatuh hampir utuh. "Hahaa.. ini sangat bagus. Ku rasa cukup untuk masak air satu panci." Widuri tertawa senang.
__ADS_1
Dia lalu membuka ikatan ranting pinus yang menutupi bola salju yang dipadatkan. Memecahkan sedikit dan memasukkannya ke dalam panci.
"Terima kasih, usaha kalian tak sia-sia." Widuri mengangkat panci berisi salju di atas kepalanya. " Sebentar aku tambahkan kayu pada perapian." Widuri lalu meletakkan panci di dekat api agar mencair. Sementara bongkahan salju yang lain dipindahkannya ke atas permukaan batu datar lain tak jauh dari situ.
"Apakah tim 2 sudah sampai?" tanya Widuri ke arah atas.
"Belum. Mungkin lebih sore atau besok. Apa kau lupa jika kita baru bisa masuk kesini setelah kabut menipis?" Orang di atas mengingatkan.
"Ah iya, aku lupa," sahut Widuri. "Tapi, apa persediaan makanan kalian akan cukup jika dibagi ke sini?"
"Apa kau tak lihat ubi yang kami lemparkan? Kami menemukan tanaman ubi lagi, dan menggali beberapa. Jadi jangan khawatirkan kami."
"Baiklah. Itu bagus jika kalian menemukan kebun ubi lagi. Sebentar, aku akan panggil Dean, mungkin dia akan mendengarku dan segera kembali." Teriak Widuri lagi.
"Dean..! Dean.. Di mana kau? Teman-teman sudah mengantarkan makanan. Dean.. Kembalilah." Widuri sengaja berjalan ke arah lorong sebelum berteriak dengan suara kencang. "Dean... Dean.. Kembali.."
"Widuri, tak apa jika Dean belum kembali. Kau masak saja dulu kelinci itu. Mungkin harum makanan akan menuntun jalannya kembali." Hahahaa.. Suara tawa beberapa orang di atas sedikit meringankan keresahan yang dirasakan Widuri.
"Kami tinggal dulu ya. Nanti kembali lagi."
"Ya, pergilah. Terima kasih bantuannya." teriak Widuri. "Biarkan saja lubang itu terbuka, jangan ditutup. Gelap."
"Baiklah, kami pasang sedikit kayu saja sekedar menjaga serigala tak mudah terperosok."
Widuri menengadah ke atas. Beberapa kayu dijejer berjarak untuk menjaga lubang tertutup tapi masih memungkinkan cahaya untuk masuk. Setelah tak ada pergerakan lagi di atas, Widuri beranjak ke perapian. Memasukkan Ubi ke dalam bara lalu menggantung kelinci di atas api dengan penopang. Dia mulai mahir masak dengan cara seperti ini.
Salju di panci sudah mencair. Widuri memindahkan air hangat itu ke dalam botol yang dibawa Dean. Diisinya sampai penuh untuk persediaan minum. Lalu meneguk air yang tersisa di panci untuk meredakan rasa haus dan perut yang mulai bergejolak.
Widuri kembali teringat dengan Dean. Apa dia tak merasa haus? Apa dia tersesat? Widuri mengisi lagi panci dengan salju yang dikumpulkannya dan memanaskannya kembali.
__ADS_1
"Dean.. Dean.. Dimana kau?" Widuri kembali berteriak. Dia berharap Dean bisa mengikuti arah suaranya jika memang dia tersesat.
"Deaaaannn..!" Teriaknya lagi, tepat di mulut terowongan. Belum mendapat jawaban, Widuri menghela nafas, dan berjalan kembali ke arah perapian sambil sesekali menoleh ke belakang.