PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 192. Jatuh


__ADS_3

Liam, Laras, Kenny, Mattew dan anak-anak itu melewati sebuah halaman kecil. Dan mereka terpaku melihatnya.


Halaman itu penuh dengan bedengan sayuran. Mereka bisa melihat tanaman tomat yg buahnya sudah merah menggoda. Juga ada tanaman timun yang tumbuh subur di rambatannya. Ada labu, cabai, daun bawang, ubi dan lain-lain.


Anak-anak itu ingin berlari ke sana tp ditahan oleh Laras.


"Tunggu dulu. Melihat halaman ini masih rapi, harusnya penghuninya masih rutin merawatnya. Jadi jangan sembarangan."


"Laras benar. Aku tau kita lapar. Nanti kita minta saja sedikit makanan pada pemilik kebun ini. Jadi sabar dulu. Kita coba temui pemilik rumahnya." Ujar Kenny.


Mereka berjalan ke pintu rumah. Liam mengetuk pintu beberapa kali. Tapi tak ada jawaban.


"Mungkin penghuninya sedang pergi." kata Mattew.


"Coba dulu." Liam mencoba membuka daun pintu. Dan itu tidak dikunci.


"Halloo.. Apa ada orang di sini? Permisiii.." teriak Liam keras. Tapi tak ada jawaban.


"Sepertinya orangnya tak ada di rumah. Bagaimana ini?" tanya Laras.


"Biar coba ku lihat ke dalam. Mungkin ada halaman belakang hingga dia tak mendengar kita." Kata Liam.


"Biar ku temani." Ujar Mattew.


Keduanya masuk dan membuka pintu lebar-lebar. Mereka melihat ruang terbuka yang nyaris kosong. Hanya ada 1 meja kecil menempel dinding.


Lalu ada sebuah kamar yang ditutupi tirai dari manik-manik kayu. Terlihat usang dan warnanya sudah memudar. Liam menyibak tirai itu dan melihat tempat tidur kayu ukuran sedang di situ. Ada meja kecil di sisinya. Ada jendela di dinding seberang sana. Liam keluar dan melihat ruang tengah yang lebih besar. Ruang itu juga hampir kosong. Hanya ada meja bundar dengan 2 kursi di sisi jendela besar. Melihat letaknya, harusnya jendela itu menghadap ke arah kebun di halaman depan.


"Sepertinya ada yang hilang di sini. Lihat bekas benda ini." tunjuk Matthew. Liam melihatnya dan mengangguk.


"Di sini juga harusnya hanya sesuatu. Bentuk kotak panjang. Bisa jadi 2 benda ini sangat penting hingga disembunyikan, atau sudah tak berguna maka dibuang keluar." tebak Liam.


Mereka lanjut memeriksa lebih ke belakang.


"Ini seperti ruang makan bukan?" ujar Mattew ragu.


"Kelihatannya begitu. Set teko dan cangkir-cangkir tua ini jadi penanda."


Mereka memeriksa lagi. Ada 2 pintu di sisi berbeda di situ. Liam membuka yang satu.


"Ini... tampaknya seperti gudang atau tempat persediaan." Kata Liam.


Mereka masuk dan memeriksa di dalam.


"Gelap," kata Mattew. Dibukanya jendela yang ada di ruangan itu. Matanya terpaku melihat keluar.


"Tak banyak persediaan di sini. Hanya ada barang-barang tua tak berguna," kata Liam yang asik memeriksa isi ruangan itu.


"Persediaannya ada di luar sana,"


Mattew keluar ruangan dengan cepat. Liam yang tak mengerti, melihat ke luar jendela.


"Hah???"


Matanya berkedip-kedip melihat halaman belakang kediaman itu. Itu surga. Mattew sudah berlarian dengan bahagia di sana. Liam juga segera keluar ruangan. Tapi bukan menyusul Mattew. Dia menuju pintu depan.


"Kalian masuklah. Ada kejutan di belakang sana." Kata Liam dengan ekspresi gembira.


"Benarkah?"


"Ayo. Aku tak sabar."


Mereka semua berlari masuk mengikuti Liam.


"Woaaaa....!"


Terdengar pekikan dan tawa kegirangan semua orang. Mereka berlarian ke sana ke mari. Melihat dengan takjub tempat itu. Betapa berbedanya dengan kota mati di luar sana.


"Busyett! Kau lihat itu Liam?" Laras menghampiri Liam setelah melihat semua yang ingin dilihatnya disitu.


"Ada dapur di sini. Ada kamar mandi juga. Ada taman kecil dengan air mancur dan kolam penuh ikan gemuk di sudut halaman. Ada beberapa kandang yang.. sayangnya kosong. Dan ada tangga menuju atas. Aku ingin lihat ke atas, ada apa di sana." Laras sangat penasaran.

__ADS_1


"Hati-hati Laras. Ku kira lantai atas itu lebih naik tak diinjak. Takut kayu lantainya sudah lapuk. Bahaya!"


Laras tak menggubris ucapan Liam. Dia sudah menapaki anak tangga kayu yang berada di samping jendela gudang.


"Aku akan hati-hati," Teriak Laras. Liam memandangnya dengan khawatir.


"Liam, di sana ada banyak sekali ikan. Bisakah kita mengambil beberapa dan memasaknya? Anak-anak sudah kelaparan." Kenny minta pertimbangan Liam.


"Hah.. ambil secukupnya saja. Nanti kita jelaskan pada pemilik rumah ini." Liam akhirnya setuju.


"Yeayy... kita akhirnya bisa makan," teriak anak-anak itu gembira. Mereka bahagia sekali berada di tempat itu.


"Tuan Liam, bolehkan aku petik beberapa sayur dan bumbu di halaman depan sana?" Dua gadis remaja itu meminta persetujuan Liam.


Liam mengangguk.


"Ambil secukupnya saja. Jangan membuat pemilik rumah ini marah. Hati-hati jangan merusak kebunnya."


"Ya," jawab mereka sambil berlari.


"Hah.. semoga pemilik rumah ini orang yang baik hati. Atau semua ini akan menjadi gawat." desah Liam.


"Hei, Laras. Ada apa di atas sana?" teriak Liam.


"Kau naiklah ke sini dan lihat sendiri!" sahut Laras.


"Apakah tidak bahaya jika kita naik berdua?" Liam tak yakin.


"Yah, hati-hati saja. Bagaimanapun, lantai ini sudah mulai berderit jika diinjak," kata Laras dari atas.


"Kalau memang berbahaya, maka turunlah. Naik bergantian saja!" teriak Liam ngeri.


"Aku belum selesai melihat." Laras menolak turun.


"Kenny, kalian bisa masak sendiri kan? Aku mau menyeret gadis itu turun. Berbahaya sekali menaiki lantai lapuk begitu." gerutu Liam.


"Ya. Tenang saja. Kami akan menyiapkan makanannya." Kenny tersenyum geli melihat ekspresi Liam saat kesal.


"Baik."


Kenny segera memanggil anak-anak yang sedang bermain berlarian ke sana-kemari. Memberi sedikit nasihat pada mereka.


"Laras, aku naik," Liam menapaki anak tangga dengan hati-hati.


Matanya segera terpaku melihat pemandangan di atas sini. Kaki Liam melangkah cepat menyusul Laras.


"Stop! Jalan pelan-pelan. Atau lantai ini akan runtuh." Laras mengangkat tangannya ke depan, melarang Liam melangkah secara sembrono.


"Apakah ini seperti yang ku lihat?" tanya Liam tak percaya.


"Yah. Kau lihat ini. Setumpuk kulit hewan yang sudah bersih. Ditumpuk berdasarkan jenisnya. Dan sudah setinggi ini." Laras benar-benar tak percaya.


"Berapa tahun dia mengumpulkan semua kulit ini? Apa dia tiap hari dapat hewan buruan? Pemburu yang sangat hebat." Liam menimpali.


"Jika dia memburu kelinci tiap hari, aku masih percaya dia bisa menghabiskan seekor sehari. Tapi ini ada setumpuk kulit harimau, macan, serigala bahkan yg terbesar ini, ku kira adalah beruang merah." Laras menjelaskan jenis-jenis binatang yang kulitnya ada di situ.


"Pemburu yang hebat!" Liam berjalan hati-hati dari meja ke meja tempat pemilik rumah menumpuk kulit-kulit itu.


"Kau belum mengerti maksudku Liam?" mata Laras menatapnya tak percaya.


"Aku tak bisa menebak isi kepalamu. Jadi katakan saja apa maksudmu." kata Liam heran.


"Maksudku, mungkin orang pemilik rumah ini berbahaya. Juga sangat kuat." Laras tampak berpikir keras.


"Ya sudahlah. Tak ada yang bisa kita lakukan di sini. Jadi ayo turun saja. Bahaya." Liam berjalan menuju tangga perlahan-lahan.


"Kau tak ikut turun?" tanya Liam heran.


"Ya turunlah. Tapi gantian. Terlalu bahaya jika kita menginjak satu kayu bersamaan." jelas Laras.


"Oh, oke kalau begitu." Liam melanjutkan langkahnya. Bunyi lantai yang berderit dan sedikit melengkung diinjak Leon, terasa menakutkan.

__ADS_1


"Ayo turun. Aku sudah sampai tangga." kata Liam dengan lega.


"Ya, sabar." sahut Laras.


Dia melangkah hati-hati. Bunyi lantai berderit-derit seperti menjerit saat diinjak kaki Laras.


"Hei, aku tidak seberat itu juga keleus. Kenapa kau menjerit sampai seperti itu?" bisik Laras pelan.


Krieett... krieettt...


Krakk!!


Langkah Laras langsung terhenti. Wajahnya mulai pucat. Salah gerakan sedikit saja, maka lantai itu akan ambrol. Laras melihat ke arah lantai papan yang diinjaknya. Ada retakan besar di situ.


'Aku harus segera lompat ke sana kalau tak ingin jatuh' batin Laras. Dia bersiap-siap untuk lompat. Namun gerakannya menumpu pada satu kaki sebagai start lompatan justru membuat retakan itu makin dalam.


Krakkkk!!


"Laras!!" terdengar Liam memanggil Laras yang tak kunjung turun


Kraaakkkkk!!!!


"Sial, kau mengangetkanku!" rutuk Laras saat tubuhnya melayang jatuh.


Brakkkk !!!


Terdengar suara berisik dari dalam gudang. Liam tang berdiri menunggu Laras di dekat jendela memalingkan pandangannya ke arah dalam.


"Laras!" teriaknya panik dan berlari ke dalam.


"Shhh.. aduuhhh.. Punggungku sakit sekali." rintih Laras.


"Laras. Bagaimana kau bisa jatuh? Kan sudah ku bilang hati-hati." Liam membantu Laras berdiri.


"Teriakanmu itu mengangetkanku! Mengganggu konsentrasi saja." Omel Laras dengan kesalnya.


"Jadi itu salahku?" tanya Liam dengan bodohnya.


"Ya salahmu lah. Masa salahnya Kenny?" balas Laras kesal.


"Ayo ku antar kau ke kamar itu. Berbaring dulu. Nanti ku minta salah seirang gadis untuk memeriksa apakah ada cedera di punggungmu." kata Liam.


"Hemm.." Jawab Laras.


Keduanya sampai di dalam kamar yang tak terlalu terang. Liam membimbing Laras menuju tempat tidur. Laras akhirnya bisa duduk di atas alas yang ditutupi kulit lembut aneka warna. Putih, cokelat, kelabu bahkan hitam pekat.


'Kasur ini sangat empuk. Ada 2 bantal di sini. Apakah mereka suami istri?' pikir Laras.


Liam telah membuka jendela. Kamar itu jadi lebih terang.


"Kau berbaringlah dulu. Biar kupanggil salah satu gadis itu untuk memeriksamu." bujuk Liam dengan rasa bersalah.


"Hemm.." Laras menjawab sambil menahan sakit di punggungnya.


'Tampaknya aku membentur sesuatu saat jatuh tadi' batin Laras.


Liam keluar dan mengabarkan pada Kenny apa yang terjadi. Lalu seorang gadis mengikuti Liam untuk memeriksa keadaan Laras di kamar.


Liam, Kenny dan Mattew menunggu kabar dengan cemas. Apalagi saat mendengar jeritan kesakitan Laras dari dalam kamar. Tak lama terdengar rintihan dan desisan Laras.


Gadis remaja itu keluar dengan tampang sedih. Dicegat 3 pria dengan wajah khawatir dan penuh pertanyaan di mata mereka.


"Bagaimana?" tanya Liam yang tak sabar melihat gadis itu hanya diam.


"Punggungnya membiru. Sepertinya saat jatuh membentur sesuatu." Jelas gadis itu.


"Apa itu bahaya? Akau tau cara mengobati atau meringankan nyerinya?" Liam menanyakan begitu banyak pertanyaan sekaligus.


"Aku akan memetik daun di halaman. Itu bisa dipakai untuk mengompres memar dan mengurangi nyerinya sedikit. Tapi aku tak tau apakah ada tulang punggungnya yg cedera atau tidak." jawab gadis itu jujur.


"Baiklah. Kau lakukanlah yang kau bisa." Liam pasrah. Saat ini hanya itu yang bisa mereka lakukan.

__ADS_1


*****


__ADS_2