PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 223. Penyakit Kutukan


__ADS_3

Akhirnya Kang dan Robert dipaksa bermalam di tempat Dean dan kawan-kawan. Mereka berencana mengunjungi Laras dan Liam, besok.


Makan malam semarak dengan tawa canda. Mereka bahkan telah melupakan insiden Nastiti sore tadi.


"Makan malam yang enak," puji Robert.


"Yah, kami harus beradaptasi dengan keadaan. Semua dikerjakan sendiri, dibantu alat-alat sederhana buatan Dean," terang Marianne.


"Kau hebat Dean. Terutama kamar-kamar dari gelondongan kayu itu," puji Robert.


Dean hanya tersenyum.


"Baiknya kita istirahat lebih cepat. Biar besok bisa berangkat lebih pagi," kata Alan.


"Baiklah. Robert, Kang, mari aku tunjukkan kamar kalian." Dean mengantar kedua tamunya ke satu kamar log yang kini kosong.


"Ini kamar kalian malam ini. Itu di sana kamar mandi. Beristirahatlah," kata Dean.


""Terimakasih Dean. Tapi jika kalian berjaga bergantian, aku dan Kang juga bisa membantu," ujar Robert.


"Sejak ada Cloudy, kami tak sepenuhnya berjaga. Lebih sering tidur di pelataran ditemani Cloudy," Dean tersenyum


Ah, macan tutul kelabu itu. Robert mengangguk mengerti.


"Baiklah, terima kasih."


*


*


Setelah sarapan, Dean dan Sunil membawa Robert dan Kang menuju kota mati. Mereka akan menjenguk Laras.


Robert sudah merasa tak sabar sejak tadi malam. Dia hampir tak bisa tidur semalaman dan berkali-kali membalikkan badan. Kang yang merasa terganggu, akhirnya mengusap wajah Robert sekali. Dan itu membuatnya mengantuk seketika, lalu tertidur pulas setelahnya.


Keempat orang itu berhenti di area hutan yang kosong tanpa ada sebatang pohonpun tumbuh di situ. Dean menunjukkan jalan turun. Dan menuju pintu masuk.


Ketika Dean muncul di pintu masuk, ternyata ada Yabie yang sedang mengatur batu untuk mengeraskan jalanan menuju pusat kota mati.


"Paman Dean, siapa itu?" tanya Yabie yang melihat Dean bersama seseorang.


"Ini Robert. Temanku dari masa depan," Dean memperkenalkan Robert.


"Ah.. paman Sunil juga di sini?" sapa Yabie yang melihat Sunil muncul. Dan, ada orang lain lagi yang bersamanya.


"Ya, kami ingin mengunjungi Laras. Dia sudah lama tak bertemu Laras. Sejak mereka terpisah karena kapal karam," jelas Sunil.


"Jadi tinggal Leon dan Silvia yang belum ditemukan." Robert tercenung sedih.


"Semoga mereka baik-baik saja," imbuh Dean.


"Ayo kita kunjungi Laras dan Liam." Sunil berjalan duluan.


"Yabie, kau tak ikut?" tanya Dean.


"Biar ku selesaikan ini lebih dulu." ujar Yabie.


"Oh ya, paman Liam ada di kandang sapi di sana," ujar Yabie.


"Oke," sahut Dean.


Yabie memperhatikan keempat orang itu berlalu. Dia merasa sedikit terintimidasi dengan kehadiran teman baru pamannya. Entah kenapa dia jadi ingin menjauh.


'Siapa mereka? Kenapa aku merasa terintimidasi? Apa mereka berhati jahat?' pikir Yabie curiga.


"Banyak lahan kosong di sini. Dan tanahnya kering," komentar Robert.


"Ya, itulah kenapa disebut kota mati. Bukan hanya karena tak ada tanaman yang tumbuh, tapi juga telah menelan banyak korban nyawa," kata Dean.


"Ah, makhluk yang kau ceritakan kemaren malam? Aku mengerti," jawab Robert.


"Setelah bertemu Yabie yang ternyata putra ketua kota. Juga kenyataan bahwa Laras, Liam dan para penolongnya terjebak di sini. Kami putuskan untuk menata ulang kota ini."


"Gotong royong menyingkirkan semua reruntuhan bangunan lapuk. Membersihkan bekas-bekasnya dan membangun ulang beberapa rumah."


"Dean, Sunil, kalian mau menjenguk Laras?"


Terdengar suara Kenny dari kebun yang ada di sisi parit.


"Iya. Kau sedang sibuk apa?" tanya Dean.

__ADS_1


"Yabie membawa bibit wortel dan sayuran lain. Kami bermaksud menanamnya di bedengan baru ini." Kenny menunjukkan Bedengan sayur yang sedang digarapnya.


"Dimana Mattew?"


Dia sedang menyirami ladang padi di belakang sana," tunjuk Kenny ke satu arah.


"Lanjutkanlah kerjamu. Kami pergi dulu." Dean melambaikan tangannya sambil berlalu.


"Apakah parit yang mengelilingi kota ini sudah lama ada?" tanya Robert.


"Tidak. Kami sengaja menggali parit, agar mereka bisa bertanam untuk kebutuhan mereka sendiri. Jadi, meskipun tak ada hujan di kota ini. Asalkan ada parit berisi air, bukankah tak sulit lagi untuk menumbuhkan beberapa tanaman?" papar Dean.


"Kau benar Dean. Tak lama lagi kota ini akan jadi kota yang hidup dan subur makmur," puji Robert.


"Yeahh... selama mereka mau bekerja keras, maka tak kan kekurangan bahan makanan untuk hidup." Sunil menambahkan.


Mereka sudah masuk bagian pemukiman. Robert mengangguk-angguk.


"Rumah kayu yang bagus."


"Itu rumah anak-anak yang lari bersama Laras dan Liam," kata Sunil.


"Jika mereka sudah cukup besar, mereka bisa membangun rumah sendiri di blok ini dan ini!" Dean menjelaskan sambil jalan.


"Lalu blok yang ini bagaimana?" tanya Robert.


"Rencananya, lokasi itu untuk tempat mereka belajar, bertemu, diskusi dan sebagainya. Tapi belum ada bangunan di situ," jelas Dean.


"Rencana yang bagus Dean." Robert setuju dengan mengacungkan jempolnya.


"Nah, Laras dan Liam tinggal di sini."


Sunil memasuki halaman rumah mungil itu.


"Bertingkat dua," gumam Robert.


"Ya, di atas itu tempat tinggal Liam," kata Dean.


"Bagaimanapun, harus ada yang siap membantu dan menjaga Laras dalam keadaan begini," tambah Dean.


Robert mengerti. Dia juga akan mengambil keputusan serupa jika dihadapkan pada keadaan ini. Dean telah membuat pengaturan yang baik untuk teman-temannya yang terdampar di pulau ini. Robert bersyukur untuk itu.


Tok tok tok...


Tak ada jawaban, sunyi. Dean cemas, teringat kejadian sebelumnya dimana Laras menahan sakit di kamar.


"Mungkin dia di halaman belakang. Biar ku lihat dari samping," kata Sunil.


Mereka menunggu di teras depan rumah.


"Dia tak ada di belakang. Pintu dapur juga ditutup." Sunil menjelaskan.


"Sebentar ku lihat ke kandang sapi. Mungkin saja Liam mengajaknya ke sana." Dean terbang tanpa menunggu jawaban yang lainnya.


Sunil, Robert dan Kang akhirnya menunggu lagi di teras rumah.


Tak lama Dean kembali. Dia berjalan beriringan dengan Liam. Di atas, ada kursi roda melayang bersama dengan Laras yang duduk manis. Laras mulai terbiasa diajak terbang. Dia tak gugup atau takut lagi.


"Itu mereka," kata Sunil.


"Laras!"


Robert menghampiri Laras dan memeluknya begitu kursi roda itu turun ke tanah.


"Ughh.. Hahaa.. Aku baik-baik saja, Robert." Laras tertawa canggung diperlakukan begitu.


"Ahh, iya... syukurlah. Aku senang karena kita bisa berjumpa lagi," kata Robert.


"Liam, tak ku sangka bisa bertemu kalian lagi." Robert memeluk Liam.


"Aku senang kalian selamat. Harusnya saat itu aku tak memeriksa terlalu jauh hingga kita terpisah," kata Robert menyesal.


"Lupakan saja. Semua itu sudah takdir. Yang penting kan sekarang kita bertemu lagi. Ya kan?" Liam tersenyum senang.


"Ayo masuk. Laras tadi membuat makanan enak," kata Liam.


"Baik.. baik.. aku suka makanan enak," kata Sunil cepat.


Semua tertawa mendengarnya. Mereka masuk dan duduk di lantai kayu karena tak ada cukup bangku di situ. Liam menyajikan pie apel buatan laras dan yogurt segar.

__ADS_1


Mereka bercengkrama dengan gembira. Berbagi cerita pengalaman Liam dan Laras hingga bisa tiba di kota mati.


"Liam, kau harus menelihara ayam dan kelinci juga. Jadi kalian bisa punya telur untuk membuat kue-kue. Dan kelinci, lebih cepat beranak pinak. Jadi kalian tak kekurangan daging lagi di sini," saran Sunil.


"Ku rasa kau benar. Nanti akan ku katakan pada Yabie agar dia membawakannya ke sini." Liam mengangguk setuju.


"Ehemm, maaf Laras. Permintaan ku ini mungkin lancang. Tapi, bisakah kau tunjukkan sakit di bagian punggungmu? Biarkan Kang melihatnya sebentar. Mungkin Kang bisa membantu?" ujar Robert.


Ruangan itu hening seketika.


"Benarkah? Kang bisa membantu? Apa dia tau ilmu pengobatan?" tanya Liam antusias.


"Apa kau tau ilmu pengobatan Kang?" tanya Sunil.


Kang menggeleng.


"Dia tak tau banyak, kecuali yang biasa dia hadapi. Tapi beberapa hari lalu, Kang mengalami kondisi yang sangat parah. Ku kira dia bisa mati saat itu. Dia mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya. Dan itu membuatku panik. Tapi Kang punya obat yang dalam waktu cepat bisa memulihkan kondisinya seperti semula," urai Robert.


Mereka semua saling pandang dengan takjub.


"Menurutku, tak ada salahnya dicoba. Dari pada hanya pasrah menerima keadaan," ujar Dean.


"Bagaimana Laras? Ijinkan Kang memeriksa ya...." bujuk Liam.


Laras melihat tepat di mata Liam, yang tulus. Dia akhirnya tersenyum dan mengangguk. Tak tega menolak harapan semua orang.


"Baiklah.... Liam, bantu aku ke kamar," kata Laras.


Liam mendorong kursi roda ke dalam kamar. Robert mengajak Kang mengikuti keduanya. Dilihatnya Liam mengangkat Laras ke tempat tidur. Hatinya berdenyut sakit. Lantas Liam keluar lagi.


"Masuklah Kang. Tolong diperiksa." Liam mempersilahkan Kang untuk masuk.


Robert merasa sungkan untuk masuk karena tidak dipersilahkan. Lagipula, Liam juga tak ikut masuk.


"Robert, duduk di sini. Dari sini kita bisa mendengar jika nanti Laras memanggil," ajak Liam yang melihat Robert mondar mandir di depan pintu.


Liam membuka pintu dapur dan jendela ruang makan. Udara segar mengalir masuk ke dalam ruangan. Dari depan jendela, tampak kebun kecil mereka sudah memunculkan kuncup-kuncup kehidupan.


"Liam...," terdengar suara Laras memanggil.


"Ya...." Liam bangkit dari duduk dan melangkah ke pintu kamar. Kang sudah keluar.


"Kau mau keluar lagi?" tanya Liam.


"Aku ingin istirahat," tolak Laras.


"Apa perlu ku panggilkan Yabie?" tanya Liam khawatir.


"Tidak. Aku hanya mengantuk. Aku bangun sangat pagi untuk membuatkanmu pie apel. Apa kau lupa?" ujar Laras tersenyum.


"Baiklah... kau bisa istirahat." Liam mengalah.


*


"Bagaimana Kang? Apa kau tau sakit apa dia?"


"Bisakah kau membantu Laras?"


Semua berebut bertanya.


Kang menggeleng ragu. Diletakkannya jarinya di dahi Robert. Robert terkejut.


"Kang bilang apa?" tanya Liam tak sabar.


"Dia khawatir itu seperti sakit kutukan yang pernah diderita kakeknya. Dia harus membaca ulang catatan kakeknya untuk memastikan," ujar Robert.


"Diderita kakeknya? Apa kakeknya sembuh dari penyakit itu?" tanya Dean penasaran.


"Kalau dari cerita Kang sebelum ini, harusnya sih sembuh. Karena kakeknya bisa hidup lama bahkan sempat melihat Kang lahir."


Robert bicara pada dirinya sendiri. Yang lain jadi tak sabar.


"Kang, apakah kakekmu sembuh dari penyakitnya?" tanya Dean.


Kang mengangguk.


Wajah semua orang menjadi cerah seketika.


"Ini harapan baru. Semoga saja Kang bisa menemukan penyakit Laras di catatan kakeknya," ujar Liam penuh harap.

__ADS_1


"Semoga...."


******


__ADS_2