
Yoshi dan Alan yang membawa Sunil, melesat cepat mengikuti arah adiknya pergi. Mereka masuk jauh ke dalam hutan.
Tak lama mereka melihat kubah cahaya di depan sana. Alan memperlambat laju terbangnya. Anak itu menunggu di dekat sebatang pohon, dekat dinding cahaya itu.
Yoshi menapakkan kakinya perlahan. Dia menjadi waspada.
"Kenapa kita ke sini?" tanyanya tajam.
Adiknya hanya menunjuk-nunjuk ke arah dalam. Lalu dia masuk ke celah di samping pohon itu. Yoshi dan Alan saling pandang. Ragu untuk ikut masuk.
Anak itu keluar lagi, karena Yoshi dan Alan tak ikut masuk.
"Ibu." katanya seraya menunjuk ke arah dalam.
Yoshi tersentak.
"Ibu? Ibu di dalam? Masih hidup?" Yoshi segera mengikuti adiknya untuk masuk.
Tapi Alan bertahan di luar. Dia khawatir jika ternyata Yoshi tak bisa keluar, maka tak ada yang bisa mengabari keberadaan mereka.
Yoshi sampai di dalam kubah cahaya. Matanya mengerjap tak percaya. Dia mau bertanya pada Alan. Tapi tak melihat Alan di dekatnya.
"Paman Alan masih di luar." Yoshi kembali dari jalan yang sama dengan dia masuk tadi. Ada penanda batu untuk pintu keluar masuk tempat itu.
"Paman Alan, jangan takut. Ada pintu akses ke tempat ini." Ujar Yoshi yang melihat Alan tetap berdiri menunggu sambil memanggul tubuh Sunil.
"Bagus kalau begitu."
Alan mengikuti Yoshi masuk ke dalam kubah cahaya. Dia juga sama terpananya dengan Yoshi melihat keadaan di dalam kubah cahaya itu.
Di dalam kubah, dimensinya jadi lebih luas 20 kali lipat. Mereka ada di sebuah jalur jalan. Harusnya di depan itu dulu adalah sebuah kota kecil yang dikelilingi benteng. Tapi sekarang sudah porak poranda. Adik Yoshi membawa mereka masuk pintu gerbang kota yang hanya tersisa setengah bagian. Tak ada penjaga. Mereka memasuki kota yang sudah sangat tua itu dengan leluasa. Jalanan lengang. Tak tampak seorangpun di tempat ini.
Adik Yoshi berjalan lurus melewati puing-puing bangunan. Lalu dia berbelok kearah kanan. Di ujung jalan itu ada pintu gerbang besar dan tua. Dia membuka pintunya.
Krieettt..
Bunyi engsel pintu menandakan dia sudah tua dan tak kuat lagi menahan beban. Di balik pintu itu ada bangunan yang kurang lebih sama tuanya dengan gerbang itu. Tapi bagunan itu masih utuh. Atau setidaknya sudah mendapat perbaikan dan topangan di sana-sini agar bisa tetap berdiri.
"Adik, apa kau tinggal di sini?" tanya Yoshi lembut. Anak itu mengangguk. Senyum tak lepas dari wajahnya. Dia masuk, diikuti oleh Yoshi dan Alan.
Mereka sampai di depan sebuah pintu kayu besar. Adik Yoshi membuka pintu dan 2 jendela yang ada di kamar itu. Dia menyeret Alan dan memintanya meletakkan tubuh Sunil di sebuah dipan batu dengan beberapa tanda di atasnya.
Alan membaringkan Sunil di situ. Dia ingin bertanya lagi ketika melihat Yoshi ditarik ke arah sebuah kotak kayu besar. Alan mengikuti.
Adik Yoshi membuka penutup kotak dengan wajah ceria.
"Ibu," tunjuknya dengan bangga.
Yoshi dan Alan terpekik kecil. Di dalam kotak itu ada kerangka manusia.
"Ini... ibu?" Tanya Yoshi tergagap. Adiknya mengangguk-angguk senang.
"Ibu, Kakak, ayah."
__ADS_1
Melihat adiknya begitu bahagia, Yoshi tak mau banyak bertanya. Biar pelan-pelan dia akan mengetahui bagaimana ibu bisa tewas di sini.
"Jika kau benar-benar ingin memastikan dia ibumu atau bukan, kami punya cara," bisik Alan.
"Bagaimana caranya paman?" Yoshi penasaran.
"Siram dengan air abadi. Jika dia adalah bangsa kita, maka wujudnya akan kembali. Ingat, hanya wujudnya, bukan nyawanya," jelas Alan.
"Benarkah?" mata Yoshi berseri-seri. Dia mencari siasat untuk membawa jasad ibunya keluar dari kubah cahaya.
"Adik, bagaimana jika nanti kita makamkan ibu di taman rumah kita?" bujuk Yoshi. Adiknya hanya memiringkan kepalanya. Dia tak terlihat setuju ataupun tidak.
"Ah, itu bisa nanti. Sekarang bagaimana dengan paman Sunil?" Alan membuyarkan suasana kaku tadi.
Wajah adik Yoshi berubah dengan cepat. Dia kembali ke tempat Sunil terbaring. Dia mengamati dengan teliti menggunakan tangannya yang bercahaya putih keperakan. Sinar di tangan itu bergerak mulai dari kaki Sunil. Lalu terus naik ke atas. Melewati perut, dada hingga kepalanya. Tiba-tiba seluruh tanda yang diukir di permukaan batu itu mengeluarkan cahaya hijau kebiruan.
Adik Yoshi berkonsentrasi. Tangannya bergerak. Perlahan-lahan tubuh Sunil naik ke atas. Cahaya dari batu di bawahnya menyambar berderak-derak. Lalu cahaya-cahaya lain dari bagian atas juga ikut menyambar tubuh Sunil. Seperti sambaran listrik-listrik kecil yang digunakan untuk merangsang seluruh saraf Sunil secara bersamaan dan konstan.
Setelah beberapa saat, Yoshi dan Alan bisa melihat tubuh Sunil mulai merespon dengan menggeliat-geliat. Semula sesekali, lambat laun makin sering dan makin terlihat jelas.
"Aaaaaaaaaaahhh.."
Terdengar teriakan kencang Sunil.
"Ini berhasil." seru Alan gembira.
"Paman Sunil. Kau bisa mendengarku? Apa kau sudah sadar?" tanya Yoshi.
"Adik, paman sudah sadar. Sudah cukup." Yoshi mengingatkan adiknya. Tapi dia bergeming. Dia masih berkonsentrasi.
Sunil terus berteriak kesakitan. Kemudian cahaya keperakan itu melingkupi seluruh tubuh Sunil.
Alan khawatir jika adik Yoshi terlalu menyakiti Sunil, bisa memicu aksi O untuk melawan dengan cahaya birunya. Itu bisa sangat mematikan. Tapi belum sempat Alan menghentikan adik Yoshi, sinar perak yang melingkupi Sunil mulai menguat dan meledak. Pendaran cahaya perak itu begitu kuat dan menyilaukan mata. Ditambah dengan teriakan kencang O.
"O, jangan melawan. Ini aku, Z Kami sedang mengobatimu."
Alam mengirim pesan transmisi kepada O yang matanya mulai membiaskan cahaya biru terang.
Perlahan sinar biru itu meredup.
"Sebaiknya hentikan ini, atau aku akan emosi." balas O lewat transmisi suara.
"Yoshi, ini sudah cukup. Sunil sudah sadar. Dia akan mengamuk kalau terus begini." bisik Alan pada Yoshi.
"Adik, sudah. Lihat.. paman Sunil sudah sadar."
Yoshi menahan gerakan tangan adiknya. Semula adiknya ngin membantah. Tapi melihat senyum Yoshi, dia menurut. Semua kilatan listrik dan cahaya dari dipan batu itu lenyap seketika. Tubuh Sunil turun perlahan-lahan.
Alan mendekat. Dibantunya Sunil untuk duduk. Tubuhnya masih bergetar sesekali.
"Ahh.. a.. ku me.. ra.. sa a.. da lis.. trik me.. nga. lir di.. se.. ku.. jur tu.. buh.. ku," ucapan Sunil samar dan terputus-putus.
"Kau akan baik-baik saja nanti. Tenang dulu." bujuk Alan.
__ADS_1
"Paman Sunil. Kau sudah sadar." Yoshi menghampiri Sunil. Wajahnya lega.
"Adik, apakah kau punya air minum untuk paman Sunil?" tanya Yoshi lembut.
Anak itu tersenyum dan mengangguk. Dia lalu keluar dari kamar.
"A.. dik.. mu?" tanya Sunil masih gagap dikarenakan tubuhnya yang terus bergetar. Sisa arus listrik tadi belum hilang sama sekali.
"Ya, dia adikku. Itu ibuku. Ceritanya panjang. Nanti saja kita bicarakan." Ujar Yoshi lembut.
Adik Yoshi kembali dengan sebuah nampan di tangan. Di atasnya ada 4 gelas air. Dia meletakkan nampan itu di atas dipan batu. Lalu menoleh pada Yoshi.
"Ini minuman untuk kami?" tanya Yoshi lembut. Adiknya mengangguk dengan senyum cerah.
"Ayo minum paman." Tawar Yoshi. Dia segera meminum air dari gelas itu. Tak ada keraguan sedikitpun.
"Ini air madu? Enak sekali." Puji Yoshi pada adiknya. Dipeluknya adiknya dan menyodorkan satu gelas lain untuknya.
Alan mengambilkan air untuk Sunil. Membantunya minum hingga air di gelas habis. Sunil mulai tenang. getar tubuhnya mulai berkurang. Getaran itu membuatnya kelelahan. Nafasnya pendek-pendek seperti orang habis berlari.
"Adik, ayah juga sakit. Maukah kau mencoba membantunya?" Yoshi membujuk adiknya untuk kembali.
"Ayah sakit?" Mata adiknya terlihat mendung.
"Ibu," katanya menunjuk ke peti mati.
"Jangan khawatir. Kita akan membawa ibu pulang. Kita akan menjaga ayah dan ibu bersama. Kau mau kan?" Bujuk Yoshi lembut.
Tangannya terus mengusap-usap punggung adiknya. Adiknya mengangguk dengan wajah khawatir.
Adiknya menunjuk dipan batu dan batu lain yang melayang di atasnya.
"Kau mau membawanya juga?" tanya Yoshi. Adiknya mengangguk.
"Ayah," katanya sambil menunjuk batu itu.
"Kau ingin mengobati ayah dengan batu itu?" Yoshi menebak maksud adiknya. Anak itu sangat senang karena Yoshi mengerti semua perkataannya.
"Baik, kita akan membawanya juga." Yoshi menyanggupi.
"Paman Alan, bisakah dipan batu dan yang di atas itu masuk dalam penyimpanan kalian?" Tanya Yoshi.
"Apa kau sudah enakan?" tanya Alan pada Sunil yang kini sudah tenang. Sunil mengangguk.
"Kita harus kembali dan membawa semua ini." Jelas Alan.
"Ya. Ayo." Sunil bangkit dari duduknya dengan sempoyongan.
"Pelan-pelan saja. Sudah sebulan kau koma. Biar kubantu jalan." ujar Alan.
Mereka sudah melesat kembali ke arah pondok setelah menyimpan segala sesuatu yang diinginkan adiknya Yoshi.
*****
__ADS_1