
Kenapa?" tanya Sunil sambil mengikuti langkah Dean dan membawa kayu-kayu kering. Dean tidak menjawab.
Widuri, apa kau dengar aku?" tanya Dean.
"Yaa.." Suara Widuri lemah dan jauh.
"Apa kau terluka? Aku akan melemparkan kayu api agar kau bisa melihat. Hati-hati ya." Dean bersiap melempar kayu api yang diikatnya tadi.
"Ya.." jawab Widuri lalu terdengar desisan kesakitan. Dean melemparkan kayu api ke arah lubang. "Ah, aduh.."
"Apa apinya mengenaimu?" tanya Dean berusaha menembus kegelapan yang ditinggalkan kayu-kayu itu. "Bagaimana di bawah sana? Apa kau bisa melihat sesuatu?"
"Kau sangat cerewet," desis Widuri menahan rasa sakitnya. Dean tersenyum mendengarnya.
"Disini cukup kering, dingin. Kakiku sakit sekali" Widuri menjelaskan situasinya.
"Baiklah, kau tunggu di situ." Dean berbalik ke ke arah Sunil.
"Aku akan turun ke bawah. Kalian harus menunggu tim 2 dan 3 tiba. Jangan ke mana-mana. Aku sudah membuat jebakan bersama Alan tadi. jadi besok pagi kalian bisa memeriksanya." Instruksi Dean pada Sunil itu membuat Nastiti bingung.
"Kau akan turun?" Nastiti memastikan.
"Ya. Jika kita punya tali cukup panjang dan kuat, kita bisa mengangkatnya naik. Tapi sekarang kita tidak punya. Jadi aku akan turun menemaninya dan mencari jalan keluar." Jawab Dean pasti.
"Itu sebabnya kau langsung membawa tasmu dan tas Widuri?" tanya Sunil. Dean mengangguk.
"Aku juga membawa bekal makan malam," Dean menambahkan dan tersenyum. "Kalian hanya perlu menunggu tim lain berkumpul dan memberitau langkah yang mungkin bisa kalian ambil." Dean berjalan mengambil batang pohon mati tak jauh dari situ dan menyeretnya ke arah lubang.
"Setelah aku turun, tutup mulut lubang ini dengan batang-batang kayu agar tak ada serigala yang terperosok dan memangsa kami di dalam." Dean menurunkan batang kayu itu pelan-pelan.
"Pegangi batang pohon ini. Yang kuat ya. Aku akan menuruni lubang dengan berpegangan di sini biar jatuhnya tak terlalu jauh dan melukaiku." Sunil dan Nastiti memegangi batang pohon yang setengahnya sudah masuk dalam lubang.
"Widuri, aku datang. Menyingkir dari tempatmu." Teriak Dean sebelum melepas pegangannya pada batang pohon. "Aaaahh." Teriaknya saat jatuh.
__ADS_1
Brukk! Dean jatuh dan bergulingan menghindari Widuri. 'Wah, tinggi juga lubang ini' pikir Dean lalu melihat ke arah Widuri yang memegangi kayu api.
"Kenapa kau turun? Sekarang bagaimana cara kita naik?" Widuri bertanya heran. Dean tersenyum lalu mengibaskan debu dari coat panjangnya.
"Sunil, kau dengar aku? Aku baik-baik saja di sini. sekarang jatuhkan kayu bakar untuk kami. Di sini dingin. Lalu kau tutup lubangnya dan kembali ke shelter." Teriak Dean.
"Ya, aku lemparkan kayu-kayu bakarnya." balas Sunil.
Setelah lubang ditutup Sunil dengan batang-batang kayu, tinggallah Dean dan Widuri.
"Kau bodoh. Kenapa ikut turun ke sini." ketus suara Widuri. Dean hanya tersenyum.
"Kau yang bodoh. Kalau aku tak turun, kau akan kelaparan," kata Dean sambil mengeluarkan bekal makan malam yang sudah disiapkannya dari dalam tas. "Biar ku hangatkan dulu yaa." kata Dean sambil meletakkan Ubi bakar, dan daging kelinci pada dahan pohon dekat api.
Widuri termangu melihat sikap Dean. 'Kenapa aku selalu ketus padanya ya? Pada hal dia selalu bersikap baik pada semua orang' batin Widuri. Widuri menggeser tubuhnya mendekati api untuk mengusir hawa dingin. Suaranya terus mendesis setiap kali menggerakkan kaki.
"Coba ku periksa kakimu." Dean mendekat, melihat tapak kaki kiri Widuri bergetar hebat. Digendongnya Widuri agar lebih dekat ke api untuk melihat lebih jelas kakinya.
"Kelihatannya tapak kakimu bergeser dari tempatnya." Dean melihat dengan serius. Alisnya sedikit mengerut.
"Akan sedikit sakit. Kau bisa tahan?" Dean balik bertanya. Widuri mengangguk. Dia tak punya pilihan.
"Baiklah.. tahan sedikit ya.. Jika terlalu sakit, menjerit saja." Dean meletakkannya kedua telapak tangannya pada pergelangan kaki Widuri begitu rupa. Tangannya terasa hangat di kaki Widuri yang nyeri. Widuri memperhatikan dan bersiap-siap menahan sakit.
"Kau kelahiran tahun berapa?" Suara Dean memecahkan keheningan yang mencekam tadi. Widuri terperangah tak menyangka ditanyai hal seperti itu langsung menjawab ketus.
"Hah? Apa yang kau.. Aaaaaahhhhh!" Teriakan kencang Widuri menggema dalam gua itu.
"Apa yang kau lakukan! Itu sakit sekali." Widuri membentak Dean, menarik kakinya dan melempar Dean dengan ranting kecil di dekatnya. Ranting itu mengenai kepala Dean yang masih menunduk mengamati posisi kaki Widuri.
Dean mengangkat kepalanya sambil tersenyum. "Kakimu sudah kucoba kembalikan ke posisinya semula. Mestinya akan baik-baik saja besok pagi." Dean mengabaikan lemparan tadi dan kembali ke dekat api.
Widuri tersentak mendengar perkataan Dean, lalu mengamati kakinya. Kaki itu terlihat seperti seharusnya meskipun masih nyeri dan berdenyut-denyut. Widuri tercenung, 'bukankah tadi dia yang meminta Dean mengobati kakinya? Kenapa malah marah dan melemparinya?' pikir Widuri tak enak hati.
__ADS_1
"Maafkan aku. Aku sangat terkejut tadi." Suara rendah Widuri hampir tak terdengar.
"Kau harus makan lalu istirahat. Besok kita pikirkan cara keluar dari sini." Dean menyodorkan ubi dan daging bakar pada Widuri. Widuri menerimanya dan makan diam-diam.
Malam ini mereka tidur di permukaan satu-satunya batu lebar mendatar yang letaknya jauh sedikit dari mulut lubang. Dean menggendongnya ke sana serta memindahkan perapian agar lebih dekat dengan keduanya. Widuri segera tertidur pulas karena kelelahan. Nyeri kakinya kalah dari rasa kantuk. Dean ikut berbaring di sebelahnya. Dia juga sangat lelah.
Malam entah jam berapa, Dean terbangun dengan tubuh menggigil. Perapian hanya tinggal bara. Dean turun dari batu dan menambahkan api. Tak lama api kembali menyala, tapi suhu dingin belum hilang. Dean menoleh pada Widuri yang tertidur dengan tubuh gemetar.
"Maafkan aku." bisik Dean. Dia melepas sweater dan pasmina Widuri dengan hati-hati. Dean khawatir jika Widuri mulai kehilangan kesadaran. Ditutupinya bagian depan wanita itu dengan sweater dan pashmina lalu dia membawa punggung Widuri ke dalam pelukannya untuk memberi rasa hangat. Dean merasakan tubuh Widuri perlahan-lahan berhenti gemetar dan mulai terasa hangat. Dean lega dan tersenyum dalam tidurnya.
Pagi hari di gua.
Widuri bangun dengan rasa malas. Kehangatan yang dirasakannya membuat matanya enggan terbuka. Perlahan kesadarannya muncul lalu seketika membuka mata dan terkejut melihat dua lengan yang melingkari perut serta dadanya Ada sesuatu menempel di atas kepalanya.
"Ahhh.." Widuri bergerak ingin berdiri tapi kakinya masih nyeri. Dia segera terduduk lagi lalu menggeser menjauhi pemilik tangan yang terbangun kebingungan.
"Ada apa?" tanya Dean dengan tampang bingung.
"Apa yang kau lakukan padaku tadi malam? Kenapa kau memelukku? Dasar mesum. Kau sengaja ikut turun ke lubang ini untuk mencari kesempatan ya?" Widuri melemparkan semua kata-kata tajam yang melintasi kepalanya. Matanya memerah, terlihat sangat marah.
Dean termangu sejenak. Ahh.. dia lalu ingat.. "Tadi malam udara sangat dingin, mungkin di luar hujan salju. Tubuhmu gemetar dan kesadaranmu menurun. Aku tak punya pilihan selain memelukmu agar merasa lebih hangat." Dean menjelaskan alasannya.
"Aku tak melakukan apapun selain memelukmu. Dan aku bukan org mesum yang mencari kesempatan." Suara Dean terdengar dingin. Dia bangkit dan mulai menambahkan kayu di pada perapian.
Widuri masih waspada. Dia tak mudah percaya pada pria. 'Orang yang dikenal bertahun-tahun saja bisa mengkhianati, apa lagi orang yang baru dikenal 2 minggu' batin Widuri. Dia lalu memakai lagi sweater dan pashmina yang tergeletak di batu.
"Aku mau memeriksa ke sana," tunjuk Dean pada lubang lorong di seberang tempat mereka semula. Tadi malam terlalu gelap hingga tak bisa melihatnya. Sekarang sinar matahari menerobos masuk di sela-sela kayu penutup lubang.
"Kau tunggu di sini. Mungkin rekan lain di shelter akan kemari." perintah Dean. Widuri diam tak menjawabnya. Dean tak peduli. Dia menyelempangkan tasnya lalu melangkah ke arah lubang gua itu. Dia harus mencari tau keadaan gua dan alternatif jalan keluar.
Dean menghilang cukup lama, Widuri menjadi cemas akhirnya. Terlebih lagi tidak ada seorangpun rekan di shelter yang datang ke lubang gua itu. Dia kebingungan sendiri harus bagaimana. Kayu api juga tinggal 2 batang. 'Bagaimana ini? Apakah sikapku tadi sangat keterlaluan? Ahhh.. Widuri, mestinya sifat judesmu itu dikurangi!' rutuknya dalam hati. Menyesal karena sudah menuduh yang bukan-bukan pada orang yang sudah membantunya.
"Jangan tinggalkan aku sendiri di sini.." bisiknya lirih. Air mata menggenang di pelupuk matanya yang terus melihat ke arah lubang terowongan yang sudah menelan Dean.
__ADS_1
***